GantiBaju.com Membajak Desain Saya

Banner GantiBaju.com Memakai Ilustrasi Bajakak

Banner GantiBaju.com Memakai Ilustrasi Bajakan

Saya agak kaget ketika melihat halaman web GantiBaju.com, sebuah situs e-commerce Tshirt besar Indonesia yang tengah mengangkat tema Pahlawan Nasional. Bukan apa-apa, temanya ga masalah, justru saya suka. Tapi yang menyedihkan adalah banner di halaman tersebut menggunakan ilustrasi vector Soekarno yang saya buat. Dan tidak ada sama sekali notifikasi atau permintaan ijin penggunaan ilustrasi tersebut dari pihak GantiBaju.com untuk kepentingan komersil

Ilustrasi Vector Soekarno Asli

Ilustrasi Vector Soekarno Asli

Perhatikan info di halaman ilustrasi vector Soekarno yang menunjukkan waktu pertama kali karya itu saya upload di tahun 2006.

Data upload file ilustrasi di DA

Data upload file ilustrasi di DA

Sangat disayangkan jika situs yang mengkampanyekan pengembangan kreatifitas anak bangsa lewat desain justru tidak menghargai hasil karya desain orang lain. Saya akan coba klarifikasi ke pihak GantiBaju.com mengenai hal ini.

–Update—

Saya sudah mengirimkan email konfirmasi ke pihak GantiBaju.com. Mari kita tunggu tanggapan mereka.

Akhirnya ada email konfirmasi & permintaan maaf dari pihak GantiBaju.com.

Email Konfirmasi

Email Konfirmasi

Dengan ini kasus ini saya anggap selesai.

Tutorial Tracing Vector Soekarno

Kali ini saya akan sekali lagi membuat tulisan tentang tutorial tracing vector. Karena sepertinya banyak yang mencari informasi tentang teknik tracing vector. Bahkan dari semua konten yang ada di blog ini, posting yang paling banyak dibaca orang adalah Tracing Foto Dengan Adobe Illustrator.

Ok, tutorial ini akan membahas pembuatan tracing vector Soekarno, sebagaimana yang bisa diliat di sini.

Soekarno

Ohya, sebelum mulai, sebagai informasi awal, saya menggunakan software Adobe Illustrator CS3. Bagi Anda yang ingin mempraktekkan, Anda bisa menggunakan software ini, baik yang versi anyar maupun versi lawas. Meski sudah ada versi yang lebih anyar, namun saya tetap suka menggunakan CS3 karena penggunaannya yang nyaman & resources yang dibutuhkannya tidak seberat versi Illustrator yang lebih baru.

Ok, mari kita mulai saja.

Step 1

Pertama buka Adobe Illustrator. Buat dokumen kerja baru. Pilih File > New.

Bikin Dokumen Baru

Buat Dokumen Baru

Pada kotak dialog New Document pilih setting di bawah ini.

Kotak Dialog New Document

Kotak Dialog New Document

Jika sudah, klik Ok dan Anda akan punya dokumen kerja baru seperti berikut.

Dokumen Kerja Baru

Dokumen Kerja Baru

 

Step 2

Ok, setelah Anda punya dokumen kerja baru, langkah berikutnya adalah memasukkan gambar/image yang akan ditracing. Kebetulan saya menggunakan image Soekarno. Anda bisa menggunakan image/foto lain. Tapi harus diingat, pastikan foto yang digunakan berukuran besar. Karena semakin besar dimensi foto, semakin gampang Anda men-tracing.

Pilih menu File > Place. Lihat Gambar berikut.

Menu Place

Menu Place

Di kotak dialog Place, pilih file image/foto yang akan ditracing. Pastikan Anda mengaktifkan pilihan Link. Simak Gambar di bawah ini.

Kotak dialog Place

Kotak dialog Place

Jika sudah, klik Place dan Anda akan mendapatkan image tadi masuk ke dalam dokumen kerja kita.

Image di dokumen kerja

Image di dokumen kerja

Jika ukuran image yang kita masukkan tadi tidak memenuhi ruang kerja, maka langkah berikutnya adalah memperbesarnya sehingga seluruh ruang kerja (artboard) kita terpenuhi. Caranya dengan mengklik image, kemudian arahkan kursor mouse ke salah satu ujung image (kotak kecil putih), kemudian sambil menekan tombol Shift + Alt/Option (di Mac), drag ke arah luar.

Image akan diperbesar. Pastikan perbesarannya memenuhi artboard kita. Simak Gambar berikut.

Perbesar image sampai memenuhi artboard

Perbesar image sampai memenuhi artboard

Jika sudah, langkah berikutnya adalah mengunci layer image tadi sehingga tidak akan teredit secara tak sengaja. Caranya, lihat Palette Layer. Jika belum muncul, Anda bisa menampilkannya dengan memilih menu Window > Layers, atau tekan tombol F7 di keyboard.

Perhatikan bahwa di Palette Layer terdapat Layer 1 dengan icon gambar yang tadi kita masukkan ke dokumen.

Palette Layers

Palette Layers

Arahkan mouse di antara icon mata & icon gambar, sehingga muncul tulisan “Toogles lock”. Kemudian klik hingga muncul icon kunci (padlock) Lihat Gambar di bawah ini.

Kunci Layer Image

Kunci Layer Image

Nah, sekarang image sudah terkunci dan tidak akan teredit secara tak sengaja. Berikutnya Anda perlu membuat sebuah layer baru di atas Layer 1 (image), untuk bekerja mentracing. Caranya arahkan kursor mouse Anda ke icon Create a new layer .

Hasilnya Anda akan mempunyai layer baru di atas Layer 1, bernama Layer 2. Simak Gambar berikut.

Layer baru

Layer baru

Nah, sekarang Anda siap melakukan pekerjaan sesungguhnya, yaitu mentracing. Namun, jangan lupa untuk menyimpan dokumen kerja terlebih dulu supaya tidak hilang jika tiba-tiba listrik mati.

Pilih menu File > Save As dan isi nama file yang diinginkan di kotak dialog Save As dan tekan Ok. Maka dokumen Anda telah aman tersimpan.

Save dokumen

Save dokumen

Step 3

Ok, mari kita lanjutkan.

Pada toolbar, pilih tool Pen . Masih di Toolbar, pastikan Fill Color kosong (None)–tidak ada warna aktif, dan Stroke kita ubah menjadi warna terang (oranye). Simak Gambar berikut.

Nonaktifkan Fill, aktifkan Stroke warna oranye

Nonaktifkan Fill, aktifkan Stroke warna oranye

Berikutnya, untuk memudahkan dalam mentracing, perbesar (zoom in) obyek image tadi. Sehingga cukup jelas tekstur yang akan ditrace. Caranya dengan menekan tombol Ctrl + (+). Lihat Gambar di bawah ini.

Perbesar (Zoom in) gambar

Perbesar (Zoom in) gambar

Ok, setelah cukup besar & jelas, kita akan mulai. Pastikan tool Pen aktif. Kita akan mulai tracing di bagian yang mata. Saya selalu menyarankan untuk mentracing foto atau gambar orang dengan mulai dari mata. Dalam kasus ini, kita mulai dari mata kiri Soekarno.

Klik Pen tool di bagian pojok bawah mata, kemudian klik lagi sambil tarik kursor mouse untuk membuat lengkungan atas mata yang diinginkan. Lihat Gambar berikut.

Mulai trace mata

Mulai trace mata

Perhatikan bahwa ada 2 handler (garis pengaturan lengkungan). Klik di titik kanan untuk menonaktifkan handler kedua, baru Anda lanjutkan membuat garis lengkung berikutnya mengikuti kontur bentuk mata. Simak Gambar di bawah ini.

Nonaktifkan handler kedua

Nonaktifkan handler kedua

Lanjutkan hingga seluruh bagian mata ditrace dan titik awal bertemu dengan titik akhir tracing. Lihat Gambar ini.

Trace seluruh bagian mata sesuai kontur

Trace seluruh bagian mata sesuai kontur

Step 4

Nah, setelah Anda berhasil membuat trace kontur mata kanan, kita lanjutkan langkah yang sama di mata yang satunya lagi. Lakukan seperti Step di atas, tentunya dengan mengikuti bentuk kontur mata kiri. Simak Gambar di bawah ini.

Lanjutkan trace mata kiri

Lanjutkan trace mata kiri

Jika mata sudah selesai, lanjutkan dengan tracing bagian-bagian utama lainnya. Seperti alis. Lihat Gambar berikut.

Lanjutkan trace bagian alis

Lanjutkan trace bagian alis

Lanjutkan di bagian hidung. Ikuti kontur untuk membuat bentuknya. Tidak harus detail dulu, yang penting bentuk dasarnya terlihat.

Trace kontur hidung

Trace kontur hidung

Teruskan di mulut. Serupa dengan hidung, ikuti kontur warna mulut.

Trace kontur mulut

Trace kontur mulut

Untuk mengecek hasil trace sementara kita seperti apa, Anda bisa pilih semua obyek trace tadi dengan menekan tombol Ctrl + A (Windows) atau Command + A (Mac). Kemudian di Toolbar klik Swap Fill and Stroke untuk merubah warna Stroke oranye menjadi warna Fill. Lihat Gambar berikut ini.

Ubah warna stroke jadi Fill

Ubah warna stroke jadi Fill

Di Palette Layers non aktifkan Layer 1 (gambar).

Nonaktifkan Layer 1

Nonaktifkan Layer 1

Hasilnya seperti berikut.

Hasil tracing sementara

Hasil tracing sementara

Step 5

Setelah Anda sampai di bagian ini, Anda tinggal mengulang langkah-langkah di atas untuk bagian-bagian lain yang ingin ditrace. Seperti rambut, garis wajah, dan sebagainya, sehingga terlihat bentuk tracing yang lebih jelas. Simak Gambar berikut.

Trace bagian-bagian lain

Trace bagian-bagian lain

Hasilnya seperti berikut ini.

Hasil trace

Hasil trace

Teruskan di bagian-bagian lain, sehingga seluruh bagian yang konturnya jelas berhasil Anda trace. Lihat Gambar di bawah ini.

Trace bagian-bagian lain

Trace bagian-bagian lain

Hasilnya seperti berikut ini.

Hasil trace keseluruhan

Hasil trace keseluruhan

Tips-nya, semakin detail Anda melakukan tracing, semakin bagus hasilnya.

Step 6

Untuk menjadikan desain terlihat lebih bagus, Anda bisa tambahkan tulisan. Gunakan tool Text untuk membuat tulisan seperti pada Gambar berikut.

Tambahkan tulisan

Tambahkan tulisan

Step 7

Anda bisa juga mengatur layout antara tulisan & obyek tracing tadi. Sehingga hasilnya lebih menarik untuk dilihat. Gunakan layout yang mengikuti patokan Rule of Thirds, di mana obyek utama berada di perpotongan antara garis ketiga vertikal & horisontal dari artboard.

Hasil akhir desain tracing vector Soekarno seperti terlihat di Gambar di bawah ini.

Hasil akhir tracing vector Soekarno

Hasil akhir tracing vector Soekarno

 

Demikian tutorial tracing kali ini. Semoga bermanfaat.

Jika Anda mempunyai kesulitan dalam mengikuti langkah-langkah di atas, silahkan menghubungi saya via email: astayoga@gmail.com

Good luck & have fun!

Di Balik Penulisan Buku Jamak Ala Benu Buloe

Buku Jalan & Makan Ala benu Buloe

Saya sudah menulis 13 buah buku, semua tentang desain. Berawal dari saat kuliah di awal tahun 2000-an, satu persatu buku-buku saya terbit. Dulu alasannya sederhana, buku adalah cara berbagi ilmu sekaligus mendapatkan uang dari royalti. Yang relatif lumayan untuk ukuran mahasiswa di daerah.

Anyway, lepas 2006 hingga 2013, saya vakum menulis. Bukan karena tidak ada ide, namun lebih karena disibukkan pekerjaan rutin kantoran. Energi tersedot habis, sehingga aktifitas menulis pun mengendor.

Adalah sebuah lompatan besar untuk kembali menulis buku. Dan kesempatan itu datang secara tak sengaja. Seorang kawan, yang sekaligus figur publik di sebuah stasiun televisi swasta, tertarik menuliskan kisah-kisah penjelajah kuliner yang selama ini dia pandu acaranya ke dalam sebuah buku. Benu Buloe namanya, dan sosoknya hampir dipastikan dikenal publik pecinta jalan & makan-makan.

Mulailah kami rutin bertemu & berbincang. Ide didiskusikan, kadang disertai sedikit adu argumen, namun kebanyakan lebih ke sharing pendapat yang seru & menyenangkan. Mas Benu punya banyak pengalaman dan keinginan untuk dituangkan, sementara saya punya pengalaman menulis dan menerbitkan. Jadilah kami tim dadakan yang runtang-runtung menggodok konsep, menulis konten, menyortir koleksi foto-foto, mengolah data-data mentah menjadi bab demi bab tulisan. Dan pastinya, hunting penerbit yang kira-kira tertarik menerbitkan buku kami nantinya.

Alhamdulillah, kawan-kawan lama sekaligus editor saya dulu di Elexmedia Komputindo menyambut positif rencana penerbitan buku kami. Setelah beberapa kali berdiskusi & membahas berbagai aspek teknis maupun non teknis, akhirnya naskah buku yang kami buat diterima pihak penerbit dan naik cetak.

Launching Buku Jamak Ala Benu Buloe di Jogja

Sangat melegakan, apalagi saat buku tersebut terbit. Judulnya unik dan menarik, “Jamak (Jalan & Makan) Ala Benu Buloe“. Acara launching pun digelar, sengaja dipilih kota Jogjakarta sebagai lokasi launching. Liputan media lokal bagus, respon publik pun sangat positif. Benar-benar menyenangkan melihat tweet mereka yang telah membeli & membaca buku ini. Ada sebuah kepuasan & kebanggan bahwa upaya kecil ini diapresiasi publik.

Dari sini pula semangat saya untuk lebih serius menekuni bisnis penulisan buku ini kembali berkobar. Dan alhamdulillah sudah ada 2 calon buku yang saat ini tengah saya garap. Tentunya dengan klien berbeda. Tema yang berbeda, dan pastinya tantangan yang berbeda.

Pembelajaran berharga yang selalu saya tekankan pada diri sendiri & siapapun tentang menulis buku adalah, karena ilmu seperti apapun sederhananya, layak untuk dibagi. Dan buku adalah cara yang menyenangkan untuk membaginya.

So, jika Anda tertarik untuk berbagi ilmu, menulis buku atau menerbitkannya, namun Anda bingung mulai dari mana, hubungi saya. I’ll be more than happy to assist you.

Bangsa Besar Adalah Bangsa Yang Terus Belajar


Saya punya sebuah kepercayaan, bahwa sebuah bangsa jika ingin menjadi besar, musti terus menerus tiada henti belajar. Belajar tentang apa saja, dari sumber mana saja, sekuat tenaga, dari awal hingga akhir usia.

Mengapa saya percaya demikian?

Mari kita tengok perjalanan sejarah manusia. Perjalanan sejarah banga-bangsa besar yang riuh rendah di dalamnya. Ada beberapa contoh yang masing-masingnya memberi pembelajaran menarik akan arti pentingnya belajar.

Kita mulai dari Bangsa Yunani.

Bangsa Yunani, khususnya mereka yang datang dari kota Athena & wilayah-wilayah jajahannya di Asia Minor, terkenal sebagai akar peradaban Barat. Dari mereka lah bangsa-bangsa Barat mengenal berbagai macam pengetahuan. Orang-orang Yunani dianggap sebagai masyarakat yang di awal jaman mengolah pikir & melawan mitos, sehingga melahirkan apa yang kita sebut sekarang sebagai ilmu pengetahuan (science).

Alih-alih berhenti pada kepercayaan bahwa Zeus marah & mengelurkan petir lewat tongkatnya yang kemudian mewujudkan hujan, tokoh-tokoh seperti Aristoteles, Archimides, Anaxagoras, Plato dan sebagaimanya mengamati alam & manusia, mencari korelasi antar kejadian, melakukan percobaan untuk mensimulasi kejadian sama, dan menyimpulkan apa yang mereka sebut sebagai hukum alam & pengetahuan.

Mereka berpikir, berdiskusi, berdebat hingga bahkan saling baku pukul demi mempertahankan pendapat. Banyak martir yang terpaksa atau rela kehilangan nyawa dengan alam pikir bebas dialogis macam ini, sebut paling tenar Socrates, yang dipaksa mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun karena dianggap mengajarkan anak-anak muda Athena untuk tidak percaya dewa-dewa Yunani.

Tapi sekali lagi, mereka tidak menyerah. Mereka terus belajar, termasuk dari bangsa-bangsa lain. Khususnya dari bangsa Mesir yang kala itu sudah dikenal sebagai gudang pengetahuan. Betapa banyak filsuf Yunani yang menghabiskan masa muda belajar di Mesir, salah satunya Archimides, yang dalam satu hikayat berhasil menghitung tinggi piramid dari panjang bayangnnya.

Dari Yunani kita loncat ratusan tahun berikutnya ke Romawi.

Dianggap sebagai penerus kebudayaan Yunani, bangsa Rowami juga tak kalah hebat dalam soal belajar. Mereka tak hanya mewarisi teks-teks pengetahuan Yunani, namun mengembangkannya pula. Hasilnya, Romawi selama berabad-abad dikenal sebagai imperium besar dunia dengan wilayah kekuasaan lintas benua. Tokoh-tokoh seperti Plotinus, Epictetus, Lucretius adalah beberapa diantaranya.

Pasca Romawi pecah, Eropa Barat terjerembab dalam kehancuran budaya, apa yang akrab kita kenal sebagai Abad Kegelapan. Kebudayaan Romawi terus berkembang di wilayah Romawi Timur, khususnya di wilayah Bizantium yang hari ini berlokasi di Turki dan sekitarnya.

Yang menarik adalah, ilmu pengetahuan & dunia pemikiran dunia tidak berhenti saat Romawi hancur. Budaya belajar & pemikiran ini diteruskan ke arah Timur Tengah, salah satunya difasilitasi oleh bangkitnya agama baru dari jazirah Arab, yaitu Islam. Menarik dari kisah bangkitnya peradaban Islam adalah datangnya dari sebuah wilayah yang bisa dibilang in the middle of nowhere. Tidak punya potensi alam yang layak dibandingkan budaya-budaya besar lainnya, seperti Bizantium, Persia, Mesir, Mesopotamia atau manapun. Namun, anehnya dari tanah nan tandus, masyarakat nan barbar, lahir peradaban Islam yang sejajar atau bahkan di puncak keemasannya lebih jauh melampaui pencapaian kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

Doktrin Islam yang menarik adalah perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad. Perintah “iqra”. Satu-satunya doktrin agama yang menyuruh manusia untuk memulai segala sesuatu dengan “membaca” alias mengkaji. Bukan layaknya doktrin agama lain yang menekankan percaya semata, namun justri perintah untuk mengkaji, untuk berpikir. Yang artinya mempertanyakan. Benar-benar unik.

Iqra ini pula lah yang sepertinya menjadi sumber tenaga tak terbatas dari masyarakat Islam, baik di awal perkembangannya, untuk mempertanyakan kondisi fisik, sosial, ekonomi masyarakatnya, mempertanyakan esensi kehidupan manusia & tugas sosialnya, dan mentransformasi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya menjadi masyarakat yang lebih manusiawi.

Banyak sekali kisah di masa-masa awal perkembangan Islam di mana manusia-manusia berbondong-bondong memeluk Islam bukan karena todongan pedang atau ancaman perang, namun karena keindahan pemikiran dan ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Manusia-manusia padang pasir yang terbiasa menyelesaikan masalah lewat jalan kekerasan, mengabdi pada pencapaian dunia, menyandarkan diri pada mitos dan dewa-dewa peninggalan lama, disentakkan dengan ide baru tentang kemanusiaan, tentang ketuhanan yang abstrak nan esa, tentang kewajiban sosialnya dan oleh keindahan perilaku para pemeluknya.

Tak hanya berhenti di situ, para penerus kebudayaan Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad & generasi awal Islam, mulai dari dinasti Umayyah, Abassiyah, Fatimiyah dan berbagai dinasti lain di berbagai penjuru Darul Islam (Dunia Islam), membuka diri terhadap budaya & pengetahuan lain. Tidak hanya membuka diri, mereka mengejar pengetahuan itu di berbagai pelosok wilayahnya. Betapa masjid-masjid bersebelahan dengan madrasah, tempat masyarakat belajar, tak hanya soal agama, tapi juga pengetahuan lain. Lihat bagaimana para penguasa Abassiyah mendirikan & mengisi Bait al Hikmah (Rumah Pengetahuan) dengan buku-buku dari berbagai bidang, menggaji mahal para ulama & pemikir untuk menerjemahkan teks-teks dari Yunani, Romawi, India, Mesir dan berbagai budaya lain ke dalam bahasa Arab untuk bisa dikembangkan lebih lanjut.

Tak heran lahir pemikir-pemikir besar yang kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban modern seperti Ibn Sina, Ibn Rush, Ibn Jabbar, Al Kindi dan sebagainya. Mereka dan banyak lagi pemikir lainnya yang menghidupkan kembali berbagai pengetahuan dan memungkinkan persebarannya secara luas, salah satunya kembali ke Barat dengan titik baliknya Renaissance di abad 15.

Dari interaksinya dengan peradaban Islam, terutama lewat berkali-kali Perang Salib, juga lewat perdagangan & kehidupan bersama baik di wilayah Timur Tengah maupun Spanyol Islam (Andalusia), peradaban Barat kembali berkembang. Renaissance kata mereka. Aufklarung semangatnya. Hingga sekarang, Barat mampu mempertahankan hegemoninya sebagai pusat pengetahuan modern pasca redupnya kebudayaan Islam setelah kehancuran pusat-pusat peradabannya akibat serangan bangsa Mongol dan hancurnya dinasti Ottoman di awal abad 20.

So, bagaimana dengan Indonesia sendiri, apakah yang bisa kita pelajari dari perkembangan peradaban di wilayah yang dulu dikenal dengan sebutan Nusantara ini?

Siapa tak kenal kerajaan-kerajaan besar macam Kutai, Tarumanegara, Mataram Hindu, Sriwijaya, Kahuripan, Kediri, Singhasari, Majapahit, Demak, Mataram Islam, Gowa-Tallo dan banyak lagi lainnya. Masing-masing menorehkan pencapaian politik, ekonomi, sosial budaya yang luar biasa. Bagaimana bisa dibilang luar biasa, kita bisa tengok dari rekam jejak peninggalan arkeologis yang ada. Aneka candi dan bangunan ibadah dengan ragam corak & relief yang tak hanya indah secara estetik, namun juga berisi pembelajaran agama, moral & budaya bagi pengikutnya.

Berbagai prasasti, naskah sastra, patung, dan ragam seni lainnya yang masih bisa dinikmati hingga sekarang, seperti batik, keris dan sebagainya. Semua pastinya tak lepas dari kiprah para pemikir-pemikir handal pada masanya, yang umum dikenal sebagai Empu dan Resi. Namun, memang sejauh kajian sejarah mencatat, bangsa-bangsa di Nusantara yang menjadi pengusung kebudayaan di berbagai kerajaan tadi tidak meninggalkan catatan tentang model pendidikan umum bagi publik, atau dukungan kuat penguasa terhadap pengembangan pola pikir & logika.

Nah, sekarang bagaimana dengan masyarakat kita di jaman modern ini, di Indonesia ini?

Mustinya, kita bisa melihat perjalanan sejarah bangsa-bangsa besar tadi, baik di seluruh penjuru dunia, maupun di wilayah Nusantara dan mengambil pembelajaran darinya. Bahwa salah satu prasyarat dasar sebuah bangsa jika ingin besar adalah adanya passion yang kuat untuk mau belajar & terus menerus belajar akan segala hal. Pengejaran atas pengetahuan, pengembangan kultur keterbukaan informasi, diskusi, pertukaran pemikiran & penghargaan terhadap arti penting ilmu sangatlah utama.

Tapi lihatlah bagaimana kondisi bangsa ini. Lihat brapa anggaran pendidikan yang dialokasikan pemerintah bagi masyarakatnya. Lihat betapa semakin tak terjangkaunya biaya pendidikan formal, bahkan di lembaga-lembaga pendidikan negri bagi sebagian besar warganya. Lihat betapa media massa lebih banyak mengurusi hal-hal remeh temeh seperti gosip artis, obrolan politkus tak bermutu, acara hiburan tak bermanfaat karena isinya cuman bullying dan joged-joged tak jelas. Lihat betapa banyak orang tua yang lebih suka mengajak anaknya ke mall daripada ke toko buku. Lihat betapa sepi perpusatakaan tidak hanya atas pengunjung tapi juga koleksi buku-buku bermutu. Lihat betapa kurangnya iklim menulis, membaca & membuat penelitian bahkan di kalangan civitas akademika.

Agak trenyuh membayangkan nasib bangsa ini ke depan jika terus-terusan seperti ini. Jangankan mengulang kebesaran nenek moyang kita di masa Majapahit yang dikenal sebagai bangsa maritim besar, untuk survive saja di era global bakal berat.

Seni Membaca Bahasa Tubuh (Body Language)

The Definitive Book of Body Language

The Definitive Book of Body Language

Tulisan ini disarikan dari buku The Definitive Book of Body Language karya Barbara Pease and Allan Pease. Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas tentang body language, alias bahasa tubuh. Kita mungkin sering mendengar istilah tadi, mempraktekkannya secara tak sadar, namun tak banyak yang secara serius mempelajarinya. Padahal, jika kita mempelajari & mau mempraktekkan hal-hal yang dikaji di dalamnya, body language ini akan sangat bermanfaat. Baik untuk kepentingan personal dalam bersosialisasi dengan orang lain, maupun dalam konteks bisnis.

Pada Awalnya Adalah Film Bisu

Siapa tak kenal Charlie Chaplin? Aktor Inggris di era keemasan film bisu awal abad 20 ini terkenal dengan kemampuannya berakting yang menimbulkan gelak tawa. Penampilannya yang ikonik, dengan topi, tongkat jalan & pastinya yang selalu diingat orang, kumis a la Hitler-nya, menjadikan Charlie Chaplin simbol era film di masanya. Namun, yang tak banyak disadari orang adalah, Charlie Chaplin juga seorang genius dalam hal body language.

Charlie Chaplin

Charlie Chaplin

Bayangkan, Anda hidup sebagai aktor di era film bisu, dimana cerita film disampaikan ke audiens tanpa adanya bantuan suara/percakapan. Hanya gambar bergerak, dan itupun gambar hitam putih. Charlie Chaplin harus dan sangat berhasil dalam peran-perannya, karena dia paham satu hal dasar, bahwa manusia berkomunikasi tidak hanya lewat suara/bahasa lisan, namun justru lebih banyak lewat bahasa non lisan, yaitu bahasa tubuh.

Bagi kita yang hidup di masa sekarang, yang terbiasa menonton film bersuara, film-film bisu a la Charlie Chaplin terlihat “aneh”. Terlalu banyak adegan slapstik mungkin. Mirip kaya sinetron-sinetron komedi Indonesia yang lebay. Namun, di masa-nya, memang pendekatan slapstik seperti ini yang dibutuhkan.

Charlie Chaplin menggunakan hampir semua potensi bahasa non-verbal yang bisa dieksplor untuk bercerita. Mimik wajah, gerak tubuh, posisi tangan & kaki, pose tubuh, hingga kostum yang dipakai. Sebegitu berhasilnya aktor yang mendapatkan gelar kebangsawanan “Sir” ini, nama Charlie Chaplin sinonim dengan era film bisu.

Kajian Ilmiah Body Language

Charles Darwin

Charles Darwin

Ilmuwan era modern yang pertama kali mengkaji body language adalah Charles Darwin dalam bukunya The Expression of the Emotions in Man and Animals, yang terbit di tahun 1872. Dalam buku yang terbit 13 tahun setelah On The Origin of Species Darwin berusaha mencari jejak asal mula manusia dari karakteristik hewani yang masih ada padanya, seperti mengatupkan bibir saat berkonsentrasi, atau tertariknya otot di sekitar mata saat kita marah atau saat mencoba mengingat sesuatu. Namun, buku ini lebih banyak dibaca oleh para akademisi karena sifatnya yang teknis akademis.

Albert Mehrabian, pionir penelitian body language di erah 1950-an menemukan bahwa dampak dari sebuah pesan yang disampaikan bervariasi tergantung bentuknya, yaitu  7% lisan (hanya ucapan) dan 38% vokal (termasuk nada suara-tone of voice, modifikasi pengucapan tergantung stuktur bahasa dan suara lain) dan 55% non-verbal.

Antropolog Ray Birdwhistell memperkirakan bahwa pada umumnya, orang berbicara (mengucapkan kata & kalimat) sebanyak 10 – 11 menit setiap harinya, di mana rata-rata sebuah kalimat membutuhkan waktu 2,5 detik untuk diucapkan.  Sebaliknya, Birdwhistell memperkirakan manusia pada umumnya mampu membuat dan mengenali sekitar 250.000 ekspresi wajah. Dia juga menemukan bahwa komponen verbal (lisan) dalam komunikasi antarpersonal berkontribusi kurang dari 35%, sedangkan lebih dari 65% sisanya adalah komponen komunikasi non-verbal.

Body Language Mengungkapkan Pikiran & Emosi

Body language adalah ekspresi pikiran dan emosi seseorang. Meskipun mungkin secara sadar dia tidak mengucapkan pikiran atau emosi tersebut, namun bisa dipastikan bahasa tubuhnya menunjukkannya. Sebagai contoh, seorang yang tidak suka dengan orang lain yang tengah bersamanya mungkin tidak akan secara verbal mengatakan ketidaksukaannya, namun posisi tubuh, arah pandang, mimik wajah dan berbagai sinyal fisiknya menyampaikan ketidaksukaan tersebut. Simak gambar berikut, yang diambil saat debat kandidat presiden Partai Demokrat di Amerika Serikat antara Barrack Obama & Hillary Clinton.

Barrack Obama & Hillary Clinton

Barrack Obama & Hillary Clinton

Lihat bagaimana kedua kandidat ini tidak saling melihat satu sama lain. Simak pula posisi tubuh masing-masingnya yang cenderung menjauh dari arah lawan bicaranya. Belum lagi ekspresi wajah Hillary & Obama yang terlihat tidak nyaman.

Atau kalau versi politik lokal Indonesia, simak dinginnya hubungan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mantan Presiden Megawati Sukarnoputri yang sudah menjadi rahasia umum. Sangat susah menemukan kedua figur ini bertemu secara publik dan menampilkan wajah nyaman. Seperti nampak pada gambar di bawah ini.

Susilo Bambang Yudhoyono & Megawati

Susilo Bambang Yudhoyono & Megawati

Nampak bagaimana SBY, panggila akrab Susilo Bambang Yudhoyono, memberi salam kepada Megawati, namun yang bersangkutan justru nampak melengos. Yang menunjukkan rasa tidak senangnya kepada sang presiden, yang dulu adalah anggota kabinetnya namun akhirnya mengalahkan dia saat pemilihan presiden di periode berikutnya.

Contoh lain pemimpin politik Indonesia yang sangat memperhatikan body language & mampu mendayagunakannya secara maksimal adalah Soekarno. Presiden Indonesia pertama ini senantiasa terlihat percaya diri & penuh semangat. Tingkat kepercayaan diri Presiden Soekarno bahkan seringkali mengalahkan lawan politiknya, baik di tingkat nasional maupun internasional. Perhatikan gambar di bawah ini, saat Presiden Soekarno melawat ke negri Paman Sam, dan disambut oleh Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy.

Soekarno & Kennedy

Soekarno & Kennedy

Lihat betapa rileks dan percaya dirinya Soekarno di atas mobil berdampingan dengan JFK. Posisi tangan kanan beliau yang bersandar pada jok mobil dan seakan merangkul JFK yang sedikit membungkuk dan condong ke arah Soekarno. Sementara tangan kiri Soekarno nampak menunjuk ke suatu arah dengan jari tulunjuk teracung seakan tengah menjelaskan sesuatu ke lawan bicaranya yang nampak mendengarkan. Bisa dibilang, di foto ini, jika orang yang melihat tidak tahu konteks acaranya, bisa disangka Presiden Soekarno-lah yang menjadi tuan rumah, alih-alih JFK.

Soekarno & Kennedy

Soekarno & Kennedy

Power relations antara Indonesia-Amerika Serikat di masa tersebut memang menarik untuk disimak. Kisah kunjungan Presiden Soekarno ke Amerika Serikat atas undangan John F. Kennedy adalah runtutan dari peristiwa besar sebelumnya, di mana pilot Amerika, yang tak lain agen CIA, Allen Lawrence Pope, yang tertangkap setelah pesawatnya tertembak jatuh oleh TNI saat peritiwa pemberontakan PRRI/Permesta. Karena “kesalahan” fatal ini, Amerika Serikat yang menjadi dalang pemberontakan tersebut berusaha mengambil hati Bung Karno, salah satunya dengan mengundang beliau ke Amerika Serikat, guna membicarakan pembebasan Allen Pope dan kompensasi yang diminta Indonesia sebagai konsekuensinya. Makanya, wajar kalau sikap Bung Karno, yang dari awal memang percaya diri, menjadi lebih ekspresif lagi bahkan saat bersama JFK.

Contoh lain dari body language yang menarik sekaligus kontras adalah Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Sang similing general ini terkenal karena sikapnya nan kalem & berwibawa. Di masa kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun, hampir tak ada yang berani menunjukkan sikap menolak keinginan beliau. Lihat gambar berikut, saat Presiden Soeharto menerima delegasi astronot Apollo di tahun 1973.

Soeharto & Astronot

Soeharto & Astronot

Simak betapa santai Presiden Soeharto bersikap, dengan kedua tangan di belakang tubuh seperti seorang Bapak yang dengan serius memperhatikan penjelasan anaknya. Nampak pula betapa kedua delegasi astronot memegang kedua tangan di depan tubuh dengan pose “ngapurancak” bak pejabat lokal yang tengah menemani sang raja.

Namun, posisi seperti ini terlihat terbalik & dramatis saat di tahun 1998, Presiden Soeharto musti menandatangani nota kesepahaman penyelamatan ekonomi Indonesia dengan IMF (International Monetary Fund) yang diwakili Managing Director-nya, Michel Camdessus. Simak bagaimana sikap & body language keduanya.

Soeharto & Michel Camdessus

Soeharto & Michel Camdessus

Lihat bagaimana Michel Camdessus berdiri sambil melipat tangah di depan dada seraya melihat Presiden Soeharto yang tengah membungkuk saat menandatangani dokumen. Perhatikan tatapan sang pemimpin IMF dan bentuk bibirnya yang sedikit menyeringai. Kita bisa merasakan bahwa saat itu Indonesia, yang diwakili figur Presiden Soeharto, “menyerah” terhadap IMF, yang diwakili Michel Camdessus.

;