Hasto Suprayogo

thoughts, words, acts

Archive for buku

Graphic Computer (Komputer Grafis)

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, dalam buku ini Anda diajak untuk mencoba memahami dan menggunakan potensi komputer dalam melakukan pekerjaan kreatif, yaitu desain grafis. Setelah Anda membekali diri dengan konsep dasar desain grafis, saatnya Anda mempelajari dasar-dasar penggunaan komputer dalam pembuatan desain. Umum disebut sebagai Komputer Grafis (graphic computer).

Komputer grafis mencakup semua hal yang terkait dengan penggunaan komputer untuk menunjang pekerjaan desain grafis. Mulai dari pembagian komputer grafis menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu grafis berbasis vector dan berbasis bitmap. Program-program yang umum digunakan untuk membuat dan melakukan pengeditan desain. Berbagai format penyimpanan file desain, dan sebagainya.

Pengetahuan semacam ini akan membantu Anda untuk bisa bekerja dengan tepat dan efektif. Sehingga, Anda tidak akan mengalami saat di mana pekerjaan desain yang sudah Anda kerjakan dengan susah payah ternyata tak bisa digunakan karena hal-hal teknis. Dan Anda tak akan menerima komentar orang seperti, “Wah…mestinya Anda menggunakan program ini dan bukan itu,” atau “Harusnya Anda menggunakan format ini, resolusi segini,” serta masih banyak blablabla lainnya yang hanya akan memusingkan dan membuat Anda frustasi.

Lebih baik kenali semua hal-hal itu sekarang, and seterusnya Anda tinggal memfokuskan diri pada penyampaian pesan yang coba Anda lakukan lewat desain.

Vector vs Bitmap

Secara garis besar, komputer grafis bisa dibagi ke dalam 2 (dua) kelompok besar. Yaitu, grafis berbasis vector dan grafis berbasis bitmap. Kapan Anda musti memilih vector dan kapan Anda musti memilih bitmap musti menjadi pertimbangan pertama sebelum Anda bekerja. Bagaimana sifat-sifat keduanya, dan bagaimana mencocokannya dengan kebutuhan Anda harus ditentukan dengan bijak. Karena itu semua mempengaruhi cara kerja dan hasil yang akan Anda raih.

Vector (Vektor)

Grafis berbasis bitmap adalah macam grafis yang menggunakan obyek geometris dan perhitungan matematis dalam pembuatannya. Semua obyek pembentuk suatu desain diciptakan oleh komputer dengan mengkalkulasikan faktor-faktor matematisnya, seperti koordinat letak, ukuran dimensional, ukuran outline, dan sebagainya.

Untuk membuat grafis berbasis vector, Anda harus mendefinisikan titik awal dilanjutkan dengan titik-titik berikutnya, di mana komputer akan secara otomatis menyambungkan titik-titik tersebut dalam membentuk suatu obyek.
Karena obyek-obyek dibentuk berdasarkan posisi titik-titik penyusunnya, maka untuk mengedit suatu obyek, yang perlu Anda lakukan adalah mengedit titik-titik tersebut. Simple bukan?

Tapi tunggu dulu, meskipun kedengarannya simple, sebuah grafis berbasis vecktor bisa terdiri dari banyak obyek yang masing-masingnya terbentuk dari banyak titik pula. Namun, secara umum bisa dikatakan grafis vector adalah tipe grafis yang paling mudah digunakan dan diedit.

Perhatikan Gambar  berikut ini.

Yang istimewa dari grafis vector adalah sifatnya yang fleksibel, dalam artian Anda bisa mengubah ukuran dimensionalnya tanpa mengubah kualitas tampilan maupun hasil cetaknya. Sebuah grafis vector bisa Anda perbesar ukurannya hingga berapa meter atau Anda perkecil hingga berapa milimeter tanpa kehilangan ketajamannya. Sifat grafis vector semacam ini disebut resolusi bebas (resolution independent).

Simak Gambar berikut ini.

Karena sifatnya yang fleksibel, grafis vector umum dipakai untuk membuat desain-desain yang membutuhkan fleksibilitas juga, dalam artian desain yang bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, dalam berbagai ukuran, dan dalam berbagai media reproduksi.

Dalam konteks suatu perusahaan, grafis vector misalnya digunakan dalam pembuatan logo, di mana logo tersebut umumnya digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kop surat (letterhead), kartu nama, brosur, booklet hingga kemasan produk dan masih banyak lagi.

Untuk masing-masing penggunaan, logo berupa grafis vector akan sangat memudahkan Anda untuk memodifikasi ukuran, tata letak, dan berbagai atribut lainnya, sementara pada saat bersamaan tetap mempertahankan kualitas hasil akhirnya.

Jadi tak peduli dicetak di kartu nama berukuran 9 cm x 5 cm, spanduk 3 m x 1 m atau di brosur berukuran folio, logo perusahaan Anda akan senantiasa terlihat solid, sesolid perusahaan Anda.

Perhatikan Gambar di bawah ini.

Grafis vector juga banyak digunakan dalam pembuatan desain-desain yang membutuhkan presisi, seperti desain produk (product design), terutama untuk kemasan. Di mana ukuran dan ketepatan peletakan elemen-elemen desain sangat berpengaruh terhadap persepsi calon konsumen, yang pada akhirnya mempengaruhi keinginan untuk membeli.

Lagipula, siapa juga yang mau membeli suatu produk yang kemasannya jelek kan? Simak Gambar berikut.

Dalam perkembangannya, grafis vector juga berhasil memikat hati pada pembuatan kartun dan animasi, sehingga jika Anda perhatikan, begitu banyak situs di internet yang menggunakan animasi flash yang dibuat menggunakan grafis vector.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Keunggulan bekerja dengan grafis vector lainnya adalah, ukuran file desain yang dihasilkannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan desain yang sama yang dibuat dengan grafis bitmap.
Sebagai perbandingan, desain kartu nama pada Gambar 1.21. di atas saat dibuat sebagai grafis vector dalam format CDR (CorelDRAW) menghasilkan file berukuran 56 kB, sedangkan saat dibuat sebagai grafis bitmap dalam format JPEG (Joint Photographic Experts Group) dengan ukuran dimensional sama dan resolusi 300 dpi menghasilkan file berukuran 95 kB.
Untuk satu dua desain mungkin hal ini tidak terasa banyak bedanya, namun sekiranya Anda bekerja dengan lebih banyak desain, dan atau dengan desain berukuran dimensional lebih besar, niscaya ukuran file penyimpanan akan benar-benar Anda pertimbangkan.
Tapi, apakah grafis vector tidak ada kelemahannya? Mungkin begitu yang terbersit dalam benak Anda saat ini.

Yeah, namanya juga suatu program, tidak akan ada yang bisa sempurna memenuhi segala kebutuhan dan harapan penggunanya. Grafis vector karena terbentuk dari obyek-obyek yang dibuat dengan perhitungan matematis, kurang mampu menangani obyek-obyek yang teramat kompleks, seperti ragam warna, gradasi, perubahan kontur dan sebagainya. Sehingga, adalah hampir mustahil membuat ilustrasi wajah manusia sebagaimana yang Anda lihat di foto dengan menggunakan grafis vector. Untuk menangani gambar -gambar foto kompleks semacam ini digunakan grafis bitmap.

Ok, jadi Anda paham kan?

Anda menggunakan grafis vector untuk membuat desain yang berupa obyek-obyek geometris, dengan warna solid, yang seperlunya digunakan dalam berbagai ukuran dan media reproduksi, seperti logo, teks, kartun, animasi dan sebagainya.

Lalu, program apa yang sebaiknya Anda gunakan untuk membuat desain berbasis grafis vector? Begitu banyak program di pasaran, mungkin Anda akan dibuat bingung saat memilih di antaranya. Hampir semuanya sama, lalu apa keunggulan dan kekurangannya? Mana yang harus digunakan?
Well, program pengolah grafis vector yang paling baik digunakan sangat beragam untuk masing-masing negara. Di Amerika Serikat, program yang paling banyak digunakan adalah Adobe Illustrator.

Di negara-negara Eropa, terjadi pertarungan sengit antara Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand. Sedangkan khusus untuk Indonesia, dan beberapa negara Asia, CorelDRAW masih merajai pasaran. Meskipun, untuk kalangan profesional, pilihan tetap jatuh pada Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand.

Mengapa bisa demikian?

Adobe Illustrator, dengan rilis terbarunya berbandrol Illustrator CS—singkatan dari Creative Suite—adalah program yang menawarkan fasilitas, fitur, dan kemampuan paling lengkap dan paling menunjang untuk berbagai pekerjaan kreatif. Kompabilitasnya untuk menghasilkan desain yang solid, presisi bentuk dan warna, serta dukungan yang luas dari hampir semua mesin cetak menjadikannya kawan karib para desainer profesional.

Lihat Gambar berikut.

Jika Anda datang ke percetakan, pilihan utama mereka untuk mencetak desain Anda adalah dengan format AI—yaitu format file Adobe Illustrator.
Namun, program Adobe Illustrator kurang bisa merajai di Indonesia karena kurang tampilan antamuka (interface) nya kompleks dan juga membutuhkan komputer dengan kapasitas relatif besar untuk bisa menginstallnya.

Program grafis vector yang menjadi pilihan kedua para desainer profesional di Indonesia adalah Macromedia Freehand, dengan rilis terbarunya berbandrol Freehand MX. Freehand digunakan karena program ini paling ringan kebutuhan sistem komputer untuk menginstallnya, presisi warna serta dukungan yang baik dari percetakan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Freehand kurang juga bisa memasyarakat di Indonesia karena tampilannya yang kurang menarik. Terlalu sederhana dan kurang memudahkan bagi para pengguna pemula. Namun, meski demikian, proses cetak suatu desain akan sangat terbantu jika Anda membuat desain dengan program ini, di mana file hasil jadinya disimpan dalam format FH (Freehand).

Sampai sejauh ini, program grafis vector yang paling luas digunakan di Indonesia adalah CorelDraw, dengan rilis terbarunya berbandrol CorelDRAW 12. Meski kurang didukung oleh banyak percetakan, serta mempunyai kelemahan dalam presisi warna dan efek bayangan, namun interface CorelDRAW yang ergonomis serta penggunaanya yang mudah menjadikannya jawara.

Lihat  pada Gambar berikut.

Dari waktu ke waktu peminat program CorelDRAW semakin meningkat, baik karena dorongan hobi semata, maupun mereka yang berminat serius untuk berkarir di dunia desain grafis.

Bagi perusahaan, penggunaan CorelDRAW sangat membantu dalam menunjang pembuatan berbagai desain penunjang keseharian kerja. Juga untuk membuat desain penunjang promosi pemasaran produk atau jasa perusahaan bersangkutan.

Kemudahannya menjadikan Anda yang bahkan tak punya background pendidikan desain pun bisa memanfaatkannya sesuai kebutuhan Anda. Intinya, tak ada yang tak bisa mendapatkan manfaat dari CorelDRAW.
Karena pertimbangan semacam itu pula, pada buku ini, penulis memilih menggunakan program CorelDRAW 12 sebagai program utama dalam berbagai proyek desain yang dibuat di sini.

bersambung…

Pioneers of Modern Graphic Design

Pioneers Of Modern Graphic Design

Pioneers Of Modern Graphic Design

Just found a great ebook. Pioneers of Modern Graphic Design by Jeremy Aynsley.

Check it out. Worth to read.

Tracing Foto Dengan Adobe Illustrator

Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator

Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator

Diambil dari buku ku berjudul Desain Vector dan Tracing Dengan Illustrator CS terbitan Elexmedia Komputindo.

Well, Anda sudah sampai ke bab 15, sebuah bab yang sangat istimewa. Karena pada bab ini penulis akan mengajak Anda untuk membuat portrait tracing.

Yeah, sesuai dengan tebakan Anda, model ini mengacu pembuatan tracing wajah (portrait) yang tentunya sangat menarik. Siapa yang tak mau membuat tracing wajah, apalagi wajah orang-orang penting dalam hidup Anda atau bahkan wajah Anda sendiri (self-portrait)

Oke…kita mulai saja yuk.

  • Mulailah dengan membuat dokumen kerja baru. Pilih menu File > New, kemudian isi kotak dialog New Document seperti pada Gambar 15.1. berikut.

Gambar 15.1. Kotak dialog New Document

Gambar 15.1. Kotak dialog New Document

Klik Ok dan Anda akan mendapatkan sebuah dokumen kerja baru siap pakai seperti pada Gambar 15.2. di bawah ini.

Gambar 15.2. Dokumen kerja baru siap pakai

Gambar 15.2. Dokumen kerja baru siap pakai

  • Impor image yang akan ditrace. Kebetulan penulis menemukan sebuah image cewek dengen ekspresi yang bagus untuk ditrace. Penulis sarankan, jika Anda akan melakukan tracing wajah seseorang, pilihlah image yang ukuran dimensional dan resolusinya relatif besar.

Hal ini dikarenakan keindahan sebuah portrait tracing terletak pada detail yang bisa Anda tampilkan. Sementara, untuk bisa melakukan tracing secara detail, image yang digunakan musti detail pula. Dengan kata lain, semakin besar image, semakin besar kemungkinan Anda dapatkan hasil tracing yang baik.

Untuk mengimpor image, seperti biasa pilih menu File > Place, kemudian pada kotak dialog Place, navigasikan ke directory tempat penyimpanan image. Pilih image yang dimaksud, lalu klik Place dan image akan masuk ke dalam dokumen kerja Anda.

Lihat Gambar 15.3. di bawah ini.

Gambar 15.3. Impor image ke dalam dokumen

Gambar 15.3. Impor image ke dalam dokumen

Kunci layer image sehingga untuk menghindari pengeditan tak sengaja. Caranya dengan mengklik ikon Toogles Lock   yang terletak di samping kiri Layer 1 tempat image berada.

Kemudian, buat layer bar di atas Layer 1 dengan jalan klik ikon Create New Layer   pada bagian bawah Palette Layers.  Simak Gambar 15.4.

Gambar 15.4. Kunci layer image dan buat layer baru

Gambar 15.4. Kunci layer image dan buat layer baru

  • Perbesar tampilan image dengan mengklik tombol Ctrl + [+] pada keyboard untuk memudahkan Anda melakukan tracing. Aktifkan Pen tool  , ubah warna stroke menjadi putih dan nonaktifkan warna fill pada Toolbox.

Penulis biasa memulai tracing wajah dari bagian mata. Seperti yang penulis jelaskan saat melakukan tracing mobil, mulai dengan membuat obyek yang posisinya paling atas. Di mata manusia, biasanya terdapat kilauan cahaya. Nah, trace bagian ini terlebih dulu.

Perhatikan Gambar 15.5. berikut ini.

Gambar 15.5. Mulai trace bagian paling atas mata

Gambar 15.5. Mulai trace bagian paling atas mata

Ubah warna isinya menjadi putih, kemudian melalui Palette Transparency, ubah nilai transparansi obyek tersebut menjadi 20% atau kurang. Simak Gambar 15.6.

Gambar 15.6. Ubah warna isi dan transparansi obyek

Gambar 15.6. Ubah warna isi dan transparansi obyek

  • Setelah bagian kilauan cahaya mata, selanjutnya buat obyek bola mata. Aktifkan Pen tool  , gunakan warna stroke putih dan fill nonaktif, kemudian mulai trace kontur bola mata. Jika sudah, ubah warna isinya menjadi hitam dengan mengklik area image yang ada di bawahnya dengan menggunakan Eyedropper tool.

Jangan lupa untuk memposiikan obyek bola mata di urutan paling bawah dengan memilih menu Object > Arrange > Send to Back.

Lihat Gambar 15.7

Gambar 15.7. Buat obyek bola mata

Gambar 15.7. Buat obyek bola mata

Jika Anda perhatikan, bola mata manusia tidak hanya satu warna—hitam saja misalnya—melainkan ada area berwarna lain yang biasa disebut iris. Nah, pada pada image yang penulis trace juga terdapat iris dengan warna coklat di bagian mata.

Penulis akan men-trace area iris tersebut, mengubah warna isinya menjadi coklat lalu memposisikannya di urutan paling bawah. Perhatikan Gambar 15.8. di bawah ini.

Gambar 15.8. Trace area iris dan ubah warna isinya

Gambar 15.8. Trace area iris dan ubah warna isinya

  • Ok, setelah berhasil melakukan tracing obyek penyusun bola mata, berikutnya trace obyek bulu mata dan garis mata yang posisinya di atas bola mata.

Kembali gunakan Pen tool  , ubah warna stroke menjadi putih dan nonaktifkn warna fill. Lakukan tracing, lalu ubah warna isinya menjadi hitam dengan mengklik area image di bawahnya menggunakan Eyedropper tool  , sehingga didapat hasil seperti pada Gambar 15.9.

Gambar 15.9. Trace area bulu mata dan ubah warnanya

Gambar 15.9. Trace area bulu mata dan ubah warnanya

Lanjutkan dengan melakukan tracing area coklat disekitaran mata, sekaligus sebagai pembatas mata. Jangan lupa posisikan di urutan paling bawah. Perhatikan Gambar 15.10.

Gambar 15.10. Trace area pinggiran mata

Gambar 15.10. Trace area pinggiran mata

Berikutnya, trace area dalam mata yang berwarna putih. Posisikan di urutan paling bawah sehingga didapat hasil seperti pada Gambar 15.11. di bawah ini.

Gambar 15.11. Trace area putih mata

Gambar 15.11. Trace area putih mata

Kemudian, trace area bayangan di bawah mata dan sekeliling mata, kemudian ubah warnanya menjadi coklat mudah dengan Eyedropper tool  . Jangan lupa posisikan di urutan paling bawah dengan memilih menu Object > Arrange > Send to Back. Simak Gambar 15.12. berikut ini.

Gambar 15.12. Trace area bayangan di bawah mata

Gambar 15.12. Trace area bayangan di bawah mata

Selanjutnya, seleksi semua obyek penyusun mata, gabungkan menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group, atau cukup dengan menekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

Untuk melihat seperti apa tampilan ilustrasi yang sudah Anda buat, nonaktifkan tampilan layer image dengan mengklik ikon visibility   di samping kiri Layer 1.

Perhatikan dengan seksama tampilannya seperti pada Gambar 15.13. di bawah ini.

Gambar 15.13. Hasil ilustrasi mata

Gambar 15.13. Hasil ilustrasi mata

Lumayan bukan? Memang capek dan butuh waktu, tapi kalau Anda memang ingin memperoleh hasil terbaik, Anda musti sabar, Ok?

  • Setelah mata pertama berhasil Anda trace, lanjutkan pada mata kedua. Ikuti langkah-langkah serupa dengan saat Anda membuat tracing mata pertama. Mulai dari obyek yang posisinya paling atas, diikuti obyek bawahnya dan begitu seterusnya.

Berikut penulis tunjukkan hasil tracing mata kedua pada Gambar 15.14. berikut supaya Anda bisa memperoleh gambaran yang lebih jelas.

Gambar 15.14. Trace obyek mata kedua

Gambar 15.14. Trace obyek mata kedua

Jika sudah berhasil gabungkan masing-masing obyek mata menjadi satu grup, sehingga memudahkan Anda dalam melanjutkan proses tracing.

  • Setelah mata selesai Anda tracing, lanjutkan dengan melakukan tracing pada alis. Kita mulai dengan alis sebelah kanan. Gunakan Pen tool   dengan stroke warna putih dan fill nonaktif, lalu mulai trace kontur alis tersebut.

Lihat bahwa di alis sebelah kanan terdapat 2 area warna utama, yaitu coklat muda dan coklat tua. Anda bisa gunakan warna yang telah diaplikasikan pada obyek mata.

Mulai dengan tracing area yang posisi paling atas, baru area yang posisinya di bawahnya. Hasilnya terlihat seperti pada Gambar 15.15.

Gambar 15.15. hasil tracing alis mata kanan

Gambar 15.15. hasil tracing alis mata kanan

Lanjutkan dengan tracing area alis sebelah kiri. Perhatikan bahwa alis kiri mempunyai warna lebih gelap. Gunakan Eyedropper tool   untuk memilih warna yang sesuai dari image. Simak Gambar 15.16. di bawah ini.

Gambar 15.16. Trace alis sebelah kiri

Gambar 15.16. Trace alis sebelah kiri

Jika sudah, seleksi masing-masing obyek alis dan gabungkan menjadi satu grup.’

  • Berikutnya, lanjutkan dengan men-trace area hidung, terutama bagian lubang hidung. Gunakan Pen tool  , trace kontur dan gunakan Eyedropper tool   untuk mengaplikasikan warna yang sesuai. Simak hasilnya pada Gambar 15.17.

Gambar 15.17. Trace area hidung

Gambar 15.17. Trace area hidung

Seleksi semua obyek penyusun hidung dan gabungkan menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group, atau tekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

  • Lanjutkan dengan mentrace area bibir dan mulut. Hati-hati saat melakukan tracing daerah ini, karena bibir dan mulut sangat jelas terlihat saat sebuah image jadi.

Perhatikan hasil tracing yang penulis lakukan terhadap area bibir dan mulut image, sebagaimana terlihat pada Gambar 15.18. di bawah ini.

Gambar 15.18. Hasil tracing obyek bibir dan mulut

Gambar 15.18. Hasil tracing obyek bibir dan mulut

Jika sekarang Anda perhatikan, obyek-obyek tracing yang dihasilkan sudah mulai membentuk sesosok wajah, seperti terlihat pada Gambar 15.19. di bawah ini.

Gambar 15.19. Ilustrasi sementara hasil tracing

Gambar 15.19. Ilustrasi sementara hasil tracing

  • Kembali lanjutkan tracing area telinga. Gunakan Pen tool   dan ikuti kontur area dalam telinga untuk menampilkan bentuknya. Lalu, manfaatkan Eyedropper tool   untuk mengaplikasikan warna yang sesuai berdasarkan area image yang ada di bawahnya.

Karena obyek yang ditrace adalah image seorang perempuan, penulis tak lupa pula melakukan tracing pada anting-anting yang dipakainya.

Simak Gambar 15.20. untuk melihat hasilnya.

Gambar15.20. Hasil tracing telinga

Gambar15.20. Hasil tracing telinga

Jangan lupa jika sudah berhasil men-trace area telinga, seleksi semua obyek penyusunnya, lalu gabungkan menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group, atau cukup tekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

  • Nah, sekarang kita sampai pada bagian yang sangat kritis dan membutuhkan perhatian seksama, yaitu bagian rambut. Perhatikan bahwa seperti juga area mata, rambut manusia terdiri dari beberapa bagian yang musti Anda trace dengan jeli, dimulai dari bagian kilaua rambut, bagian hitam rambut dan helai-helai luar.

Awali dengan melakukan trace pada area kulaian rambut. Ingat Anda musti ekstra hati-hati. Gunakan Pen tool   dengan warna stroke putih dan fill nonaktif, dan lakukan untuk setiap area kilauan rambut. Jika kilauan rambut jumlahnya banyak, ya Anda musti melakukannya terus dan terus hingga semuanya berhasil di-trace.

Jika sudah, ubah warna isinya menjadi putih dan atur transparansinya menjadi 20% atau kurang.

Penulis tunjukkan bagaimana hasil dari tracing obyek kilauan rambut seperti pada Gambar 15.21. di bawah ini.

Gambar 15.21. Hasil tracing area kilauan rambu

Gambar 15.21. Hasil tracing area kilauan rambu

Jangan lupa untuk menggabungkan semua obyek kilauan rambut menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group atau tekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

  • Berikutnya, lakukan tracing untuk area hitam rambut. Nah, untuk bagian ini, Anda juga musti ekstra hati-hati, karena selain rambut itu mempunyai karakteristik unik, yaitu detail helaiannya yang fleksibel, juga jumlah helai yang musti Anda trace relatif banyak.

Jangan lupa untuk memposisikan hasil tracing area hitam rambut di bawah tracing kilauan rambut. Lihat hasil tracing penulis pada Gambar 15.22. di bawah ini.

Gambar 15.22. Trace area rambut

Gambar 15.22. Trace area rambut

Sekarang coba nonaktifkan tampilan layer image sehingga kita bisa melihat sejauh apa perkembangan tracing yang sudah dilakukan. Simak Gambar 15.23.

Gambar 15.23. Hasil sementara tracing image

Gambar 15.23. Hasil sementara tracing image

Lumayan ok juga, sejauh ini sudah lebih nampak karakteristik orang yang kita trace dari image. Lanjutkan terus yuk.

  • Berikutnya, kita akan melakukan tracing area bayangan yang membentuk kerutan pada wajah dan area lain, sebelum kita nantinya mengaplikasikan tracing pada bagian kulit.

Perhatikan Gambar 15.24. berikut ini.

Gambar 15.24. hasil tracing bayangan kerut wajah

Gambar 15.24. hasil tracing bayangan kerut wajah

Setelah itu, trace area baju sehingga memudahkan Anda nantinya dalam membuat obyek kulit. Ikuti kontur baju yang ada, ubah warna isinya menjadi hitam dan posisikan pada urutan paling bawah.

Perhatikan Gambar 15.25. di bawah ini untuk lebh jelasnya.

Gambar 15.25. Buat tracing obyek baju

Gambar 15.25. Buat tracing obyek baju

  • Sekarang, buat obyek kulit yang warnanya lebih gelap. Ikuti kontur kulit tersebut, seperti nampak pada Gambar 15.26.

Gambar 15.26. Trace area gelap kulit

Gambar 15.26. Trace area gelap kulit

Lanjutkan dengan trace area kulit sisanya. Sebenarnya, Anda bebas untuk membuat berapa lapis kulit, semakin banyak berarti semakin smooth (halus) jadinya tekstur kulit yang didapatkan. Jika Anda lihat, pada contoh ini penulis menggunakan 2 lapis kulit plus 3 lapis bayangan di atasnya.

Perhatikan hasilnya pada Gambar 15.27. berikut ini.

Gambar 15.27. Trace area kulit

Gambar 15.27. Trace area kulit

Jika sudah, Anda akan mendapatkan hasil akhir tracing seperti pada Gambar 15.28. di bawah ini.

Gambar 15.28. Hasil akhir portrait tracing

Gambar 15.28. Hasil akhir portrait tracing

Bagiamana hasil tracing tadi? Ok bukan? Anda bisa mengaplikasikan teknik ini untuk membuat karya seni dari image orang-orang yang berarti dalam hidup Anda.

Untuk melihat lebih banyak lagi contoh tracing vector yang sudah saya buat, silahkan cek di Astayoga.DeviantArt.com

Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat. :)

Desain Grafis Untuk Kepentingan Bisnis

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Kutipan dari Kata Pengantar buku CorelDraw Untuk Bisnis.

Desain Grafis Untuk Kepentingan Bisnis?

Inilah ide dasar yang terbersit di benak penulis ketika merancang buku yang sekarang ada di tangan Anda ini. Bagaimana desain grafis bisa mendukung kepentingan bisnis? Bagaimana aplikasinya secara riil? Bagaimana mendayagunakannya secara optimal untuk menunjang kampanye pemasaran suatu produk atau perusahaan?

Dengan berdasarkan pada pengalaman pribadi sebagai desainer grafis, hasil riset dan juga hasil diskusi dengan beberapa rekan, baik dari kalangan bisnis maupun sesama desainer, penulis temukan bahwa memang desain grafis mempunyai peran yang signifikan dalam kesuksesan suatu bisnis.

Desain grafis, bermain dalam pencitraan, suatu bagian dari ranah komunikalsi massa yang dijalankan oleh hampir semua bisnis. Karenanya, tak dapat dinafikkan betapa desain/visualisasi suatu pesan bisnis sangat menentukan apakah bisnis tersebut bisa berhasil atau tidak.

Untuk menjual produk atau jasa, sebuah perusahaan tak bisa hanya mengandalkan kualitas produk atau jasa itu sendiri. Namun, musti dudukung oleh komunikasi ide yang intens, dimana salah satunya melalui tampilan visual yang menarik dan representatif dengan nilai-nilai tersebut.

Nah, disinilah tantangan bagi seorang desain grafis untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Bahkan, seringkali hal ini tak cuman menjadi tanggungan seorang desainer grafis, melainakn pihak marketing suatu perusahaan, atau kalau kita bicara dalam konteks usaha kecil dan menengan (SOHO), ini menjadi tanggungjawab pebisnis itu sendiri.

Jika memang demikian, tak ada salahnya jika Anda, baik itu seorang desainer, pebisnis, pegawai kantoran, marketing atau apapun untuk mencoba menengok apa yang coba dibahas dalam buku ini.

Di sini, penulis menguak berbagai sisi pembuatan desain-desain yang paling umum dilakukan untuk kepentingan bisnis, mulai dari usaha paling kecil (usaha rumahan) hingga perusahaan multinasional.

Logo, letterhead, business card adalah beberap contoh aplikasi riil desain grafis dalam menunjang suatu bisnis. Dan itu pula proyek-proyek yang akan dicontohkan proses pembuatannya dalam buku ini.

Anda bisa mengikutinya step-by-step melalui penjelasan yang singkat, padat dan jelas, sehingga Anda pun bisa mempraktekkannya secara langsung untuk kepentingan bisnis Anda sendiri.

Selain itu, penulis sengaja memilihkan program desain CorelDRAW 12 yang terbukti tak hanya mudah digunakan (user-friendly), bahkan bagi para pemula di dunia desain, namun juga relatif ampuh untuk menangani berbagai proyek desain yang Anda butuhkan.

Jadi tunggu apa lagi. Mulailah membuka, mempelajari dan praktekkan langsung semua yang dijelaskan di buku ini. Penulis jamin Anda akan temukan banyak manfaat yang bisa diaplikasikan langsung dalam menunjang bisnis yang Anda jalani.  Ok?

Bagi pembaca yang mempunyai kritik, saran, masukan atau sekedar ingin bertukar ide mengenai desain grafis, silahkan hubungi penulis via e-mail atau YM di alamat astayoga@yahoo.com atau log in di http://astayoga.wordpress.com.

Graphic & Web Design Ebook

contoh ebook desain grafis

contoh ebook desain grafis

Salah satu cara untuk belajar desain adalah dengan memperbanyak referensi. Buku desain banyak beredar di toko buku, cuman sayangnya, hampir sebagian besar buku desain di Indonesia berkisar pada panduan teknis menggunakan software desain, atau tutorial desain. Jarang yang membahas mengenai konsep atau filosofi desain. Akibatnya, banyak desainer Indonesia yang kuat secara teknis, namun secara konseptual relatif lemah–terutama mereka yang baru terjun di dunia desain atau yang baru lulus dari kampus.

situs download ebook berbayar

situs download ebook berbayar

Mau tak mau, buku-buku dari luar yang musti kita jadikan referensi lanjutan. Nah, jika bicara tentang buku desain dari luar, hal pertama yang umum terbersit adalah mahalnya harga buku tersebut. Pasti di atas ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bukan hal yang mudah untuk mengeluarkan dana segitu “hanya” demi sebuah buku.

Kita bisa siasati dengan mencari versi ebook-nya. Ebook adalah versi elektronik dari sebuah buku, dimana konten yang sama dikemas secara digital sebagai dokumen yang bisa dibuka di komputer atau sejenisnya menggunakan software pembaca ebook, seperti Adobe Acrobat Reader.

Banyak situs di internet yang menawarkan berbagai ebook secara gratis. Di sini penulis tidak akan membicarakan sisi legalitas formal dari membaca/mengunduh ebook lewat situs-situs tersebut. Beberapa pihak akan bilang hal itu ilegal, namun banyak pula yang berapologi–termasuk penulis–bahwa demi pengetahuan, membaca atau mengunduh ebook bisa dibenarkan selama tidak diperjualbelikan. Let’s skip this part, ok?

www.4shared.com

www.4shared.com

Salah satu situs yang memungkinkan kita mengunduh ebook secara gratis adalah 4Shared.com. Bagi Anda yang banyak berkecimpung di dunia maya, nama 4Shared tentunya tak asing lagi. Termasuk salah satu situs penyimpanan file terwahid, kita bisa menemukan hampir apa saja di sana. Tidak hanya ebook, namun juga file music (mp3), video &  foto/image.

Mulailah dengan membuka situs 4Shared.com dengan mengakses alamat http://www.4shared.com pada browser Anda. Penulis menyarankan Anda menggunakan Mozilla Firefox atau Opera karena memungkin untuk meresume file download jika proses unduh yang dilakukan putus di tengah jalan.

Anda akan mendapatkan tampilan seperti terlihat di bawah ini.

halaman utama (home page) 4shared.com

halaman utama (home page) 4shared.com

Anda tak perlu daftar menjadi member jika hanya ingin mencari & mengunduh file yang ada di sana. Cukup perhatikan bagian Search Files yang ada di bagian sebelah tengah kanan halaman.

Search Files

Search Files

Yang harus Anda lakukan hanya memasukkan kata kunci (keyword) file yang mau Anda cari. Semisal, kita ingin mencari ebook mengenai Graphic Design, maka cukup ketikkan “graphic design” di sana, kemudian klik tombol Search yang ada di samping kanannya.

Maka Anda akan dapatkan hasil pencarian seperti terlihat di Gambar berikut ini.

hasil pencarian "graphic design"

hasil pencarian "graphic design"

Secara default, 4Shared akan menampilkan hasil pencarian berdasarkan popularitas file bersangkutan. Jadi, yang ada di urutan paling atas adaalah file yang paling banyak didownload.

Ok, sekarang coba klik salah satu file hasil pencarian tersebut. Sebagai contoh, penulis mengklik file “Design and Graphics – Digital Image Processing.pdf“. Anda bisa lihat bahwa file tersebut berukuran 20.354Kb atau sekitar 20Mb.

file dokumen yang akan didownload

file dokumen yang akan didownload

Begitu Anda klik link tadi, maka jendela baru akan terbuka dan menampilkan halaman file bersangkutan dengan detail infonya. Simak Gambar di bawah ini.

halaman detail dokumen

halaman detail dokumen

Perhatikan bahwa terdapat sebuah tombol Download Now. Klik tombol tersebut guna mendownload file bersangkutan. Ada baiknya, sebelumAnda memutuskan untuk mendownload, Anda baca terlebih dahulu informasi yang ada di dokumen tadi, juga komentar user-user lain yang telah mendownload. Semisal mengenai kualitas ebook-nya, ada tidaknya virus atau password dan sebagainya. Jika semua dirasa ok, klik tombol Download Now.

Begitu Anda klik Download Now, Anda akan dibawa ke halaman donwload. Namun sebelumnya, Anda akan lihat bahwa 4Shared melakukan penghitungan mundur (countdown) selama beberapa detik sebelum menampilkan link download-nya. Seperti nampak di Gambar berikut.

Countdown link

Countdown link

Tunggu hingga hitungan mundur selesai, kemudian Anda akan lihat link Click here to download the file, seperti ditunjukkan Gambar di bawah ini.

link download dokumen 4shared

link download dokumen 4shared

Klik link tersebut, dan browser Anda akan memunculkan pop-up menu lokasi penyimpanan file, seperri terlihat di Gambar berikut.

pop-up menu penyimpanan file download

pop-up menu penyimpanan file download

Klik Ok, maka proses pengunduhan akan segera dimulai.

proses download file

proses download file

Tunggu hingga proses pengunduhan selesai. Jik sudah selesai, maka Anda akan dapatkan file ebook tadi di folder lokasi penyimpanan file downlad seperti nampak di Gambar di bawah ini.

file hasil download

file hasil download

Nah, sekarang silahkan dibuka dan dibaca ebook-nya.

buka file hasil download

buka file hasil download

Silahkan dicoba sendiri, dan semoga bermanfaat.

PS. Mohon jika mendownload file apapun di 4Shared dan situs sejenisnya, tidak diperjualbelikan.

Desain Packaging

Ga sengaja bongkar-bongkar stok desain lama. Nemu desain-desain lawas saat mengawali karir sebagai desainer grafis di Semarang. Yup, sebelum merantau ke Jakarta, dulu sempat kerja kurang lebih 2 tahun di Jamu Jago sebagai desainer grafis. Main job-nya sich ngedesain packaging produk. Karena kebetulan kita bergerak di bidang farmasi, maka packaging menjadi satu hal yang sangat penting.

Contoh desain packaging yang pernah aku bikin

Basmurat

kemasan jamu Basmurat

Basmurat adalah produk jamu asam urat.

Konsep desain yang aku gunakan adalah bagaimana memvisualisakan penderitaan mereka yang terkena gejala gangguan asam urat berlebih, dimana persendian terasa sakit seakan tertusuk-tusuk.  Bagimana membuat calon konsumen merasakan bahwa kesakitan semacam itu tak seharusnya terlalu lama mereka derita jika mereka mau mengkonsumsi produk ini.

Karenanya, dalam eksekusinya, aku mendayagunakan beberapa elemen visual utama guna menyampaikan pesan tersebut:

  • Ilustrasi tulang dan persendian

Ilustrasi tulang dan persendian menyampaikan pesan visual yang jelas mengenai penyembuhan akan derita di bagian tubuh manakah yang ditawarkan produk ini. Yaitu pada persendian yang terkena asam urat.  Akan lebih mudah menumbuhkan asosiasi antara produk dengan penyakit melalui visualisasi macam ini.

  • Skema warna (merah, kuning, hitam)

Skema warna yang aku pilih sengaja memanfaatkan warna-warna panas (hot colors), seperti merah dan kuning, dengan penyeimbang warna netral seperti hitam dan putih.  Warna panas adalah jenis warna yang secara psikologis menumbuhkan asosiasi akan rasa sakit, suatu hal yang mencolok, movement dan sebagainya, yang aku anggap cocok untuk menguatkan asosiasi produk ini dengan penyakit asam urat.

Kedua warna tersebut semakin dikuatkan dengan warna hitam dan putih yang sifatnya netral. Di mana keberadaan area hitam dan putih semakin menonjolkan eksistensi kedua warna panas tadi.

  • Heading, subheading & teks pendukung

Heading merupakan hal yang tak bisa dihindari, karena heading di sini berkaitan dengan nama brand produk yang dimaksud. “Basmurat” sebagai nama produk aku tempatkan di pososi tengah atas dengan harapan dia menjadi pusat perhatian ketika calon konsumen melihat kemasan produk ini. Dengan menggunakan font yang tegas, serta sengaja dibuat dalam style miring (italic), aku berusaha menguatkan nuansa yang ada. Pemilihan font menjadi hal yang sangat penting saat merancang sebuah tampilan packaging produk. Karena setiap jenis font membawa nuansanya sendiri.

Sebagaimana terlihat, font untuk kata Basmurat masuk jenis Sans Serif, dimana nuansa yang terbangun adalah ketegasan, modern, to the point dan adanya level of confidence yang jelas. Ini dibutuhkan untuk menguatkan image bahwa produk ini manjur mengatasi semua gejala asam urat.

Aku sengaja menggunakan warna putih untuk heading basmurat ini dengan efek bayangan di belakangnya dengan pertimbangan kontras yang diciptakannya. Mengingat background yang sudah warna-warni, terutama didominasi warna-warna panas, aku butuh heading mempunyai warna lain. Putih adalah pilihan yang aku ambil. Efek bayangan menguatkan kontras yang ada, sekaligus menghilangkan kebutuhan akan outline tegas. Karena bayangan yang ada selain mampu memberikan ilusi jarak antara obyek tulisan Basmurat dengan latar belakangnya, juga berfungsi sebagai pembatas.

  • Logo
Berkreasi Membuat Logo Dengan CorelDraw 12

Berkreasi Membuat Logo Dengan CorelDraw 12

Logo di sini meliputi logo perusahaan produsen produk ini serta logo lainnya–logo produk jamu & produk berbahan dasar herbal. Ini penting ada karena logo perusahaan memudahkan asosiasi produk dengan citra perusahaan yang membuatnya. Sebuah produk baru mungkin tidak akan dijadikan pilihan oleh calon konsumen jika hanya mengandalkan dirinya sendiri. Namun, calon konsumen mungkin akan memilihnya begitu mengetahui bahwa produk tadi merupakan produksi dari perusahaan tertentu yang sudah punya nama.

Karena Jamu Jago merupakan salah satu pionir industri jamu di tanah air, dengan reputasi yang bisa dibilang bagus dan terpercaya, maka penggunaan logo Jamu Jago di kemasan produk menjadi semacam jaminan akan kualitasnya. Juga penggunaan logo-logo lain juga penting untuk semakin menguatkan pencitraan sebagai produk terpercaya baik dari sisi produsen maupun kelaikan produk dalam menenuhi standarisasi pemerintah (POM).

Lebih dalam mengenai konsep pembuatan logo dan sebagainya, bisa merujuk pada buku karangnya berjudul Berkreasi Membuat Logo dengan CorelDraw 12 terbitan Elexmedia Komputindo.

***

Lepas dari masalah concept development dari desain dan ekesekusinya hingga menghasilkan tampilan seperti di atas, hal yang tak kalah penting adalah produksi & post-production-nya. Di mana, desain packaging untuk kemasan produk mempunyai perbedaan mendasar dengan desain untuk kepentingan cetak lainnya.

Hal ini terjadi karena materi yang digunakan untuk sebuah kemasan produk (dalam hal ini jamu yang masuk kategori makanan/minuman) berbeda dengan materi cetak lain. Material yang diguankan adalah sejenis plastik berlapis alumunium foil guna melindungi bahan-bahan yang disimpan di dalamnya. Beda dengan mencetak di material kertas, percetakan pada alumunium foil dan sejenisnya menggunakan teknologi rotogravure.

Aku tak terlalu mendalami soal cetak rotogravure ini. Yang musti diingat adalah hasil cetak yang dihasilkan amat tergantung pada material yang digunakan, dimana secara visual kita tak terlalu bisa mengharapkan hasilnya secerah desain yang dicetak pada bahan kertas.

Selain itu, jumlah percetakan yang melayani percetakan rotogravure di Indonesia relatif masih sedikit, salah satunya adalah Pura Barutama yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah.

***

Koleksi desain packaging ku lainnya bisa dilihat di portfolio online ku.

Ok, selamat mendesain!

Efek Teks Pop-up

Buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop oleh Hasto Suprayogo

Buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop oleh Hasto Suprayogo

Diambil dari buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop terbitan Elexmedia Komputindo. Berminat, beli di sini.

Efek Teks Pop-up

Pada bab ini, Anda akan diajak untuk membuat efek teks pop-up pada teks. Efek pop-up berguna untuk menonjolkan elemen teks dan menjadikannya pusat perhatian dalam sebuah desain.

Ikuti langkah-langkah berikut ini.

  • Buat dokumen kerja baru pada Photoshop dengan memilih menu File > New, kemudian pada kotak dialog New masukkan nilai parameter Width: 800px, Height: 800px dan Color Mode: RGB. Klik Ok dan dokumen kerja baru siap digunakan. Lihat Gambar 1.1.
Gambar 1.1. Buat dokumen kerja baru

Gambar 1.1. Buat dokumen kerja baru

  • Selanjutnya aktifkan Horizontal Type tool , kemudian ketikkan teks “HALLO”, atur font-nya menjadi Arial Black 200pt dengan warna hitam. Lihat Gambar 1.2.
Gambar 1.2. Ketikkan teks “HALLO” dan atur parameternya

Gambar 1.2. Ketikkan teks “HALLO” dan atur parameternya

Jika sudah, klik ikon Commit yang ada di Options bar atau aktifkan Move tool pada Toolbar.

  • Berikutnya, kita akn mengubah teks tadi menjadi obyek raster (pixel) biasa. Caranya, perhatikan pada Palette Layers, klik kanan nama layer teks “HALLO” dengan background warna biru, kemudian pada pop-up menu yang muncul pilih Rasterize Layer. Perhatikan Gambar 1.3. berikut.
Gambar 1.3. Ubah layer teks menjadi layer biasa

Gambar 1.3. Ubah layer teks menjadi layer biasa

Jika Anda tidak mengubah layer teks menjadi layer biasa, terdapat banyak fasilitas pengeditan dalam Photoshop yang tak bisa diaplikasikan pada obyek teks tersebut.

  • Selanjutnya, pilih menu Filter > Stylize > Emboss, lalu pada kotak dialog Emboss, masukkan nilai parameter Angle: 145o, Height: 5px dan Amount: 150%. Jangan lupa untuk mengaktifkan pilihan Preview lalu klik Ok untuk mendapatkan hasil seperti pada Gambar 1.4. di bawah ini.
Gambar 1.4. Aplikasikan filter Emboss

Gambar 1.4. Aplikasikan filter Emboss

  • Selanjutnya, perhatikan Palette Layers, pastikan layer “HALLO” aktif terseleksi, lalu sambil menekan tombol Alt + Ctrl pada keyboard, tekan juga tombol ↓ (panah ke bawah) pada keyboard sebanyak 15 kali hingga didapat ketebalan seperti pada Gambar 1.5.
Gambar 1.5. Hasil perubahan ketebalan obyek “HALLO”

Gambar 1.5. Hasil perubahan ketebalan obyek “HALLO”

Jika Anda perhatikan pada Palette Layers, sekarang terdapat 15 layer baru berupa kopian layer “HALLO”. Layer-layer kopian inilah yang tadi membentuk ketebalan obyek “HALLO”. Perhatikan Gambar 1.6. di bawah ini.

Gambar 1.6. Layer-layer kopian layer “HALLO”

Gambar 1.6. Layer-layer kopian layer “HALLO”

  • Kita akan gabungkan semua layer yang ada menjadi satu kecuali layer Background. Caranya, pada Palette Layers, nonaktifkan tampilan Layer Background dengan mengklik ikon visibility di samping kiri nama layer. Lihat Gambar 1.7.
Gambar 1.7. Nonaktifkan tampilan layer Background

Gambar 1.7. Nonaktifkan tampilan layer Background

Kemudian klik ikon segitiga hitam pada pojok kanan atas Palette Layers untuk menampilkan pop-up menu lalu pilih Merge Visible. Pilihan ini akan menggabungkan (merging) semua layer yang tampil (visible)—kecuali layer Background yang sebelumnya telah Anda nonaktifkan.

Simak Gambar 1.8. berikut ini untuk lebih jelasnya

Gambar 1.8. Gabungkan semua layer yang tampil (visible)

Gambar 1.8. Gabungkan semua layer yang tampil (visible)

Perhatikan bahwa setelah Anda menggabungkan semua layer yang tampil di Palette Layers dengan menu Merge Visible, hasilnya tersisa 2 layer saja, yaitu layer hasil merging—layer “HALLO copy 15”—dan layer Background.

  • Aktifkan kembali layer Background. Lalu, seleksi layer “HALLO”, kemudian kita akan mengaplikasikan layer style. Pilih menu Layer > Layer Style > Gradient Overlay.

Pada kotak dialog Layer Style masukkan nilai parameter Blend Mode: Overlay, Opacity: 70%, Style: Linear, Angle: 45o dan Scale: 100%. Jangan lupa aktifkan pilihan Preview untuk melihat hasilnya secara langsung. Simak Gambar 1.9. berikut.

Gambar 1.9. Atur parameter Gradient Overlay

Gambar 1.9. Atur parameter Gradient Overlay

Berikutnya, masih di kotak dialog Layer Style, klik Drop Shadow pada bagian Styles di bagian kiri atas kotak dialog. Kemudian, atur parameter Blend Mode: Multiply, Color: Hitam, Opacity: 25%, Angle: 65o, Distance: 0, Spread: 0 dan Size: 5. Jangan lupa aktifkan pilihan Preview. Simak Gambar 1.10.

Gambar 1.10. Atur parameter Drop Shadow

Gambar 1.10. Atur parameter Drop Shadow

Jika sudah, klik Ok dan Anda akan dapatkan hasil seperti pada Gambar 1.11. di bawah ini.

Gambar 1.11. Hasil akhir efek Teks Pop-up

Gambar 1.11. Hasil akhir efek Teks Pop-up

Anda bisa melakukan variasi terhadap efek Layer Style yang diaplikasikan sesuai keinginan Anda.

Mengenal Adobe Illustrator

Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator by Hasto Suprayogo
Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator by Hasto Suprayogo

Diambil dari buku Desain Vector & Tracing Dengan Illustrator terbitan Elexmedia Komputindo. Berminat? Beli di sini.

Mengenal Adobe Illustrator

Setelah Anda mengenal apa yang dimaksud dengan desain vector, dan sekelumit mengenai dasar-dasar desain grafis, maka hal selanjutnya yang musti Anda kuasai adalah kemampuan teknisnya. Yang dimaksud dengan kemampuan teknis di sini adalah kemampuan untuk menggunakan program desain grafis yang sesuai sehingga Anda bisa memvisualisasikan ide dan kreatifitas dalam sebuah karya.

Karena kita berbicara mengenai desain vector, maka program/software yang musti Anda kuasai adalah software desain vector, atau lazim disebut software ilustrasi. Penulis sengaja memilihkan satu software ilustrasi yang sesuai dengan kebutuhan Anda, yaitu Adobe Illustrator, di antara beragam software sejenis di pasaran.

Mengapa Adobe Illustrator?

Jika Anda bertanya mengapa penulis memilih Adobe Illustrator sebagai software ilustrasi yang musti dikuasai, hal itu tak lepas dari fakta-fakta mengenai program keluaran raksasa software Adobe.inc ini sendiri. Beberapa alasan tersebut adalah:

  • Adobe Illustrator sudah sejak lama dikenal luas sebagai software ilustrasi no 1 di dunia pilihan pada desainer dan praktisi desain profesional.
  • Adobe Illustrator mempunyai kemampuan, fitur dan fasilitas yang bisa diandalkan untuk mewujudkan pekerjaan kreatif Anda.
  • Adobe Illustrator sangat kompatibel dengan beragam software lainnya untuk berbagai kepentingan akhir, seperti kepentingan cetak, desktop publishing, web publishing dan lain-lain.
  • Adobe Illustrator bersifat user friendly, yaitu sangat memudahkan user dalam menggunakan dan mengakses beragam fitur yang ada, terutama dengan sistem pengelompokan fasilitas melalui fasilitas menu, toolbox, palette dan sebagainya.
  • Adobe Illustrator mampu menangani beragam desain dari yang sifatnya sederhana hingga amat kompleks, serta mampu mengekspor hasil akhir sebuah desain ke dalam berbagai format sesuai kebutuhan Anda dengan kualitas yang bisa diandalkan.

Khusus untuk pengerjaan buku ini, penulis menggunakan Adobe Illustrator CS (Creative Suite), atau sering disebut Adobe Illustrator 11. Memang saat ini telah tersedia rilis terbaru Illustrator, yaitu Adobe Illustrator CS2, namun karena pertimbangan kebutuhan sumber daya komputer yang terlalu besar, terutama untuk pengguna pemula, maka penulis pilihkan rilis sebelumnya.

Namun jangan khawatir, Anda bisa saja menggunakan rilis terbaru ini sekiranya memang dimungkinkan, karena tak begitu banyak perubahan dalam kedua rilis ini. Atau bahkan juga, jika Anda masih menggunakan Illustrator versi sebelumnya, Adobe Illustrator 10 ke bawah pun tak begitu jadi soal. Meski memang ada beberapa fasilitas yang hanya ada di versi CS dan CS2.

But basically, it’s almost the same, ok? So don’t you worry.

Interface Adobe Illustrator CS

Untuk bisa menggunakan program ini, yang pertama musti Anda cermati adalah interface (tampilan antarmuka) program tersebut. Interface Adobe Illustrator CS serupa dengan interface program-program Adoeb lainnya, dengan pengelompokan fasilitas yang terstruktur dan jelas. Serta fokus utama pada area kerja yang luas di bagian tengahnya.

Tipe interface semacam ini diharapkan bisa memberikan kemudahan bagi para penggunanya untuk fokus pada pekerjaan yang tengah dilakukan. Bahkan bagi mereka yang masih pemula, interface Adobe Illustrator CS ini akan sangat membantu.

Perhatikan interface program Adobe Illustrator seperti terlihat pada Gambar 2.1. di bawah ini dengan seksama.

Gambar 2.1. Interface Adobe Illustrator CS
Gambar 2.1. Interface Adobe Illustrator CS

Secara garis besar, tampilan antarmuka (interface) Illustrator CS terbagi ke dalam 4 (empat) bagian besar, yaitu:

Menu

Menu merangkum segala fasilitas yang dimiliki Illustrator CS berupa kumpulan perintah-perintah dalam drop-down menu yang letaknya di bagian paling atas jendela program. Menu-menu perintah tersebut disusun berdasarkan kesamaan fungsi, seperti menu File berisi kumpulan perintah yang berhubungan dengan pengaturan dokumen, seperti pembuatan dokumen kerja, penyimpanan, ekspor-impor file dan sebagainya.

Gunakan fasilitas menu ini untuk mengakses beragam fasilitas utama Illustrator CS seperti ditunjukkan pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Fasilitas Menu Illustrator CS
Gambar 2.2. Fasilitas Menu Illustrator CS

Jika Anda perhatikan, pada beberapa menu perintah terdapat submenu. Hal ini berarti dalam menu tersebut terdapat menu-menu tambahan yang bisa Anda akses. Biasanya menu seperti ini ditandai dengan adanya segitiga hitam pada ujung kanannya.

Selain itu, ada jenis menu yang lain, yaitu menu yang diakhiri dengan 3 (tiga) tanda titik, seperti pada menu Open di atas. Tanda titik seperti ini menunjukkan kalau pada menu tersebut terdapat pilihan nilai parameter tambahan yang mesti Anda tentukan supaya Illustrator CS bisa melakukan suatu perintah dengan benar.

Semisal, jika Anda memilih menu File > Open, maka sebuah kotak dialog Open akan muncul, di mana melalui kotak dialog ini Anda diminta untuk memilih dokumen file mana yang akan dibuka. Lihat Gambar 2.3.

Gambar 2.3. Kotak dialog Open untuk memilih file yang akan dibuka
Gambar 2.3. Kotak dialog Open untuk memilih file yang akan dibuka

Toolbox

Toolbox secara default mengambang (floating) di sisi kiri jendela program Illustrator CS berupa kumpulan tool-tool (alat) yang Anda gunakan untuk membuat atau mengedit obyek ilustrasi. Illustrator CS melengkapi Anda dengan beragam tool dengan fungsi yang beragam pula.

Anda bisa memindah-mindahkan toolbox ini di bagian mana pun pada jendela program Illustrator CS. Hal ini memungkinkan Anda untuk memperoleh ruang kerja yang lebih luas saat bekerja. Hal yang mencolok dari toolbox ini adalah logo baru Illustrator CS berupa ilustrasi bunga berwarna merah muda di bagian atas toolbox.
Yang menarik adalah, jika Anda menekan tombol keyboard “V E N U S”, maka gambar bunga yang menjadi logo baru Illustrator CS akan berubah menjadi gambar venus (perempuan) yang merupakan logo Illustrator versi sebelumnya.

Perhatikan Gambar 2.4. di bawah ini.

Gambar 2.4. Toolbox Illustrator CS
Gambar 2.4. Toolbox Illustrator CS

Dikarenakan beragamnya tool yang ada, sementara untuk efisiensi tak mungkin menampilkan semua tool sekaligus, maka Illustrator CS menyembunyikan sebagian tool yang mempunyai kemiripan fungsi di bawah tool yang lain. Jika Anda perhatikan pada beberapa tool terdapat tanda segitiga hitam di bagian pojok kanan bawahnya. Hal ini menunjukkan kalau di bawah tool tersebut terdapat tool-tool lain yang tersembunyi (hidden tool).

Untuk memunculkan tool tersebunyi, Anda tinggal menahan tekanan mouse pada tool bersangkutan selama beberapa saat, maka tool-tool tersembunyi di bawahnya akan muncul, seperti terlihat pada Gambar di atas.

Pada beberapa tool, juga terdapat fasilitas pengaturan yang bisa Anda gunakan untuk membuat obyek atau melakukan pengeditan sesuai keinginan. Untuk melakukan pengaturan pada suatu tool, Anda tinggal mengklik ganda (double click) tool tersebut maka kotak dialog akan muncul. Semisal, klik ganda Pencil tool , dan Anda akan mendapati sebuah kotak dialog Pencil Tool Preferences tampil seperti pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Kotak dialog Pencil Tool Preferences
Gambar 2.5. Kotak dialog Pencil Tool Preferences

Tool-tool yang ada dalam Toolbox secara umum bisa kita kategorikan menjadi 6 (enam) macam, yaitu:

  1. Tool Seleksi

Sebagaimana terlihat dari namanya, tool yang masuk dalam kategori ini mempunyai beragam fungsi yang berhubungan dengan seleksi obyek. Tool-tool tersebut adalah:

  1. ;

Apa Itu Desain Vector?

Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator by Hasto Suprayogo

Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator by Hasto Suprayogo

Diambil dari buku Desain Vector & Tracing Dengan Illustrator terbitan Elexmedia Komputindo. Berminat? Beli di sini.

Apa Itu Desain Vector

Apa itu desain vector? Mungkin itu pertanyaan pertama yang muncul di benak Anda yang belum pernah mendengar istilah ini.
Bagi mereka yang pernah atau sudah berkecimpung di dunia desain grafis tentunya akan lebih familiar dengan terma ini. Namun untuk lebih jelasnya, penulis akan sedikit mengulas mengenai pengertian desain vector, ragam dan tak lupa kegunaannya dalam desain. Sehingga diharapkan, saat Anda membaca buku ini Anda akan temukan manfaat mengapa sekiranya perlu mempelajari desain vector ini.

Desain Vector
Secara umum, dalam dunia desain grafis kita dapat membedakan 2 (dua) ranah besar ragam desain, yaitu desain berbasis vector (vector based design) dan desain berbasis bitmap (bitmap based design).

Mengapa musti ada pembedaan semacam ini? Mungkin Anda bertanya demikian. Well, alasannya adalah, karena memang software desain yang ada menggunakan sistem yang berbeda berdasarkan dua kategori di atas.
Desain berbasis vector menggunakan perhitungan matematis dalam menentukan dan menampilkan obyek-obyek penyusun sebuah desain. Perhitungan matematis ini ini meliputi berbagai parameter penyusun suatu obyek, seperti posisi koordinat, tebal tipisnya garis luar (outline), warna isi (fill) obyek dan berbagai parameter lain. Sehingga untuk melakukan pengeditan terdapat obyek desain berbasis vector sama artinya dengan mengedit parameter penyusunnya.

Sebagai konsekuensinya, desain berbasis vector mempunyai keunggulan di mana Anda bisa mengubah bentuk, ukuran dan berbagai parameter lainnya secara bebas tanpa khawatir akan terjadi penurunan kualitas tampilan maupun kualitas cetaknya. Anda akan temukan tampilan yang senantiasa tajam, jelas dan bagus pada obyek desain berbasis vector. Sifat desain vector yang senantiasa terlihat tajam ini disebut dengan resolution independent (resolusi bebas).

Vector lebih cocok untuk membuat obyek desain berbetuk geometris, seperti kotak, lingkaran, elips dan poligon. Akan relatif sulit untuk membuat desain dengan tekstur kompleksi seperti pada foto menggunakan model vector ini.
Oleh karenanya, desain vector lebih banyak digunakan untuk membuat desain-desain yang menekankan pada soliditas bentuk dan warna, serta fleksibilitas ukuran , seperti desain logo, letterhead, kartun dan sebagainya.

Perhatikan Gambar 1.1. di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Gambar 1.1. Obyek desain vector bersifat resolution independent

Gambar 1.1. Obyek desain vector bersifat resolution independent

Untuk bisa membuat desain vector, Anda musti menggunakan software desain vector. Ada beragam pilihan yang bisa digunakan, seperti Adobe Illustrator, Macromedia Freehand, CorelDraw dan sebagainya. Namun, penulis sengaja memilihkan Adobe Illustrator sebagai software desain vector yang sebaiknya Anda gunakan. Hal ini dikarenakan berbagai pertimbangan, seperti kemampuan, fasilitas, fitur dan kompabilitas yang ditawarkan oleh program ilustrasi keluaran raksasa software Adobe, Inc. ini. Selain itu, sudah sejak lama Adobe Illustrator dikenal luas dikalangan profesional desain sebagai software ilustrasi (desain vector) nomor satu di dunia.

Jadi, sekiranya Anda berminat dan berniat untuk serius terjun di bidang ini, maka Adobe Illustrator adalah pilihan terbaik yang Anda punya. Ok?

Desain Bitmap

Tipe desain satu lagi adalah desain bitmap, atau umum pula disebut desain raster (raster based design). Bitmap atau raster adalah desain yang tersusun dari obyek-obyek titik—disebut dot/pixel—dengan warna beragam yang tersusun pada lajur-lajur vertikal dan horisontal—disebut grid—dengan tingkat ketajaman tertentu, disebut resolusi.

Bayangkan desain bitmap sebagai kumpulan titik-titik dalam sebuah mosaik, di mana ketika mosaik tersebut dilihat pada jarak tertentu, maka Anda akan dapati sebuah gambar/image yang diinginkan. Namun, sekiranya Anda memperbesar tampilannya, maka Anda akan dapati titik-titik penyusun image tersebut mulai terlihat—umum disebut sebagai efek jaggy (pecah).

Sifat desain bitmap yang terlihat pecah semacam ini disebut sebagai resolution dependent (resolusi tak bebas). Tipe desain bitmap sangat cocok digunakan untuk menampilkan image dengan ragam warna yang banyak, tekstur beragam serta tak begitu membutuhkan fleksibilitas ukuran, seperti foto.

Simak pada Gambar 1.2. berikut ini untuk lebih jelasnya.

Gambar 1.2. Obyek bitmap yang bersifat resolution dependent

Gambar 1.2. Obyek bitmap yang bersifat resolution dependent

Untuk membuat atau mengedit obyek desain bitmap, maka Anda membutuhkan software pengolah image/image editing, seperti Adobe Photoshop, Jasc PaintShop Pro, Corel Photopaint dan sebagainya.

Jika di atas disebutkan bahwa pengeditan obyek vector sama artinya dengan mengedit nilai-nilai parameter penyusun obyek vector tersebut, maka pengeditan image bitmap adalah mengedit dot penyusun image bersangkutan. Karena fokus kita pada buku ini lebih mengenai desain vector, maka kita tak akan menyinggung mengenai image bitmap.

Kegunaan Desain Vector

Hal apa yang mendorong seseorang untuk mau mempelajari sesuatu adalah kegunaan dari hal tersebut. Begitu juga saat Anda akan mempelajari desain vector ini, tentunya terlintas dalam benak Anda, apa sih manfaat mempelajari keahlian yang satu ini. Sekiranya penulis pandang amat penting untuk sedikit membeberkan berbagai kegunaan yang bisa Anda peroleh dari pelajaran kita akan desain vector, baik bagi Anda yang memang serius menekuni bidang desain grafis, atau bagi Anda yang hanya hobi saja.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa diperoleh dari kemampuan desain vector:

  1. Desain vector banyak digunakan untuk membuat desain-desain yang membutuhkan soliditas bentuk, warna dan fleksibilitas ukuran, seperti logo dan letterhead.
    Dengan menguasai desain vector, Anda akan lebih mampu dalam merancang, membuat atau mengedit desain logo, letterhead dan sebagainya.  Di mana, perancangan dan pembuatan logo adalah salah satu kerja kreatif yang pasti akan Anda temui saat berkecimpung dengan dunia desain grafis.
  2. Desain vector memungkinkan Anda untuk lebih mengeksplorasi kemampuan Anda dalam membuat bentuk, memilih warna, mengatur tata letak (layout) dan berbagai elemen-elemen dasar desain lainnya. Semakin sering Anda melatih membuat desain vector, semakin mahir pula Anda dalam membuat sebuah desain.
  3. Desain vector memungkinkan Anda menampilkan identitas diri Anda secara personal dalam karya desain yang Anda kerjakan. Mengapa demikian? Hal ini karena sebuah desain vector merupakan sebuah obyek ilustrasi, di mana tak akan pernah ada dua ilustrasi yang bisa benar-benar sama. Sentuhan artistik desainer di belakangnya akan sangat kuat mewarnai tampilan obyek vector bersangkutan. Sehingga, kita akan bisa mengindentifikasikan sebuah karya dengan sosok desainer tertentu. Di sinilah tempat Anda menunjukkan jati diri.
  4. Desain vector memungkinkan adanya eksplorasi terhadap bentuk dan elemen-elemen desain yang sekiranya tak bisa ditemukan pada pengeditan image bitmap. Di mana, sebuah ilustrasi memberi seorang desainer keleluasaan untuk membentuk dan mengeditnya, sesuai dengan imajinasi dan teknik yang dimilikinya. Batasan yang ada hanyalah soal kreatifitas.
  5. Desain vector memungkinkan Anda menciptakan karya yang orisinal dan khas dengan sentuhan personal. Inilah sekiranya alasan terkuat mengapa Anda perlu mempertimbangkan untuk berkarya lewat desain vector. Karena melaluinya Anda bisa tunjukkan kepada dunia siapa Anda sebenrnya. Ok?

Darimana Harus Mulai?

Kalau saat ini Anda sudah mengatakan pada diri Anda sendiri, “Ya, saya ingin bisa menguasai desain vector!”, mungkin pertanyaan yang selanjutnya terlintas adalah, “Darimana saya musti mulai?”

Well, jangan khawatir, untuk itulah maka Anda membaca buku ini kan? Penulis akan memandu Anda langkah demi langkah, tingkat demi tingkat untuk mengenal konsep desain vector, mempelajari software penunjang, serta mengaplikasikannya dalam memvisualisasikannya dalam bentuk sebuah desain.

Sekelumit Tentang Dasar-dasar Desain

Secara sederhana, ada 2 (dua) hal pokok yang musti Anda pahami sebelum mulai mendesain, yaitu elemen-elemen desain dan konsep dasar desain. Kita akan mulai terlebih dulu dengan elemen-elemen desain.

Elemen desain adalah apa saja yang menyusun atau menjadi basis sebuah desain. Elemen desain ini sangat beragam jenisnya, Anda pun bisa menambahkan atau mengurangi sesuai kebutuhan dalm pemahaman Anda. Namun, secara garis besarnya ada beberapa elemen desain yang musti Anda pegang, yaitu:

Line (Garis)

Garis adalah elemen dasar yang menyusun sebuah desain. Garis yang terdiri dari kumpulan titik-titik inilah yang menjadi penanda di mana kita membedakan antara satu obyek dengan obyek lain, serta memungkinkan audiens mencerna suatu pesan yang dikomunikasikan secara visual.

Garis bisa berupa garis lurus (straight line) atau garis lengkung (curved line). Dengan mendayagunakan garis, Anda bisa temukan berbagai posibilitas dalam desain yang Anda buat. Dan yang teristimewa, dalam desain vector, garis memainkan faktor yang sangat penting, karena obyek vector tak lain adalah obyek yang tersusun dari garis-garis.
Maka ingat selalu, jangan pernah meremehkan arti sebuah garis! Simak Gambar 1.3. di bawah ini.

Gambar 1.3. Garis lurus dan garis lengkung

Gambar 1.3. Garis lurus dan garis lengkung

Form & Space (Bentuk & Ruang)

Form atau bentuk adalah kumpulan garis-garis yang saling bersambungan yang membentuk suatu obyek tertentu. Obyek, atau kerap disebut shape, ini bisa berupa obyek geometris, seperti kotak, lingkaran, elips dan poligon, atau obyek bebas non geometris.

Perhatikan Gambar 1.4. berikut untuk melihat contoh-contoh obyek geometris dan non geometris.

Gambar 1.4. Obyek geometris dan non geometris

Gambar 1.4. Obyek geometris dan non geometris

Ketika Anda membuat obyek, pada saat itu pula Anda membuat ruang (space). Ruang dalam desain bisa dibagi menjadi 2 (dua), yaitu ruang positif (positive space) dan ruang negatrif (negative space).

Yang dimaksud dengan ruang positif adalah ruang yang ada di dalam obyek yang Anda buat itu sendiri. Semisal Anda membuat obyek kotak, maka obyek kotak itulah yang kita sebut sebagai ruang positif.

Sedangkan ruang negatif (negative space) adalah ruang di luar obyek yang Anda buat, yang meliputi area kanvas tempat Anda mendesain. Lihat pada Gambar 1.5. di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Gambar 1.5. Positive dan negative space dalam desain

Gambar 1.5. Positive dan negative space dalam desain

Anda harus memperhatikan penggunaan positive space dan negative space ini, karena terkadang kekuatan sebuah desain sangat ditunjang oleh keseimbangan antara kedua jenis ruang ini.

Color (Warna)

Warna adalah elemen desain yang sangat penting, karena secara psikologis, manusia mengenali warna lebih dulu ketimbang bentuk atau teks. Bahkan jika warna yang dimaksud adalah hitam putih, atau monokrom.

Dalam desain grafis, terdapat banyak konsep mengenai warna dan bagaimana penggunaannya. Penulis hanya akan menyinggung 2 hal pokok mengenai warna yang musti Anda pegang, yang pertama adalah psikologi warna dan yang kedua adalah mode warna.

  • Psikologi Warna

Psikologi warna berkaitan dengan persepsi manusia mengenai warna yang ada dan bagaimana pengaruh warna terhadap manusia.

Dalam pada ini, warna secara global dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu warna panas/hangat (warm colors), warna dingin/sejuk (cool colors) dan warna netral (neutral colors).

Warna panas/hangat mempunyai kemampuan untuk menstimulasi/merangsang persepsi manusia, menimbulkan nuansa kehangatan, arti penting, ketajaman, dan sebagainya. Warna-warna semacam ini sangat cocok digunakan untuk menarik perhatian atau memberi aksentuasi pada desain.

Yang masuk dalam kategori warna panas/hangat ini semisal merah, kuning, oranye dan varian dari ketiganya.

Contoh jelas dari penggunaan tipe warna ini adalah lampu lalu lintas warna merah digunakan untuk memperingatkan pengemudi agar berhenti (tanda larangan). Juga rambu lalu lintas umum menggunakan warna dasar kuning yang memberi peringatan dan menekankan penonjolan yang akan senantiasa nampak jelas meski berada di lingkungan yang padat.

Warna kedua, yaitu warna dingin/sejuk, sesuai namanya adalah warna-warna yang memberi nuansa kesejukan, kalem, keteduhan, dingin, kemantapan dan segala kualitas semacam ini. Warna yang masuk kategori ini antara lain, biru, hijau, ungu serta varian-variannya.

Warna dingin/sejuk umum digunakan sebagai background, atau warna isi area yang relatif luas, guna memberi kesan kelapangan, ketenangan, ketelitian dan sebagainya. Semisal pada bidang-bidang yang terkait dengan pengetahuan, teknologi, kesehatan, perbankan dan sebagainya.

Sedangkan kategori warna berikutnya adalah warna netral. Warna netral mempunyai keistimewaan mampu dipadukan dengan warna panas maupun dingin, dan umumny bermanfaat untuk menetralisir efek berlebih dari kedua tipe warna tersebut.

Banyak digunakan sebagai backgouind dan atau warna teks, warna netral ini misalnya adalah hitam, putih, dan varian abu-abu.

  • Mode Warna

Mode warna adalah bahasan yang amat penting yang tak boleh Anda lewatkan, karena mode warna terkait dengan pengetahuan teknis bagaimana program desain grafis, dalam hal ini Adobe Illustrator menampilkan warna maupun mencetaknya.

Terdapat beragam mode warna yang digunakan oleh program desain untuk bisa menampilkan warna, namun ada 2 (dua) mode warna pokok yang musti Anda pegang. Kedua mode ini adalah mode warna RGB (Red-Green-Blue), dan mode warna CMYK (Cyan-Magenta-Yellow-Black).

Dinamakan demikian mengacu pada komponen warna dasar yang dipadukan untuk menghasilkan ragam warna yang berbeda pada suatu desain. Mode RGB menggunakan 3 (tiga) komponen warna dasar, yaitu Red (merah), Green (hijau) dan Blue (biru). Sedangkan mode CMYK menggunakan 4 (empat) komponen warna dasar, yaitu Cyan (sian), Magenta (magenta), Yellow (kuning) dan Black (hitam).

Mengapa keduanya penting, karena masing-masing mode warna ini digunakan untuk dua kepentingan desain yang utama, yaitu mode RGB untuk tampilan di monitor—dan media elektronik lainnya–, sementara mode CMYK digunakan untuk mencetak desain pada media tertentu, seperti kertas dan sebagainya.

Jadi prinsipnya, gunakan mode warna RGB jika tujuan akhir desain Anda adalah untuk ditampilkan di komputer atau alat elektronik—umum disebut desktop publishing—sebaliknya gunakan mode CMYK jika tujuan akhir desain Anda adalah untuk kepentingan cetak.

Ok, simple bukan?

Type (Teks)

Elemen desain berikutnya yang tak kalah penting adalah teks. Teks, tentunya Anda sudah bisa membayangkan, yaitu huruf atau kumpulan huruf yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan. Tak hanya ide pesan yang disampaikan teks secara implisit yang perlu Anda pertimbangkan, namun juga tampilan teks secara visual pun musti mendapatkan perhatian.

Berbeda dengan penggunaan teks dalam kepentingan tata letak (layout) yang lebih menekankan fungsi teks sebagai media penyampai pesan—dalam hal ini content—maka dalam desain vector ini teks diperlakukan tak ubahnya obyek desain lainnya.

Texture & Image (Tekstur & Gambar)

Tekstur/Image adalah elemen yang bermanfaat memberi nuansa dan penekanan tersendiri pada obyek-obyek ilustrasi yang ada. Dengan penggunaan tekstur yang tepat, suatu makna bisa tersampaikan secara lebih efektif. Begitu pula pilihan image atau gambar yang cocok akan memberi nilai lebih pada suatu desain.

Setelah membahas sekilas mengenai elemen-elemen desain, sekarang kita akan bicara mengenai dasar-dasar desain. Sebenarnya, dasar-dasar yang dimaksud di sini adalah sekelompok guidelines yang sebaiknya Anda gunakan untuk memudahkan penyampaian pesan yang coba dilakukan melalui suatu desain.

Dasar-dasar desain ini banyak sekali jumlahnya dan senantiasa berkembang, dan tak hanya berlaku pada ranah desain grafis semata, namun juga ranah-ranah seni yang lain, seperti seni lukis, seni interior dan sebagainya. Berikut adalah beberap dasar-dasar desain yang sebaiknya Anda perhatikan seksama:

Balance (Keseimbangan)

Keseimbangan adalah suatu kualitas di mana sebuah desain terlihat mempunyai “bobot” yang setara antar elemen-elemen penyusunnya. Bayangkan saja desain sebagai kumpulan obyek-obyek, maka pekerjaan kreatif Anda sebagai desainer adalah menyusun bagaimana elemen-elemen tersebut bisa mencapai keseimbangan (equilibrium).
Prinsip keseimbangan ini bisa dicapai jika Anda bisa mendayagunakan potensi ekstrinsik dan intrinsik dari obyek-obyek bersangkutan. Semisal dengan mengatur persebaran, pemilihan bentuk, penataan warna dan sebagainya.

Contrast (Kontras)

Kontras lebih berkaitan dengan penekanan elemen tertentu terhadap elemen lain. Prinsipnya adalah negasi, di mana sebuah obyek akan terlihat jelas karena ada obyek lain yang menegasikannya (berkebalikan kualitas).

Kontras sangat diperlukan untuk memberi bobot pada desain, dan memberi arti lebih pada suatru obyek sehingga Anda bisa mengarahkan audiens untuk mencermati desain sesuai arti penting pesan yang ada di dalamnya.

Continuity (Kontinuitas)

Kontinuitas berkaitan dengan kualitas untuk mempertahankan kesamaan ide/nuansa dari obyek-obyek penyusun desain. Sehingga diharapkan audiens bisa memperoleh suasana yang sama dan tak kehilangan pagangan saat menjelajahi desain tersebut.

Repetition (Repetisi)

Repetisi atau pengulangan berkaitan dengan penggunaan obyek-obyek dengan tipe yang sama sebagai bagian penting dari desain. Seringkali penggunaan elemen-elemen secara repetitif terbukti efektif untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) di benak audiens mengenai pesan yang dimaksud.

Unity (Kesatuan)

Sementara kesatuan adalah suatu kualitas akhir yang coba dicapai dalam sebuah desain, dimana meskipun desain tersebut terdiri dari beragam elemen yang berbeda, namun semuanya tetap berada dalam suatu kesatuan makna, yaitu satu pesan tertentu yang ingin dikomunikasikan oleh desainernya.

Penulis ingin menegaskan sekali lagi, dalam desain, Anda hanya perlu berpegang pada satu pesan saja. Komunikasikan satu pesan, meskipun dengan variasi cara dan bentuk yang bisa amat beragam. Cukup satu pesan!, dan dijamin desain Anda akan berhasil.

Ok, sekiranya cukup penjelasan dasar mengenai konsep dasar desain, sekaligus pengantar mengapa Anda perlu untuk mempelajari desain vector dan tracing ini. Selanjutnya, Anda akan masuk ke Bab 2, Mengenal Adobe Illustrator.

by: Hasto Suprayogo

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.