Hasto Suprayogo

thoughts, words, acts

Archive for elexmedia

Graphic Computer (Komputer Grafis)

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, dalam buku ini Anda diajak untuk mencoba memahami dan menggunakan potensi komputer dalam melakukan pekerjaan kreatif, yaitu desain grafis. Setelah Anda membekali diri dengan konsep dasar desain grafis, saatnya Anda mempelajari dasar-dasar penggunaan komputer dalam pembuatan desain. Umum disebut sebagai Komputer Grafis (graphic computer).

Komputer grafis mencakup semua hal yang terkait dengan penggunaan komputer untuk menunjang pekerjaan desain grafis. Mulai dari pembagian komputer grafis menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu grafis berbasis vector dan berbasis bitmap. Program-program yang umum digunakan untuk membuat dan melakukan pengeditan desain. Berbagai format penyimpanan file desain, dan sebagainya.

Pengetahuan semacam ini akan membantu Anda untuk bisa bekerja dengan tepat dan efektif. Sehingga, Anda tidak akan mengalami saat di mana pekerjaan desain yang sudah Anda kerjakan dengan susah payah ternyata tak bisa digunakan karena hal-hal teknis. Dan Anda tak akan menerima komentar orang seperti, “Wah…mestinya Anda menggunakan program ini dan bukan itu,” atau “Harusnya Anda menggunakan format ini, resolusi segini,” serta masih banyak blablabla lainnya yang hanya akan memusingkan dan membuat Anda frustasi.

Lebih baik kenali semua hal-hal itu sekarang, and seterusnya Anda tinggal memfokuskan diri pada penyampaian pesan yang coba Anda lakukan lewat desain.

Vector vs Bitmap

Secara garis besar, komputer grafis bisa dibagi ke dalam 2 (dua) kelompok besar. Yaitu, grafis berbasis vector dan grafis berbasis bitmap. Kapan Anda musti memilih vector dan kapan Anda musti memilih bitmap musti menjadi pertimbangan pertama sebelum Anda bekerja. Bagaimana sifat-sifat keduanya, dan bagaimana mencocokannya dengan kebutuhan Anda harus ditentukan dengan bijak. Karena itu semua mempengaruhi cara kerja dan hasil yang akan Anda raih.

Vector (Vektor)

Grafis berbasis bitmap adalah macam grafis yang menggunakan obyek geometris dan perhitungan matematis dalam pembuatannya. Semua obyek pembentuk suatu desain diciptakan oleh komputer dengan mengkalkulasikan faktor-faktor matematisnya, seperti koordinat letak, ukuran dimensional, ukuran outline, dan sebagainya.

Untuk membuat grafis berbasis vector, Anda harus mendefinisikan titik awal dilanjutkan dengan titik-titik berikutnya, di mana komputer akan secara otomatis menyambungkan titik-titik tersebut dalam membentuk suatu obyek.
Karena obyek-obyek dibentuk berdasarkan posisi titik-titik penyusunnya, maka untuk mengedit suatu obyek, yang perlu Anda lakukan adalah mengedit titik-titik tersebut. Simple bukan?

Tapi tunggu dulu, meskipun kedengarannya simple, sebuah grafis berbasis vecktor bisa terdiri dari banyak obyek yang masing-masingnya terbentuk dari banyak titik pula. Namun, secara umum bisa dikatakan grafis vector adalah tipe grafis yang paling mudah digunakan dan diedit.

Perhatikan Gambar  berikut ini.

Yang istimewa dari grafis vector adalah sifatnya yang fleksibel, dalam artian Anda bisa mengubah ukuran dimensionalnya tanpa mengubah kualitas tampilan maupun hasil cetaknya. Sebuah grafis vector bisa Anda perbesar ukurannya hingga berapa meter atau Anda perkecil hingga berapa milimeter tanpa kehilangan ketajamannya. Sifat grafis vector semacam ini disebut resolusi bebas (resolution independent).

Simak Gambar berikut ini.

Karena sifatnya yang fleksibel, grafis vector umum dipakai untuk membuat desain-desain yang membutuhkan fleksibilitas juga, dalam artian desain yang bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, dalam berbagai ukuran, dan dalam berbagai media reproduksi.

Dalam konteks suatu perusahaan, grafis vector misalnya digunakan dalam pembuatan logo, di mana logo tersebut umumnya digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kop surat (letterhead), kartu nama, brosur, booklet hingga kemasan produk dan masih banyak lagi.

Untuk masing-masing penggunaan, logo berupa grafis vector akan sangat memudahkan Anda untuk memodifikasi ukuran, tata letak, dan berbagai atribut lainnya, sementara pada saat bersamaan tetap mempertahankan kualitas hasil akhirnya.

Jadi tak peduli dicetak di kartu nama berukuran 9 cm x 5 cm, spanduk 3 m x 1 m atau di brosur berukuran folio, logo perusahaan Anda akan senantiasa terlihat solid, sesolid perusahaan Anda.

Perhatikan Gambar di bawah ini.

Grafis vector juga banyak digunakan dalam pembuatan desain-desain yang membutuhkan presisi, seperti desain produk (product design), terutama untuk kemasan. Di mana ukuran dan ketepatan peletakan elemen-elemen desain sangat berpengaruh terhadap persepsi calon konsumen, yang pada akhirnya mempengaruhi keinginan untuk membeli.

Lagipula, siapa juga yang mau membeli suatu produk yang kemasannya jelek kan? Simak Gambar berikut.

Dalam perkembangannya, grafis vector juga berhasil memikat hati pada pembuatan kartun dan animasi, sehingga jika Anda perhatikan, begitu banyak situs di internet yang menggunakan animasi flash yang dibuat menggunakan grafis vector.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Keunggulan bekerja dengan grafis vector lainnya adalah, ukuran file desain yang dihasilkannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan desain yang sama yang dibuat dengan grafis bitmap.
Sebagai perbandingan, desain kartu nama pada Gambar 1.21. di atas saat dibuat sebagai grafis vector dalam format CDR (CorelDRAW) menghasilkan file berukuran 56 kB, sedangkan saat dibuat sebagai grafis bitmap dalam format JPEG (Joint Photographic Experts Group) dengan ukuran dimensional sama dan resolusi 300 dpi menghasilkan file berukuran 95 kB.
Untuk satu dua desain mungkin hal ini tidak terasa banyak bedanya, namun sekiranya Anda bekerja dengan lebih banyak desain, dan atau dengan desain berukuran dimensional lebih besar, niscaya ukuran file penyimpanan akan benar-benar Anda pertimbangkan.
Tapi, apakah grafis vector tidak ada kelemahannya? Mungkin begitu yang terbersit dalam benak Anda saat ini.

Yeah, namanya juga suatu program, tidak akan ada yang bisa sempurna memenuhi segala kebutuhan dan harapan penggunanya. Grafis vector karena terbentuk dari obyek-obyek yang dibuat dengan perhitungan matematis, kurang mampu menangani obyek-obyek yang teramat kompleks, seperti ragam warna, gradasi, perubahan kontur dan sebagainya. Sehingga, adalah hampir mustahil membuat ilustrasi wajah manusia sebagaimana yang Anda lihat di foto dengan menggunakan grafis vector. Untuk menangani gambar -gambar foto kompleks semacam ini digunakan grafis bitmap.

Ok, jadi Anda paham kan?

Anda menggunakan grafis vector untuk membuat desain yang berupa obyek-obyek geometris, dengan warna solid, yang seperlunya digunakan dalam berbagai ukuran dan media reproduksi, seperti logo, teks, kartun, animasi dan sebagainya.

Lalu, program apa yang sebaiknya Anda gunakan untuk membuat desain berbasis grafis vector? Begitu banyak program di pasaran, mungkin Anda akan dibuat bingung saat memilih di antaranya. Hampir semuanya sama, lalu apa keunggulan dan kekurangannya? Mana yang harus digunakan?
Well, program pengolah grafis vector yang paling baik digunakan sangat beragam untuk masing-masing negara. Di Amerika Serikat, program yang paling banyak digunakan adalah Adobe Illustrator.

Di negara-negara Eropa, terjadi pertarungan sengit antara Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand. Sedangkan khusus untuk Indonesia, dan beberapa negara Asia, CorelDRAW masih merajai pasaran. Meskipun, untuk kalangan profesional, pilihan tetap jatuh pada Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand.

Mengapa bisa demikian?

Adobe Illustrator, dengan rilis terbarunya berbandrol Illustrator CS—singkatan dari Creative Suite—adalah program yang menawarkan fasilitas, fitur, dan kemampuan paling lengkap dan paling menunjang untuk berbagai pekerjaan kreatif. Kompabilitasnya untuk menghasilkan desain yang solid, presisi bentuk dan warna, serta dukungan yang luas dari hampir semua mesin cetak menjadikannya kawan karib para desainer profesional.

Lihat Gambar berikut.

Jika Anda datang ke percetakan, pilihan utama mereka untuk mencetak desain Anda adalah dengan format AI—yaitu format file Adobe Illustrator.
Namun, program Adobe Illustrator kurang bisa merajai di Indonesia karena kurang tampilan antamuka (interface) nya kompleks dan juga membutuhkan komputer dengan kapasitas relatif besar untuk bisa menginstallnya.

Program grafis vector yang menjadi pilihan kedua para desainer profesional di Indonesia adalah Macromedia Freehand, dengan rilis terbarunya berbandrol Freehand MX. Freehand digunakan karena program ini paling ringan kebutuhan sistem komputer untuk menginstallnya, presisi warna serta dukungan yang baik dari percetakan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Freehand kurang juga bisa memasyarakat di Indonesia karena tampilannya yang kurang menarik. Terlalu sederhana dan kurang memudahkan bagi para pengguna pemula. Namun, meski demikian, proses cetak suatu desain akan sangat terbantu jika Anda membuat desain dengan program ini, di mana file hasil jadinya disimpan dalam format FH (Freehand).

Sampai sejauh ini, program grafis vector yang paling luas digunakan di Indonesia adalah CorelDraw, dengan rilis terbarunya berbandrol CorelDRAW 12. Meski kurang didukung oleh banyak percetakan, serta mempunyai kelemahan dalam presisi warna dan efek bayangan, namun interface CorelDRAW yang ergonomis serta penggunaanya yang mudah menjadikannya jawara.

Lihat  pada Gambar berikut.

Dari waktu ke waktu peminat program CorelDRAW semakin meningkat, baik karena dorongan hobi semata, maupun mereka yang berminat serius untuk berkarir di dunia desain grafis.

Bagi perusahaan, penggunaan CorelDRAW sangat membantu dalam menunjang pembuatan berbagai desain penunjang keseharian kerja. Juga untuk membuat desain penunjang promosi pemasaran produk atau jasa perusahaan bersangkutan.

Kemudahannya menjadikan Anda yang bahkan tak punya background pendidikan desain pun bisa memanfaatkannya sesuai kebutuhan Anda. Intinya, tak ada yang tak bisa mendapatkan manfaat dari CorelDRAW.
Karena pertimbangan semacam itu pula, pada buku ini, penulis memilih menggunakan program CorelDRAW 12 sebagai program utama dalam berbagai proyek desain yang dibuat di sini.

bersambung…

The Principles of Design

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

The Principles of Design

Jika sebelumnya kita bicara tentang elemen-elemen desain yang menjadi dasar pembuatan sebuah desain, maka sekarang kita akan bicara tentang bagaimana atau hal-hal apa saja yang harus dipahami untuk bisa mendayagunakan elemen-elemen tersebut secara efektif. Bagaimana hubungan antara satu elemen dengan elemen-elemen yang lain itulah yang kita sebuh dengan prinsip-prinsip desain.

Prinsip desain sebenarnya juga berlaku pada banyak bidang kehidupan lainnya, namun khusus untuk desain grafis kita bisa membaginya menjadi 9 (sembilan) prinsip utama.

Keseimbangan (Balance)

Keseimbangan adalah prinsip desain yang pertama. Keseimbangan bisa didefinisikan sebagai distribusi visual  elemen-elemen desain—obyek, warna, tektur, dan ruang—antara satu dengan yang lain, sehingga terbentuk suatu desain yang stabil.

Keseimbangan dalam desain serupa dengan keseimbangan dalam dunia fisik. Sebuah obyek bisa seimbang jika ada obyek lain yang menjadi penyeimbangnya. Dalam desain, terdapat 3 (tiga) tipe keseimbangan, yaitu:

Keseimbangan Simetris (Symmetrical Balance)

Keseimbangan Simetris dicapai ketika obyek-obyek yang mempunyai properti yang sama saling berhubungan. Semisal, dua obyek yang mempunyai ukuran sama ditempatkan saling bersebelahan maka akan dicapai sebuah keseimbangan yang simetris.

Perhatikan Gambar berikut.

Keseimbangan Asimetris (Asymmetrical Balance)

Keseimbangan asimetris terjadi ketika obyek-obyek dengan properti yang berbeda diletakkan hingga tercipta suatu keseimbangan. Semisal, sebuah obyek besar diletakkan di dekat titik pusat diseimbangkan dengan obyek yang lebih kecil diletakkan lebih jauh dari titi pusat.

Lihat pada Gambar di bawah ini.

Keseimbangan Radial (Radial Balance)

Keseimbangan radial dicapai ketika obyek-obyek ditempatkan secara menyebar dari suatu titik pusat keseimbangan. Obyek-obyek yang Anda gunakan bisa berupa obyek-obyek serupa maupun berbeda propertinya.

Simak Gambar berikut ini.

Penekanan (Emphasis)

Penekanan adalah area desain yang menarik perhatian audiens yang melihatnya. Dalam desain, penekanan memainkan peranan yang esensial, karena dengan adanya penekanan, audiens diajak untuk memfokuskan perhatian pada desain tersebut.

Penekanan biasa dilakukan dengan mengkontraskan suatu area dengan area lainnya dalam desain, baik dengan ukuran, warna, bentuk dan sebagainya.

Simak berikut ini.

Pergerakan (Movement)

Pergerakan adalah bagaimana tata letak obyek-obyek desain mengarahkan pandangan mata audiens. Sebuah desain yang baik harus mampu membawa orang yang menyimaknya untuk menuju suatu bagian yang menjadi fokus penekanan (focal area). Pergerakan bisa diciptakan dengan menggunakan garis, bentuk ataupun warna.

Lihatlah Gambar berikut ini.

Pola (Pattern)

Pola adalah penempatan obyek yang sama di seluruh area desain. Pola semacam ini memberikan nuansa kestabilan.

Lihat pada Gambar di bawah ini.

Pengulangan (Repetition)

Pengulangan adalah penggunaan elemen-elemen desain yang serupa guna menumbuhkan suasana aktif dalam desain. Umumnya penerapan prinsip pengulangan berkorespondesi dengan pola.

Perhatikan Gambar  berikut.

Proporsi (Proportion)

Proporsi adalah prinsip desain dimana perbandingan dan penempatan obyek-obyek penyusunnya menciptakan suatu keseimbangan dan kesatuan. Dalam desain, segala bagian desain haruslah proporsional, karena pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima jika segalanya berada di tempat yang sesuai.

Serupa saat Anda menggambar figur wajah manusia, maka elemen-elemen penyusunnya, seperti mata, alis, hidung, bibir, rambut, dan sebagainya haruslah proporsional, sehingga memudahkan orang yang melihatnya untuk mengasosiasikan keseluruhan elemen tersebut sebagai sebuah bentuk wajah, sebagaimana yang ingin disampaikan pembuatnya.

Simak Gambar di bawah ini.

Ritme (Rhythm)

Ritme tercipta saat satu atau beberapa obyek digunakan secara berulang dalam desain untuk menciptakan nuansa keteraturan. Sangat penting untuk senantiasa menjaga ritme desain Anda senantiasa aktif saat audiens menyimak desain tersebut.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Variasi (Variety)

Variasi tercitpa ketika Anda mampu memanfaatkan obyek-obyek yang berbeda propertinya namun tetap dalam suatu kesatuan. Variasi diperlukan terutama untuk menarik perhatiakn audiens, sekaligus menghindarkan tumbuhnya rasa bosan karena terlalu banyak perulangan obyek-obyek yang sama dalam desain.

Variasi memungkinkan Anda berkreasi, mengeksplorasi bentuk, ukuran, tata letak dan berbagai elemen desain lainnya. Selama masih dalam kerangka pesan yang ingin disampaikan, Anda bebas untuk bervariasi.

Lihatlah pada Gambar 1.17. di bawah ini.

Kesatuan (Unity)

Kesatuan adalah nuansa harmoni yang tercipta karena elemen-elemen desain yang digunakan berada pada tempat yang tepat dengan cara yang tepat sehingga antara satu dengan yang lain saling melengkapi dan menguatkan pesan yang akan disampaikan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Ok, sekarang Anda mempunyai gambaran mengenai apa-apa saja yang menjadi elemen dan prinsip-prinsir untuk bisa mencipta desain yang baik.

Berikutnya, penulis akan mengajak sedikit menelusuri aspek-aspek desain yang lebih bersifat teknis yang tentunya Anda butuhkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan kreatif.

Tracing Foto Dengan Adobe Illustrator

Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator

Desain Vector dan Tracing dengan Illustrator

Diambil dari buku ku berjudul Desain Vector dan Tracing Dengan Illustrator CS terbitan Elexmedia Komputindo.

Well, Anda sudah sampai ke bab 15, sebuah bab yang sangat istimewa. Karena pada bab ini penulis akan mengajak Anda untuk membuat portrait tracing.

Yeah, sesuai dengan tebakan Anda, model ini mengacu pembuatan tracing wajah (portrait) yang tentunya sangat menarik. Siapa yang tak mau membuat tracing wajah, apalagi wajah orang-orang penting dalam hidup Anda atau bahkan wajah Anda sendiri (self-portrait)

Oke…kita mulai saja yuk.

  • Mulailah dengan membuat dokumen kerja baru. Pilih menu File > New, kemudian isi kotak dialog New Document seperti pada Gambar 15.1. berikut.

Gambar 15.1. Kotak dialog New Document

Gambar 15.1. Kotak dialog New Document

Klik Ok dan Anda akan mendapatkan sebuah dokumen kerja baru siap pakai seperti pada Gambar 15.2. di bawah ini.

Gambar 15.2. Dokumen kerja baru siap pakai

Gambar 15.2. Dokumen kerja baru siap pakai

  • Impor image yang akan ditrace. Kebetulan penulis menemukan sebuah image cewek dengen ekspresi yang bagus untuk ditrace. Penulis sarankan, jika Anda akan melakukan tracing wajah seseorang, pilihlah image yang ukuran dimensional dan resolusinya relatif besar.

Hal ini dikarenakan keindahan sebuah portrait tracing terletak pada detail yang bisa Anda tampilkan. Sementara, untuk bisa melakukan tracing secara detail, image yang digunakan musti detail pula. Dengan kata lain, semakin besar image, semakin besar kemungkinan Anda dapatkan hasil tracing yang baik.

Untuk mengimpor image, seperti biasa pilih menu File > Place, kemudian pada kotak dialog Place, navigasikan ke directory tempat penyimpanan image. Pilih image yang dimaksud, lalu klik Place dan image akan masuk ke dalam dokumen kerja Anda.

Lihat Gambar 15.3. di bawah ini.

Gambar 15.3. Impor image ke dalam dokumen

Gambar 15.3. Impor image ke dalam dokumen

Kunci layer image sehingga untuk menghindari pengeditan tak sengaja. Caranya dengan mengklik ikon Toogles Lock   yang terletak di samping kiri Layer 1 tempat image berada.

Kemudian, buat layer bar di atas Layer 1 dengan jalan klik ikon Create New Layer   pada bagian bawah Palette Layers.  Simak Gambar 15.4.

Gambar 15.4. Kunci layer image dan buat layer baru

Gambar 15.4. Kunci layer image dan buat layer baru

  • Perbesar tampilan image dengan mengklik tombol Ctrl + [+] pada keyboard untuk memudahkan Anda melakukan tracing. Aktifkan Pen tool  , ubah warna stroke menjadi putih dan nonaktifkan warna fill pada Toolbox.

Penulis biasa memulai tracing wajah dari bagian mata. Seperti yang penulis jelaskan saat melakukan tracing mobil, mulai dengan membuat obyek yang posisinya paling atas. Di mata manusia, biasanya terdapat kilauan cahaya. Nah, trace bagian ini terlebih dulu.

Perhatikan Gambar 15.5. berikut ini.

Gambar 15.5. Mulai trace bagian paling atas mata

Gambar 15.5. Mulai trace bagian paling atas mata

Ubah warna isinya menjadi putih, kemudian melalui Palette Transparency, ubah nilai transparansi obyek tersebut menjadi 20% atau kurang. Simak Gambar 15.6.

Gambar 15.6. Ubah warna isi dan transparansi obyek

Gambar 15.6. Ubah warna isi dan transparansi obyek

  • Setelah bagian kilauan cahaya mata, selanjutnya buat obyek bola mata. Aktifkan Pen tool  , gunakan warna stroke putih dan fill nonaktif, kemudian mulai trace kontur bola mata. Jika sudah, ubah warna isinya menjadi hitam dengan mengklik area image yang ada di bawahnya dengan menggunakan Eyedropper tool.

Jangan lupa untuk memposiikan obyek bola mata di urutan paling bawah dengan memilih menu Object > Arrange > Send to Back.

Lihat Gambar 15.7

Gambar 15.7. Buat obyek bola mata

Gambar 15.7. Buat obyek bola mata

Jika Anda perhatikan, bola mata manusia tidak hanya satu warna—hitam saja misalnya—melainkan ada area berwarna lain yang biasa disebut iris. Nah, pada pada image yang penulis trace juga terdapat iris dengan warna coklat di bagian mata.

Penulis akan men-trace area iris tersebut, mengubah warna isinya menjadi coklat lalu memposisikannya di urutan paling bawah. Perhatikan Gambar 15.8. di bawah ini.

Gambar 15.8. Trace area iris dan ubah warna isinya

Gambar 15.8. Trace area iris dan ubah warna isinya

  • Ok, setelah berhasil melakukan tracing obyek penyusun bola mata, berikutnya trace obyek bulu mata dan garis mata yang posisinya di atas bola mata.

Kembali gunakan Pen tool  , ubah warna stroke menjadi putih dan nonaktifkn warna fill. Lakukan tracing, lalu ubah warna isinya menjadi hitam dengan mengklik area image di bawahnya menggunakan Eyedropper tool  , sehingga didapat hasil seperti pada Gambar 15.9.

Gambar 15.9. Trace area bulu mata dan ubah warnanya

Gambar 15.9. Trace area bulu mata dan ubah warnanya

Lanjutkan dengan melakukan tracing area coklat disekitaran mata, sekaligus sebagai pembatas mata. Jangan lupa posisikan di urutan paling bawah. Perhatikan Gambar 15.10.

Gambar 15.10. Trace area pinggiran mata

Gambar 15.10. Trace area pinggiran mata

Berikutnya, trace area dalam mata yang berwarna putih. Posisikan di urutan paling bawah sehingga didapat hasil seperti pada Gambar 15.11. di bawah ini.

Gambar 15.11. Trace area putih mata

Gambar 15.11. Trace area putih mata

Kemudian, trace area bayangan di bawah mata dan sekeliling mata, kemudian ubah warnanya menjadi coklat mudah dengan Eyedropper tool  . Jangan lupa posisikan di urutan paling bawah dengan memilih menu Object > Arrange > Send to Back. Simak Gambar 15.12. berikut ini.

Gambar 15.12. Trace area bayangan di bawah mata

Gambar 15.12. Trace area bayangan di bawah mata

Selanjutnya, seleksi semua obyek penyusun mata, gabungkan menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group, atau cukup dengan menekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

Untuk melihat seperti apa tampilan ilustrasi yang sudah Anda buat, nonaktifkan tampilan layer image dengan mengklik ikon visibility   di samping kiri Layer 1.

Perhatikan dengan seksama tampilannya seperti pada Gambar 15.13. di bawah ini.

Gambar 15.13. Hasil ilustrasi mata

Gambar 15.13. Hasil ilustrasi mata

Lumayan bukan? Memang capek dan butuh waktu, tapi kalau Anda memang ingin memperoleh hasil terbaik, Anda musti sabar, Ok?

  • Setelah mata pertama berhasil Anda trace, lanjutkan pada mata kedua. Ikuti langkah-langkah serupa dengan saat Anda membuat tracing mata pertama. Mulai dari obyek yang posisinya paling atas, diikuti obyek bawahnya dan begitu seterusnya.

Berikut penulis tunjukkan hasil tracing mata kedua pada Gambar 15.14. berikut supaya Anda bisa memperoleh gambaran yang lebih jelas.

Gambar 15.14. Trace obyek mata kedua

Gambar 15.14. Trace obyek mata kedua

Jika sudah berhasil gabungkan masing-masing obyek mata menjadi satu grup, sehingga memudahkan Anda dalam melanjutkan proses tracing.

  • Setelah mata selesai Anda tracing, lanjutkan dengan melakukan tracing pada alis. Kita mulai dengan alis sebelah kanan. Gunakan Pen tool   dengan stroke warna putih dan fill nonaktif, lalu mulai trace kontur alis tersebut.

Lihat bahwa di alis sebelah kanan terdapat 2 area warna utama, yaitu coklat muda dan coklat tua. Anda bisa gunakan warna yang telah diaplikasikan pada obyek mata.

Mulai dengan tracing area yang posisi paling atas, baru area yang posisinya di bawahnya. Hasilnya terlihat seperti pada Gambar 15.15.

Gambar 15.15. hasil tracing alis mata kanan

Gambar 15.15. hasil tracing alis mata kanan

Lanjutkan dengan tracing area alis sebelah kiri. Perhatikan bahwa alis kiri mempunyai warna lebih gelap. Gunakan Eyedropper tool   untuk memilih warna yang sesuai dari image. Simak Gambar 15.16. di bawah ini.

Gambar 15.16. Trace alis sebelah kiri

Gambar 15.16. Trace alis sebelah kiri

Jika sudah, seleksi masing-masing obyek alis dan gabungkan menjadi satu grup.’

  • Berikutnya, lanjutkan dengan men-trace area hidung, terutama bagian lubang hidung. Gunakan Pen tool  , trace kontur dan gunakan Eyedropper tool   untuk mengaplikasikan warna yang sesuai. Simak hasilnya pada Gambar 15.17.

Gambar 15.17. Trace area hidung

Gambar 15.17. Trace area hidung

Seleksi semua obyek penyusun hidung dan gabungkan menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group, atau tekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

  • Lanjutkan dengan mentrace area bibir dan mulut. Hati-hati saat melakukan tracing daerah ini, karena bibir dan mulut sangat jelas terlihat saat sebuah image jadi.

Perhatikan hasil tracing yang penulis lakukan terhadap area bibir dan mulut image, sebagaimana terlihat pada Gambar 15.18. di bawah ini.

Gambar 15.18. Hasil tracing obyek bibir dan mulut

Gambar 15.18. Hasil tracing obyek bibir dan mulut

Jika sekarang Anda perhatikan, obyek-obyek tracing yang dihasilkan sudah mulai membentuk sesosok wajah, seperti terlihat pada Gambar 15.19. di bawah ini.

Gambar 15.19. Ilustrasi sementara hasil tracing

Gambar 15.19. Ilustrasi sementara hasil tracing

  • Kembali lanjutkan tracing area telinga. Gunakan Pen tool   dan ikuti kontur area dalam telinga untuk menampilkan bentuknya. Lalu, manfaatkan Eyedropper tool   untuk mengaplikasikan warna yang sesuai berdasarkan area image yang ada di bawahnya.

Karena obyek yang ditrace adalah image seorang perempuan, penulis tak lupa pula melakukan tracing pada anting-anting yang dipakainya.

Simak Gambar 15.20. untuk melihat hasilnya.

Gambar15.20. Hasil tracing telinga

Gambar15.20. Hasil tracing telinga

Jangan lupa jika sudah berhasil men-trace area telinga, seleksi semua obyek penyusunnya, lalu gabungkan menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group, atau cukup tekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

  • Nah, sekarang kita sampai pada bagian yang sangat kritis dan membutuhkan perhatian seksama, yaitu bagian rambut. Perhatikan bahwa seperti juga area mata, rambut manusia terdiri dari beberapa bagian yang musti Anda trace dengan jeli, dimulai dari bagian kilaua rambut, bagian hitam rambut dan helai-helai luar.

Awali dengan melakukan trace pada area kulaian rambut. Ingat Anda musti ekstra hati-hati. Gunakan Pen tool   dengan warna stroke putih dan fill nonaktif, dan lakukan untuk setiap area kilauan rambut. Jika kilauan rambut jumlahnya banyak, ya Anda musti melakukannya terus dan terus hingga semuanya berhasil di-trace.

Jika sudah, ubah warna isinya menjadi putih dan atur transparansinya menjadi 20% atau kurang.

Penulis tunjukkan bagaimana hasil dari tracing obyek kilauan rambut seperti pada Gambar 15.21. di bawah ini.

Gambar 15.21. Hasil tracing area kilauan rambu

Gambar 15.21. Hasil tracing area kilauan rambu

Jangan lupa untuk menggabungkan semua obyek kilauan rambut menjadi satu grup dengan memilih menu Object > Group atau tekan tombol Ctrl + G pada keyboard.

  • Berikutnya, lakukan tracing untuk area hitam rambut. Nah, untuk bagian ini, Anda juga musti ekstra hati-hati, karena selain rambut itu mempunyai karakteristik unik, yaitu detail helaiannya yang fleksibel, juga jumlah helai yang musti Anda trace relatif banyak.

Jangan lupa untuk memposisikan hasil tracing area hitam rambut di bawah tracing kilauan rambut. Lihat hasil tracing penulis pada Gambar 15.22. di bawah ini.

Gambar 15.22. Trace area rambut

Gambar 15.22. Trace area rambut

Sekarang coba nonaktifkan tampilan layer image sehingga kita bisa melihat sejauh apa perkembangan tracing yang sudah dilakukan. Simak Gambar 15.23.

Gambar 15.23. Hasil sementara tracing image

Gambar 15.23. Hasil sementara tracing image

Lumayan ok juga, sejauh ini sudah lebih nampak karakteristik orang yang kita trace dari image. Lanjutkan terus yuk.

  • Berikutnya, kita akan melakukan tracing area bayangan yang membentuk kerutan pada wajah dan area lain, sebelum kita nantinya mengaplikasikan tracing pada bagian kulit.

Perhatikan Gambar 15.24. berikut ini.

Gambar 15.24. hasil tracing bayangan kerut wajah

Gambar 15.24. hasil tracing bayangan kerut wajah

Setelah itu, trace area baju sehingga memudahkan Anda nantinya dalam membuat obyek kulit. Ikuti kontur baju yang ada, ubah warna isinya menjadi hitam dan posisikan pada urutan paling bawah.

Perhatikan Gambar 15.25. di bawah ini untuk lebh jelasnya.

Gambar 15.25. Buat tracing obyek baju

Gambar 15.25. Buat tracing obyek baju

  • Sekarang, buat obyek kulit yang warnanya lebih gelap. Ikuti kontur kulit tersebut, seperti nampak pada Gambar 15.26.

Gambar 15.26. Trace area gelap kulit

Gambar 15.26. Trace area gelap kulit

Lanjutkan dengan trace area kulit sisanya. Sebenarnya, Anda bebas untuk membuat berapa lapis kulit, semakin banyak berarti semakin smooth (halus) jadinya tekstur kulit yang didapatkan. Jika Anda lihat, pada contoh ini penulis menggunakan 2 lapis kulit plus 3 lapis bayangan di atasnya.

Perhatikan hasilnya pada Gambar 15.27. berikut ini.

Gambar 15.27. Trace area kulit

Gambar 15.27. Trace area kulit

Jika sudah, Anda akan mendapatkan hasil akhir tracing seperti pada Gambar 15.28. di bawah ini.

Gambar 15.28. Hasil akhir portrait tracing

Gambar 15.28. Hasil akhir portrait tracing

Bagiamana hasil tracing tadi? Ok bukan? Anda bisa mengaplikasikan teknik ini untuk membuat karya seni dari image orang-orang yang berarti dalam hidup Anda.

Untuk melihat lebih banyak lagi contoh tracing vector yang sudah saya buat, silahkan cek di Astayoga.DeviantArt.com

Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat. :)

Design What?

image source: http://www.manystuff.org

image source: http://www.manystuff.org

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Design What?

Pada bab pertama ini, kita akan berbincang terlebih dulu mengenai hal-hal yang melatarbelakangi arti penting desain grafis bagi sebuah perusahaan (kantor). Sebagai pendahuluan, bab ini mempunyai arti penting untuk mengantarkan Anda dalam membangun sebuah kerangka  pikir (framework) yang pada gilirannya akan menentukan seberapa optimal Anda mampu mendayagunakan potensi yang terkandung di dalam desain grafis sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.

Ok, mari kita mulai.

The Grand Idea

Desain grafis, yang merupakan ekstensi seni rupa—desain visual—tak lain adalah anak kandung perkembangan teknologi modern, terutama komputer dan IT (information technology). Tak bisa dinafikkan betapa besar peranan komputer dalam merevolusi aplikasi desain dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam menunjang kampanye penjualan perusahaan.

Jika beberapa dekade yang lalu masih teramat mudah kita temukan desainer yang menggunakan kertas, pensil, pulpen, rugos, penggaris, dan berbagai peralatan tulis lainnya dalam membuat sebuah desain, maka sekarang semua fungsi alat-alat tersebut telah disubsitusikan oleh sebuah peralatan bernama komputer.

Jika dengan cara manual, sebuah desain bisa membutuhkan berjam-jam waktu kerja untuk menyelesaikannya, sekarang dibutuhkan waktu yang relatif lebih singkat dengan komputer. Presisi bentuk, warna, dimensi dan layout juga menjadi keunggulan komputer dalam pekerjaan desain kreatif dibandingkan metode manual. Selain itu, kemampuan simpan desain sebagai data dalam komputer menjadikannya pilihan terbaik untuk reproduksi dan storage. Benar-benar sebuah paket komplit yang tak mungkin dilewatkan oleh mereka yang bergerak di bidang desain.

Ergonomis, itulah kata kunci untuk menjelaskan esensi komputer dalam perkembangan desain grafis di dunia. Maka, jika Anda masih menemukan ada orang yang mendesain secara manual, ada 2 (dua) kemungkinan, yaitu orang tersebut belum paham tentang potensi yang dimiliki komputer grafis, atau orang tersebut terlalu keras kepala untuk beralih ke teknologi baru yang lebih menguntungkan.

Tentunya Anda bukan termasuk orang seperti itu kan?

Yup, maka di sinilah Anda sekarang berada, di salah satu titik dunia desain grafis yang mahaluas, berupaya mengembangkan diri untuk meraih pencapaian kreatif paling optimal.

The Basic of Design

Ok…pertama-tama untuk bisa melakukan pekerjaan kreatif, Anda setidaknya harus memahami dulu dasar-dasar desain grafis itu sendiri. Konsep dasar yang bisa dijadikan pegangan sekaligus panduan, dalam pengerjaan sekaligus penilaian sebuah desain.

Anda tidak bisa hanya mengandalkan kreatifitas dan imajinasi semata dan berharap menghasilkan sebuah desain yang baik. Anda juga tak bisa hanya mengandalkan kemampuan teknis mengoperasikan suatu program desain dan berharap tercipta suatu desain yang menarik.

Dibutuhkan kombinasi antara pengetahuan desain, daya kreatifitas/imajinasi dan kemampuan teknis untuk bisa menghasilkan desain yang benar-benar sesuai tujuan yang diinginkan.

Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk mengenal kosep/pengetahuan desain sekaligus menjajal kemampuan teknis program desain guna menyelesaikan beberapa proyek desain yang umum digunakan untuk kepentingan perkantoran.

Dengan mengikuti tahap demi tahap proyek desain yang ada, diharapkan Anda mampu menumbuhkan sebuah pemahaman akan arti penting desain sekaligus mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan program desain guna menangani berbagai persoalan terkait desain grafis dalam lingkup kerja sehari-hari.

Sedangkan mengenai kratifitas, well penulis senantiasa percaya kalau setiap dari kita terlahir dengan kemampuan kreatif. Ada yang kemampuannya menonjol, namun ada pula yang kurang menonjol. Namun, potensi untuk kreatif senantiasa ada di setiap manusia.

Jika Anda merasa kurang mempuanyai daya kreatif, percayalah, yang Anda perlu lakukan hanya mengasahnya. Caranya dengan banyak-banyak mencermati dunia sekitar Anda, memahaminya, mengendapkannya dalam relung terdalam diri, dan tanpa Anda sadari potensi kreatifitas Anda akan tumbuh bermekaran dengan sendirinya.

Hmmm….sekarang kita mulai bicara serius. Berikut penulis akan coba menjelaskan sekilas mengenai pengetahuan dasar yang musti Anda pahami untuk bisa menciptakan desain yang baik. Kita akan bicara mengenai Elemen Desain dan Prinsip-Prinsip Desain.

To be continued…

Desain Packaging

Ga sengaja bongkar-bongkar stok desain lama. Nemu desain-desain lawas saat mengawali karir sebagai desainer grafis di Semarang. Yup, sebelum merantau ke Jakarta, dulu sempat kerja kurang lebih 2 tahun di Jamu Jago sebagai desainer grafis. Main job-nya sich ngedesain packaging produk. Karena kebetulan kita bergerak di bidang farmasi, maka packaging menjadi satu hal yang sangat penting.

Contoh desain packaging yang pernah aku bikin

Basmurat

kemasan jamu Basmurat

Basmurat adalah produk jamu asam urat.

Konsep desain yang aku gunakan adalah bagaimana memvisualisakan penderitaan mereka yang terkena gejala gangguan asam urat berlebih, dimana persendian terasa sakit seakan tertusuk-tusuk.  Bagimana membuat calon konsumen merasakan bahwa kesakitan semacam itu tak seharusnya terlalu lama mereka derita jika mereka mau mengkonsumsi produk ini.

Karenanya, dalam eksekusinya, aku mendayagunakan beberapa elemen visual utama guna menyampaikan pesan tersebut:

  • Ilustrasi tulang dan persendian

Ilustrasi tulang dan persendian menyampaikan pesan visual yang jelas mengenai penyembuhan akan derita di bagian tubuh manakah yang ditawarkan produk ini. Yaitu pada persendian yang terkena asam urat.  Akan lebih mudah menumbuhkan asosiasi antara produk dengan penyakit melalui visualisasi macam ini.

  • Skema warna (merah, kuning, hitam)

Skema warna yang aku pilih sengaja memanfaatkan warna-warna panas (hot colors), seperti merah dan kuning, dengan penyeimbang warna netral seperti hitam dan putih.  Warna panas adalah jenis warna yang secara psikologis menumbuhkan asosiasi akan rasa sakit, suatu hal yang mencolok, movement dan sebagainya, yang aku anggap cocok untuk menguatkan asosiasi produk ini dengan penyakit asam urat.

Kedua warna tersebut semakin dikuatkan dengan warna hitam dan putih yang sifatnya netral. Di mana keberadaan area hitam dan putih semakin menonjolkan eksistensi kedua warna panas tadi.

  • Heading, subheading & teks pendukung

Heading merupakan hal yang tak bisa dihindari, karena heading di sini berkaitan dengan nama brand produk yang dimaksud. “Basmurat” sebagai nama produk aku tempatkan di pososi tengah atas dengan harapan dia menjadi pusat perhatian ketika calon konsumen melihat kemasan produk ini. Dengan menggunakan font yang tegas, serta sengaja dibuat dalam style miring (italic), aku berusaha menguatkan nuansa yang ada. Pemilihan font menjadi hal yang sangat penting saat merancang sebuah tampilan packaging produk. Karena setiap jenis font membawa nuansanya sendiri.

Sebagaimana terlihat, font untuk kata Basmurat masuk jenis Sans Serif, dimana nuansa yang terbangun adalah ketegasan, modern, to the point dan adanya level of confidence yang jelas. Ini dibutuhkan untuk menguatkan image bahwa produk ini manjur mengatasi semua gejala asam urat.

Aku sengaja menggunakan warna putih untuk heading basmurat ini dengan efek bayangan di belakangnya dengan pertimbangan kontras yang diciptakannya. Mengingat background yang sudah warna-warni, terutama didominasi warna-warna panas, aku butuh heading mempunyai warna lain. Putih adalah pilihan yang aku ambil. Efek bayangan menguatkan kontras yang ada, sekaligus menghilangkan kebutuhan akan outline tegas. Karena bayangan yang ada selain mampu memberikan ilusi jarak antara obyek tulisan Basmurat dengan latar belakangnya, juga berfungsi sebagai pembatas.

  • Logo
Berkreasi Membuat Logo Dengan CorelDraw 12

Berkreasi Membuat Logo Dengan CorelDraw 12

Logo di sini meliputi logo perusahaan produsen produk ini serta logo lainnya–logo produk jamu & produk berbahan dasar herbal. Ini penting ada karena logo perusahaan memudahkan asosiasi produk dengan citra perusahaan yang membuatnya. Sebuah produk baru mungkin tidak akan dijadikan pilihan oleh calon konsumen jika hanya mengandalkan dirinya sendiri. Namun, calon konsumen mungkin akan memilihnya begitu mengetahui bahwa produk tadi merupakan produksi dari perusahaan tertentu yang sudah punya nama.

Karena Jamu Jago merupakan salah satu pionir industri jamu di tanah air, dengan reputasi yang bisa dibilang bagus dan terpercaya, maka penggunaan logo Jamu Jago di kemasan produk menjadi semacam jaminan akan kualitasnya. Juga penggunaan logo-logo lain juga penting untuk semakin menguatkan pencitraan sebagai produk terpercaya baik dari sisi produsen maupun kelaikan produk dalam menenuhi standarisasi pemerintah (POM).

Lebih dalam mengenai konsep pembuatan logo dan sebagainya, bisa merujuk pada buku karangnya berjudul Berkreasi Membuat Logo dengan CorelDraw 12 terbitan Elexmedia Komputindo.

***

Lepas dari masalah concept development dari desain dan ekesekusinya hingga menghasilkan tampilan seperti di atas, hal yang tak kalah penting adalah produksi & post-production-nya. Di mana, desain packaging untuk kemasan produk mempunyai perbedaan mendasar dengan desain untuk kepentingan cetak lainnya.

Hal ini terjadi karena materi yang digunakan untuk sebuah kemasan produk (dalam hal ini jamu yang masuk kategori makanan/minuman) berbeda dengan materi cetak lain. Material yang diguankan adalah sejenis plastik berlapis alumunium foil guna melindungi bahan-bahan yang disimpan di dalamnya. Beda dengan mencetak di material kertas, percetakan pada alumunium foil dan sejenisnya menggunakan teknologi rotogravure.

Aku tak terlalu mendalami soal cetak rotogravure ini. Yang musti diingat adalah hasil cetak yang dihasilkan amat tergantung pada material yang digunakan, dimana secara visual kita tak terlalu bisa mengharapkan hasilnya secerah desain yang dicetak pada bahan kertas.

Selain itu, jumlah percetakan yang melayani percetakan rotogravure di Indonesia relatif masih sedikit, salah satunya adalah Pura Barutama yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah.

***

Koleksi desain packaging ku lainnya bisa dilihat di portfolio online ku.

Ok, selamat mendesain!

Efek Teks Pop-up

Buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop oleh Hasto Suprayogo

Buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop oleh Hasto Suprayogo

Diambil dari buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop terbitan Elexmedia Komputindo. Berminat, beli di sini.

Efek Teks Pop-up

Pada bab ini, Anda akan diajak untuk membuat efek teks pop-up pada teks. Efek pop-up berguna untuk menonjolkan elemen teks dan menjadikannya pusat perhatian dalam sebuah desain.

Ikuti langkah-langkah berikut ini.

  • Buat dokumen kerja baru pada Photoshop dengan memilih menu File > New, kemudian pada kotak dialog New masukkan nilai parameter Width: 800px, Height: 800px dan Color Mode: RGB. Klik Ok dan dokumen kerja baru siap digunakan. Lihat Gambar 1.1.
Gambar 1.1. Buat dokumen kerja baru

Gambar 1.1. Buat dokumen kerja baru

  • Selanjutnya aktifkan Horizontal Type tool , kemudian ketikkan teks “HALLO”, atur font-nya menjadi Arial Black 200pt dengan warna hitam. Lihat Gambar 1.2.
Gambar 1.2. Ketikkan teks “HALLO” dan atur parameternya

Gambar 1.2. Ketikkan teks “HALLO” dan atur parameternya

Jika sudah, klik ikon Commit yang ada di Options bar atau aktifkan Move tool pada Toolbar.

  • Berikutnya, kita akn mengubah teks tadi menjadi obyek raster (pixel) biasa. Caranya, perhatikan pada Palette Layers, klik kanan nama layer teks “HALLO” dengan background warna biru, kemudian pada pop-up menu yang muncul pilih Rasterize Layer. Perhatikan Gambar 1.3. berikut.
Gambar 1.3. Ubah layer teks menjadi layer biasa

Gambar 1.3. Ubah layer teks menjadi layer biasa

Jika Anda tidak mengubah layer teks menjadi layer biasa, terdapat banyak fasilitas pengeditan dalam Photoshop yang tak bisa diaplikasikan pada obyek teks tersebut.

  • Selanjutnya, pilih menu Filter > Stylize > Emboss, lalu pada kotak dialog Emboss, masukkan nilai parameter Angle: 145o, Height: 5px dan Amount: 150%. Jangan lupa untuk mengaktifkan pilihan Preview lalu klik Ok untuk mendapatkan hasil seperti pada Gambar 1.4. di bawah ini.
Gambar 1.4. Aplikasikan filter Emboss

Gambar 1.4. Aplikasikan filter Emboss

  • Selanjutnya, perhatikan Palette Layers, pastikan layer “HALLO” aktif terseleksi, lalu sambil menekan tombol Alt + Ctrl pada keyboard, tekan juga tombol ↓ (panah ke bawah) pada keyboard sebanyak 15 kali hingga didapat ketebalan seperti pada Gambar 1.5.
Gambar 1.5. Hasil perubahan ketebalan obyek “HALLO”

Gambar 1.5. Hasil perubahan ketebalan obyek “HALLO”

Jika Anda perhatikan pada Palette Layers, sekarang terdapat 15 layer baru berupa kopian layer “HALLO”. Layer-layer kopian inilah yang tadi membentuk ketebalan obyek “HALLO”. Perhatikan Gambar 1.6. di bawah ini.

Gambar 1.6. Layer-layer kopian layer “HALLO”

Gambar 1.6. Layer-layer kopian layer “HALLO”

  • Kita akan gabungkan semua layer yang ada menjadi satu kecuali layer Background. Caranya, pada Palette Layers, nonaktifkan tampilan Layer Background dengan mengklik ikon visibility di samping kiri nama layer. Lihat Gambar 1.7.
Gambar 1.7. Nonaktifkan tampilan layer Background

Gambar 1.7. Nonaktifkan tampilan layer Background

Kemudian klik ikon segitiga hitam pada pojok kanan atas Palette Layers untuk menampilkan pop-up menu lalu pilih Merge Visible. Pilihan ini akan menggabungkan (merging) semua layer yang tampil (visible)—kecuali layer Background yang sebelumnya telah Anda nonaktifkan.

Simak Gambar 1.8. berikut ini untuk lebih jelasnya

Gambar 1.8. Gabungkan semua layer yang tampil (visible)

Gambar 1.8. Gabungkan semua layer yang tampil (visible)

Perhatikan bahwa setelah Anda menggabungkan semua layer yang tampil di Palette Layers dengan menu Merge Visible, hasilnya tersisa 2 layer saja, yaitu layer hasil merging—layer “HALLO copy 15”—dan layer Background.

  • Aktifkan kembali layer Background. Lalu, seleksi layer “HALLO”, kemudian kita akan mengaplikasikan layer style. Pilih menu Layer > Layer Style > Gradient Overlay.

Pada kotak dialog Layer Style masukkan nilai parameter Blend Mode: Overlay, Opacity: 70%, Style: Linear, Angle: 45o dan Scale: 100%. Jangan lupa aktifkan pilihan Preview untuk melihat hasilnya secara langsung. Simak Gambar 1.9. berikut.

Gambar 1.9. Atur parameter Gradient Overlay

Gambar 1.9. Atur parameter Gradient Overlay

Berikutnya, masih di kotak dialog Layer Style, klik Drop Shadow pada bagian Styles di bagian kiri atas kotak dialog. Kemudian, atur parameter Blend Mode: Multiply, Color: Hitam, Opacity: 25%, Angle: 65o, Distance: 0, Spread: 0 dan Size: 5. Jangan lupa aktifkan pilihan Preview. Simak Gambar 1.10.

Gambar 1.10. Atur parameter Drop Shadow

Gambar 1.10. Atur parameter Drop Shadow

Jika sudah, klik Ok dan Anda akan dapatkan hasil seperti pada Gambar 1.11. di bawah ini.

Gambar 1.11. Hasil akhir efek Teks Pop-up

Gambar 1.11. Hasil akhir efek Teks Pop-up

Anda bisa melakukan variasi terhadap efek Layer Style yang diaplikasikan sesuai keinginan Anda.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.