Apa Beda Desainer Profesional & Amatir

designer

Sedikit berbagi bagi teman-teman yang berkecimpung atau berminat untuk bergelut di bidangn kreatif sebagai desainer. Saya tidak membatasi desainer apa, bisa desainer grafis, 3D animator, desainer interior atau apapun. Selama Anda berurusan dengan pekerjaan kreatif, tulisan ini layak Anda baca. Kalaupun tidak bergelut di bidang kreatif, tetaplah baca, tak ada ruginya.

Ok, satu hal yang saya pelajari setelah bertahun-tahun bekerja dan berurusan dengan pekerjaan kreatif, ada 2 jenis pekerja kreatif. Atau saya menyebutnya desainer. Yaitu desainer profesional & desainer amatir.

Yang membedakan keduanya bukan kemampuan teknis. Sangat-sangat bukan. Bukan kemampuan menggunakan tool desain, e.g. Photoshop atau 3DSMax dan sejenisnya. Bukan seorang desainer profesional pasti lebih jago daripada yang amatir.

Yang membedakan adalah mindset. Pola pikir.

Yup, pola pikir dari desainer itu sendiri yang membedakannya layak disebut seorang profesional atau masih amatir.

Pola pikir macam apa? Mungkin itu pertanyaan Anda.

Pola pikir dalam melihat sebuah pekerjaan/tugas kreatif yang ada atau diberikan kepada Anda. Baik dari klien, maupun dari atasan.

Seorang desainer profesional, melihat pekerjaan atau tugas dalam konteks solusi. Konteks solusi artinya, dia diminta bantuan untuk mendayagunakan kemampuan teknis & non teknis yang dimilikinya, untuk memberikan solusi kreatif guna menyelesaikan pekerjaan tersebut. Hasil keluaran (output) yang diharapkan bisa beragam, berupa desain 2D, 3D, ilustrasi tangan, vector tracing, character design, copywriting atau apapun. Style, format, tools atau apapun disesuikan dengan konsep solusi yang ditawarkan.

Idenya adalah, seorang desainer profesional tidak terjebak pada tools, i.e. software yang dikuasainya, style design yang dikuasainya, format keluaran (output) yang biasa dia buat dan sejenisnya. Bahkan, kalau dia hanya punya selembar kertas dan sebuah pensil, dia akan tetap bisa mendeliver solusi tadi, meski nantinya pasti butuh disempurnakan secara teknis.

Seorang desainer profesional juga tidak memaksakan selera pribadinya kepada klien. Semisal, saya suka dengan vector illustration, saya tidak akan memaksakan selera saya tersebut kepada klien yang mempunyai kebutuhan desain yang tidak cocok dengan pendekatan vector illustration tersebut.

Nah, sebaliknya, seorang desainer amatir melakukan kebalikan dari hal-hal di atas. Biasanya, mereka “hanya” menguasai tool tertentu dan berpikir bahwa hal tersebut sudah cukup layak menjadikan mereka disebut sebagai seorang desainer.

Dia merasa, dengan menguasai cara menggunakan Photoshop atau Illustrator, dia disebut desainer. Kalau saya menyebutnya, operator softaware desain. Nah, yang seperti ini banyak sekali. Sangat banyak sehingga kadang susah bagi orang awam untuk melihat nilai lebih mereka. Akibatnya, ya mereka dan hasil karyanya kurang dihargai.

Kedua, para desainer amatir ini bekerja berdasarkan “mood” dan selera.

Pernah dengar desainer yang bilang “Saya tidak bisa bekerja karena mood-nya belum dapat”, atau sejenisnya. Nah,yang terjadi adalah, mood atau selera pribadi menentukan hasil pekerjaan, yang semestinya dihindari.

Ya betul sekali bahwa namanya manusia pasti dipengaruhi kondisi mental atau perasaan, namun tak seharusnya pekerjaan desain diperlakukan seperti ini, kecuali Anda bekerja untuk diri sendiri layaknya seorang seniman dan bukan bekerja untuk klien atau perusahaan.

Nah, yang semestinya dilakukan seorang desainer adalah bekerjan berdasarkan konsep dan bukan berdasarkan mood. Bekerjaan berdasarkan konsep, berdasarkan analisis kebutuhan klien dan pola solusi desain yang sesuai, serta menempatkan mood & selera di titik di mana keduanya mendukung konsep dan pola solusi tadi.

Ketiga, seorang desainer amatir biasa memaksakan seleranya sendiri. Apa yang bagus menurutnya dicoba dipaksakan untuk dianggap bagus & diterima oleh klien-nya. Saya tidak mengatakan bahwa hal ini 100% salah, saya hanya bilang, jika selera tersebut berkaitan  dengan soal estetika semata, maka memaksakan selera artinya pemaksaan nilai estetika. Di mana setiap orang punya seleranya sendiri. Mungkin Anda tidak setuju dengan selera seseorang, dalam kasus ini klien, namun tak sepatutnya Anda sebagai desainer memaksakan selera Anda sendiri.

Yang semestinya Anda lakukan adalah, memberi klien Anda panduan berdasarkan hasil analisis kasus desain yang dihadapi, solusi yang bisa digunakan dan pendekatan teknisnya. Sekiranya pendekatan teknis tersebut melibatkan penggunaan suatu style desain tertentu yang cocok dengan selera pribadi Anda, well gunakanlah. Tapi, kalau tidak, dan berdasarkan analisis desain Anda sebaiknya digunakan pendekatan lain, well jangan paksakan diri dan selera Anda tadi.

Nah, sekiranya Anda bisa mulai melatih melepaskan ego pribadi dalam mendesain, Anda bisa sedikit demi sedikit memposisikan diri dan menyebut diri Anda seorang desainer profesional.

Semoga bermanfaat.

Tutorial Desain Grafis – Psikologi Warna

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Sekedar berbagi. Postingan ini diambil dari materi dalam buku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Yang tak kalah penting dari penggunaan warna dalam desain grafis adalah, fungsinya sebagai media penyampai pesan yang sangat kuat. Warna mempunyai implikasi yang sangat besar pada persepsi sesorang akan suatu maksud.

Contoh paling konkrit dalam kehidupan sehari-hari adalah, warna-warna lampu lalu lintas, di mana di belahan bumi manapun, saat seseorang melihat warna merah menyala pada traffict light, dia akan segera tahu bahwa ada larangan untuk berjalan/menjalankan kendarannya. Ketika lampu kuning ganti menyala, maka dia akan bersiap-siap atau berjaga-jaga karena warna tersebut menandakan peringatan untuk berhati-hati. Sementara, begitu lampu hijau yang menyala, orang tersebut akan segera berjalan atau menjalankan kendarannya.

Anda pun bisa menemukan berbagai contoh lain penggunaan warna dalam keseharian untuk berkomunikasi antarmanusia, dan hal ini bukan menjadi suatu yang aneh, karena bahkan sejak manusia purba mulai menghuni gua-guna berbatu, mereka sudah menggunakan aneka warna untuk menyampaukan pesan dengan melukiskan cap-cap tangan di dinding gua.

Penggunaan warna sebagai media komunikasi menunjukkan adanya suatu konvensi yang diterima umum akan makna suatu warna. Asosiasi warna terhadap makna bisa jadi merupakan suatu hal yang terbawa oleh warna itu sendiri dan telah mengendap dalam benak manusia, namun bisa pula menjadi sesuatu yang terstruktur secara sadar maupun tidak. Semua hal itu masuk ke dalam bahasan mengenai psikologi warna, yaitu bagaimana warna-warna bisa mempengaruhi persepsi dan perilaku manusia.

Dalam konteks perusahaan, penggunaan warna yang tepat sama artinya dengan pemilihan senjata yang tepat untuk berpromosi. Sama saja dengan penggunaan orang-orang yang tepat di posisi startegis. Sama pula dengan memasarkan produk atau jasa dengan cara yang tepat sesuai keinginan dan kebutuhan konsumen.

Menggunakan warna yang tepat, mampu meningkatkan nilai sekaligus menegaskan pesan yang hendak disampaikan dalam desain-desain yang Anda buat. Kita tak biacara mengenai nilai artistik semata ketika mendesain untuk kepentingan perusahaan/bisnis, namun kita lebih mengacu pada seberapa mampu pesan yang diinginkan tersampaikan kepada publik yang diinginkan lewat desain itu. Dan salah satu kunci pokoknya adalah, pemilihan warna yang tepat.

Ok, secara garis besar, warna-warna dalam desain grafis bisa dibagi ke dalam 3 (tiga) kategori besar, yaitu warna panas/hangat, warna dingin/sejuk dan warna netral. Kita akan bicara ketiganya satu per satu.

Warm & Cold Colors

  • Warna Panas/Hangat (Warm Colors)

Warna panas/hangat ini adalah kelompok warna yang secara psikologis menumbuhkan nuansa aktif, seru atau bersemangat terhadap orang yang melihatnya. Warna ini pula yang menimbulkan nuansa agresif, tegas, berani, lincah, hangat dan exciting. Sering pula, warna panas digunakan untuk memberi peringatan akan adanya bahaya, atau perlunya kehati-hatian.

Warna panas/hangat sangat cocok digunakan untuk memberikan penegasan atau aksentuasi pada suatu desain. Juga bisa digunakan untuk menarik perhatian atau mengajak audiens untuk memfokuskan perhatiaan pada suatu hal.

Yang termasuk ke dalam kelompok warna panas/hangat ini antara lain: Merah, Oranye dan Kuning. Juga termasuk berbagai varian dari ketiga warna tersebut.

  • Warna Dingin/Sejuk (Cool Colors)

Warna dingin/sejuk ini adalah warna yang menumbuhkan nuansa pasif, tenang, kalem dan teduh pada orang yang melihatnya. Juga bisa digunakan untuk menunjukkan adanya ketenangan, harmoni, kedamaian dan keluasan pikir. Seringkali, warna-warna dingin/teduh digunakan oleh mereka yang bergerak di bidang-bidang yang terkait dengan hal-hal yang membuthkan ketenangan dan ketelitian serta itegritas tinggi, seperti medis, keuangan, layanan kesehatan dan kecantikan, serta masih banyak lagi.

Yang masuk dalam kategori warna dingin/sejuk antara lain warna biru, hijau, ungu dan berbagai varian ketiganya. Jika Anda tak percaya, ada cara mudah untuk membuktikannya, saat Anda merasa kusut atau kacau, coba pandanglah ke arah langit biru, padang rumput hijau yang luas, atau lautan biru yang menghampar, maka niscaya perasaan dan mood Anda akan berangsur lebih tenang.

  • Warna Netral (Neutral Colors)

Warna netral adalah warna-warna yang tidak masuk ke dalam kategori warna panas maupun warna dingin. Warna netral secara psikologis menumbuhkan nuansa kestabilan, firm dan stiffness. Warna netral bisa digunakan untuk menonjolkan warna-warna terang atau semakin menekankan nuansa yang ditimbulkan warna dingin.

Yang masuk ke dalam kategori warna netral antara lain warna hitam, putih dan abu-abu, serta berbagai varian dari ketiganya.

Berdasarkan banyak penelitian, diketahui bahwa secara kognitif, warna dapat digunakan dalam desain sebagai berikut:

  1. Menegaskan suatu hal yang dianggap lebih penting dibandingkan yang lain.
  2. Penggunaan warna-warna tertentu sebagai kode khusus akan suatu maksud—merah untuk stop, kuning untuk hati-hati, hijau untuk jalan terus—membantu memudahkan pemahaman akan suatu informasi.
  3. Penggunaan warna mengurangi beban kerja kognitif otak, karena adanya nilai-nilai tertentu yang terasosiasi dengan warna-warna tersebut.
  4. Warna juga menyederhanakan pamahaman akan informasi, yaitu dengan mengelompokkan jenis informasi sama dengan warna-warna yang sama/serupa.

Menurut Pett dan Wilson, ada beberapa hal mengenai warna yang musti diperhatikan oleh orang-orang yang ingin menggunakannya dalam sebuah desain, yaitu:

  1. Gunakan warna untuk menumbuhkan persepsi akan realitas.
  2. Gunakan warna untuk membedakan antar elemen visual dalam desain.
  3. Gunakan warna untuk untuk memfokuskan perhatian akan suatu hal penting dalam desain, atau untuk memberikan petunjuk akan hal penting yang coba disampaikan.
  4. Gunakan warna untuk menunjukkan korelasi atau hubungan antarelemen yang serupa atau masih terkait satu dengan yang lain.
  5. Gunakan warna secara konsisten, karena itu memudahkan audiens untuk memahami maksud sebuah desain.
  6. Gunakan warna mencolok—warna panas/hangat—guna menarik perhatian.
  7. Gunakan pula warna mencolok untuk desain-desain yang lebih ditujukan pada audiens berusia muda—remaja atau anak-anak—karena kelompok usia ini cenderung lebih responsif terhadap warna-warna mencolok.
  8. Gunakan warna sesuai dengan konsepsi umum yang disepakati, kecuali kalau memang Anda mau mencoba mendobrak tatanan yang sudah ada, dan menawarkan prinsip baru akan suatu makna. Sebisa mungkin, kalau Anda berhadapan dengan audiens luas, gunakan warna sesuai makna yang paling umum diterima.
  9. Gunakan warna sesuai dengan kultur budaya audiens, karena seringkali ada pemahaman yang berbeda akan suatu warna pada budaya yang berbeda pula. Berhati-hatilah akan pemilihan warna, karena sama artinya dengan pemilihan makna.

Desain Merchandise (Unpublished Book)

Tulisan ini adalah bagian dari naskah buku Desain Merchandise yang sampai sekarang belum selesai aku tulis. Naskah sudah ada di komputerku dari 3 tahun lalu. Dariapada ngganggur, aku coba share di sini, siapa tau ada manfaatnya.

Dalam kampanye brand identity suatu perusahaan atau produk, merchandise acap kali jadi metode efektif untuk dilakukan. Merchandise, termasuk dalam tipe Below The Line (BTL) advertising, yaitu upaya periklanan tanpa menggunakan media-media iklan konvesional, seperti media massa (e.g. televisi, radio, surat kabar, majalah dsb).

Pilihan Merchandise

Jika umumnya iklan dilakukan dengan memanfaatkan media massa, seperti iklan cetak di koran, iklan audio di radio, atau audio visual di televisi, maka merchandise ini memanfaatkan item-item produk yang banyak dipakai dalam kehidupan keseharian sebagai media beriklan.

Sebut saja, semisal Anda belanja ke suatu toko dan barang yang dibeli dibungkus dalam sebuah kantong plastik atau kertas dengan logo dan nama toko bersangkutan. Itu merupakan bentuk merchandise untuk promosi.
Atau mungkin Anda pernah mendapatkan kenang-kenangan pulpen, atau notes dengan nama perusahaan tertentu di atasnya, itu juga contoh merchandise promosi.

Mengapa promosi menggunakan merchandise banyak digunakan perusahaan dalam mempromosikan diri atau produknya?

Ada beberapa faktor yang sekiranya menyebabkan hal ini.

Personal touch (sentuhan personal)

Personal touch, atau sentuhan personal nampaknya menjadi alasan kuat mengapa merchandise dipilih sebagai salah satu media promosi. Adanya kedekatan antara perusahaan dengan audiens-nya melalui suatu barang bisa lebih terjalin karena adanya intensitas kontak antara audiens tersebut dengan merchandise sebagai reprsentasi perusahaan.

Apalagi jika barang yang dipilih sebagai merchandise digunakan secara kontinu oleh audiens bersangkutan, maka lambat laun akan tumbuh pula keterkaitan antara keduanya dan pada akhirnya menumbuhkan kedekatan emosial pula dengan perusahaan yang direpresentasikannya.

Diferensiasi

Diferensiasi, aau pembedaan diri dengan pihak lain juga bisa ditampilkan lewat penggunaan dan pemilihan barang sebagai merchandise untuk promosi.

Alih-alih sebuah perusahaan hanya menggunakan media promosi konvesional, seperti iklan cetak di koran, perusahaan itu bisa memilih barang-barang keseharian yang unik, yang secara sadar atau tidak dipakai terus oleh konsumen dan calon konsumennya.

Perusahaan yang jeli akan memaksimalkan potensi tersembunyi dari suatu barang guna memasukkan pesan-pesan promosinya ke benak konsumen. Di sinilah diferensiasi dengan merchandise dibanding dengan pomosi menggunakan media konvesional.

Unconsciousness brand development

Penting juga diingat bahwa ada kecenderungan saat ini bahwa sudah terlalu banyak iklan-iklan bertebaran di mana-mana dan semuanya menyampaikan pesannya kepada konsumen. Iklan di media konvensional secara jelas menunjukkan penawaran dan janji-janji akan suatu brand, di mana lama kelamaan konsumen akan jenuh dengan bombardir pesan tiada hentinya.

Dengan memanfaatkan merchandise sebagai sarana promosi, kita bisa membangun kesadaran akan suatu brand tanpa memaksa konsumen untuk menelan pesan-pesan yang kita sampaikan.

Kita menggunakan alam bawah sadar konsumen yang sering melakukan kontak dengan merchandise tersebut guna membangun kesadaran akan keberadaan dan positioning brand kita.

Long lasting

Ketahanan dan jangka waktu juga bisa dijadikan pertimbangan mengapa perlu dipertimbangkan penggunaan merchandise sebagai sarana promosi. Jika kita beriklan di media konvesional, jangka waktu penayangan sangat jelas, di mana ada patokan-patokan waktu iklan kita bisa tampil. Semisal di koran penayangan iklan adalah harian, sementara di televisi atau radio berdasarkan kontrak—biasanya dengan hitungan berapa kali dalam waktu tertentu.

Nah, dengan menggunakan merchandise, Anda bisa mengharapkan jangka waktu yang lebih lama, sesuai dengan penggunaan barang merchandise itu sendiri. Selama barangnya masih digunakan oleh konsumen, Anda akan terus beriklan kepadanya dan juga ke khlayak ramai di sekitarnya.

Easy to use

Penggunaan merchandise juga mudah untuk dilakukan. Barang seperti pulpen, notes, mousepad adalah beberapa item yang bisa digunakan sebagai sarana promosi dan juga barang kebutuhan sehari-hari.

Kemudahan pakai semacam ini juga musti Anda jadikan bahan pertimbangan saat memilih item barang apa sebagai media promosi.

Biaya ekonomis

Secara ekonomis, biaya pembuatan merchandise untuk promosi terhitung relatif murah, dan sangat terjangkau untuk berbagai tipe perusahaan, bahkan untuk usaha kecil dan menengah.

Kategorisasi Merchandise

Untuk memudahkan Anda dalam memilih dan merancang desain merchandise, penulis telah mengelompokkan beragam item barang yang umum digunakan sebagai sarana promosi ke dalam kategori-kategori berikut, berdasarkan kemiripan fungsinya.

Awards & Trophies

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang diberikan sebagai bukti penghargaan seseorang atas prestasi atau partisipasinya dalam suatu even yang diadakan oleh perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah tropi dan piagam penghargaan.  Lihat contohnya pada Gambar berikut ini.

Clothing (Apparel)

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang berupa barang sandang/pakaian, dan aksesoris penunjangnya. Umumnya, merchandise kategori clothing ini selain untuk promosi juga digunakan untuk corporate identity, sebagai corporate uniform. Termasuk dalam kategori ini adalah baju, celana, kaos, topi, jaket dan sebagainya.

Simak Gambar berikut untuk melihat contoh-contohnya.

Confectionery

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang berupa makanan atau minuman dengan label identitas perusahaan pada kemasannya. Pernahkah saat Anda berkunjung ke suatu hotel, Anda temukan bungkus gula pasir yang disajikan bersama teh atau kopi saat sarapan berlabel hotel tersebut?

Atau saat Anda berkunjung ke suatu kantor, Anda disuguhi coklat atau permen dengan logo perusahaan tersebut pada bungkusnya? Nah, dua contoh tersebut adalah aplikasi promosi merchandise kategori Confectionery.

Simak Gambar di bawah ini

Conference & Exhibition

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang banyak dipakai saat diadakan konferensi atau even-even tertentu oleh perusahaan. Item-item yang masuk kategori ini contohnya badge peserta, nama pembicara (desk name), gantungan kartu dan sebagainya.

Pentingnya item-item ini saat konferensi atau even yang diadakan perusahaan selain sebagai hadiah (gift) atas partisipasi peserta, juga sebagai sarana promosi perusahaan bersangkutan.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Computer

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk kepentingan penunjang penggunaan komputer, seperti mousepad, wadah CD, juga note holder, penghapus, kalkulator, kalender dan sebagainya.

Lihat pada Gambar berikut ini untuk jelasnya

Drink & Accessories

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise wadah minuman dan aksesoris pendukungnya. Masuk dalam kategori ini adalah gelas, cangkir, mug, botol minuman dan sebagainya. Simak Gambar di bawah ini.

Leisure

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk berbagai kepentingan keseharian. Termasuk dalam kategori ini adalah payung, aksesoris olahraga (bola), tas, perlengkapan merokok (pamantik api) dan sebagainya. Perhatikan berikut.

Stationery

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk berbagai kepentingan pekerjaan kantor. Termasuk dalam kategori ini adalah notepad, penggaris, kalender  dan sebagainya. Simak Gambar berikut.

Timepieces

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk penghitungan waktu, seperti jam dinding, jam meja atau jam tangan. Lihat pada Gambar di bawah ini.

Writing Instruments

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk keperluan tulis menulis. Masuk dalam kategori ini antara lain pensil, pulpen, spidol, highlighter dan sebagainya Lihat pada Gambar di bawah ini.

Setelah Anda mengetahui kategorisasi merchandise yang bisa digunakan sebagai sarana promosi, selanjutnya tergantung Anda sendiri untuk menentukan merchandise tipe mana yang akan dipilih.

Graphic Computer (Komputer Grafis)

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, dalam buku ini Anda diajak untuk mencoba memahami dan menggunakan potensi komputer dalam melakukan pekerjaan kreatif, yaitu desain grafis. Setelah Anda membekali diri dengan konsep dasar desain grafis, saatnya Anda mempelajari dasar-dasar penggunaan komputer dalam pembuatan desain. Umum disebut sebagai Komputer Grafis (graphic computer).

Komputer grafis mencakup semua hal yang terkait dengan penggunaan komputer untuk menunjang pekerjaan desain grafis. Mulai dari pembagian komputer grafis menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu grafis berbasis vector dan berbasis bitmap. Program-program yang umum digunakan untuk membuat dan melakukan pengeditan desain. Berbagai format penyimpanan file desain, dan sebagainya.

Pengetahuan semacam ini akan membantu Anda untuk bisa bekerja dengan tepat dan efektif. Sehingga, Anda tidak akan mengalami saat di mana pekerjaan desain yang sudah Anda kerjakan dengan susah payah ternyata tak bisa digunakan karena hal-hal teknis. Dan Anda tak akan menerima komentar orang seperti, “Wah…mestinya Anda menggunakan program ini dan bukan itu,” atau “Harusnya Anda menggunakan format ini, resolusi segini,” serta masih banyak blablabla lainnya yang hanya akan memusingkan dan membuat Anda frustasi.

Lebih baik kenali semua hal-hal itu sekarang, and seterusnya Anda tinggal memfokuskan diri pada penyampaian pesan yang coba Anda lakukan lewat desain.

Vector vs Bitmap

Secara garis besar, komputer grafis bisa dibagi ke dalam 2 (dua) kelompok besar. Yaitu, grafis berbasis vector dan grafis berbasis bitmap. Kapan Anda musti memilih vector dan kapan Anda musti memilih bitmap musti menjadi pertimbangan pertama sebelum Anda bekerja. Bagaimana sifat-sifat keduanya, dan bagaimana mencocokannya dengan kebutuhan Anda harus ditentukan dengan bijak. Karena itu semua mempengaruhi cara kerja dan hasil yang akan Anda raih.

Vector (Vektor)

Grafis berbasis bitmap adalah macam grafis yang menggunakan obyek geometris dan perhitungan matematis dalam pembuatannya. Semua obyek pembentuk suatu desain diciptakan oleh komputer dengan mengkalkulasikan faktor-faktor matematisnya, seperti koordinat letak, ukuran dimensional, ukuran outline, dan sebagainya.

Untuk membuat grafis berbasis vector, Anda harus mendefinisikan titik awal dilanjutkan dengan titik-titik berikutnya, di mana komputer akan secara otomatis menyambungkan titik-titik tersebut dalam membentuk suatu obyek.
Karena obyek-obyek dibentuk berdasarkan posisi titik-titik penyusunnya, maka untuk mengedit suatu obyek, yang perlu Anda lakukan adalah mengedit titik-titik tersebut. Simple bukan?

Tapi tunggu dulu, meskipun kedengarannya simple, sebuah grafis berbasis vecktor bisa terdiri dari banyak obyek yang masing-masingnya terbentuk dari banyak titik pula. Namun, secara umum bisa dikatakan grafis vector adalah tipe grafis yang paling mudah digunakan dan diedit.

Perhatikan Gambar  berikut ini.

Yang istimewa dari grafis vector adalah sifatnya yang fleksibel, dalam artian Anda bisa mengubah ukuran dimensionalnya tanpa mengubah kualitas tampilan maupun hasil cetaknya. Sebuah grafis vector bisa Anda perbesar ukurannya hingga berapa meter atau Anda perkecil hingga berapa milimeter tanpa kehilangan ketajamannya. Sifat grafis vector semacam ini disebut resolusi bebas (resolution independent).

Simak Gambar berikut ini.

Karena sifatnya yang fleksibel, grafis vector umum dipakai untuk membuat desain-desain yang membutuhkan fleksibilitas juga, dalam artian desain yang bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, dalam berbagai ukuran, dan dalam berbagai media reproduksi.

Dalam konteks suatu perusahaan, grafis vector misalnya digunakan dalam pembuatan logo, di mana logo tersebut umumnya digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kop surat (letterhead), kartu nama, brosur, booklet hingga kemasan produk dan masih banyak lagi.

Untuk masing-masing penggunaan, logo berupa grafis vector akan sangat memudahkan Anda untuk memodifikasi ukuran, tata letak, dan berbagai atribut lainnya, sementara pada saat bersamaan tetap mempertahankan kualitas hasil akhirnya.

Jadi tak peduli dicetak di kartu nama berukuran 9 cm x 5 cm, spanduk 3 m x 1 m atau di brosur berukuran folio, logo perusahaan Anda akan senantiasa terlihat solid, sesolid perusahaan Anda.

Perhatikan Gambar di bawah ini.

Grafis vector juga banyak digunakan dalam pembuatan desain-desain yang membutuhkan presisi, seperti desain produk (product design), terutama untuk kemasan. Di mana ukuran dan ketepatan peletakan elemen-elemen desain sangat berpengaruh terhadap persepsi calon konsumen, yang pada akhirnya mempengaruhi keinginan untuk membeli.

Lagipula, siapa juga yang mau membeli suatu produk yang kemasannya jelek kan? Simak Gambar berikut.

Dalam perkembangannya, grafis vector juga berhasil memikat hati pada pembuatan kartun dan animasi, sehingga jika Anda perhatikan, begitu banyak situs di internet yang menggunakan animasi flash yang dibuat menggunakan grafis vector.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Keunggulan bekerja dengan grafis vector lainnya adalah, ukuran file desain yang dihasilkannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan desain yang sama yang dibuat dengan grafis bitmap.
Sebagai perbandingan, desain kartu nama pada Gambar 1.21. di atas saat dibuat sebagai grafis vector dalam format CDR (CorelDRAW) menghasilkan file berukuran 56 kB, sedangkan saat dibuat sebagai grafis bitmap dalam format JPEG (Joint Photographic Experts Group) dengan ukuran dimensional sama dan resolusi 300 dpi menghasilkan file berukuran 95 kB.
Untuk satu dua desain mungkin hal ini tidak terasa banyak bedanya, namun sekiranya Anda bekerja dengan lebih banyak desain, dan atau dengan desain berukuran dimensional lebih besar, niscaya ukuran file penyimpanan akan benar-benar Anda pertimbangkan.
Tapi, apakah grafis vector tidak ada kelemahannya? Mungkin begitu yang terbersit dalam benak Anda saat ini.

Yeah, namanya juga suatu program, tidak akan ada yang bisa sempurna memenuhi segala kebutuhan dan harapan penggunanya. Grafis vector karena terbentuk dari obyek-obyek yang dibuat dengan perhitungan matematis, kurang mampu menangani obyek-obyek yang teramat kompleks, seperti ragam warna, gradasi, perubahan kontur dan sebagainya. Sehingga, adalah hampir mustahil membuat ilustrasi wajah manusia sebagaimana yang Anda lihat di foto dengan menggunakan grafis vector. Untuk menangani gambar -gambar foto kompleks semacam ini digunakan grafis bitmap.

Ok, jadi Anda paham kan?

Anda menggunakan grafis vector untuk membuat desain yang berupa obyek-obyek geometris, dengan warna solid, yang seperlunya digunakan dalam berbagai ukuran dan media reproduksi, seperti logo, teks, kartun, animasi dan sebagainya.

Lalu, program apa yang sebaiknya Anda gunakan untuk membuat desain berbasis grafis vector? Begitu banyak program di pasaran, mungkin Anda akan dibuat bingung saat memilih di antaranya. Hampir semuanya sama, lalu apa keunggulan dan kekurangannya? Mana yang harus digunakan?
Well, program pengolah grafis vector yang paling baik digunakan sangat beragam untuk masing-masing negara. Di Amerika Serikat, program yang paling banyak digunakan adalah Adobe Illustrator.

Di negara-negara Eropa, terjadi pertarungan sengit antara Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand. Sedangkan khusus untuk Indonesia, dan beberapa negara Asia, CorelDRAW masih merajai pasaran. Meskipun, untuk kalangan profesional, pilihan tetap jatuh pada Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand.

Mengapa bisa demikian?

Adobe Illustrator, dengan rilis terbarunya berbandrol Illustrator CS—singkatan dari Creative Suite—adalah program yang menawarkan fasilitas, fitur, dan kemampuan paling lengkap dan paling menunjang untuk berbagai pekerjaan kreatif. Kompabilitasnya untuk menghasilkan desain yang solid, presisi bentuk dan warna, serta dukungan yang luas dari hampir semua mesin cetak menjadikannya kawan karib para desainer profesional.

Lihat Gambar berikut.

Jika Anda datang ke percetakan, pilihan utama mereka untuk mencetak desain Anda adalah dengan format AI—yaitu format file Adobe Illustrator.
Namun, program Adobe Illustrator kurang bisa merajai di Indonesia karena kurang tampilan antamuka (interface) nya kompleks dan juga membutuhkan komputer dengan kapasitas relatif besar untuk bisa menginstallnya.

Program grafis vector yang menjadi pilihan kedua para desainer profesional di Indonesia adalah Macromedia Freehand, dengan rilis terbarunya berbandrol Freehand MX. Freehand digunakan karena program ini paling ringan kebutuhan sistem komputer untuk menginstallnya, presisi warna serta dukungan yang baik dari percetakan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Freehand kurang juga bisa memasyarakat di Indonesia karena tampilannya yang kurang menarik. Terlalu sederhana dan kurang memudahkan bagi para pengguna pemula. Namun, meski demikian, proses cetak suatu desain akan sangat terbantu jika Anda membuat desain dengan program ini, di mana file hasil jadinya disimpan dalam format FH (Freehand).

Sampai sejauh ini, program grafis vector yang paling luas digunakan di Indonesia adalah CorelDraw, dengan rilis terbarunya berbandrol CorelDRAW 12. Meski kurang didukung oleh banyak percetakan, serta mempunyai kelemahan dalam presisi warna dan efek bayangan, namun interface CorelDRAW yang ergonomis serta penggunaanya yang mudah menjadikannya jawara.

Lihat  pada Gambar berikut.

Dari waktu ke waktu peminat program CorelDRAW semakin meningkat, baik karena dorongan hobi semata, maupun mereka yang berminat serius untuk berkarir di dunia desain grafis.

Bagi perusahaan, penggunaan CorelDRAW sangat membantu dalam menunjang pembuatan berbagai desain penunjang keseharian kerja. Juga untuk membuat desain penunjang promosi pemasaran produk atau jasa perusahaan bersangkutan.

Kemudahannya menjadikan Anda yang bahkan tak punya background pendidikan desain pun bisa memanfaatkannya sesuai kebutuhan Anda. Intinya, tak ada yang tak bisa mendapatkan manfaat dari CorelDRAW.
Karena pertimbangan semacam itu pula, pada buku ini, penulis memilih menggunakan program CorelDRAW 12 sebagai program utama dalam berbagai proyek desain yang dibuat di sini.

bersambung…

Tutorial Desain Grafis – Konsep Warna

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Sekedar berbagi. Postingan ini diambil dari materi dalam buku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Konsep Dasar Warna

Bicara tentang desain grafis, mau tak mau, kita musti bicara juga tentang warna. Seberapa esensialkah warna dalam desain grafis?

Well. Perumpamaannya seperti arti garam dalam masakan. Masakan dari bahan apapun tak akan terasa nikmat tanpa adanya garam. Begitu pula desain tak akan ada maknanya tanpa warna. Bahkan jika desain itu hanya berupa grafis hitam putih pun, semuanya tetap warna.

Dalam aplikasinya untuk perkantoran, warna memegang peranan sangat penting. Karena warna menyangkut citra, menyangkut persepsi, baik itu persepsi Anda sendiri terhadap perusahaan, terlebih-lebih persepsi konsumen terhadap perusahaan Anda.

Pilihan warna yang tepat bisa meningkatkan citra Anda, membuat Anda dipahami dengan cara tertentu, tentunya cara yang Anda inginkan. Warna mengasosiasikan Anda dan perusahaan pada suatu makna, suatu ide, suatu nilai yang pada akhirnya mendorong konsumen Anda untuk mencernanya dalam alam sadar maupun tak sadarnya, yang akan berimbas pada perilaku konsumsinya.

Pernahkan Anda sejenak memperhatikan logo perusahaan Anda, atau mungkin kop surat pada kerta kerja yang Anda gunakan untuk mem-print surat-surat resmi, atau mungkin juga pada kartu nama yang kerap Anda pertukarkan dengan klien atau sejawat?

Pernahkan Anda amati barang berapa saat pilihan warna yang ada di sana? Apakah perusahaan Anda menggunakan warna tertentu sebagai warna korporatnya? Apakah ada korelasi antara warna-warna tersebut dengan suatu visi atau misi yang coba diwujudkan? Adakah pula konsistensi di dalam penggunaan warna dalam berbagai media reproduksi?

Jika ya, maka perusahaan Anda telah atau sedang mengaplikasikan pencitraan terpadu lewat character building terpadu. Namun, jika jawaban Anda adalah tidak, maka berarti perusahaan Anda belum sadar akan potensi apa yang dimiliki oleh desain dalam menunjang keberhasilannya.

Hmmm….kembali bicara soal warna, apakah Anda masih mengingat pelajar saat masa SMP, di mana kita diajar tentang warna-warna dasar?

Ya, dan tentunya Anda ingat kalau ada 3 (tiga) warna dasar, yaitu merah, kuning dan biru. Sehingga apabila ketiganya kita gabungkan semestinya akan didapat warna putih. Hal itu dibuktikan jika seberkas cahaya putih dilewatkan melalui sebuah prisma maka akan didapat bermacam warna.

Warna dasar biasa kita sebut dengan warna primer (primary colors). Dari penggabungan masing-masing pasangan warna primer, kita akan mendapatkan warna-warna sekuder (secondary colors), yaitu oranye (merah + kuning), hijau (kuning + biru) dan ungu (biru + merah). Sedangkan jika Anda gabungkan lagi warna-warna tersebut akan didapat warna tertier (tertiary colors).

Kita bisa membuat sebuah lingkaran warna untuk menunjukkan hasil penggabungan warna-warna, seperti terlihat pada Gambar 1.33.

Gambar 1.33. Lingkaran warna gabungan warna-warna dasar

Gambar 1.33. Lingkaran warna gabungan warna-warna dasar

Karena secara esensial sebuah obyek yang ada di alam hanya bisa memantulkan cahaya dari luar, maka warna bisa dikatakan sebagai seberapa mampu suatu obyek memantulkan gelombang cahaya ke mata audiensnya. Sementara kemampuan memantulkan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari obyek itu sendiri maupun dari hal-hal di sekelilingnya.

Jika secara natural, warna dasar adalah merah, biru dan kuning, maka mungkin Anda akan sedikit terkejut, karena dalam desain grafis warna dasar yang digunakan tidak sama seperti di alam.

Dalam desain grafis, secara garis besar ada 2 (dua) tipe mode warna yang digunakan, yaitu mode warna RGB dan CMYK. Apa itu RGB dan CMYK, apa beda keduanya dan bagaimana penggunaanya?

RGB adalah singkatan dari Red, Green, Blue, di mana darinya Anda bisa menebak akalu mode warna ini menggunakan 3 (tiga) warna dasar, yaitu Merah, Hijau dan Biru, untuk menampilkan beragam warna sesuai keinginan Anda. Mode warna RGB digunakan oleh berbagai peralatan elektronika untuk menampilkan suatu warna atau gambar, seperti monitor komputer, televisi, dan sebagainya.

Sehingga, jika Anda membuat sebuah desain dengan warna-warna atau gambar di dalamnya, dan Anda bertujuan untuk menampilkannya di media elektronik, seperti sebagai desktop wallpaper, atau di halaman web, pastikan Anda menggunakan mode warna RGB. Mode warna ini memungkinkan Anda memilih kombinasi hingga 1,6 juta warna.

Banyak sekali huh?

Lihat  Gambar 1.34. berikut ini.

 Gambar 1.34. Mode warna RGB


Gambar 1.34. Mode warna RGB

Kemudian, kita juga mengenal mode warna CMYK. Berbeda dengan mode RGB yang hanya terdiri dari 3 (tiga) warna dasar, mode CMYK mempunyai 4 (empat) warna dasar sebagai penyusunnya, yaitu Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Umumnya mode warna CMYK ini digunakan untuk kepentingan cetak, karena mode warna ini mengacu pada warna-warna tinta dasar yang digunakan mesin cetak untuk mereproduksi suatu image ke media tertentu, seperti kertas, plastik, kain dan sebagainya.

Serupa dengan mode RGB, mode CMYK juga mampu menciptakan beragam warna, bahkan hingga jumlah kombinasi yang lebih banyak dibandingkan mode RGB. Mode CMYK memungkinkan Anda untuk bereksplorasi dengan desain dan mentransferkan hasilnya ke media cetak.

Jadi, kalau Anda membuat sebuah desain, dan Anda berniat mencetaknya, pastikan Anda menimpan hasilnya dalam mode warna CMYK.

Simak Gambar 1.35.

 Gambar 1.35. Mode warna CMYK


Gambar 1.35. Mode warna CMYK

Hal lain yang tak kalah pentingnya saat membahas warna dalam desain grafis adalah properti warna. Properti warna mengacu pada berbagai elemen atau faktor yang mendasari sifat dan penggunaan warna-warna yang ada. Kita bisa membagi properti warna menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu Hue, Nilai Warna dan Intensitas.

Berikut adalah pembahasan singkatnya.

  • Hue

Hue bisa disebut sebagai warna itu sendiri, yaitu secara fisik bagaimana sebuah obyek mampu memantulkan gelombang-gelombang warna yang mengenainya, sehingga mata kita bisa melihatnya.

Ketika seberkas cahaya putih melewati prisma, maka is akan diuraikan menjadi warna-warna sebagamana ada dalam pelangi. Semua warna itu mengacu pada panjang gelombang berbeda yang bisa dilihat manusia. Nah, warna-warna inilah yang disebut dengan hue.

  • Nilai Warna (Value)

Nilai warna mengacu pada tingkat keterangan atau kegelapan hue/warna itu sendiri. Dengan menambahkan warna putih pada suatu warna, Anda akan mendapatkan wrna yang lebih tinggi nilainya, atau disebut dengan istilah tint. Sementara, menambahkan warna hitam pada hue akan menghasilkan warna yang nilainya lebih rendah, umum disebut shade.

  • Intensitas (Intensity)

Intensitas warna adalah seberapa tajam suatu warna. Suatu warna berada pada kondisi paling tajam ketika warna tersebut tak tercampur baik oleh warna putih atau hitam, atau berada dalam saturasi maksimal.