Hasto Suprayogo

thoughts, words, acts

Archive for Design

Freelance Atau InHouse Designer?

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia kreatif, khususnya yang berprofesi sebagai graphic designer, pasti familiar dengan pertanyaan ini. Pilih mana, jadi Freelance Designer atau InHouse Designer?

Yeah, dilema profesi yang satu ini, antara menjadi freelance designer yang berbasis project, atau menjadi inhouse designer yang bekerja full time di suatu perusahaan. Masing-masing punya kelebihan dan juga kelemahan. Sisi positif yang menyenangkan, pun sisi negatif yang menyebalkan.

Bagi mereka yang baru lulus kuliah DKV, atau yang sedang mengawali karir di dunia kreatif sebagai designer, berikut beberapa point yang bisa jadi pertimbangan sebaiknya memilih yang mana, antara Freelance & InHouse Designer.

Freelance Designer

Freelance Designer memilih untuk bekerja secara lepas, bisa sendiri atau dalam team bebas, berdasarkan project yang diperoleh dari klien. Umumnya, pekerjaan kreatif freelance dilakukan berdasarkan jangka waktu tertentu, deadline, di mana designer bersangkutan musti mensubmit pekerjaannya kepada klien atau PIC (person in charge) project bersangkutan.

Apa untung ruginya menjadi Freelance Designer?

Pros

  • Fleksibilitas pekerjaan, terkait dengan jenis, waktu, dan banyaknya pekerjaan yang ingin digarap.
  • Kebebasan mengatur charge (tarif) pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi kemampuan seorang freelance designer, semakin mahal charge yang diberlakukannya kepada klien.
  • Relatifitas kebebasan bereksplorasi terkait dengan kreatifitas dalam mendesain, selama klien menyetuji.

Cons

  • Ketidakpastiaan pendapatan, karena berbasis project, berbeda dengan mereka yang bekerja full time di perusahaan yang berbasis gaji bulanan.
  • Tuntutan profesionalitas lebih tinggi, karena nilai pekerjaan seorang Freelance Designer tergantung dengan kepuasan klien, dan satu-satunya cara untuk menjamin kepuasan klien adalah dengan bersikap seprofesional mungkin.
  • Tuntutan untuk menguasai tidak hanya kemampuan design, namun juga kemamuan marketing, public relations, administrasi dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan, seorang Freelance Designer tak hanya bertindak sebagai seorang tenaga kreatif, namun juga menjadi pemasar produk/jasanya, pengelola proyek serta keuangannya sendiri.

InHouse Designer

InHouse Designer memilih untuk bekerja sebagai designer tetap di suatu perusahaan, dengan konsekuensi rutinitas pekerjaan laiknya pekerja kantoran lainnya. Meski terdengar sedikit “depressing” bagi mereka yang membayangkan pekerjaan kreatif yang bebas merdeka, ada banyak hal yang menguntungkan dari pilihan yang satu ini.

Pros

  • Adanya kepastian pendapatan, sebagaimana pekerja kantoran lainnya, menjadi inhouse designer berarti mengambil tanggung jawab pekerjaan tetap dan mendapatkan kompensasi gaji yang rutin. Sangat cocok bagi mereka yang mencari stabilitas, sebagai contoh yang sudah menikah.
  • Selain pendapatan, adanya berbagai fasilitas lain dari pekerjaan tetap menjadi faktor positif lain. Tunjangan kesehatan, transportasi, makan adalah beberapa diantaranya. Selain itu, kemungkinan peningkatan karir juga bisa jadi bahan pertimbangan.
  • Relatifitas simple-nya tanggung jawab pekerjaan, di mana umumnya seorang InHouse Designer hanya mengurusi pekerjaan terkait bidang kreatifnya saja, sementara pekerjaan-pekerjaan penunjang lainnya, seperti marketing, administrasi, keuangan dan sebagainya ditangani bagian lain di perusahaan bersangkutan.

Cons

  • Kebebasan berkreasi dalam mendesain relatif kurang, di mana umum ditemui para InHouse Designer diposisikan tak lebih dari sekedar tenaga teknis desain atau operator aplikasi desain grafis.
  • Sistem kerja yang rutin, 9-5, menjadikan aktifitas mendesain menjadi rutin dan cenderung membosankan. Efeknya tentunya pada output desain yang dihasilkan relatif kurang kreatif dibanding mereka yang bekerja lepas sebagai Freelance Designer.
  • Struktur kerja yang bertingkat, dimana seorang InHouse Designer menjadi bagian susatu sistem hierarki, menjadi kendala tersendiri dalam ekplorasi kreatifitas pekerjaan. Terlebih lagi, seringkali mereka yang berada di posisi atas designer adalah orang-orang yang tak mempunyai kapabilitas dan atau background kreatif. Hal semacam ini menumbuhkan berbagai hambatan teknis dan non teknis yang jika tak dicari solusinya akan mereduksi kinerja designer bersangkutan.

Masih banyak lagi sisi positif dan negatif dari masing-masing pilihan di atas. Tentunya, harus dipahami bagi mereka yang mau terjun ke dunia kreatif, ketaika suatu hal yang dianggap menyenangkan pada awalnya sudah masuk ke industri dan berkaitan dengan klien & konsumen, tak jarang hal tersebut berubah menjadi tak lagi menyenangkan.

Tuntutan profesionalitas, kebutuhan bisnis, kepuasan klien dan atasan, adalah beberapa hal yang tak akan bisa dinafikkan dalam profesi ini. Kesadaran akan hal tersebut menjadikan insan kreatif lebih bisa mereduksi ekspektasinya dan menjalani keseharian profesinya secara lebih nyaman.

Masalah pilihan menjadi Freelance Designer atau InHouse Designer, semua dikembalikan ke masing-masing kita. Mana sekiranya yang paling sesuai dengan kondisi kita. Dan ingat satu hal, tak ada pilihan yang sempurna. Selalu ada plus minusnya.

Belajar untuk menerima setiap sisi dan terus memacu diri menuju yang lebih baik adalah semangat yang musti kita tanamkan, pupuk dan terus kembangkan.

Selamat mengarungi dunia kreatif.

Desain Merchandise (Unpublished Book)

Tulisan ini adalah bagian dari naskah buku Desain Merchandise yang sampai sekarang belum selesai aku tulis. Naskah sudah ada di komputerku dari 3 tahun lalu. Dariapada ngganggur, aku coba share di sini, siapa tau ada manfaatnya.

Dalam kampanye brand identity suatu perusahaan atau produk, merchandise acap kali jadi metode efektif untuk dilakukan. Merchandise, termasuk dalam tipe Below The Line (BTL) advertising, yaitu upaya periklanan tanpa menggunakan media-media iklan konvesional, seperti media massa (e.g. televisi, radio, surat kabar, majalah dsb).

Pilihan Merchandise

Jika umumnya iklan dilakukan dengan memanfaatkan media massa, seperti iklan cetak di koran, iklan audio di radio, atau audio visual di televisi, maka merchandise ini memanfaatkan item-item produk yang banyak dipakai dalam kehidupan keseharian sebagai media beriklan.

Sebut saja, semisal Anda belanja ke suatu toko dan barang yang dibeli dibungkus dalam sebuah kantong plastik atau kertas dengan logo dan nama toko bersangkutan. Itu merupakan bentuk merchandise untuk promosi.
Atau mungkin Anda pernah mendapatkan kenang-kenangan pulpen, atau notes dengan nama perusahaan tertentu di atasnya, itu juga contoh merchandise promosi.

Mengapa promosi menggunakan merchandise banyak digunakan perusahaan dalam mempromosikan diri atau produknya?

Ada beberapa faktor yang sekiranya menyebabkan hal ini.

Personal touch (sentuhan personal)

Personal touch, atau sentuhan personal nampaknya menjadi alasan kuat mengapa merchandise dipilih sebagai salah satu media promosi. Adanya kedekatan antara perusahaan dengan audiens-nya melalui suatu barang bisa lebih terjalin karena adanya intensitas kontak antara audiens tersebut dengan merchandise sebagai reprsentasi perusahaan.

Apalagi jika barang yang dipilih sebagai merchandise digunakan secara kontinu oleh audiens bersangkutan, maka lambat laun akan tumbuh pula keterkaitan antara keduanya dan pada akhirnya menumbuhkan kedekatan emosial pula dengan perusahaan yang direpresentasikannya.

Diferensiasi

Diferensiasi, aau pembedaan diri dengan pihak lain juga bisa ditampilkan lewat penggunaan dan pemilihan barang sebagai merchandise untuk promosi.

Alih-alih sebuah perusahaan hanya menggunakan media promosi konvesional, seperti iklan cetak di koran, perusahaan itu bisa memilih barang-barang keseharian yang unik, yang secara sadar atau tidak dipakai terus oleh konsumen dan calon konsumennya.

Perusahaan yang jeli akan memaksimalkan potensi tersembunyi dari suatu barang guna memasukkan pesan-pesan promosinya ke benak konsumen. Di sinilah diferensiasi dengan merchandise dibanding dengan pomosi menggunakan media konvesional.

Unconsciousness brand development

Penting juga diingat bahwa ada kecenderungan saat ini bahwa sudah terlalu banyak iklan-iklan bertebaran di mana-mana dan semuanya menyampaikan pesannya kepada konsumen. Iklan di media konvensional secara jelas menunjukkan penawaran dan janji-janji akan suatu brand, di mana lama kelamaan konsumen akan jenuh dengan bombardir pesan tiada hentinya.

Dengan memanfaatkan merchandise sebagai sarana promosi, kita bisa membangun kesadaran akan suatu brand tanpa memaksa konsumen untuk menelan pesan-pesan yang kita sampaikan.

Kita menggunakan alam bawah sadar konsumen yang sering melakukan kontak dengan merchandise tersebut guna membangun kesadaran akan keberadaan dan positioning brand kita.

Long lasting

Ketahanan dan jangka waktu juga bisa dijadikan pertimbangan mengapa perlu dipertimbangkan penggunaan merchandise sebagai sarana promosi. Jika kita beriklan di media konvesional, jangka waktu penayangan sangat jelas, di mana ada patokan-patokan waktu iklan kita bisa tampil. Semisal di koran penayangan iklan adalah harian, sementara di televisi atau radio berdasarkan kontrak—biasanya dengan hitungan berapa kali dalam waktu tertentu.

Nah, dengan menggunakan merchandise, Anda bisa mengharapkan jangka waktu yang lebih lama, sesuai dengan penggunaan barang merchandise itu sendiri. Selama barangnya masih digunakan oleh konsumen, Anda akan terus beriklan kepadanya dan juga ke khlayak ramai di sekitarnya.

Easy to use

Penggunaan merchandise juga mudah untuk dilakukan. Barang seperti pulpen, notes, mousepad adalah beberapa item yang bisa digunakan sebagai sarana promosi dan juga barang kebutuhan sehari-hari.

Kemudahan pakai semacam ini juga musti Anda jadikan bahan pertimbangan saat memilih item barang apa sebagai media promosi.

Biaya ekonomis

Secara ekonomis, biaya pembuatan merchandise untuk promosi terhitung relatif murah, dan sangat terjangkau untuk berbagai tipe perusahaan, bahkan untuk usaha kecil dan menengah.

Kategorisasi Merchandise

Untuk memudahkan Anda dalam memilih dan merancang desain merchandise, penulis telah mengelompokkan beragam item barang yang umum digunakan sebagai sarana promosi ke dalam kategori-kategori berikut, berdasarkan kemiripan fungsinya.

Awards & Trophies

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang diberikan sebagai bukti penghargaan seseorang atas prestasi atau partisipasinya dalam suatu even yang diadakan oleh perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah tropi dan piagam penghargaan.  Lihat contohnya pada Gambar berikut ini.

Clothing (Apparel)

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang berupa barang sandang/pakaian, dan aksesoris penunjangnya. Umumnya, merchandise kategori clothing ini selain untuk promosi juga digunakan untuk corporate identity, sebagai corporate uniform. Termasuk dalam kategori ini adalah baju, celana, kaos, topi, jaket dan sebagainya.

Simak Gambar berikut untuk melihat contoh-contohnya.

Confectionery

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang berupa makanan atau minuman dengan label identitas perusahaan pada kemasannya. Pernahkah saat Anda berkunjung ke suatu hotel, Anda temukan bungkus gula pasir yang disajikan bersama teh atau kopi saat sarapan berlabel hotel tersebut?

Atau saat Anda berkunjung ke suatu kantor, Anda disuguhi coklat atau permen dengan logo perusahaan tersebut pada bungkusnya? Nah, dua contoh tersebut adalah aplikasi promosi merchandise kategori Confectionery.

Simak Gambar di bawah ini

Conference & Exhibition

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang banyak dipakai saat diadakan konferensi atau even-even tertentu oleh perusahaan. Item-item yang masuk kategori ini contohnya badge peserta, nama pembicara (desk name), gantungan kartu dan sebagainya.

Pentingnya item-item ini saat konferensi atau even yang diadakan perusahaan selain sebagai hadiah (gift) atas partisipasi peserta, juga sebagai sarana promosi perusahaan bersangkutan.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Computer

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk kepentingan penunjang penggunaan komputer, seperti mousepad, wadah CD, juga note holder, penghapus, kalkulator, kalender dan sebagainya.

Lihat pada Gambar berikut ini untuk jelasnya

Drink & Accessories

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise wadah minuman dan aksesoris pendukungnya. Masuk dalam kategori ini adalah gelas, cangkir, mug, botol minuman dan sebagainya. Simak Gambar di bawah ini.

Leisure

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk berbagai kepentingan keseharian. Termasuk dalam kategori ini adalah payung, aksesoris olahraga (bola), tas, perlengkapan merokok (pamantik api) dan sebagainya. Perhatikan berikut.

Stationery

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk berbagai kepentingan pekerjaan kantor. Termasuk dalam kategori ini adalah notepad, penggaris, kalender  dan sebagainya. Simak Gambar berikut.

Timepieces

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk penghitungan waktu, seperti jam dinding, jam meja atau jam tangan. Lihat pada Gambar di bawah ini.

Writing Instruments

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk keperluan tulis menulis. Masuk dalam kategori ini antara lain pensil, pulpen, spidol, highlighter dan sebagainya Lihat pada Gambar di bawah ini.

Setelah Anda mengetahui kategorisasi merchandise yang bisa digunakan sebagai sarana promosi, selanjutnya tergantung Anda sendiri untuk menentukan merchandise tipe mana yang akan dipilih.

Graphic Computer (Komputer Grafis)

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, dalam buku ini Anda diajak untuk mencoba memahami dan menggunakan potensi komputer dalam melakukan pekerjaan kreatif, yaitu desain grafis. Setelah Anda membekali diri dengan konsep dasar desain grafis, saatnya Anda mempelajari dasar-dasar penggunaan komputer dalam pembuatan desain. Umum disebut sebagai Komputer Grafis (graphic computer).

Komputer grafis mencakup semua hal yang terkait dengan penggunaan komputer untuk menunjang pekerjaan desain grafis. Mulai dari pembagian komputer grafis menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu grafis berbasis vector dan berbasis bitmap. Program-program yang umum digunakan untuk membuat dan melakukan pengeditan desain. Berbagai format penyimpanan file desain, dan sebagainya.

Pengetahuan semacam ini akan membantu Anda untuk bisa bekerja dengan tepat dan efektif. Sehingga, Anda tidak akan mengalami saat di mana pekerjaan desain yang sudah Anda kerjakan dengan susah payah ternyata tak bisa digunakan karena hal-hal teknis. Dan Anda tak akan menerima komentar orang seperti, “Wah…mestinya Anda menggunakan program ini dan bukan itu,” atau “Harusnya Anda menggunakan format ini, resolusi segini,” serta masih banyak blablabla lainnya yang hanya akan memusingkan dan membuat Anda frustasi.

Lebih baik kenali semua hal-hal itu sekarang, and seterusnya Anda tinggal memfokuskan diri pada penyampaian pesan yang coba Anda lakukan lewat desain.

Vector vs Bitmap

Secara garis besar, komputer grafis bisa dibagi ke dalam 2 (dua) kelompok besar. Yaitu, grafis berbasis vector dan grafis berbasis bitmap. Kapan Anda musti memilih vector dan kapan Anda musti memilih bitmap musti menjadi pertimbangan pertama sebelum Anda bekerja. Bagaimana sifat-sifat keduanya, dan bagaimana mencocokannya dengan kebutuhan Anda harus ditentukan dengan bijak. Karena itu semua mempengaruhi cara kerja dan hasil yang akan Anda raih.

Vector (Vektor)

Grafis berbasis bitmap adalah macam grafis yang menggunakan obyek geometris dan perhitungan matematis dalam pembuatannya. Semua obyek pembentuk suatu desain diciptakan oleh komputer dengan mengkalkulasikan faktor-faktor matematisnya, seperti koordinat letak, ukuran dimensional, ukuran outline, dan sebagainya.

Untuk membuat grafis berbasis vector, Anda harus mendefinisikan titik awal dilanjutkan dengan titik-titik berikutnya, di mana komputer akan secara otomatis menyambungkan titik-titik tersebut dalam membentuk suatu obyek.
Karena obyek-obyek dibentuk berdasarkan posisi titik-titik penyusunnya, maka untuk mengedit suatu obyek, yang perlu Anda lakukan adalah mengedit titik-titik tersebut. Simple bukan?

Tapi tunggu dulu, meskipun kedengarannya simple, sebuah grafis berbasis vecktor bisa terdiri dari banyak obyek yang masing-masingnya terbentuk dari banyak titik pula. Namun, secara umum bisa dikatakan grafis vector adalah tipe grafis yang paling mudah digunakan dan diedit.

Perhatikan Gambar  berikut ini.

Yang istimewa dari grafis vector adalah sifatnya yang fleksibel, dalam artian Anda bisa mengubah ukuran dimensionalnya tanpa mengubah kualitas tampilan maupun hasil cetaknya. Sebuah grafis vector bisa Anda perbesar ukurannya hingga berapa meter atau Anda perkecil hingga berapa milimeter tanpa kehilangan ketajamannya. Sifat grafis vector semacam ini disebut resolusi bebas (resolution independent).

Simak Gambar berikut ini.

Karena sifatnya yang fleksibel, grafis vector umum dipakai untuk membuat desain-desain yang membutuhkan fleksibilitas juga, dalam artian desain yang bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, dalam berbagai ukuran, dan dalam berbagai media reproduksi.

Dalam konteks suatu perusahaan, grafis vector misalnya digunakan dalam pembuatan logo, di mana logo tersebut umumnya digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kop surat (letterhead), kartu nama, brosur, booklet hingga kemasan produk dan masih banyak lagi.

Untuk masing-masing penggunaan, logo berupa grafis vector akan sangat memudahkan Anda untuk memodifikasi ukuran, tata letak, dan berbagai atribut lainnya, sementara pada saat bersamaan tetap mempertahankan kualitas hasil akhirnya.

Jadi tak peduli dicetak di kartu nama berukuran 9 cm x 5 cm, spanduk 3 m x 1 m atau di brosur berukuran folio, logo perusahaan Anda akan senantiasa terlihat solid, sesolid perusahaan Anda.

Perhatikan Gambar di bawah ini.

Grafis vector juga banyak digunakan dalam pembuatan desain-desain yang membutuhkan presisi, seperti desain produk (product design), terutama untuk kemasan. Di mana ukuran dan ketepatan peletakan elemen-elemen desain sangat berpengaruh terhadap persepsi calon konsumen, yang pada akhirnya mempengaruhi keinginan untuk membeli.

Lagipula, siapa juga yang mau membeli suatu produk yang kemasannya jelek kan? Simak Gambar berikut.

Dalam perkembangannya, grafis vector juga berhasil memikat hati pada pembuatan kartun dan animasi, sehingga jika Anda perhatikan, begitu banyak situs di internet yang menggunakan animasi flash yang dibuat menggunakan grafis vector.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Keunggulan bekerja dengan grafis vector lainnya adalah, ukuran file desain yang dihasilkannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan desain yang sama yang dibuat dengan grafis bitmap.
Sebagai perbandingan, desain kartu nama pada Gambar 1.21. di atas saat dibuat sebagai grafis vector dalam format CDR (CorelDRAW) menghasilkan file berukuran 56 kB, sedangkan saat dibuat sebagai grafis bitmap dalam format JPEG (Joint Photographic Experts Group) dengan ukuran dimensional sama dan resolusi 300 dpi menghasilkan file berukuran 95 kB.
Untuk satu dua desain mungkin hal ini tidak terasa banyak bedanya, namun sekiranya Anda bekerja dengan lebih banyak desain, dan atau dengan desain berukuran dimensional lebih besar, niscaya ukuran file penyimpanan akan benar-benar Anda pertimbangkan.
Tapi, apakah grafis vector tidak ada kelemahannya? Mungkin begitu yang terbersit dalam benak Anda saat ini.

Yeah, namanya juga suatu program, tidak akan ada yang bisa sempurna memenuhi segala kebutuhan dan harapan penggunanya. Grafis vector karena terbentuk dari obyek-obyek yang dibuat dengan perhitungan matematis, kurang mampu menangani obyek-obyek yang teramat kompleks, seperti ragam warna, gradasi, perubahan kontur dan sebagainya. Sehingga, adalah hampir mustahil membuat ilustrasi wajah manusia sebagaimana yang Anda lihat di foto dengan menggunakan grafis vector. Untuk menangani gambar -gambar foto kompleks semacam ini digunakan grafis bitmap.

Ok, jadi Anda paham kan?

Anda menggunakan grafis vector untuk membuat desain yang berupa obyek-obyek geometris, dengan warna solid, yang seperlunya digunakan dalam berbagai ukuran dan media reproduksi, seperti logo, teks, kartun, animasi dan sebagainya.

Lalu, program apa yang sebaiknya Anda gunakan untuk membuat desain berbasis grafis vector? Begitu banyak program di pasaran, mungkin Anda akan dibuat bingung saat memilih di antaranya. Hampir semuanya sama, lalu apa keunggulan dan kekurangannya? Mana yang harus digunakan?
Well, program pengolah grafis vector yang paling baik digunakan sangat beragam untuk masing-masing negara. Di Amerika Serikat, program yang paling banyak digunakan adalah Adobe Illustrator.

Di negara-negara Eropa, terjadi pertarungan sengit antara Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand. Sedangkan khusus untuk Indonesia, dan beberapa negara Asia, CorelDRAW masih merajai pasaran. Meskipun, untuk kalangan profesional, pilihan tetap jatuh pada Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand.

Mengapa bisa demikian?

Adobe Illustrator, dengan rilis terbarunya berbandrol Illustrator CS—singkatan dari Creative Suite—adalah program yang menawarkan fasilitas, fitur, dan kemampuan paling lengkap dan paling menunjang untuk berbagai pekerjaan kreatif. Kompabilitasnya untuk menghasilkan desain yang solid, presisi bentuk dan warna, serta dukungan yang luas dari hampir semua mesin cetak menjadikannya kawan karib para desainer profesional.

Lihat Gambar berikut.

Jika Anda datang ke percetakan, pilihan utama mereka untuk mencetak desain Anda adalah dengan format AI—yaitu format file Adobe Illustrator.
Namun, program Adobe Illustrator kurang bisa merajai di Indonesia karena kurang tampilan antamuka (interface) nya kompleks dan juga membutuhkan komputer dengan kapasitas relatif besar untuk bisa menginstallnya.

Program grafis vector yang menjadi pilihan kedua para desainer profesional di Indonesia adalah Macromedia Freehand, dengan rilis terbarunya berbandrol Freehand MX. Freehand digunakan karena program ini paling ringan kebutuhan sistem komputer untuk menginstallnya, presisi warna serta dukungan yang baik dari percetakan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Freehand kurang juga bisa memasyarakat di Indonesia karena tampilannya yang kurang menarik. Terlalu sederhana dan kurang memudahkan bagi para pengguna pemula. Namun, meski demikian, proses cetak suatu desain akan sangat terbantu jika Anda membuat desain dengan program ini, di mana file hasil jadinya disimpan dalam format FH (Freehand).

Sampai sejauh ini, program grafis vector yang paling luas digunakan di Indonesia adalah CorelDraw, dengan rilis terbarunya berbandrol CorelDRAW 12. Meski kurang didukung oleh banyak percetakan, serta mempunyai kelemahan dalam presisi warna dan efek bayangan, namun interface CorelDRAW yang ergonomis serta penggunaanya yang mudah menjadikannya jawara.

Lihat  pada Gambar berikut.

Dari waktu ke waktu peminat program CorelDRAW semakin meningkat, baik karena dorongan hobi semata, maupun mereka yang berminat serius untuk berkarir di dunia desain grafis.

Bagi perusahaan, penggunaan CorelDRAW sangat membantu dalam menunjang pembuatan berbagai desain penunjang keseharian kerja. Juga untuk membuat desain penunjang promosi pemasaran produk atau jasa perusahaan bersangkutan.

Kemudahannya menjadikan Anda yang bahkan tak punya background pendidikan desain pun bisa memanfaatkannya sesuai kebutuhan Anda. Intinya, tak ada yang tak bisa mendapatkan manfaat dari CorelDRAW.
Karena pertimbangan semacam itu pula, pada buku ini, penulis memilih menggunakan program CorelDRAW 12 sebagai program utama dalam berbagai proyek desain yang dibuat di sini.

bersambung…

The Principles of Design

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

The Principles of Design

Jika sebelumnya kita bicara tentang elemen-elemen desain yang menjadi dasar pembuatan sebuah desain, maka sekarang kita akan bicara tentang bagaimana atau hal-hal apa saja yang harus dipahami untuk bisa mendayagunakan elemen-elemen tersebut secara efektif. Bagaimana hubungan antara satu elemen dengan elemen-elemen yang lain itulah yang kita sebuh dengan prinsip-prinsip desain.

Prinsip desain sebenarnya juga berlaku pada banyak bidang kehidupan lainnya, namun khusus untuk desain grafis kita bisa membaginya menjadi 9 (sembilan) prinsip utama.

Keseimbangan (Balance)

Keseimbangan adalah prinsip desain yang pertama. Keseimbangan bisa didefinisikan sebagai distribusi visual  elemen-elemen desain—obyek, warna, tektur, dan ruang—antara satu dengan yang lain, sehingga terbentuk suatu desain yang stabil.

Keseimbangan dalam desain serupa dengan keseimbangan dalam dunia fisik. Sebuah obyek bisa seimbang jika ada obyek lain yang menjadi penyeimbangnya. Dalam desain, terdapat 3 (tiga) tipe keseimbangan, yaitu:

Keseimbangan Simetris (Symmetrical Balance)

Keseimbangan Simetris dicapai ketika obyek-obyek yang mempunyai properti yang sama saling berhubungan. Semisal, dua obyek yang mempunyai ukuran sama ditempatkan saling bersebelahan maka akan dicapai sebuah keseimbangan yang simetris.

Perhatikan Gambar berikut.

Keseimbangan Asimetris (Asymmetrical Balance)

Keseimbangan asimetris terjadi ketika obyek-obyek dengan properti yang berbeda diletakkan hingga tercipta suatu keseimbangan. Semisal, sebuah obyek besar diletakkan di dekat titik pusat diseimbangkan dengan obyek yang lebih kecil diletakkan lebih jauh dari titi pusat.

Lihat pada Gambar di bawah ini.

Keseimbangan Radial (Radial Balance)

Keseimbangan radial dicapai ketika obyek-obyek ditempatkan secara menyebar dari suatu titik pusat keseimbangan. Obyek-obyek yang Anda gunakan bisa berupa obyek-obyek serupa maupun berbeda propertinya.

Simak Gambar berikut ini.

Penekanan (Emphasis)

Penekanan adalah area desain yang menarik perhatian audiens yang melihatnya. Dalam desain, penekanan memainkan peranan yang esensial, karena dengan adanya penekanan, audiens diajak untuk memfokuskan perhatian pada desain tersebut.

Penekanan biasa dilakukan dengan mengkontraskan suatu area dengan area lainnya dalam desain, baik dengan ukuran, warna, bentuk dan sebagainya.

Simak berikut ini.

Pergerakan (Movement)

Pergerakan adalah bagaimana tata letak obyek-obyek desain mengarahkan pandangan mata audiens. Sebuah desain yang baik harus mampu membawa orang yang menyimaknya untuk menuju suatu bagian yang menjadi fokus penekanan (focal area). Pergerakan bisa diciptakan dengan menggunakan garis, bentuk ataupun warna.

Lihatlah Gambar berikut ini.

Pola (Pattern)

Pola adalah penempatan obyek yang sama di seluruh area desain. Pola semacam ini memberikan nuansa kestabilan.

Lihat pada Gambar di bawah ini.

Pengulangan (Repetition)

Pengulangan adalah penggunaan elemen-elemen desain yang serupa guna menumbuhkan suasana aktif dalam desain. Umumnya penerapan prinsip pengulangan berkorespondesi dengan pola.

Perhatikan Gambar  berikut.

Proporsi (Proportion)

Proporsi adalah prinsip desain dimana perbandingan dan penempatan obyek-obyek penyusunnya menciptakan suatu keseimbangan dan kesatuan. Dalam desain, segala bagian desain haruslah proporsional, karena pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima jika segalanya berada di tempat yang sesuai.

Serupa saat Anda menggambar figur wajah manusia, maka elemen-elemen penyusunnya, seperti mata, alis, hidung, bibir, rambut, dan sebagainya haruslah proporsional, sehingga memudahkan orang yang melihatnya untuk mengasosiasikan keseluruhan elemen tersebut sebagai sebuah bentuk wajah, sebagaimana yang ingin disampaikan pembuatnya.

Simak Gambar di bawah ini.

Ritme (Rhythm)

Ritme tercipta saat satu atau beberapa obyek digunakan secara berulang dalam desain untuk menciptakan nuansa keteraturan. Sangat penting untuk senantiasa menjaga ritme desain Anda senantiasa aktif saat audiens menyimak desain tersebut.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Variasi (Variety)

Variasi tercitpa ketika Anda mampu memanfaatkan obyek-obyek yang berbeda propertinya namun tetap dalam suatu kesatuan. Variasi diperlukan terutama untuk menarik perhatiakn audiens, sekaligus menghindarkan tumbuhnya rasa bosan karena terlalu banyak perulangan obyek-obyek yang sama dalam desain.

Variasi memungkinkan Anda berkreasi, mengeksplorasi bentuk, ukuran, tata letak dan berbagai elemen desain lainnya. Selama masih dalam kerangka pesan yang ingin disampaikan, Anda bebas untuk bervariasi.

Lihatlah pada Gambar 1.17. di bawah ini.

Kesatuan (Unity)

Kesatuan adalah nuansa harmoni yang tercipta karena elemen-elemen desain yang digunakan berada pada tempat yang tepat dengan cara yang tepat sehingga antara satu dengan yang lain saling melengkapi dan menguatkan pesan yang akan disampaikan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Ok, sekarang Anda mempunyai gambaran mengenai apa-apa saja yang menjadi elemen dan prinsip-prinsir untuk bisa mencipta desain yang baik.

Berikutnya, penulis akan mengajak sedikit menelusuri aspek-aspek desain yang lebih bersifat teknis yang tentunya Anda butuhkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan kreatif.

Font Astayoga Curve

Mencoba membuat sebuah font/typeface sendiri.

I name it Astayoga Curve. Feel free to download & let me know what you think guys.

Pioneers of Modern Graphic Design

Pioneers Of Modern Graphic Design

Pioneers Of Modern Graphic Design

Just found a great ebook. Pioneers of Modern Graphic Design by Jeremy Aynsley.

Check it out. Worth to read.

Elements of Design

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

The Elements of Design

Elemen desain adalah hal pertama yang akan Anda temui saat melakukan suatu pekerjaan kreatif. Elemen desain bisa dipahami sebagai semua elemen/hal yang menyusun sebuah desain. Tak peduli apakah desain tersebut bagus atau jelek, Anda akan menemukan elemen-elemen yang serupa di dalamnya.

Elemen-elemen desain tidak hanya Anda temukan dalam desain grafis, namun hampir di sebuah bidang yang terkait dengan visualisasi, seperti seni lukis, desain artistektur dan sebagainya.

Berikut adalah elemen-elemen desain yang paling umum Anda gunakan dalam pembuatan sebuah desain:

  • Garis (Line)

Garis adalah elemen desain yang berupa obyek yang tersusun dari persambungan 2 (dua) titik. Garis hanya mempunyai 1 (satu) dimensi saja, karena garis mempunyai dimensi panjang namun tidak mempunyai dimensi lebar.

Simak Gambar 1.1. berikut ini.

garis (line)

garis (line)

  • Bentuk (Shape)

Bentuk adalah elemen desain yang berupa obyek yang mempunyai area tertentu. Bentuk bisa berupa obyek geometris—kotak, lingkaran, poligon—atau obyek organik—berbentuk bebas.

Perhatikan Gambar 1.2.

basic shapes

basic shapes

Bentuk suatu obyek dibuat bukan tanpa tujuan, karena di balik suatu bentuk tersimpan makna. Dalam bentuk-bentuk geometris dasar pun terdapat makna universal, yang sekiranya bisa Anda adopsi atau gunakan sesuai kebutuhan Anda. Kita ambil contoh 3 (tiga) obyek geometris paling dasar, yaitu lingkaran, kotak dan segitiga.

-        Lingkaran, umum dimaknai sebagai representasi keabadian, keamanan, jaminan, keberlangsungan, siklus dan sebagainya. Sehingga jelas bagi Anda, kalau ingin mengungkapkan makna-makna demikian, Anda bisa mendayagunakan obyek dasar lingkaran.

-        Kotak, dalam variannya seperti bujur sangkar, persegi panjang ataupun limas, merepresentasikan makna stabilitas, kesetaraan, serta terkadang kejujuran. Kotak juga bisa dimaknai sebagai simbol ketegasan, kepastian, keseriusan dan hal-hal yang bisa diprediksikan. Oleh sebabnya, banyak perusahaan yang bergerak di bidang-bidang seperti perbankang, jasa asuransi, penyedian layanan jasa dan sebagainya menggunakan obyek dasar kotak dalam desain-desainnya.

-        Segitiga, banyak dimaknai sebagai simbol semangat, kerja keras, keberanian untuk mencoba, berekplorasi, kreatif dan maju. Bahkan sejak jaman purba, segitiga digunakan untuk merepresentasikan api, suatu kekuatan alam yang membara, yang darinya manusia mendapatkan cahaya, kehangatan dan perlindungan dari kegelapan di sekitarnya. Karenanya, jika Anda ingin menonjolkan nilai-nilai seperti di atas, maka tak perlu ragu-ragu memanfaatkan obyek dasar segitiga.

  • Arah (Direction)

Arah adalah elemen desain yang berupa orientasi obyek garis pada suatu bidang desain. Terdapat 3 (tiga) tipe arah obyek garis, yaitu arah horisontal (mendatar), arah vertikal (tegak) dan arah oblique (berdasarkan sudut/kemiringan tertentu).

Lihat pada Gambar 1.3. berikut ini.

arah (direction)

arah (direction)

  • Ukuran (Size)

Ukuran adalah elemen desain yang mengacu pada area yang digunakan untuk membentuk suatu obyek. Ukuran juga mengacu pada perbandingan antara satu obyek dengan obyek lain. Ukuran juga mengarah pada penggunaan ruang (space), di mana pembuatan suatu obyek akan menciptakan ruang positif (positive space), dimana pada saat bersamaan tercipta pula ruang negatif (negative space), yaitu area di luar area obyek.

Lihat pada Gambar 1.4.

arah (direction)

ukuran (size)

  • Tekstur (Texture)

Tekstur adalah elemen desain yang mengacu pada kualitas permukaan suatu obyek. Kualitas permukaan yang dimaksud baik secara fisik maupun nonfisik. Seperti halus, kasar, lembut dan sebagainya.

Simak Gambar 1.5.

tekstur

tekstur

  • Warna (Color)

Warna, umum juga disebut dengan istilah Hue, adalah elemen desain yang menunjuk pada bagaimana suatu cahaya dipantulkan pada permukaan obyek dan diterima oleh mata manusia. Warna memainkan peranan sangat penting dalam desain, bahkan jika warna yang digunakan hanyalah warna hitam dan putih.

Lihatlah pada Gambar 1.6.

warna (colors)

warna (colors)

  • Nilai (Value)

Nilai, yang juga disebut Tone, adalah kualitas keterangan (brightness) atau kegelapan (darkness) suatu warna. Elemen nilai ini memungkinkan Anda untuk menciptakan kekontrasan hanya dengan membedakan 2 (dua) obyek yang memiliki warna sama namun dengan tone yang berbeda.

Perhatikan Gambar 1.7. di bawah ini.

nilai (value)

nilai (value)

Mungkin, Anda tidak menggunakan semua elemen desain di atas dalam pekerjaan kreatif yang Anda lakukan. Namun, dengan memahami akan keberadaan elemen-elemen tersebut, Anda bisa memilih dengan bijak elemen-elemen mana yang sebaiknya digunakan dan amna yang tidak.

Semua elemen desain di sisi tidak bersifat kaku, sehingga ada kemungkinkan Anda menemukan elemen-elemen lain yang sekiranya esensial untuk dianggap sebagai elemen desain. Karenanya, pertimbangkan elemen-elemen yang dibahas di sini sebagai pengetahuan semata, sedangkan pemanfaatan dan pengembangannya terserah Anda.

To be continued

Design What?

image source: http://www.manystuff.org

image source: http://www.manystuff.org

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Design What?

Pada bab pertama ini, kita akan berbincang terlebih dulu mengenai hal-hal yang melatarbelakangi arti penting desain grafis bagi sebuah perusahaan (kantor). Sebagai pendahuluan, bab ini mempunyai arti penting untuk mengantarkan Anda dalam membangun sebuah kerangka  pikir (framework) yang pada gilirannya akan menentukan seberapa optimal Anda mampu mendayagunakan potensi yang terkandung di dalam desain grafis sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.

Ok, mari kita mulai.

The Grand Idea

Desain grafis, yang merupakan ekstensi seni rupa—desain visual—tak lain adalah anak kandung perkembangan teknologi modern, terutama komputer dan IT (information technology). Tak bisa dinafikkan betapa besar peranan komputer dalam merevolusi aplikasi desain dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam menunjang kampanye penjualan perusahaan.

Jika beberapa dekade yang lalu masih teramat mudah kita temukan desainer yang menggunakan kertas, pensil, pulpen, rugos, penggaris, dan berbagai peralatan tulis lainnya dalam membuat sebuah desain, maka sekarang semua fungsi alat-alat tersebut telah disubsitusikan oleh sebuah peralatan bernama komputer.

Jika dengan cara manual, sebuah desain bisa membutuhkan berjam-jam waktu kerja untuk menyelesaikannya, sekarang dibutuhkan waktu yang relatif lebih singkat dengan komputer. Presisi bentuk, warna, dimensi dan layout juga menjadi keunggulan komputer dalam pekerjaan desain kreatif dibandingkan metode manual. Selain itu, kemampuan simpan desain sebagai data dalam komputer menjadikannya pilihan terbaik untuk reproduksi dan storage. Benar-benar sebuah paket komplit yang tak mungkin dilewatkan oleh mereka yang bergerak di bidang desain.

Ergonomis, itulah kata kunci untuk menjelaskan esensi komputer dalam perkembangan desain grafis di dunia. Maka, jika Anda masih menemukan ada orang yang mendesain secara manual, ada 2 (dua) kemungkinan, yaitu orang tersebut belum paham tentang potensi yang dimiliki komputer grafis, atau orang tersebut terlalu keras kepala untuk beralih ke teknologi baru yang lebih menguntungkan.

Tentunya Anda bukan termasuk orang seperti itu kan?

Yup, maka di sinilah Anda sekarang berada, di salah satu titik dunia desain grafis yang mahaluas, berupaya mengembangkan diri untuk meraih pencapaian kreatif paling optimal.

The Basic of Design

Ok…pertama-tama untuk bisa melakukan pekerjaan kreatif, Anda setidaknya harus memahami dulu dasar-dasar desain grafis itu sendiri. Konsep dasar yang bisa dijadikan pegangan sekaligus panduan, dalam pengerjaan sekaligus penilaian sebuah desain.

Anda tidak bisa hanya mengandalkan kreatifitas dan imajinasi semata dan berharap menghasilkan sebuah desain yang baik. Anda juga tak bisa hanya mengandalkan kemampuan teknis mengoperasikan suatu program desain dan berharap tercipta suatu desain yang menarik.

Dibutuhkan kombinasi antara pengetahuan desain, daya kreatifitas/imajinasi dan kemampuan teknis untuk bisa menghasilkan desain yang benar-benar sesuai tujuan yang diinginkan.

Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk mengenal kosep/pengetahuan desain sekaligus menjajal kemampuan teknis program desain guna menyelesaikan beberapa proyek desain yang umum digunakan untuk kepentingan perkantoran.

Dengan mengikuti tahap demi tahap proyek desain yang ada, diharapkan Anda mampu menumbuhkan sebuah pemahaman akan arti penting desain sekaligus mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan program desain guna menangani berbagai persoalan terkait desain grafis dalam lingkup kerja sehari-hari.

Sedangkan mengenai kratifitas, well penulis senantiasa percaya kalau setiap dari kita terlahir dengan kemampuan kreatif. Ada yang kemampuannya menonjol, namun ada pula yang kurang menonjol. Namun, potensi untuk kreatif senantiasa ada di setiap manusia.

Jika Anda merasa kurang mempuanyai daya kreatif, percayalah, yang Anda perlu lakukan hanya mengasahnya. Caranya dengan banyak-banyak mencermati dunia sekitar Anda, memahaminya, mengendapkannya dalam relung terdalam diri, dan tanpa Anda sadari potensi kreatifitas Anda akan tumbuh bermekaran dengan sendirinya.

Hmmm….sekarang kita mulai bicara serius. Berikut penulis akan coba menjelaskan sekilas mengenai pengetahuan dasar yang musti Anda pahami untuk bisa menciptakan desain yang baik. Kita akan bicara mengenai Elemen Desain dan Prinsip-Prinsip Desain.

To be continued…

Desain Grafis Untuk Kepentingan Bisnis

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Kutipan dari Kata Pengantar buku CorelDraw Untuk Bisnis.

Desain Grafis Untuk Kepentingan Bisnis?

Inilah ide dasar yang terbersit di benak penulis ketika merancang buku yang sekarang ada di tangan Anda ini. Bagaimana desain grafis bisa mendukung kepentingan bisnis? Bagaimana aplikasinya secara riil? Bagaimana mendayagunakannya secara optimal untuk menunjang kampanye pemasaran suatu produk atau perusahaan?

Dengan berdasarkan pada pengalaman pribadi sebagai desainer grafis, hasil riset dan juga hasil diskusi dengan beberapa rekan, baik dari kalangan bisnis maupun sesama desainer, penulis temukan bahwa memang desain grafis mempunyai peran yang signifikan dalam kesuksesan suatu bisnis.

Desain grafis, bermain dalam pencitraan, suatu bagian dari ranah komunikalsi massa yang dijalankan oleh hampir semua bisnis. Karenanya, tak dapat dinafikkan betapa desain/visualisasi suatu pesan bisnis sangat menentukan apakah bisnis tersebut bisa berhasil atau tidak.

Untuk menjual produk atau jasa, sebuah perusahaan tak bisa hanya mengandalkan kualitas produk atau jasa itu sendiri. Namun, musti dudukung oleh komunikasi ide yang intens, dimana salah satunya melalui tampilan visual yang menarik dan representatif dengan nilai-nilai tersebut.

Nah, disinilah tantangan bagi seorang desain grafis untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Bahkan, seringkali hal ini tak cuman menjadi tanggungan seorang desainer grafis, melainakn pihak marketing suatu perusahaan, atau kalau kita bicara dalam konteks usaha kecil dan menengan (SOHO), ini menjadi tanggungjawab pebisnis itu sendiri.

Jika memang demikian, tak ada salahnya jika Anda, baik itu seorang desainer, pebisnis, pegawai kantoran, marketing atau apapun untuk mencoba menengok apa yang coba dibahas dalam buku ini.

Di sini, penulis menguak berbagai sisi pembuatan desain-desain yang paling umum dilakukan untuk kepentingan bisnis, mulai dari usaha paling kecil (usaha rumahan) hingga perusahaan multinasional.

Logo, letterhead, business card adalah beberap contoh aplikasi riil desain grafis dalam menunjang suatu bisnis. Dan itu pula proyek-proyek yang akan dicontohkan proses pembuatannya dalam buku ini.

Anda bisa mengikutinya step-by-step melalui penjelasan yang singkat, padat dan jelas, sehingga Anda pun bisa mempraktekkannya secara langsung untuk kepentingan bisnis Anda sendiri.

Selain itu, penulis sengaja memilihkan program desain CorelDRAW 12 yang terbukti tak hanya mudah digunakan (user-friendly), bahkan bagi para pemula di dunia desain, namun juga relatif ampuh untuk menangani berbagai proyek desain yang Anda butuhkan.

Jadi tunggu apa lagi. Mulailah membuka, mempelajari dan praktekkan langsung semua yang dijelaskan di buku ini. Penulis jamin Anda akan temukan banyak manfaat yang bisa diaplikasikan langsung dalam menunjang bisnis yang Anda jalani.  Ok?

Bagi pembaca yang mempunyai kritik, saran, masukan atau sekedar ingin bertukar ide mengenai desain grafis, silahkan hubungi penulis via e-mail atau YM di alamat astayoga@yahoo.com atau log in di http://astayoga.wordpress.com.

Older entries »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.