Belajar Iklas

Ada hal di dunia ini yang terkadang tak bisa diterima. Kekalahan. Ketidakberhasilan. Kehilangan. Pengkhianatan. Kepergian. Sebutlah sendiri lainnya….

Seringkali, dari semua itu yang paling menyiksa adalah apa yang dirasakan setelahnya. Rasa marah, kecewa, tak terima, sakit hati, dendam, penyesalan dan segala turunannya. Ujung-ujungnya semua terasa tak enak.

Apa akar dari semua hal itu, tak lain adalah harapan. Harapan yang tak terpenuhi. Tak terpenuhi karena yang terjadi, tak sesuai dengan kehendak diri. Kehendak diri yang bersumber pada ego, pada hasrat.

Hasrat ini pada titik tertentu membantu manusia untuk bertahan hidup. Bersemangat hidup. Membuat manusia mau menjalani hari-harinya. Hasrat ini pula yang membuat manusia maju untuk terus berjuang.

Namun, di titik yang lebih tinggi, hasrat ini pulalah yang membuat manusia justru terkungkung. Semua apa yang melingkupinya tak lepas dari hasrat itu. Semua hal di dalam hidupnya bahkan bisa-bisa didedikasikan untuk memenuhi kehendak hasrat. Jika sudah demikian, alih-alih hasrat jadi pemicu kehidupan, dia berubah jadi kekuatan penghancur diri.

Ibarat api. Sepercik api mampu membakar kayu untuk menghangatkan malam. Namun, begitu dia membesar, melalap semuanya, tak ada lagi yang tersisa selain kehancuran.

***

Kebijaksanaan kuno mengajarkan kita untuk iklas.

Iklas secara kasar bisa dipahami sebagai penerimaan. Penerimaan akan apa pun yang terjadi dalam hidup, sebagai kehendak Dia Yang Maha Mengatur. Menerima bahwa, baik atau buruk, semua itu sudah ditentukan & dikehendaki oleh-Nya. Dimana setelah kita sebagai manusia melakukan usaha, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah menerima hasil sesuai kehendakNya.

Mudah untuk dikatakan, namun nyatanya teramat susah dilaksanakan.

Sebagian besar dari kita dibesarkan dalam iklim persaingan. Kemenangan, keberhasilan, pencapaian–terutama material, acapkali menjadi panglima. Kita adalah apa yang kita miliki—begitu banyak kita pahami. Darinya, kita melihat dunia ini ibarat ladang pertarungan. Saling sikat, saling sikut, saling cakar & rebut adalah hal biasa–atau terbiasakan. Akhirnya, lebih banyak kekecewaan yang diperoleh daripada kebahagiaan.

***

Belajar untuk iklas adalah kunci melepaskan diri dari kesengsaraan hidup ini.

Kesengsaraan yang lebih dalam dari kekurangan material. Kesengsaraan yang muncul, tumbuh & bergejolak dari dalam jiwa. Semua hanya bisa dilepaskan dengan cara iklas.

Belajar untuk iklas musti dimulai dengan belajar untuk memahami apa makna hidup ini. Apa tujuan keberadaan manusia di dunia. Karena darinyalah kita mendasarkan semua perilaku, dan menujukan diri ke titik akhir perjalanan.

Kebijaksanaan kuno mengajarkan bahwa kehidupan ini adalah sebuah perhentian, perhentian singkat dari sebuah perjalanan panjang kehidupan manusia, dari titik penciptaan hingga titik kembali pada Sang Pencipta.

Perjalanan kita memang dimulai saat kita diciptakan. Tak ingat kita saat diciptakan, itu pasti, tapi tak berarti kita tak bisa merasakan bahwa hal itu benar adanya. Dari fase penciptaan ini kita mulai menapaki kehidupan, di berbagai alam kehidupan, dengan segala apa yang menyertainya. Termasuk saat ini, di kehidupan dunia.

Penerimaan akan hal itu memberi kita sedikit pegangan, bahwa yang namanya perjalanan, musti dilakukan demi menuju suatu tujuan. Tujuan pastinya bukan terletak di jalan, tapi di perhentian terakhir. Karenanya, tak sepatutnya kita menggantungkan semua harapan pada perjalanan itu sendiri. Gantungkan tujuan dan juga harapan pada tujuan terakhir.

Pahami pula bahwa dalam perjalanan pasti ada rintangan. Ada masalah, ada hambatan, ada ketidaksesuaian dengan harapan. Semua adalah pelajaran. Bahwa untuk mencapai titik perhentian terakhir, kita menerima pembelajaran. Dan metode pembelajaran terbaik adalah melalui cobaan.

Dengan mengalami cobaan, mengalami kekalahan, kehilangan, kehancuran, kita diharapkan memetik pemahaman, bahwa ada suatu yang lebih tinggi, suatu yang lebih bermakna, suatu yang lebih layak untuk dituju, yang padanya kita bisa selalu bergantung.

***

Kebijaksanaan kuno pula mengajarkan bahwa cobaan adalah tanda sayangNya pada manusia. Tak ada pejalan yang tak diberi cobaan. Namun, kita disemangati bahwa setiap cobaan sudah ditakar sesuai kemampuan kita untuk menanggungnya–meski kadang kita merasa tak sanggup.

Cobaan dan harapan inilah yang musti kita coba tanamkan dalam-dalam. Inilah yang musti coba untuk senantiasa kita pegang. Darinya, rasa iklas itu akan perlahan tumbuh, merindangi hati, membuatnya teduh meski dihembus panasnya badai kehidupan.

Begitu kebijaksanaan kuno mengajarkan…..terserah kita untuk mengamalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s