Ilir-Ilir, Kebijaksanaan a la Wali Songo

Sunan Kalijogo

Ilir ilir, ilir ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna, kanggo basuh dodot ira
Dodot ira, dodot ira, kumitir bedah ing pinggir
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
Ya suraka, surak hiya

Siapa tak kenal lagu yang satu ini?

Bagi yang besar di kultur Jawa, Ilir-Ilir pastinya akrab di telinga. Di pedesaan, lagu ini lazim disenandungkan di kala malam terang bulan. Menemani anak-anak bermain di halaman rumah atau tempat luas lainnya.

Namun seberapa banyak dari kita yang sadar akan kedalaman makna yang ada di dalamnya. Ilir-Ilir dipercaya merupakan gubahan para Wali Songo, utamanya Sunan Kalijogo,–meski ada pula yang menyebut Sunan Ampel atau Sunan Bonang sebagai penciptanya.  Dalam beberapa referensi mengenai penyebaran Islam di tanah Jawa, disebut bahwa suksesnya penyebaran Islam tak lepas dari penggunaan budaya lokal, terutama kesenian berbasis musik, guna menyampaikan nilai-nilai keislaman tanpa secara frontal menyingkirkan kepercayaan lama. Dan Sunan Kalijogo tersohor sebagai sosok penyebar Islam yang sukses melakukannya.

wali songo

wali songo

Jika kita perhatikan, masa penyebaran Islam-nya Wali Songo bersamaan dengan redupnya kekuasaan kerajaan Hindu Majapahit. Masa di mana masyarakat umum tengah mengalami krisis multidimenisonal. Kekacauan di mana-mana, kekeringam, bencana alam & sosial merajalela. Masyarakat kehilangan figur pemimpin, dan panutan religius. Saat itulah, Islam datang, menawarkan sesuatu yang baru. Suatu model keberagamaan & kehidupan sosial yang menyegarkan.

Islam, dikemas secara berbeda oleh Sunan Kalijogo dan Syech Siti Jenar. Alih-alih menawarkan sesuatu yang baru, kedua tokoh ini–dan mungkin juga banyak lainnya–mengemas Islam sebagai kelanjutan dari tradisi spiritualitas yang sudah ada di tanah Jawa sejak dahulu kala. Islam tak disampaikan sebagai produk baru yang asing & jauh dari pemahanan publik. Islam dibawa ke keseharian masyarakat, yang karenanya masyarakat bisa dengan lebih mudah meneriman intisari keislaman tanpa musti berubah secara drastis. Masyarakat Jawa bagai melewati sebuah sungai kecil tak kala mengkonversi kepercayaannya dari Hindu-Budha menjadi Islam, dan bukan melompati ngarai dalam.

Kembali tentang Ilir-Ilir, bagi Anda yang tak begitu paham bahasa Jawa, silahkan simak terjemahan berikut ini:

Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi

Bait ini berisi ajakan untuk bangun. Siapa yang diajak? Utamanya adalah para nayakapraja, atau para pembesar kerajaan & pemimpin masyarakat saat itu. Karena kondisi masyarakat di masa redupnya Majapahit yang kacau balau, di mana para penguasa lebih banyak mengurusi kepentingannya sendiri dan melupakan tanggung jawab utamanya, maka ajakan pertama untuk bangun dan sadar ditujukan pada mereka.

Tanaman telah bersemi maksudnya adalah Islam. Tanaman identik dengan suatu yang menghidupi, suatu yang memberi harapan, suatu yang memenuhi kebutuhan manusia. Ini pulalah yang ditawarkan Islam. Suatu ajaran yang menghidupkan manusia.

Lewat lagi Ilir-Ilir Wali Songo mengajak para pemimpin untuk bangun dan sadar bahwa tanggung jawab utama mereka adalah mengayomi masyarakat. Dan cara yang sebaiknya dilakukan guna mewujudkan itu adalah dengan mengikuti ajaran Islam.

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru

Warna hijau adalah warna tanaman yang sedang tumbuh, yang juga identitas khas Islam. Bait ini sekaligus penegasan dari bait sebelumnya mengenai ajakan untuk memeluk Islam & mengaplikasikan ajarannya. Dianalogikan pula bahwa dengan memeluk Islam, maka para nayakapraja bak pasangan pengantin baru. Pengantin adalah mereka yang tengah berbahagia karena akan menyambut kehidupan baru. Kehidupan yang bahagia dan indah.

Di sini kebijaksanaan Sunan Kalijogo nampak jelas terlihat. Di mana para nayakapraka yang diajak untuk memeluk Islam adalah orang-orang lama, namun dengan memeluk Islam mereka diharapkan bisa mempunyai semangat seperti pengantin baru dalam melayani rakyatnya. Semangat untuk menuju hidup baru yang berbahagia.

Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.

Siapa anak gembala?

Tak lain adalah para penguasa. Karena penguasa adalah mereka yang diberi tanggung jawab untuk mengarahkan hidup matinya masyarakat, bak seorang gembala yang mengarahkan ternaknya.

Para gembala diminta untuk memanjat pohon belimbing. Kenapa pohon belimbing? Hal ini ini adalah metafora. Metafora bahwa jika seorang pemimpin musti mau berusaha untuk bisa menjalankan tanggung jawabnya. Memanjat adalah suatu kegiatan yang butuh determinasi dan kekuatan. Dua hal yang musti dimiliki oleh para pemimpin, yaitu determinasi dan kekuatan untuk mewujudkan tugas & tanggung jawabnya.

Kenapa pohon belimbing?

Karena belimbing di masa lalu, dan mungkin di banyak tempat hingga sekarang, adalah tanaman yang buahnya punya banyak manfaat. Salah satu manfaat buah belimbing yang dirujuk dalam Ilir-Ilir adalah kemampuan untuk membersihkan. Ya, belimbing bisa digunakan sebagai sabun cuci untuk membersihkan pakaian. Inilah sebabnya Sunan Kalijogo lewat bait ini mengajak anak gembala (para pemimpin) untuk memanjat pohon belimbing guna memetik buahnya.

Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.

Pohon belimbing batangnya basah. Meski demikian, para gembala tetap harus berusaha untuk memanjatnya. Buah belimbing yang berhasil diambil akan digunakan untuk mencuci dodot. Apa itu dodot, tak lain adalah sebuat untuk pakaian kebesaran para penguasa. Pakaian juga merupakan <i>alter ego</i> seseorang. Karena pakaian selain sebagai penutup tubuh juga penanda diri seseorang.

Dengan mencuci dodot diharapkan diri sang penguasa menjadi bersih. Dengan diri yang bersih diharapkan mereka bisa lebih mampu memenuhi tanggung jawabnya sebagai abdi sekaligus pamong masyarakat. Pastinya masyarakat yang dipimpin oleh mereka yang dirinya bersih akan menjadi sejahtera.

Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek

Lewat bait ini para pemimpin diingatkan akan kondisi pakaian kebesaran–atau dirinya sendiri yang telah rusak dan robek di sana-sini. Upaya penyadaran akan kondisi yang sebenarnya ini dilakukan karena kecenderungan para pemimpin untuk tak bisa melihat secara jernih akan kekurangan dirinya. Apalagi di masa kekacauan seperti itu, lebih mudah untuk para pemimpin menafikkan kesalahan yang ada pada dirinya.

Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore

Setelah sadar akan kerusakan dirinya, dianjurkan bagi para pemimpin untuk mau memperbaiki, dengan analogi menjahit & menisik lubang dan robekan yang ada di pakaian. Gunanya buat apa? Tak hanya demi keindahan diri sendiri, namun lebih utamanya adalah persiapan untuk menghadap Sang Pencipta kelak saat tiba waktunya.

Ini adalah ajaran yang dalam, karena kekuasaan dalam perspektif para wali pengusung Islam tak hanya perkara dunia semata. Namun lebih merupakan tanggung jawab kepada Yang Maha Kuasa. Sehingga pemegang kekuasaan, para pemimpin, para nayakapraja pada akhirnya musti sadara bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta.

Diharapkan dengan tumbuhnya kesadaran akan nisbinya kekuasaan yang dimiliki, para pemimpian tak terjebak untuk mempertuhankan kekuasaan sendiri.

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang

Mumpung rembulan masih purnama artinya mumpung masih ada kesempatan, masih diberi kelapangan, masih ada penerangan, kita musti bersama-sama berjuang untuk memperbaiki diri dan kehidupan. Sebelum tiba saat dimana kondisi tak memungkinkan lagi untuk merubah dan berubah–yaitu saat akhir dunia.

Ya suraka, surak hiya
Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA

Maka bergembiralah, bersoraklah semua. Ini adalah ungkapan kegembiraan akan hadirnya harapan baru. Harapan untuk terlepas dari segala kegalauan dan menuju kehidupan yang terang benderang dan sejahtera.

4 thoughts on “Ilir-Ilir, Kebijaksanaan a la Wali Songo

  1. menurut suatu pendapat,foto belimbingnya bukan yg itu (belimbing wuluh),tapi belimbing buah,yg seperti bintang punya lima tangan,yg melambangkan 5 rukun islam,wallahu a’lam

  2. @ Sigied
    hmmm…..bisa saja mas.
    cuman aku belum pernah denger buah belimbing biasa digunakan sebagai “sabun” untuk mencuci pakaian. yang ada adalah belimbing wuluh yang bisa buat nyuci. tapi sekali lagi, tak terlalu penting belimbing mana yang dipakai, yang lebih penting adalah makna pengajaran yang disampaikan melaluinya.
    makasih dah mampir mas.

    @Adil
    silahkan cek di halaman Fans Page Wali Songo di Facebook. Di sana banyak materi terkait dengan walisongo.
    http://www.facebook.com/pages/Wali-Songo/39857034421

  3. lagunya enak didengar maknanya sangat dalam, alangkah indahnya bila bisa ditiru metoda walisongo ini, untuk masa sekarang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s