Hasto Suprayogo

thoughts, words, acts

Seni Membaca Bahasa Tubuh (Body Language)

The Definitive Book of Body Language

The Definitive Book of Body Language

Tulisan ini disarikan dari buku The Definitive Book of Body Language karya Barbara Pease and Allan Pease. Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas tentang body language, alias bahasa tubuh. Kita mungkin sering mendengar istilah tadi, mempraktekkannya secara tak sadar, namun tak banyak yang secara serius mempelajarinya. Padahal, jika kita mempelajari & mau mempraktekkan hal-hal yang dikaji di dalamnya, body language ini akan sangat bermanfaat. Baik untuk kepentingan personal dalam bersosialisasi dengan orang lain, maupun dalam konteks bisnis.

Pada Awalnya Adalah Film Bisu

Siapa tak kenal Charlie Chaplin? Aktor Inggris di era keemasan film bisu awal abad 20 ini terkenal dengan kemampuannya berakting yang menimbulkan gelak tawa. Penampilannya yang ikonik, dengan topi, tongkat jalan & pastinya yang selalu diingat orang, kumis a la Hitler-nya, menjadikan Charlie Chaplin simbol era film di masanya. Namun, yang tak banyak disadari orang adalah, Charlie Chaplin juga seorang genius dalam hal body language.

Charlie Chaplin

Charlie Chaplin

Bayangkan, Anda hidup sebagai aktor di era film bisu, dimana cerita film disampaikan ke audiens tanpa adanya bantuan suara/percakapan. Hanya gambar bergerak, dan itupun gambar hitam putih. Charlie Chaplin harus dan sangat berhasil dalam peran-perannya, karena dia paham satu hal dasar, bahwa manusia berkomunikasi tidak hanya lewat suara/bahasa lisan, namun justru lebih banyak lewat bahasa non lisan, yaitu bahasa tubuh.

Bagi kita yang hidup di masa sekarang, yang terbiasa menonton film bersuara, film-film bisu a la Charlie Chaplin terlihat “aneh”. Terlalu banyak adegan slapstik mungkin. Mirip kaya sinetron-sinetron komedi Indonesia yang lebay. Namun, di masa-nya, memang pendekatan slapstik seperti ini yang dibutuhkan.

Charlie Chaplin menggunakan hampir semua potensi bahasa non-verbal yang bisa dieksplor untuk bercerita. Mimik wajah, gerak tubuh, posisi tangan & kaki, pose tubuh, hingga kostum yang dipakai. Sebegitu berhasilnya aktor yang mendapatkan gelar kebangsawanan “Sir” ini, nama Charlie Chaplin sinonim dengan era film bisu.

Kajian Ilmiah Body Language

Charles Darwin

Charles Darwin

Ilmuwan era modern yang pertama kali mengkaji body language adalah Charles Darwin dalam bukunya The Expression of the Emotions in Man and Animals, yang terbit di tahun 1872. Dalam buku yang terbit 13 tahun setelah On The Origin of Species Darwin berusaha mencari jejak asal mula manusia dari karakteristik hewani yang masih ada padanya, seperti mengatupkan bibir saat berkonsentrasi, atau tertariknya otot di sekitar mata saat kita marah atau saat mencoba mengingat sesuatu. Namun, buku ini lebih banyak dibaca oleh para akademisi karena sifatnya yang teknis akademis.

Albert Mehrabian, pionir penelitian body language di erah 1950-an menemukan bahwa dampak dari sebuah pesan yang disampaikan bervariasi tergantung bentuknya, yaitu  7% lisan (hanya ucapan) dan 38% vokal (termasuk nada suara-tone of voice, modifikasi pengucapan tergantung stuktur bahasa dan suara lain) dan 55% non-verbal.

Antropolog Ray Birdwhistell memperkirakan bahwa pada umumnya, orang berbicara (mengucapkan kata & kalimat) sebanyak 10 – 11 menit setiap harinya, di mana rata-rata sebuah kalimat membutuhkan waktu 2,5 detik untuk diucapkan.  Sebaliknya, Birdwhistell memperkirakan manusia pada umumnya mampu membuat dan mengenali sekitar 250.000 ekspresi wajah. Dia juga menemukan bahwa komponen verbal (lisan) dalam komunikasi antarpersonal berkontribusi kurang dari 35%, sedangkan lebih dari 65% sisanya adalah komponen komunikasi non-verbal.

Body Language Mengungkapkan Pikiran & Emosi

Body language adalah ekspresi pikiran dan emosi seseorang. Meskipun mungkin secara sadar dia tidak mengucapkan pikiran atau emosi tersebut, namun bisa dipastikan bahasa tubuhnya menunjukkannya. Sebagai contoh, seorang yang tidak suka dengan orang lain yang tengah bersamanya mungkin tidak akan secara verbal mengatakan ketidaksukaannya, namun posisi tubuh, arah pandang, mimik wajah dan berbagai sinyal fisiknya menyampaikan ketidaksukaan tersebut. Simak gambar berikut, yang diambil saat debat kandidat presiden Partai Demokrat di Amerika Serikat antara Barrack Obama & Hillary Clinton.

Barrack Obama & Hillary Clinton

Barrack Obama & Hillary Clinton

Lihat bagaimana kedua kandidat ini tidak saling melihat satu sama lain. Simak pula posisi tubuh masing-masingnya yang cenderung menjauh dari arah lawan bicaranya. Belum lagi ekspresi wajah Hillary & Obama yang terlihat tidak nyaman.

Atau kalau versi politik lokal Indonesia, simak dinginnya hubungan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mantan Presiden Megawati Sukarnoputri yang sudah menjadi rahasia umum. Sangat susah menemukan kedua figur ini bertemu secara publik dan menampilkan wajah nyaman. Seperti nampak pada gambar di bawah ini.

Susilo Bambang Yudhoyono & Megawati

Susilo Bambang Yudhoyono & Megawati

Nampak bagaimana SBY, panggila akrab Susilo Bambang Yudhoyono, memberi salam kepada Megawati, namun yang bersangkutan justru nampak melengos. Yang menunjukkan rasa tidak senangnya kepada sang presiden, yang dulu adalah anggota kabinetnya namun akhirnya mengalahkan dia saat pemilihan presiden di periode berikutnya.

Contoh lain pemimpin politik Indonesia yang sangat memperhatikan body language & mampu mendayagunakannya secara maksimal adalah Soekarno. Presiden Indonesia pertama ini senantiasa terlihat percaya diri & penuh semangat. Tingkat kepercayaan diri Presiden Soekarno bahkan seringkali mengalahkan lawan politiknya, baik di tingkat nasional maupun internasional. Perhatikan gambar di bawah ini, saat Presiden Soekarno melawat ke negri Paman Sam, dan disambut oleh Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy.

Soekarno & Kennedy

Soekarno & Kennedy

Lihat betapa rileks dan percaya dirinya Soekarno di atas mobil berdampingan dengan JFK. Posisi tangan kanan beliau yang bersandar pada jok mobil dan seakan merangkul JFK yang sedikit membungkuk dan condong ke arah Soekarno. Sementara tangan kiri Soekarno nampak menunjuk ke suatu arah dengan jari tulunjuk teracung seakan tengah menjelaskan sesuatu ke lawan bicaranya yang nampak mendengarkan. Bisa dibilang, di foto ini, jika orang yang melihat tidak tahu konteks acaranya, bisa disangka Presiden Soekarno-lah yang menjadi tuan rumah, alih-alih JFK.

Soekarno & Kennedy

Soekarno & Kennedy

Power relations antara Indonesia-Amerika Serikat di masa tersebut memang menarik untuk disimak. Kisah kunjungan Presiden Soekarno ke Amerika Serikat atas undangan John F. Kennedy adalah runtutan dari peristiwa besar sebelumnya, di mana pilot Amerika, yang tak lain agen CIA, Allen Lawrence Pope, yang tertangkap setelah pesawatnya tertembak jatuh oleh TNI saat peritiwa pemberontakan PRRI/Permesta. Karena “kesalahan” fatal ini, Amerika Serikat yang menjadi dalang pemberontakan tersebut berusaha mengambil hati Bung Karno, salah satunya dengan mengundang beliau ke Amerika Serikat, guna membicarakan pembebasan Allen Pope dan kompensasi yang diminta Indonesia sebagai konsekuensinya. Makanya, wajar kalau sikap Bung Karno, yang dari awal memang percaya diri, menjadi lebih ekspresif lagi bahkan saat bersama JFK.

Contoh lain dari body language yang menarik sekaligus kontras adalah Presiden kedua Indonesia, Soeharto. Sang similing general ini terkenal karena sikapnya nan kalem & berwibawa. Di masa kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun, hampir tak ada yang berani menunjukkan sikap menolak keinginan beliau. Lihat gambar berikut, saat Presiden Soeharto menerima delegasi astronot Apollo di tahun 1973.

Soeharto & Astronot

Soeharto & Astronot

Simak betapa santai Presiden Soeharto bersikap, dengan kedua tangan di belakang tubuh seperti seorang Bapak yang dengan serius memperhatikan penjelasan anaknya. Nampak pula betapa kedua delegasi astronot memegang kedua tangan di depan tubuh dengan pose “ngapurancak” bak pejabat lokal yang tengah menemani sang raja.

Namun, posisi seperti ini terlihat terbalik & dramatis saat di tahun 1998, Presiden Soeharto musti menandatangani nota kesepahaman penyelamatan ekonomi Indonesia dengan IMF (International Monetary Fund) yang diwakili Managing Director-nya, Michel Camdessus. Simak bagaimana sikap & body language keduanya.

Soeharto & Michel Camdessus

Soeharto & Michel Camdessus

Lihat bagaimana Michel Camdessus berdiri sambil melipat tangah di depan dada seraya melihat Presiden Soeharto yang tengah membungkuk saat menandatangani dokumen. Perhatikan tatapan sang pemimpin IMF dan bentuk bibirnya yang sedikit menyeringai. Kita bisa merasakan bahwa saat itu Indonesia, yang diwakili figur Presiden Soeharto, “menyerah” terhadap IMF, yang diwakili Michel Camdessus.

;

Melacak Jejak Kopi

1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World

1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World

Tulisan ini adalah terjemahan dari bagian awal buku 1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World. Buku ini sangat menarik, karena membahas beraneka ragam kontribusi kaum muslim, terutama ilmuwan, pada masa keemasan Islam, abad 8-17, di mana pada saat bersamaan, Eropa terjerembab dalam periode yang disebut Masa Kegelapan (Dark Age).

Begitu banyak kontribusi kaum muslim terhadap peradaban dunia, yang sepertinya hilang, atau sengaja dihilangkan dari sejarah ‘resmi’ dunia. Ada gap antara kebudayaan awal, seperti Yunani-Rowami, dengan kebangkitan peradaban Barat (Renaissance) yang sebenarnya diisi oleh peradaban Islam yang luar biasa. Kaum muslim di berbagai pusat peradaban Islam, mulai dari Dinasti Umayyah di Damaskus, Abassiyah di Baghdad, Ummayah-Andalusia di Spanyol, Fatimiyah di Mesir dan berbagai penjuru dunia lain, berkontribusi besar tidak hanya dalam melestarikan warisan budaya, pengetahuan & teknologi dari peradaban silam, Yunani, Romawi, India, Mesir, Mesopotamia, Persia dan sebagainya, namun juga mengembangkannya ke level yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Kontribusi kaum muslim di pusat-pusat peradaban tersebut melahirkan kemajuan yang masih kita bisa rasakan manfaatnya hingga saat ini, mulai dari ilmu pengetahuan (aljabar-matematika, astronomi, kedokteran, kimia), arsitektur dan rancang bangun, seni musik & sastra, hukum & filsafat, hingga kebudayaan & kenyamanan sehari-hari, seperti kuliner, fashion, minuman kopi, karpet, sabun & parfum dan masih banyak lagi.

Terjemahan ini membahas kontribusi kaum muslim khususnya dalam mempopulerkan minuman kopi. Silahkan disimak, semoga bermanfaat.

———————————————————————————-

Ilustrasi Peradaban Muslim

Ilustrasi Peradaban Muslim

01 RUMAH

‘Orang yang paling berbahagia, baik itu Raja atau Petani, adalah dia yang menemukan ketenangan di rumahnya.’ – Johann von Goethe

Rumah adalah tempat pribadi kita, di mana kita bisa menjadi diri sendiri, di mana dunia luar berhenti persis di depan pintu masuk. Rumah mewakili diri kita, menyampaikan bahasa kita. Di dapur, mungkin terdapat ceret kopi fovorit kita, terjerang di atas kompor, persis di bawah jam yang bersandingan dengan sebuah foto liburan yang diambil tahun lalu. Aroma wangi sabun dan parfum meruap dari kamar mandi, sementara alunan musik sayup terdengar dari atas tangga yang dilapisi karpet nan mewah.

Teruslah membaca dan Anda akan terkejut saat menemukan bahwa berbagai barang tersebut di atas berasal atau dikembangkan lebih dari seribu tahun lalu oleh kaum muslim industrialis yang berusaha menciptakan kenyamanan hidup di dunia.

Awal dari kamera yang biasa Anda gunakan bisa dirunut balik ke ruang gelap di Mesir pada abad ke 10 Masehi, dan jika Anda telat dan tergesa-gesa menengok jam, maka pikirkan tentang jam setinggi 7 meter yang diciptakan di Turki pada abad ke 13 Masehi dengan kecanggihan teknologinya saat itu. Seorang laki-laki dengan panggilan “Blackbird’ di abad ke 8 Masehi datang dari Baghdad ke wilayah Spanyol Islam (Andalusia-penj) sambil membawa kebiasaan makan 3 kali sehari dan busana yang disesuikan musim. Sementara para ahli kimia mengembangkan pembuatan parfum dan catur berkembang dari permainan perang menjadi hiburan rumahan.

Menyusuri Jejak Kopi

‘Kopi menjadikan kita keras, serius dan filosofis.’ – Jonathan Swift

KopiKedai kopi pertama kali di Eropa ada di Venesia di tahun 1645, di mana kopi masuk ke Eropa melalui perdagangan dengan Afrika Utara dan Mesir. Lloyds Coffe House (Kedai Kopi Lloyds) di London (gambar bawah) yang didirikan pada akhir abad 17 merupakan sebuah tempat berkumpulnya para saudagar dan pemilik kapal. Kedai kopi pulalah yang menjadi awal pub yang saat ini kita kenal. Kedai kopi merupakan tempat di mana masyarakat mendiskusikan urusan politik dan mendorong tumbuhnya gerakan liberal.

1,6 milyar cangkir kopi diminum setiap hari di seluruh dunia. Jumlah yang cukup untuk mengisi sekitar 300an kolam renang standar Olimpiade setiap hari. Jika Anda tidak menyajikan kopi di dapur, mungkin Anda termasuk bagian minoritas masyarakat dunia. Kopi menjadi industri global dan merupakan komoditi berbasis produk terbesar kedua; hanya kalah dengan minyak.

Gembala EthiopiaLebih dari 1.200 tahun lampau, orang-orang bekerja keras untuk tetap terjaga tanpa bantuan kopi. Hingga, suatu hari, segerombolan kambing bersama penggembalanya, seorang Arab bernama Khalid, menemukan bahan sederhana namun berdampak besar terhadap kehidupan ini. Sang gembala menemukan bahwa kambing-kambingnya yang tengah merumput di daerah perbukitan Ethiopia menjadi lebih bersemangat setelah memakan sejenis buah beri. Alih-alih ikut memakannya secara langsung, sang penggembala mengambil buah tersebut ke rumah, merebusnya dan menciptakan apa yang disebut al-qahwa.

Kaum sufi di Yaman meminum al-qahwa dengan tujuan yang sama seperti kita sekarang, untuk melawan kantuk dan tetap terjaga. Sehingga mereka bisa berkonsentrasi penuh di larut malam saat berdzikir (melantunkan puji-pujian guna mengingat Allah). Kebiasaaan ini menyebar ke segenap penjuru dunia Islam lewat perantaraan para pengelana, peziarah dan kaum saudagar, hingga mencapai Mekah dan Turki pada akhir abad 15 serta mencapai Kairo pada abad 16 dan menjadi minuman populer masyarakatnya.

Suasana Kedai Kopi di Inggris

Suasana Kedai Kopi di Inggris

Adalah seorang Turki bernama Pasqua Rosee, seorang pedagang, yang pada tahun 1650, pertama kali membawa kopi ke Inggris dan menjualnya di kedai kopi di Georgeyard, Lombard Street, London. Delapan tahun kemudian, sebuah kedai lain, bernama ‘Kepala Sultan (Sultaness Head)’ dibuka di Cornhill. Lloyds of London, yangs saat ini terkenal sebagai perusahaan asuransi, awalnya merupakan sebuah kedai kopi bernama ‘Edward Lloyds Coffee House’. Di tahun 1700, terdapat hampir lima ratus kedai kopi di London, dan hampir tiga ribu di seluruh Inggris. Saat itu, kedai kopi dikenal sebagai ‘universitas sen (penny universities)’ dikarenakan Anda bisa mendengarkan dan berbincang seharian dengan para pemikir hebat masa tersebut hanya seharga secangkir kopi, yaitu satu sen, yang pada masa itu bernilai 1/240 pound.

Cappucinno

Cappucinno

Konsumsi kopi di Eropa secara umum mengikuti tata cara penyajian minum kaum Muslim. Terdiri dari perebusan campuran bubuk kopi, gula dan air secara bersamaan, yang akan meninggalkan sisa kopi di dasar cangkir karena tidak disaring. Namun, pada tahun 1683 sebuah teknik baru penyajikan kopi ditemukan, dan sejak saat itu menjadi teknik favorit di kedai-kedai kopi.

Marco d'Aviano

Marco d’Aviano

Kopi cappuccino terinspirasi oleh Marco d’Aviano, seorang pendeta dari sekte Capuchin, yang ikut berperang melawan pasukan Turki saat pengepungan kota Wina di tahun 1683. Menyusul mundurnya pasukan Turki, orang-orang Wina membuat kopi dari karung-karung kopi Turki yang tertinggal. Mereka merasa kopi tersebut terlalu kuat rasa dan aromanya, kemudian mereka menambahkan krim dan madu. Ini menjadikan kopi berubah warna menjadi kecoklatan, mirip dengan warna jubah yang dikenakan para pendeta Capuchin. Sehingga, orang-orang Wina kemudian menamai minuman tersebut cappuccino guna menghormati jasa Marco d’Aviano dan sektenya. Sejak saat itu, cappuccino diminum karena rasanya yang nikmat dan lembut.

‘Kopi bagaikan emas bagi orang biasa, dan layaknya emas, kopi memberikan perasaan mewah dan kehormatan.’ – Sheikh ‘Abd-al-Kadir, yang menulis manuskrip tertua tentang kopi di tahun 1588.

Sumber buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World

Teknik Dasar Desain Dengan Adobe Illustrator

Buku Desain Vector dan Tracing Dengan Illustrator CS

Buku Desain Vector dan Tracing Dengan Illustrator CS

Tutorial ini diambil dari buku ku berjudul Desain Vector dan Tracing Dengan Illustrator CS terbitan Elexmedia Komputindo. Meski secara versi aplikasi Adobe Illustrator CS sudah tidak up to date, namun teknik dasar yang diajarkan di sini masih relevan dan serupa dengan yang akan Anda temukan di versi lebih baru dari software tersebut.

Silahkan disimak, dan semoga bermanfaat.

Untuk bisa membuat sebuah desain, hal yang paling pokok untuk Anda miliki adalah kemampuan tehnis penggunaan suatu program. Dalam konteks buku ini, yang penulis maksud adalah program Adobe Illustrator CS. Kemampuan ini terkait erat dengan teknik-teknik dasar dalam menggunakan semua fasilitas dan fitur yang ada, sehingga Anda bisa memvisualisasikan sebuah ide menjadi desain.

Maka, di bab ketiga ini penulis sengaja membahas mengenai teknik-teknik dasar penggunaan Illustrator dengan harapan Anda akan mempunyai bekal kemampuan dalam menggunakan Illustrator, sehingga nantinya bisa fokus dalam perancangan dan aplikasi pembuatan sebuah desain.

Adobe Illustrator CS

Adobe Illustrator CS

Bagi Anda yang telah mampu atau terbiasa menggunakan program ini bisa langsung menuju bab selanjutnya. Namun, sekiranya Anda ingin memperdalam atau mencoba menemukan hal-hal baru, tak ada salahnya membaca bab ini. Sementara, bagi Anda pengguna pemula, maka penulis sarankan sebaiknya Anda baca dan pahami hal-hal yang dibahas dalam bab ini. Ok, kita mulai saja.

Bekerja Dengan Dokumen

Dokumen kerja adalah hal pertama yang harus Anda kuasai penggunaanya, karena tak mungkin Anda membuat desain tanpa membuat dokumen kerja. Kemampuan untuk membuat dan mengedit dokumen secara efektif membantu Anda bekerja lebih efisien.

Membuat dan Mengatur Dokumen Baru

Teknik pertama adalah membuat sebuah dokumen baru serta menentukan parameter penyusunnya. Untuk itu ikuti langkah-langkah berikut ini.

  • Jika Anda membuka program illustrator pertama kali, maka secara default sebuah kotak dialog Welcome Screen akan ditampilkan. Jika kotak ini tidak tampil, Anda bisa mengaktifkannya dengan memilih menu Help > Welcome Screen. Lihat Gambar 3.1.Melalui kotak dialog Welcome Screen ini, klik ikon New Document.Cara kedua adalah dengan memilih menu File > New, atau cukup dengan menekan tombol Ctrl + N pada keyboard.
Kotak dialog Welcome Screen

Gambar 3.1. Kotak dialog Welcome Screen

  • Kedua cara yang Anda pilih di atas selanjutnya akan memunculkan sebuah kotak dialog New Document, di mana di dalamnya Anda bisa menentukan berbagai parameter pengaturan dokumen.Simak Gambar 3.2. di bawah ini.
    Kotak dialog New Document

    Gambar 3.2. Kotak dialog New Document

    Perhatikan bahwa pada kotak dialog New Document ini terdapat beberapa bagian penting, yaitu:

    • Name

    Bagian ini memungkinkan Anda untuk menentukan nama dokumen. Penamaan dokumen sangat penting, karena akan memudahkan Anda dalam menyimpan dan kelak membuka kembali dokumen tersebut.

    Secara default, Illustrator CS akan emnamai dokumen yang Anda buat dengan nama “Untitled-1” dan seterusnya. Nama ini pula yang akan digunakan saat Anda akan menyimpan dokumen tersebut.

    Penulis sarankan Anda menamai dokumen dengan nama yang jelas dan mudah menunjukkan isi dokumen tersebut. Semisal, Anda akan membuat desain logo toko “Fantasia”, maka sebaiknya gunakan nama “Logo Toko Fantasia”. Lebih baik lagi jika Anda menambahkan tanggal pembuatan dokumen tersebut pada nama, sehingga memudahkan Anda mengetahui kronologis pembuatan dokumen tersebut. Semisal, penulis membuat desain pada tanggal 12 Mei 2006, maka desain di atas penulis namai “Logo Toko Fantasia 12 Mei 2006”.

    Awalnya mungkin terlihat ribet, namun ketika Anda mulai bekerja dengan banyak dokumen atau banyak revisi, maka penamaan semacam ini akan sangat membantu Anda dalam mengatur pekerjaan tersebut.

    • Size

    Bagian ini menentukan ukuran dimensional dokumen yang Anda buat. Illustrator CS membekali Anda dengan berbagai preset (ukuran tetap) dokumen yang umum digunakan melalui drop down menu Size. Namun, Anda juga bisa menentukan sendiri ukuran dokumen dengan memilih “Custom” lalu memasukkan ukuran horisontal dan vertikal dokumen tersebut.

    • Units

    Bagian ini menentukan satuan pengukuran yang Anda gunakan dalam dokumen. Illustrator CS menawarkan berbagai satuan pengukuran yang bisa Anda pilih. Anda juga bisa mengganti-ganti satuan pengukuran saat bekerja dengan dokumen aktif.

    Pemilihan satuan pengukuran sebaiknya Anda sesuaikan dengan tujuan akhir desain dalam dokumen tersebut. Jika desain tersebut ditujukan untuk kepentingan cetak (printing), sebaiknya Anda gunakan satuan pengukuran riil yang banyak dipakai sehari-hari, seperti Millimeters, Centimeters, Inches. Sementara, jika untuk kepentingan tampilan di monitor, maka satuan Pixels akan lebih baik.

    • Width

    Bagian ini menampilkan ukuran dimensional dokumen secara horisontal (mendatar), atau umum disebut lebar dokumen. Anda juga bisa mengubah sendiri lebar dokumen dengan memasukkan suatu nilai pada bagian ini.

    • Height

    Sementara, bagian ini berfungsi menampilkan ukuran dimensional dokumen secara vertikal (tegak), atau sering disebut tinggi dokumen. Serupa dengan bagian Width, Anda juga bisa mengubah ukuran tinggi dokumen dengan memasukkan nilai tertentu pada bagian ini.

    • Orientation

    Bagian ini menentukan orientasi dokumen yang Anda buat, di mana terdapat 2 (dua) pilihan orientasi, yaitu Portrait (tegak)  dan Landscape (mendatar) .

    • Color Mode

    Bagian ini memungkinkan Anda menentukan mode warna dokumen yang Anda buat. Mode warna, sebagaimana telah disinggung sedikit pada bab sebelumnya, adalah cara suatu program—dalam hal ini Illustrator CS—menampilkan beragam warna dalam dokumen berdasarkan komponen warna dasar penyusun mode warna tersebut.

    Illustrator CS menawarkan 2 (dua) mode warna yang paling umum digunakan, yaitu CMYK (Cyan-Magenta-Yellow-Black) dan RGB (Red-Green-Blue). Pemilihan mode warna ditentukan oleh tujuan akhir penggunaan desain dalam dokumen bersangkutan, di mana jika desain tersebut ditujukan untuk kepentingan cetak, sebaiknya gunakan mode warna CMYK, sementara jika digunakan untuk kepentingan tampilan di monitor, pakailah mode warna RGB.

    Setelah Anda menentukan semua parameter pengaturan dokumen, klik tombol Ok dan dokumen kerja baru siap untuk Anda gunakan. Ok, tak ada yang terlalu sulit kan dalam pembuatan dan pengaturan dokumen kerja baru.

Menyimpan dan Menutup Dokumen

Setelah Anda bisa membuat dan mengatur dokumen kerja baru, hal selanjutnya yang harus Anda kuasai adalah menyimpan dan menutup dokumen.

Menyimpan (saving) berfungsi untuk memastikan pekerjaan desain yang Anda lakukan tersimpan dalam harddisk atau media penyimpanan sejenis. Sehingga di lain waktu, Anda bisa menggunakannya lagi. Sementara, jika pekerjaan desain yang Anda lakukan sudah selesai, maka Anda perlu untuk menutup dokumen bersangkutan.

Untuk menyimpan dokumen, ikuti langkah-langkah berikut ini:

  • Jika dokumen tersebut merupakan dokumen baru, atau Anda ingin menyimpan dokumen sebagai dokumen baru, maka pilih menu File > Save As, atau tekan tombol Shift + Ctrl + S.

Sebuah kotak dialog Save As akan muncul, di mana Anda bisa menentukan nama file dan lokasi penyimpanan file tersebut pada komputer. Lihat Gambar 3.6. berikut.

Kotak dialog Save As

Gambar 3.6. Kotak dialog Save As

Lalu klik tombol Save dan dokumen tersebut akan tersimpan dengan nama file dan lokasi penyimpanan yang telah Anda tentukan.

  • Sementara, jika Anda mengedit sebuah dokumen yang telah tersimpan sebelumnya, dan Anda ingin menyimpan perubahan tersebut, maka Anda cukup memilih menu File > Save, atau tekan tombol Ctrl + S pada keyboard.

Sedangkan untuk menutup dokumen kerja yang aktif di jendela program Adobe Illustrator CS, Anda bisa memilih menu File > Close, atau cukup dengan menekan tombol Ctrl + W pada keyboard

Mengimpor dan Mengekspor Dokumen

Seringkali Anda temukan saat bekerja membuat desain, Anda perlu menggunakan image tertentu yang bukan dibuat dengan Illustrator. Maka, Anda musti terlebih dulu memasukkan image tersebut ke dalam dokumen Illustrator. Proses memasukkan image ke dalam dokumen ini disebut dengan mengimpor.

Adobe Illustrator CS memungkinkan Anda mengimpor berbagai tipe dokumen, baik itu dokumen berbasis bitmap (seperti JPEG, TIF, GIF, BMP, dsb) maupun dokumen berbasis vector (seperti FH, AI, PDF, DWG, CDR, dsb).

Untuk mengimpor image ke dalam dokumen Illustrator, ikuti langkah-langkah berikut.

  • Pilih menu File > Place
  • Kemudian, pada kotak dialog Place, navigasikan ke dalam folder tempat penyimpanan image. Selanjutnya, pilih image yang diinginkan dengan mengklik nama image tersebut, seperti terlihat pada Gambar 3.7.
Pilih image pada kotak dialog Place

Gambar 3.7. Pilih image pada kotak dialog Place

Saat Anda akan mengimpor sebuah image dengan menu Place ini, perhatikan pilihan “Link” yang ada di bagian kiri bawah kotak dialog tersebut.

]Jika Anda mengaktifkan pilihan ini, maka image dimasukkan ke dalam dokumen sebagai file terpisah (linked file). Keuntungan pilihan ini adalah dokumen Illustrator relatif lebih ringan, dan segala perubahan pada dokumen image asal akans ecara otomatis diaplikasikan pada image dalam dokumen Illustrator. Kerugiannya, jika dokumen image tersebut terhapus, atau dipindahkan tempat penyimpannya, maka image tak akan tampil di dokumen Illustrator. Hal ini sangat terasa saat Anda membuka dokumen Illustrator tersebut di komputer lain.

Sementara, jika Anda menonaktifkan pilihan “Link” ini, image yang diimpor akan dimasukkan ke dalam dokumen Illustrator sebagai bagian integral. Jadi, tak masalah di mana Anda membuka dokumen tersebut, karena image di dalamnya akan senantiasa ada. Namun, konsekuensinya, ukuran penyimpanan file dokumen Illustrator tersebut menjadi relatif lebih besar.

  • Jika Anda sudah memilih image yang diinginkan, klik tombol Place dan image tersebut akan dimasukkan ke dalam dokumen Illustrator yang sedang aktif. Simak Gambar 3.8. di bawah ini untuk lebih jelasnya.
Hasil impor dokumen image

Gambar 3.8. Hasil impor dokumen image

Sementara itu, mengekspor dokumen berfungsi untuk menyimpan dokumen Illustrator dalam format (tipe) file lain, umumnya format dokumen berbasis bitmap, seperti JPEG, GIF, PNG, TIF dan sebagainya. Untuk melakukannya, ikuti langkah-langkah berikut.

  • Dengan dokumen Illustrator aktif di jendela program Adobe Illustrator CS, pilih menu File > Export. Lihat Gambar 3.9.
Pilih menu File > Export

ambar 3.9. Pilih menu File > Export

  • Sebuah kotak dialog Export, navigasikan ke folder lokasi penyimpanan yang diinginkan, lalu tentukan nama file hasil ekspor dan tipe file yang diinginkan. Simak Gambar 3.10. berikut.
Kotak dialog Export

Gambar 3.10. Kotak dialog Export

  • Klik tombol Save dan dokumen Illustrator tersebut telah diekspor ke dalam format yang diinginkan.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Tribute to Soekarno, The 1st President of Indonesia

Image

Siapa tak kenal Soekarno?

Sepertinya hampir semua anak bangsa ini kenal sosok beliau. Presiden pertama Republik Indonesia, penggagas Pancasila, pejuang kemerdekaan, sang flamboyan, sosok kontroversial, pendiri Gerakan Non Blok (jika masih ada), dan masih banyak lagi atribut yang disandangkan padanya.

Soekarno, memang istimewa. Sebagai pribadi, maupun sebagai simbol. Berbagai kisah menarik meliputi perjalanan hidupnya. Mulai dari cerita pergantian namanya dengan pertimbangan kesehatan, penjuangannya bersekolah di Surabaya dengan “nyantrik” di rumah HOS Cokroaminoto, sang macan podium sekaligus pemimpin Sarekat Islam (SI), kisah cintanya dengan ibu kost-nya di Bandung saat kuliah di kampus yang sekarang bernama ITB, dan pastinya kiprah beliau di kancah politik internasional, khususnya dalam menentang hegemoni Amerika Serikat dan atau Soviet.

Nama Soekarno tak bisa lepas dari nama-nama pemimpin besar dunia pada masanya. Sebut saja Fidel Castro sang revolusioner Kuba dan Che Guevara, sang legenda sosialis Argentina. Mereka relatif dekat dengan beliau & berbagai visi perjuangan yang sama. Soekarno juga nampak akrab dengan Mao Zedong, sang pemimpin revolusi China. Belum lagi kiprahnya dengan berbagai pemimpin negara-negara Asia-Afrika, yang dipuncaki dengan suksesnya kegiatan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, tahun 1955. Sosok seperti Gamal Abdel Nasser, Jawaharlal Nehru, Mohammad Ali dan masih banyak lagi.

Yang tak kalah seru tentunya konflik, sekaligus permainan politik cantik Soekarno terhadap Amerika Serikat. Insiden penyanderaan pilot Amerika Serikat, Allen Pope, di tahun 1960-an yang memaksa Presiden John F. Kennedy mengikuti kemauan Soekarno untuk menukar pembebasannya dengan sejumlah kompensasi militer & ekonomi adalah strategi brilian, yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang arsitek politik nan berpengalaman.

Ya, bagaimana tidak berpengalaman, jika Soekarno selama puluhan tahun telah aktif berpolitik praktis di 3 masa, penjajahan Belanda, Jepang & kemerdekaan. Baginya, mungkin, politik dengan segala trik & tipu dayanya adalah permainan yang memacu adrenalin.

Sayang beribu sayang, akhir hidup beliau kurang bagus. Meninggal dunia dalam kondisi tertekan, sendirian, sebagai seorang “tahanan politik” oleh rezim Orde Baru.

Banyak sekali hal yang bisa diambil contoh dari beliau, dari sisi manapun. Sebagai person, maupun figur bapak bangsa.

So, dalam rangka mengenang perjuangan beliau, saya persembahkan sebuah artwork berupa tracing ilustrasi Soekarno. Semoga bermanfaat.

Tips Sukses Presentasi

Presentasi

Presentasi kiranya bagian tak terpisahkan dari hampir setiap profesi. Hampir, karena mau bidang apapun yang kita geluti, teknis & non teknis, presentasi pasti pernah atau harus kita lakukan. Barang sekali paling tidak.

Apalagi bagi yang bergelut di bidang marketing atau sales, presentasi adalah sebuah keharusan. Mungkin makanan sehari-hari kita.

Banyak yang mengeluhkan susahnya membuat atau melakukan presentasi. Banyak punya yang tidak percaya diri saat “terpaksa” harus melakukan presentasi. Kebanyakan yang mengaku demikian adalah orang-orang teknis, meskipun tak menutup kemungkinan orang non-teknis pun mengalaminya.

Nah, di sini saya tidak akan membagi tips teknis bagaimana membuat atau melakukan presentasi. Banyak sekali buku panduan atau tutorial di luar sana tentang hal tersebut. Yang ingin saya bagi, lebih ke sesuatu yang fundamental. Sesuatu yang dalam.

Berdasarkan pengalaman pribadi melakukan banyak sekali presentasi, baik untuk kepentingan perusahaan tempat saya bernaung, maupun kepentingan pribadi, saya temukan satu hal yang sejauh ini relatif bisa saya jadikan pegangan, sukses tidaknya presentasi yang saya lakukan. Sukses di sini saya ukur dari berhasil tidaknya saya meyakinkan klien atau pihak yang menjadi audience presentasi saya, dan akhirnya closing deal. Apapun deal yang saya maksud tersebut.

Hal tersebut adalah “emotional bond”, alias ikatan emosional.

Yang saya temukan adalah, audience presentasi kita sebenarnya tidak peduli atau bahkan cenderung apatis dengan konten presentasi kita. Ya, saya berani bilang, percuma kita mengisi slide-slide presentasi kita dengan data, angka, achievement dan sebagainya. Apalagi kalau dalam konteks bisnis, di mana kita sebagai pemilik produk atau jasa mencoba meyakinkan calon klien untuk membeli atau menggunakan jasa kita, maka percuma membombardir mereka dengan semua info fitur, benefit dan sebagainya. Mereka sehari-hari berurusan dengan hal tersebut, menemui vendor-vendor lain yang juga menawarkan hal serupa, masih harus mengurusi setumpuk pekerjaan rutin & administrasi di perusahaan mereka sendiri. Jadi, percuma menambahkan hal yang sama & berharap mereka mau peduli dengan apa yang kita bicarakan.

Saya pernah & masih berada di dua posisi yang berseberangan ini. Sebagai klien & sebagai vendor. Artinya, saya bekerja di perusahaan yang ditawari produk/jasa oleh pihak lain. Di saat lain, saya menjadi vendor yang menawarkan produk/jasa ke klien. Saya tahu rasanya dibuat boring mendengarkan presentasi mereka tentang betapa bagus, betapa hebat, betapa banyak pencapaian dan angka dan daftar klien dari vendor-vendor tersebut. Dan itu tidak membuat saya tergerak untuk mau memilih mereka menjadi vendor saya. Kecuali kalau boss saya memaksa tentunya.

Karenanya saya pun tak mau melakukan hal yang saya ketika saya menjadi vendor dan berusaha meyakinkan calon klien saya.

Jadi, apa yang saya lakukan. Well, seperti yang saya sebut di atas, saya coba pendekatan “emotional bond” tadi.

Alih-alih mengisi presentasi saya hanya dengan semua info tentang fitur, keunggulan, angka, pencapaian dan sejenisnya, saya berusaha menemukan, menganalisis & mengkomunikasikan “sesuatu” yang bisa menciptakan & atau menumbuhkan ikatan emosional tersebut. Ikatan emosional antara saya dengan sang klien ini.

Sesuatu itu bisa berupa ungkapan verbal, frase, bahasa tubuh atau apapun.

Rill-nya seperti ini. Sebelum presentasi, saya akan mencari tahu siapa calon klien saya. Siapapun yang akan melakukan presentasi mustinya melakukan hal yang sama. Karena, tidak masuk akan kiranya kita akan menemui seseorang atau suatu pihak untuk mempresentasikan suatu penawaran bisnis tanpa mengetahui orang atau pihak tersebut. Paling tidak, informasi dasar tentang orang atau pihak tersebut musti kita ketahui. Siapa namanya, apa bagiannya, apa posisinya, lebih bagus lagi kalau bisa mengetahui background personalnya. Orang mana, suku apa, lulusan mana, background keluarga, hobi dan apapun. Informasi apapun yang bisa didapat sebaiknya dipelajari.

Nah, dari penggalian informasi ini, background checking ini, kita bisa menemukan banyak informasi menarik yang sekiranya nanti akan berguna bagi kita. Dari semua info tadi, cari informasi yang bisa kita ekploitasi, yaitu informasi yang membuat kita terkoneksi dengan orang tersebut. Hal termudah adalah background suku/ras. Semisal Anda orang Jawa dan pihak yang jadi audience presentasi adalah orang Jawa juga, ini bisa jadi pintu masuk untuk menumbuhkan emotional bounding tadi. Atau misalnya background pendidikan, sama-sama lulusan sebuah Universitas, atau pernah bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Atau mungkin hobi yang sama. Gunakan kesamaan itu sebagai pintu masuk.

Apa? Anda bilang ini tidak profesional? Siapa bilang. Apa Anda pikir profesionalitas hanya berkaitan dengan mempresentasikan semua data, angka & pencapaian saja?

Well, kalau seperti itu, Anda hanya akan berputar-putar di lingkaran yang sama dan hanya keberuntungan saja yang menjadikan presentasi Anda berhasil. Sementara jika Anda mencoba mengeksplorasi emotional bound tadi, peluang sukses Anda akan lebih besar.

Nah, pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana masuk ke pintu & menumbuhkan emotional bound tadi?

Seperti saya singgung di atas, semuanya dilakukan secara halus dan subtle. Sebisa mungkin tak telihat frontal. Misal, jika klien yang Anda tuju ini sama-sama orang Jawa, let’s say orang Jawa Timur, Anda jangan sekali-kali menyebutkan Anda orang Jawa atau Jawa Timur juga. Jangan frontal. Anda cukup misalnya, menambahkan aksen atau sedikit frase yang sesama orang Jawa Timur pasti aware, misalnya ungkapan “rek” di akhir sebuah kalimat.

Lakukan itu as if hal itu natural keluar dari mulut Anda. Lakukan itu, dan lihat perubahan ekspresinya. Perhatikan perubahan sikap yang bersangkutan pada Anda.

Tentunya, Anda tidak boleh over dalam melakukannya. Jika klien tersebut tidak merespon atau menunjukkan perubahan sikap atau sejenisnya, well artinya pendekatan emosional lewat sentimen kesukuan tadi tidak manjur padanya. Coba yang lain. Coba gali lagi dari info background checking yang Anda lakukan sebelumnya, apa “common interest” lain di antara Anda berdua.

Saya senantiasa percaya, bahwa seringkali, keputusan bisnis, didorong bukan atas pertimbangan logis sang pengampu kepentingan, tapi lebih pada dorongan tak sadar yang bersangkutan. Dorongan yang muncul dipicu oleh hal-hal simple emosional seperti sentimen emosional, kedekatan budaya, sikap dan sejenisnya.

So, lain kali Anda akan melakukan presentasi, untuk kepentingan bisnis atau mungkin untuk wawancara kerja, ingat tips saya di atas. Cari tau siapa calon klien presentasi Anda, temukan common interest di antara Anda berdua, ekplotasi hal tersebut lewat ungkapan, catchphrase dan body language simple. Dan lihatlah hasilnya. You might be surprised by the result.

Goodluck people. Enjoy your day.

Jarwo Dosok, Kebijaksanaan Jawa

Jawa

Pertama kali mengenal istilah Jawo Dosok saat saya membaca buku Jawa-Islam-Cina : Politik Identitas Dalam Jawa Safar Cina Sajadah, karya Cin Hapsari Tomoidjojo. Secara general, jarwo dosok diartikan sebagai sebuah kata dalam bahasa jawa yang merupakan gabungan atau pemendekan dari 2 kata atau lebih. Pemendekan kata-kata tersebut dilakukan untuk memudahkan penyebutan, namun pada saat bersamaan tetap mempertahankan makna, tentunya bagi yang paham dengan makna kata-kata awalnya.

Contoh dari jarwa dosok adalah kata krikil atau kerikil. Kita sama-sama tahu apa itu kerikil. Tak lain tak bukan adalah batu berukuran relatif kecil. Dalam kaidah jarwo dosok di buku tersebut, ternyata kerikil adalah pemendekan dari kata keri nang sikil, atau kalau diterjemahkan secara bebas artinya geli di kaki. Keri, dengan ‘e’ dibaca seperti dalam kata ‘kereta’ berarti geli atau menggelitik, sedangkan ‘sikil’ berarti kaki.

Saya bukan pakar linguistik, tak pula fokus memperlajari kajian ini, namun saya temukan kata kerikil tadi sangat menarik. Kaidah jarwo dosok-nya tidak mengacu pada bentuk fisik atau fitur visual dari obyek bersangkutan, namun lebih ke hubungan atau efek yang diakibatkannya pada manusia yang bersentuhan dengannya. Menarik sekali, karena sangat simbolik.

Saya temukan jarwo dosok lainnya, seperti:

  • Kanthil (Tansah Kumanthil)

Tansah Kumanthil bisa diterjemahkan bebas sebagai Senantiasa Menempel (Berkaitan). Hal ini tentunya cocok dengan kata Kanthil sendiri, yang tak lain adalah nama bunga. Bunga kanthil alias Cempaka Putih (michelia alba). Bunga ini terkenal harum baunya dan dalam budaya Jawa dianggap istimewa, karena digunakan di berbagai acara penting, seperti perkawinan dan kematian. Pasangan pengantin biasa didandani dengan menyelipkan bunga ini di rambut. Makna dari kanthil sendiri adalah senantiasa terkenang atau lengket. Karenanya tak salah jika bunga ini pula banyak digunakan sebagai medium “pelet” alias gendam cinta. Lebih detail soal bunga kanthil, simak review di sini.

  • Garwa (Sigaraning Nyawa)

Garwa bida diterjemahkan sebagai pasangan, bisa suami atau istri. Garwa adalah jarwo dosok dari Sigaraning Nyawa, atau Belahan Jiwa. Isn’t it romantic? Padanan Bahasa Inggrisnya tak lain adalah soulmate. Bisa Anda bayangkan bahwa dalam budaya Jawa, seorang pasangan tak lain adalah belahan jiwa pasangannya. Pasangan jiwa tentunya sosok yang sangat berharga, dihormati, disayangi & dilindungi. Ibarat alter ego, pasangan adalah sisi diri kita sendiri yang lain.

Menarik bukan? Saya merasa ini salah satu kebijaksanaan budaya Jawa yang musti kita gali dan terus lestarikan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.