Freelance Atau InHouse Designer?

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia kreatif, khususnya yang berprofesi sebagai graphic designer, pasti familiar dengan pertanyaan ini. Pilih mana, jadi Freelance Designer atau InHouse Designer?

Yeah, dilema profesi yang satu ini, antara menjadi freelance designer yang berbasis project, atau menjadi inhouse designer yang bekerja full time di suatu perusahaan. Masing-masing punya kelebihan dan juga kelemahan. Sisi positif yang menyenangkan, pun sisi negatif yang menyebalkan.

Bagi mereka yang baru lulus kuliah DKV, atau yang sedang mengawali karir di dunia kreatif sebagai designer, berikut beberapa point yang bisa jadi pertimbangan sebaiknya memilih yang mana, antara Freelance & InHouse Designer.

Freelance Designer

Freelance Designer memilih untuk bekerja secara lepas, bisa sendiri atau dalam team bebas, berdasarkan project yang diperoleh dari klien. Umumnya, pekerjaan kreatif freelance dilakukan berdasarkan jangka waktu tertentu, deadline, di mana designer bersangkutan musti mensubmit pekerjaannya kepada klien atau PIC (person in charge) project bersangkutan.

Apa untung ruginya menjadi Freelance Designer?

Pros

  • Fleksibilitas pekerjaan, terkait dengan jenis, waktu, dan banyaknya pekerjaan yang ingin digarap.
  • Kebebasan mengatur charge (tarif) pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi kemampuan seorang freelance designer, semakin mahal charge yang diberlakukannya kepada klien.
  • Relatifitas kebebasan bereksplorasi terkait dengan kreatifitas dalam mendesain, selama klien menyetuji.

Cons

  • Ketidakpastiaan pendapatan, karena berbasis project, berbeda dengan mereka yang bekerja full time di perusahaan yang berbasis gaji bulanan.
  • Tuntutan profesionalitas lebih tinggi, karena nilai pekerjaan seorang Freelance Designer tergantung dengan kepuasan klien, dan satu-satunya cara untuk menjamin kepuasan klien adalah dengan bersikap seprofesional mungkin.
  • Tuntutan untuk menguasai tidak hanya kemampuan design, namun juga kemamuan marketing, public relations, administrasi dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan, seorang Freelance Designer tak hanya bertindak sebagai seorang tenaga kreatif, namun juga menjadi pemasar produk/jasanya, pengelola proyek serta keuangannya sendiri.

InHouse Designer

InHouse Designer memilih untuk bekerja sebagai designer tetap di suatu perusahaan, dengan konsekuensi rutinitas pekerjaan laiknya pekerja kantoran lainnya. Meski terdengar sedikit “depressing” bagi mereka yang membayangkan pekerjaan kreatif yang bebas merdeka, ada banyak hal yang menguntungkan dari pilihan yang satu ini.

Pros

  • Adanya kepastian pendapatan, sebagaimana pekerja kantoran lainnya, menjadi inhouse designer berarti mengambil tanggung jawab pekerjaan tetap dan mendapatkan kompensasi gaji yang rutin. Sangat cocok bagi mereka yang mencari stabilitas, sebagai contoh yang sudah menikah.
  • Selain pendapatan, adanya berbagai fasilitas lain dari pekerjaan tetap menjadi faktor positif lain. Tunjangan kesehatan, transportasi, makan adalah beberapa diantaranya. Selain itu, kemungkinan peningkatan karir juga bisa jadi bahan pertimbangan.
  • Relatifitas simple-nya tanggung jawab pekerjaan, di mana umumnya seorang InHouse Designer hanya mengurusi pekerjaan terkait bidang kreatifnya saja, sementara pekerjaan-pekerjaan penunjang lainnya, seperti marketing, administrasi, keuangan dan sebagainya ditangani bagian lain di perusahaan bersangkutan.

Cons

  • Kebebasan berkreasi dalam mendesain relatif kurang, di mana umum ditemui para InHouse Designer diposisikan tak lebih dari sekedar tenaga teknis desain atau operator aplikasi desain grafis.
  • Sistem kerja yang rutin, 9-5, menjadikan aktifitas mendesain menjadi rutin dan cenderung membosankan. Efeknya tentunya pada output desain yang dihasilkan relatif kurang kreatif dibanding mereka yang bekerja lepas sebagai Freelance Designer.
  • Struktur kerja yang bertingkat, dimana seorang InHouse Designer menjadi bagian susatu sistem hierarki, menjadi kendala tersendiri dalam ekplorasi kreatifitas pekerjaan. Terlebih lagi, seringkali mereka yang berada di posisi atas designer adalah orang-orang yang tak mempunyai kapabilitas dan atau background kreatif. Hal semacam ini menumbuhkan berbagai hambatan teknis dan non teknis yang jika tak dicari solusinya akan mereduksi kinerja designer bersangkutan.

Masih banyak lagi sisi positif dan negatif dari masing-masing pilihan di atas. Tentunya, harus dipahami bagi mereka yang mau terjun ke dunia kreatif, ketaika suatu hal yang dianggap menyenangkan pada awalnya sudah masuk ke industri dan berkaitan dengan klien & konsumen, tak jarang hal tersebut berubah menjadi tak lagi menyenangkan.

Tuntutan profesionalitas, kebutuhan bisnis, kepuasan klien dan atasan, adalah beberapa hal yang tak akan bisa dinafikkan dalam profesi ini. Kesadaran akan hal tersebut menjadikan insan kreatif lebih bisa mereduksi ekspektasinya dan menjalani keseharian profesinya secara lebih nyaman.

Masalah pilihan menjadi Freelance Designer atau InHouse Designer, semua dikembalikan ke masing-masing kita. Mana sekiranya yang paling sesuai dengan kondisi kita. Dan ingat satu hal, tak ada pilihan yang sempurna. Selalu ada plus minusnya.

Belajar untuk menerima setiap sisi dan terus memacu diri menuju yang lebih baik adalah semangat yang musti kita tanamkan, pupuk dan terus kembangkan.

Selamat mengarungi dunia kreatif.

Design What?

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Design What?

Pada bab pertama ini, kita akan berbincang terlebih dulu mengenai hal-hal yang melatarbelakangi arti penting desain grafis bagi sebuah perusahaan (kantor). Sebagai pendahuluan, bab ini mempunyai arti penting untuk mengantarkan Anda dalam membangun sebuah kerangka  pikir (framework) yang pada gilirannya akan menentukan seberapa optimal Anda mampu mendayagunakan potensi yang terkandung di dalam desain grafis sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.

Ok, mari kita mulai.

The Grand Idea

Desain grafis, yang merupakan ekstensi seni rupa—desain visual—tak lain adalah anak kandung perkembangan teknologi modern, terutama komputer dan IT (information technology). Tak bisa dinafikkan betapa besar peranan komputer dalam merevolusi aplikasi desain dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam menunjang kampanye penjualan perusahaan.

Jika beberapa dekade yang lalu masih teramat mudah kita temukan desainer yang menggunakan kertas, pensil, pulpen, rugos, penggaris, dan berbagai peralatan tulis lainnya dalam membuat sebuah desain, maka sekarang semua fungsi alat-alat tersebut telah disubsitusikan oleh sebuah peralatan bernama komputer.

Jika dengan cara manual, sebuah desain bisa membutuhkan berjam-jam waktu kerja untuk menyelesaikannya, sekarang dibutuhkan waktu yang relatif lebih singkat dengan komputer. Presisi bentuk, warna, dimensi dan layout juga menjadi keunggulan komputer dalam pekerjaan desain kreatif dibandingkan metode manual. Selain itu, kemampuan simpan desain sebagai data dalam komputer menjadikannya pilihan terbaik untuk reproduksi dan storage. Benar-benar sebuah paket komplit yang tak mungkin dilewatkan oleh mereka yang bergerak di bidang desain.

Ergonomis, itulah kata kunci untuk menjelaskan esensi komputer dalam perkembangan desain grafis di dunia. Maka, jika Anda masih menemukan ada orang yang mendesain secara manual, ada 2 (dua) kemungkinan, yaitu orang tersebut belum paham tentang potensi yang dimiliki komputer grafis, atau orang tersebut terlalu keras kepala untuk beralih ke teknologi baru yang lebih menguntungkan.

Tentunya Anda bukan termasuk orang seperti itu kan?

Yup, maka di sinilah Anda sekarang berada, di salah satu titik dunia desain grafis yang mahaluas, berupaya mengembangkan diri untuk meraih pencapaian kreatif paling optimal.

The Basic of Design

Ok…pertama-tama untuk bisa melakukan pekerjaan kreatif, Anda setidaknya harus memahami dulu dasar-dasar desain grafis itu sendiri. Konsep dasar yang bisa dijadikan pegangan sekaligus panduan, dalam pengerjaan sekaligus penilaian sebuah desain.

Anda tidak bisa hanya mengandalkan kreatifitas dan imajinasi semata dan berharap menghasilkan sebuah desain yang baik. Anda juga tak bisa hanya mengandalkan kemampuan teknis mengoperasikan suatu program desain dan berharap tercipta suatu desain yang menarik.

Dibutuhkan kombinasi antara pengetahuan desain, daya kreatifitas/imajinasi dan kemampuan teknis untuk bisa menghasilkan desain yang benar-benar sesuai tujuan yang diinginkan.

Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk mengenal kosep/pengetahuan desain sekaligus menjajal kemampuan teknis program desain guna menyelesaikan beberapa proyek desain yang umum digunakan untuk kepentingan perkantoran.

Dengan mengikuti tahap demi tahap proyek desain yang ada, diharapkan Anda mampu menumbuhkan sebuah pemahaman akan arti penting desain sekaligus mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan program desain guna menangani berbagai persoalan terkait desain grafis dalam lingkup kerja sehari-hari.

Sedangkan mengenai kratifitas, well penulis senantiasa percaya kalau setiap dari kita terlahir dengan kemampuan kreatif. Ada yang kemampuannya menonjol, namun ada pula yang kurang menonjol. Namun, potensi untuk kreatif senantiasa ada di setiap manusia.

Jika Anda merasa kurang mempuanyai daya kreatif, percayalah, yang Anda perlu lakukan hanya mengasahnya. Caranya dengan banyak-banyak mencermati dunia sekitar Anda, memahaminya, mengendapkannya dalam relung terdalam diri, dan tanpa Anda sadari potensi kreatifitas Anda akan tumbuh bermekaran dengan sendirinya.

Hmmm….sekarang kita mulai bicara serius. Berikut penulis akan coba menjelaskan sekilas mengenai pengetahuan dasar yang musti Anda pahami untuk bisa menciptakan desain yang baik. Kita akan bicara mengenai Elemen Desain dan Prinsip-Prinsip Desain.

To be continued…