Sang Pemimpin

SBY-Megawati : foto Detik.com

SBY-Megawati : foto Detik.com

Beberapa jam yang lalu, di kantor KPU Pusat Jakarta diadakan acara pengundian urutan calon presien & wakil presiden RI pada Pemilu 2009. Satu pemandangan yang luar biasa memuakkan saat 2 pasangan kandidat capres-cawapres, SBYBoediono & JKWirano dipaksa menunggu kedatangan kompetitor mereka, MegawatiPrabowo.

Acara yang semestinya dibuka mulai jam 9 pagi terpaksa molor sekitar 15 menit hanya untuk menunggu kehadiran Mega-Prabowo. Blom kepilih jadi presiden aja udah nelat kaya gini, gimana nanti klo jadi?

Di luar analisis pengamat politik yang diundang TV One yang mengatakan bahwa telatnya Mega-Prabowo hadir di acara tersebut sebagai strategi politik untuk menguatkan politics capital mereka, tetap saja ini contoh buruk bagi masyarakat. Seorang pemimpin, apalagi yang ngakunya menjadi pembela wong cilik justru memulai langkah besarnya menunju tampuk kepemimpinan negar dengan telat hadir.

SBY-Boedino & JK-Wiranto sengaja datang beberapa saat sebelum acara dimulai, tanpa banyak membawa massa, bahkan JK-Wiranto disebut datang berjalan kaki. Sedangkan Mega-Prabowo datang menumpang bis yang juga memuat banyak simpatisannya.

Begitu Mega-Prabowo masuk ke ruangan, ada satu moment yang tak kalah heboh ditunggu, yaitu saat Mega “terpaksa” bertemu muka dengan Susilo Bambang Yudhoyono, mantan menteri di era pemerintahannya, yang dianggap menohok dari belakang ketika akhirnya terpilih sebagai presiden menggantikannya.

Pertemuan yang sangat kaku ini berlangsung menarik. Diawali dengan Wiranto yang langsung menyalami sekaligus mencium pipi Megawati, diikuti JK, Boediono, dan akhirnya, SBY menghampiri Mega dan selama kurang dari 2 detik, yeah, 2 detik, mereka bersalaman.  Wajah kedua seteru ini nampak dingin & kaku. Bak da musuh bebuyutan, salaman yang mereka lakukan tak lebih dari formalitas belaka.

Apa makna menjadi seorang pemimpin jika seperi ini?

Pemimpin, seorang yang diberi amanah, kepercayaan, oleh orang banyak untuk menaungi, memimpin, mengarahkan, melindungi di saat suka maupun duka. Seorang yang mustinya punya kerendahan hati, keluasan jiwa, kebersihan pikiran dalam menyikapi masalah, kedalaman pemikiran dalam bersikap & bertindak. Seorang, yang mustinya lebih dari orang pada umumnya. The chosen one.

Jika seorang pemimin, atau calon pemimpin, justru menunjukkan perilaku sebaliknya, apa masih layak disebut sebagai pemimpin? Seorang yang bahkan mengendalikan diri sendiri untuk tidak antipati pada orang lain saja tidak mampu, apakah bisa menghargai masyarakat banyak yang mungkin tak semuanya sesuai dengan keinginannya. Seorang yang tak biasa menerima perbedaan, kritik, masukan akan seperti apa membawa bangsa ini yang carut-marut.

Tak ada manusia yang semurna, itu sebuah keniscayaan. Namun, seorang pemimpin mustinya lebih keras berusaha menyempurnakan diri. Mengikis egoismenya demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Memendam lebih dalam rasa tak suka, dendam, kemarahan pribadi dan menampilkan diri yang lebih legowo.

Karena segala apa yang dilakukan, ditampilkannya akan menjadi panutan bagi mereka yang memujanya. Patokan bagi para pengikut setianya. Jika sang pemimpin tak bisa membangun tali silaturahmi, membuka pintu kerjasama dengan pihak lain, maka gimana kita berharap bangsa ini bisa bersatu di level masyarakat?

Capek klo dipikir-pikir. Ngakunya pemimpin rakyat kok mimpin diri sendiri aja blom bisa.

2 thoughts on “Sang Pemimpin

  1. saya masih ingin presidentnya sby, sampai korupsi habis total dan kesejahtraan rakyat semakin meningkat amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s