Tracing Foto Soekarno Dengan Adobe Illustrator

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tutorial Tracing Foto Dengan Illustrator yang penulis post sebelumnya di blog ini.

Ilustrasi Vector Soekarno

Di antara semua hasil tracing foto yang penulis pernah buat, tracing foto Presiden Soekarno dengan gaya line art yang paling banyak disuka. Hal ini penulis temukan dari banyaknya reproduksi desain tersebut di berbagai tempat dan media. Mulai dari sticker, tshirt, spaduk hingga ubul-umbul saat peringatan 17 Agustus.

Secara pribadi, penulis senang dengan antusiasme banyak orang atas karya sederhana ini. Selalu menggembirakan jika hal yang kita lakukan memberi manfaat bagi banyak pihak. Kadang, saat menemukan reproduksi  tersebut, penulis tersenyum sendiri. It’s nice.

Anyway, masih terkait soal ilustrasi  Presiden Soekarno gaya line art, penulis akan membagi teknik pembuatannya. Di tulisan kali ini, Anda akan diajak melakukan tracing foto Presiden Soekarno untuk menghasilkan ilustrasi vector seperti yang pernah penulis buat.

Kali ini penulis menggunakan software Adobe Illustrator CC 2015. Anda bisa menggunakan software serupa, meski tidak harus versi yang sama. Secara general, versi Illustrator manapun yang Anda pakai, teknik yang diajarkan di sini kurang lebih sama.

Ok, mari kita mulai. Anda bisa terlebih dulu mengunduh foto Presiden Soekarno di sini. Simpan di harddisk untuk nantinya kita gunakan dalam desain tracing.

  • Buka program Adobe Illustrator CC 2015. Buat dokumen kerja baru dengan memilih menu File > New, atau tekan tombol Ctrl + N.

tracing-soekarno01

Pada kotak dialog New Document beri nama ‘Soekarno’, pilih Size: A4 dan Orientation: Landscape.

tracing-soekarno02

Klik Ok dan Anda akan mendapatkan dokumen kerja baru seperti Gambar berikut ini

tracing-soekarno03

  • Setelah dokumen kerja siap, langkah pertama yang Anda musti lakukan adalah mengimpor foto Presiden Soekarno yang tadi sudah didownload ke dalam dokumen. Caranya, pilih menu File > Place, kemudian navigasikan ke lokasi penyimpanan file foto yang dimaksud, kemudian klik Place.

tracing-soekarno04

Saat Anda mengklik Place, di kursor mouse Anda Nampak kotak kecil berisi foto yang diimpor. Arahkan kursor mouse di ujung kiri atas dokumen kerja, kemudian klik kiri mouse Anda untuk menempatkan foto Presiden Soekarno di dokumen kerja. Perhatikan Gambar berikut.

tracing-soekarno05

Untuk memudahkan pekerjaan tracing kita butuh mengunci foto supaya tidak teredit tak sengaja. Caranya dengan mengaktifkan fasilitas lock pada Palette Layers. Jika Palette Layers belum muncul Anda bisa mengaksesnya lewat menu Window > Layers.

Perhatikan di Palette Layers terdapat Layer 1 yang berisi foto Presiden Soekarno. Untuk menguncinya, arahkan kursor mouse Anda di antara icon mata dan icon segitiga. Kemudian klik kiri mouse Anda dan Layer 1 akan terkunci yang ditandai dengan icon kunci.

tracing-soekarno06

Setelah Layer 1 terkunci, kita butuh membuat layer baru untuk melakukan tracing. Caranya klik icon Create New Layer. Sebuah layer baru bernama Layer 2 muncul di atas Layer 1 (foto Soekarno).

tracing-soekarno07

  • Aktifkan Pen tool  tool_pen di Toolbox Adobe Illustrator, kemudian masih di Toolbox, nonaktifkan warna isi (Fill) dengan mengklik icon None, kemudian ubah warna Stroke menjadi Oranye (C:0, M: 80, Y: 95, K:0).

tracing-soekarno08

Kita akan mulai melakukan tracing. Untuk memudahkan proses tracing, perbesar tampilan (zoom in) dokumen dengan menekan tombol Ctrl + (+). Sebagai panduan, mulai tracing di bagian mata. Karenanya, fokuskan zoom di bagian mata foto Presiden Soekarno.

tracing-soekarno09

Kita mulai tracing dengan membuat garis mata. Dengan Pen tool aktif, klik kiri kursor mouse Anda tepat di ujung kiri mata kiri Presiden Soekarno (sisi kanan Anda). Arahkan mouse Anda ke bagian tengah atas, kemudian sambil mengklik Tarik mouse Anda ke samping kanan sehingga terbentuk garis lengkung. Usahakan lengkungan Pen tool sesuai dengan kontur garis mata atas Presiden Soekarno.

tracing-soekarno10

Lanjutkan dengan mengklik ujung kanan garis mata. Anda bias menarik mouse untuk memastikan garis yang terbentuk sesuai lengkungan mata. Klik ulang pada titik ujung kanan yang baru saja Anda buat untuk menonaktifkan handler lengkungan.

tracing-soekarno11

Lanjutkan membuat lengkungan dengan mengklik titik di bawah titik tengah sambil menarik mouse. Ikuti kontur garis mata, lanjutkan hingga titik awal bertemu dengan titik akhir Pen tool Anda, seperti nampak pada Gambar berikut.

tracing-soekarno12

Jika sudah, selamat, Anda telah berhasil menyelesaikan step pertama tracing.

  • Berikutnya, seperti teknik yang diajarkan di atas, lakukan tracing pada bagian mata berikutnya, yaitu bola mata, garis lengkung mata bawah dan jangan lupa kelopak mata. Sebagai patokan, gunakan kontur gambar pada foto sebagai panduan.

Simak tracing bagian mata lainnya yang penulis buat berikut ini.

tracing-soekarno13

Jika Anda temui ada bagian warna putih pada mata, seperti di bagian kanan atas bola mata di foto Presiden Soekarno ini, Anda bisa membuat obyek lingkaran sesuai warna putih, kemudian seleksi obyek tersebut dan obyek bola mata di belakangnya dengan Selection tool pada Toolbox, lalu lewat Palette Pathfinder (Window > Pathfinder) lakukan pemotongan dengan mengklik icon Minus Front.

tracing-soekarno14

Simak Gambar berikut untuk melihat tracing obyek mata sebelah kanan yang penulis lakukan.

tracing-soekarno15

Untuk melihat progress tracing yang Anda lakukan, coba seleksi sema obyek trace yang sudah dibuat dengan memilih menu Select > All atau tekan tombol Ctrl + A, lalu balik warna Fill & Stroke dengan menekan tombol Shift + X. Kemudian nonaktifkan Layer 1 (foto Presiden Soekarno) di Palette Layers dengan mengklik icon mata. Lihat hasilnya berikut ini.

tracing-soekarno16

  • Selanjutnya, ulangi teknik di atas untuk melakukan tracing pada obyek-obyek yang ada di foto Presiden Soekarno. Ingat, jangan terburu-buru, gunakan kontur gambar sebagai panduan, dan cek hasil tracing per obyek untuk melihat progress tracing yang Anda lakukan.

Progress tracing bagian mata kanan dan kiri.

tracing-soekarno17

Progress tracing hidung dan bibir.

tracing-soekarno18

Progress tracing telinga dan kopiah.

tracing-soekarno19

Progress tracing seluruh bagian foto Presiden Soekarno.

tracing-soekarno20

Akhirnya, simak hasil akhir tracing foto Presiden Soekarno berikut ini. Penulis mengubah warna Fill menjadi hitam.

tracing-soekarno21

Jika Anda tertarik mendapatkan file AI (Adobe Illustrator) tracing Presiden Soekarno, silahkan kirim email kepada penulis dengan subject ‘Tracing Soekarno’.

Selamat mencoba, selamat bereksplorasi.

Yuk Mengenal Photoshop

Tulisan ini diambil dari buku Photoshop Untuk Pekerja Kantoran karya penulis yang diterbitkan Elexmedia Komputindo.

Mengenal Photoshop

Adobe Photoshop CS3

Adobe Photoshop CS3

Ada ungkapan, “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, yang tentunya kita semua familier. Ungkapan tersebut tak hanya berlaku pada hubungan antarmanusia, namun juga pada hal-hal lain, salah satunya software komputer.

Saya akan mengajak Anda, untuk mengenal lebih dekat Adobe Photoshop, atau umum disebut Photoshop. Dengan harapan, setelah Anda lebih kenal, Anda akan paham apa saja kemampuan serta kegunaannya. Sehingga pada akhirnya, Anda bisa memanfaatkannya secara maksimal untuk menunjang pekerjaan sehari-hari sebagai seorang pekerja kantor.

Mengapa Memilih Photoshop?

Mungkin ada di antara Anda yang bertanya, mengapa memilih Photoshop?

Well, alasannya bisa beragam, namun yang pasti Photoshop adalah software pengolah grafis raster terbaik yang ada di pasaran hingga saat ini. Jika Anda butuh melakukan editing foto atau image bitmap, Photoshop adalah pilihan pertama dan utama yang direkomendasikan oleh designer grafis profesional. Penulis sendiri adalah seorang praktisi creative design dengan lebih dari 12 tahun pengalaman, dan selama ini, Photoshop menjadi salah satu tool kerja profesionalnya.

Apa Itu Photoshop?

photoshop09

Mungkin ada di antara Anda yang masih bingung, sebenarnya Photoshop itu apa? Hal ini bisa dipahami dengan begitu banyaknya software komputer di luar sana, tidak semua orang, khususnya yang bukan pekerja kreatif atau yang tidak pernah berurusan dengan editing foto, paham akan Photoshop.

Ok, sebagaimana disebut sebelumnya, Photoshop, adalah pengolah grafis raster buatan Adobe Systems, Inc, sebuah perusahaan software terkemuka berbasis di California, Amerika Serikat.

Sejak kemunculannya di tahun 1988, Photoshop menjadi standar software pengolah grafis bitmap di dunia.

Keunggulan Photoshop

Berikut adalah beberapa keunggulan utama Photoshop:

  • Kelengkapan Fitur & Fasilitas

Photoshop mempunyai beragam fitur dan fasilitas yang memungkinkan pekerjaan kita menjadi mudah, praktis dan dengan hasil optimal.

Fitur utama seperti layer, alpha channel, path, history log, filters, color modes, vector editing hingga kemampuan ekspor ke beragam format file menjadikannya andalan.

  • Fleksibilitas Penggunaan

Penggunaan Photoshop sangat fleksibel. Untuk beragam tipe pekerjaan, Anda bisa menggunakan beragam tool dan fasilitas yang ada, semisal desain untuk cetak, web, animasi dan sebagainya.

Selain itu, Photoshop memungkinkan Anda mengatur sendiri tampilan kerja program dan melakukan kustomisasi menu, shortcut dan sebagainya.

  • Integrasi Dengan Program Lain (Adobe)

Yang sangat menarik dari Photoshop, utamanya dimulai dari seri Creative Suite (CS), adalah integrasinya yang semakin baik dengan program-program lainnya, utamanya buatan Adobe, seperti Illustrator, InDesign, After Effects dan sebagainya.

Artinya, ketika Anda bekerja di Photoshop, hasilnya bisa digunakan secara fleksibel di pekerjaan lain menggunakan program lain dari Adobe tanpa kehilangan kualitas dan kemampuan editingnya.

Seri Photoshop Yang Mana?

photoshop10

Sejak kemunculannya di tahun 1988, Adobe telah meluncurkan 15 seri Photoshop. Yang terbaru, di tahun 2014, dirilis seri Photoshop CC (Creative Cloud). Seri CC merupakan kelanjutan dari seri Photoshop CS (Creative Suite) yang keluar di tahun 2003 hingga 2013.

Seri manapun yang Anda gunakan, sebenarnya tidak terlalu masalah. Karena secara esensial, fitur-fitur utama Photoshop yang akan Anda gunakan tidak banyak berubah. Karenanya, khusus untuk buku ini, penulis menggunakan Adobe Photoshop CS3 sebagai contoh. Anda bisa menyesuaikan dengan seri Photoshop yang Anda gunakan.

Secara personal, penulis lebih menyarankan penggunaan versi CS dibandingan CC, karena kelengkapan fiturnya yang tidak kalah, namun dengan ukuran program yang lebih fleksibel.

Ok, mari kita mulai menyimak seperti apa Photoshop CS3 dan ada apa saja di dalamnya. Tujuannya untuk memberi Anda gambaran serta kemampuan teknis menggunakan fitur dan fasilitas yang ada di dalamnya dalam bekerja.

Interface Adobe Photoshop CS3

Saat Anda membuka program Adobe Photoshop CS3, berikut adalah tampilan interface (antarmuka) nya.

Tampilan antarmuka Photoshop CS3

Tampilan antarmuka Photoshop CS3

Jika Anda perhatikan, terdapat beberapa fitur dan fasilitas utama di dalamnya.

Menu Bar

Menu bar adalah kumpulan menu-menu yang ada di Photoshop. Terdiri dari 10 (sepuluh) menu utama, dan masing-masing di dalamnya terdapat submenu masing-masing. Menu-menu tersebut adalah: File, Edit, Image, Layer, Select, Filter, Analysis, View, Window dan Help.

Perhatikan Gambar di bawah ini.

Fasilitas Menu Bar

Fasilitas Menu Bar

Untuk memunculkan sebuah menu, Anda cukup mengklik menu bersangkutan, dan submenu di dalamnya akan muncul. Jika Anda perhatikan Gambar di atas, penulis mengklik menu Image > Mode > RGB Color.

Perhatikan bahwa di submenu Mode terdapat segitiga hitam di ujung kanannya, ini menunjukkan adanya submenu di dalamnya. Berbeda dengan menu lain seperti Duplicate atau Image Size yang tidak mempunyai submenu.

Saat Anda memilih sbuah menu, dimungkinkan adanya pilihan tambahan. Pilihan tambahan ini berupa dialog box (kotak dialog), di mana Anda bisa memasukkan nilai tertentu atau memilih parameter yang ada di dalamnya.

Perhatikan contoh dialog box untuk menu Image > Image Size berikut ini.

Dialog box menu Image Size

Dialog box menu Image Size

Toolbar

Toolbar adalah fasilitas di mana semua tool (alat) kerja Anda berada. Photoshop memberi Anda beragam tool untuk mengerjakan beragam fungsi, seperti menyeleksi, menggambar, mewarnai, menuliskan teks dan sebagainya. Lihat Gambar di bawah ini.

Fasilitas Toolbar

Fasilitas Toolbar

Jika Anda perhatikan, terdapat beragam tool (alat) di mana mereka dikelompokkan menjadi beberapa kategori untuk memudahkan Anda dalam menggunakannya.

Kelompok tool tersebut adalah:

  • Selection tools

Terdiri dari tool-tool yang bisa digunakan untuk melakukan seleksi area gambar (image), seperti Move tool, Rectangular Marquee tool dan sebagainya.

  • Crop and slice tools

Terdiri dari tool-tool yang bisa digunakan untuk melakukan cropping (pemotongan) area gambar (image) dan slicing (pemotongan area untuk diekspor menjadi halaman web).

  • Retouching tools

Sesuai namanya, kelompok ini terdiri dari tool-tool yang bisa digunakan untuk melakukan retouching (manipulasi) gambar (image). Seperti misalnya menghilangkan warna merah pada mata, menghaluskan kulit  dan lain sebagainya.

  • Painting tools

Terdiri dari tool-tool yang bisa digunakan untuk menggambar (melukis) di Photoshop. Sangat berguna saat Anda melakukan editing foto, atau benar-benar menggambar di Photoshop.

  • Drawing and type tools

Sedikit berbeda dengan kelompok Painting tools, Drawing and type tool berisi tool-tool untuk membuat obyek-obyek gambar yang tidak bisa dibuat dengan painting tools serta untuk membuat dan mengedit teks atau tulisan.

  • Annotation, measuring and navigation tools

Terdiri dari tool-tool yang membantu Anda membuat catatan, pengukuran panjang obyek dan navigasi saat bekerja di Photoshop.

Options Bar

Options bar adalah fasilitas yang memberikan pilihan tambahan untuk setiap tool (alat) yang Anda pilih. Pilihan tambahan ini memungkinkan Anda mengontrol penggunaan tool bersangkutan sehingga pekerjaan Anda lebih efektif.

Untuk setiap tool Anda akan temukan Options bar memunculkan pilihan tambahan yang berbeda. Semisal, di bawah ini adalah tampilan Options bar untuk Rectangular Marquee tool.

Options bar untuk Rectangular Marquee tool

Options bar untuk Rectangular Marquee tool

Document Window

Document window adalah bagian paling penting dari pekerjaan Anda di Photoshop. Ini adalah dokumen kerja, di mana gambar (image) yang Anda buat, edit dan desain berada. Anda bisa membuat dokumen baru, atau membuka file gambar (image) yang sudah ada sebelumnya.

Panels

Panel adalah fasilitas yang memungkinkan Anda memaksimalkan penggunaan tool, teknik dan efek yang dihasilkan di Photoshop. Terdapat beragam panel dengan berbagai kegunaan dan fungsinya masing-masing. Panel-panel utama yang sebaiknya Anda perhatikan adalah: Layers, Channels, History, Character dan Color.

Guna menampilkan dan atau mengakses panel yang Anda inginkan bisa melalui menu Window > [Panel], atau dengan mengklik jendela panel di sebelah kanan area kerja Anda. Simak Gambar di bawah ini.

Aneka Panel di Photoshop

Aneka Panel di Photoshop

Docks of Panels

Docks of Panels adalah sekumpulan Panel yang diminimize dan disusun berurutan di sebelah kanan area kerja untuk memudahkan Anda dalam mengaksesnya. Ditampilkan sebagai icon di mana saat Anda klik akan menampilkan box panel bersangkutan.

Simak Gambar berikut.

 Fasilitas Docks of Panels

Fasilitas Docks of Panels

Fasilitas-fasilitas di atas adalah bagian utama yang sebaiknya Anda kuasai. Masih banyak fasilitas dan fitur tambahan lainnya untuk Anda eksplorasi sejalan dengan seringnya menggunakan Photoshop. Namun sekiranya sekarang, informasi di atas relatif cukup untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang akan dibahas di bab-bab selanjutnya.

Sekiranya Anda tertarik mengeksplorasi lebih detail setiap fasilitas dan fitur yang ada, Photoshop CS3 melengkapi Anda dengan menu Help, yang berisi detail informasi teknis. Anda bisa mengaksesnya dengan memilih menu Help > Photoshop Help.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. Jika Anda menemui kesulitan dalam mempelajari Photoshop, silahkan hubungi saya lewat email.

Tutorial Desain Grafis – Psikologi Warna

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Sekedar berbagi. Postingan ini diambil dari materi dalam buku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Yang tak kalah penting dari penggunaan warna dalam desain grafis adalah, fungsinya sebagai media penyampai pesan yang sangat kuat. Warna mempunyai implikasi yang sangat besar pada persepsi sesorang akan suatu maksud.

Contoh paling konkrit dalam kehidupan sehari-hari adalah, warna-warna lampu lalu lintas, di mana di belahan bumi manapun, saat seseorang melihat warna merah menyala pada traffict light, dia akan segera tahu bahwa ada larangan untuk berjalan/menjalankan kendarannya. Ketika lampu kuning ganti menyala, maka dia akan bersiap-siap atau berjaga-jaga karena warna tersebut menandakan peringatan untuk berhati-hati. Sementara, begitu lampu hijau yang menyala, orang tersebut akan segera berjalan atau menjalankan kendarannya.

Anda pun bisa menemukan berbagai contoh lain penggunaan warna dalam keseharian untuk berkomunikasi antarmanusia, dan hal ini bukan menjadi suatu yang aneh, karena bahkan sejak manusia purba mulai menghuni gua-guna berbatu, mereka sudah menggunakan aneka warna untuk menyampaukan pesan dengan melukiskan cap-cap tangan di dinding gua.

Penggunaan warna sebagai media komunikasi menunjukkan adanya suatu konvensi yang diterima umum akan makna suatu warna. Asosiasi warna terhadap makna bisa jadi merupakan suatu hal yang terbawa oleh warna itu sendiri dan telah mengendap dalam benak manusia, namun bisa pula menjadi sesuatu yang terstruktur secara sadar maupun tidak. Semua hal itu masuk ke dalam bahasan mengenai psikologi warna, yaitu bagaimana warna-warna bisa mempengaruhi persepsi dan perilaku manusia.

Dalam konteks perusahaan, penggunaan warna yang tepat sama artinya dengan pemilihan senjata yang tepat untuk berpromosi. Sama saja dengan penggunaan orang-orang yang tepat di posisi startegis. Sama pula dengan memasarkan produk atau jasa dengan cara yang tepat sesuai keinginan dan kebutuhan konsumen.

Menggunakan warna yang tepat, mampu meningkatkan nilai sekaligus menegaskan pesan yang hendak disampaikan dalam desain-desain yang Anda buat. Kita tak biacara mengenai nilai artistik semata ketika mendesain untuk kepentingan perusahaan/bisnis, namun kita lebih mengacu pada seberapa mampu pesan yang diinginkan tersampaikan kepada publik yang diinginkan lewat desain itu. Dan salah satu kunci pokoknya adalah, pemilihan warna yang tepat.

Ok, secara garis besar, warna-warna dalam desain grafis bisa dibagi ke dalam 3 (tiga) kategori besar, yaitu warna panas/hangat, warna dingin/sejuk dan warna netral. Kita akan bicara ketiganya satu per satu.

Warm & Cold Colors

  • Warna Panas/Hangat (Warm Colors)

Warna panas/hangat ini adalah kelompok warna yang secara psikologis menumbuhkan nuansa aktif, seru atau bersemangat terhadap orang yang melihatnya. Warna ini pula yang menimbulkan nuansa agresif, tegas, berani, lincah, hangat dan exciting. Sering pula, warna panas digunakan untuk memberi peringatan akan adanya bahaya, atau perlunya kehati-hatian.

Warna panas/hangat sangat cocok digunakan untuk memberikan penegasan atau aksentuasi pada suatu desain. Juga bisa digunakan untuk menarik perhatian atau mengajak audiens untuk memfokuskan perhatiaan pada suatu hal.

Yang termasuk ke dalam kelompok warna panas/hangat ini antara lain: Merah, Oranye dan Kuning. Juga termasuk berbagai varian dari ketiga warna tersebut.

  • Warna Dingin/Sejuk (Cool Colors)

Warna dingin/sejuk ini adalah warna yang menumbuhkan nuansa pasif, tenang, kalem dan teduh pada orang yang melihatnya. Juga bisa digunakan untuk menunjukkan adanya ketenangan, harmoni, kedamaian dan keluasan pikir. Seringkali, warna-warna dingin/teduh digunakan oleh mereka yang bergerak di bidang-bidang yang terkait dengan hal-hal yang membuthkan ketenangan dan ketelitian serta itegritas tinggi, seperti medis, keuangan, layanan kesehatan dan kecantikan, serta masih banyak lagi.

Yang masuk dalam kategori warna dingin/sejuk antara lain warna biru, hijau, ungu dan berbagai varian ketiganya. Jika Anda tak percaya, ada cara mudah untuk membuktikannya, saat Anda merasa kusut atau kacau, coba pandanglah ke arah langit biru, padang rumput hijau yang luas, atau lautan biru yang menghampar, maka niscaya perasaan dan mood Anda akan berangsur lebih tenang.

  • Warna Netral (Neutral Colors)

Warna netral adalah warna-warna yang tidak masuk ke dalam kategori warna panas maupun warna dingin. Warna netral secara psikologis menumbuhkan nuansa kestabilan, firm dan stiffness. Warna netral bisa digunakan untuk menonjolkan warna-warna terang atau semakin menekankan nuansa yang ditimbulkan warna dingin.

Yang masuk ke dalam kategori warna netral antara lain warna hitam, putih dan abu-abu, serta berbagai varian dari ketiganya.

Berdasarkan banyak penelitian, diketahui bahwa secara kognitif, warna dapat digunakan dalam desain sebagai berikut:

  1. Menegaskan suatu hal yang dianggap lebih penting dibandingkan yang lain.
  2. Penggunaan warna-warna tertentu sebagai kode khusus akan suatu maksud—merah untuk stop, kuning untuk hati-hati, hijau untuk jalan terus—membantu memudahkan pemahaman akan suatu informasi.
  3. Penggunaan warna mengurangi beban kerja kognitif otak, karena adanya nilai-nilai tertentu yang terasosiasi dengan warna-warna tersebut.
  4. Warna juga menyederhanakan pamahaman akan informasi, yaitu dengan mengelompokkan jenis informasi sama dengan warna-warna yang sama/serupa.

Menurut Pett dan Wilson, ada beberapa hal mengenai warna yang musti diperhatikan oleh orang-orang yang ingin menggunakannya dalam sebuah desain, yaitu:

  1. Gunakan warna untuk menumbuhkan persepsi akan realitas.
  2. Gunakan warna untuk membedakan antar elemen visual dalam desain.
  3. Gunakan warna untuk untuk memfokuskan perhatian akan suatu hal penting dalam desain, atau untuk memberikan petunjuk akan hal penting yang coba disampaikan.
  4. Gunakan warna untuk menunjukkan korelasi atau hubungan antarelemen yang serupa atau masih terkait satu dengan yang lain.
  5. Gunakan warna secara konsisten, karena itu memudahkan audiens untuk memahami maksud sebuah desain.
  6. Gunakan warna mencolok—warna panas/hangat—guna menarik perhatian.
  7. Gunakan pula warna mencolok untuk desain-desain yang lebih ditujukan pada audiens berusia muda—remaja atau anak-anak—karena kelompok usia ini cenderung lebih responsif terhadap warna-warna mencolok.
  8. Gunakan warna sesuai dengan konsepsi umum yang disepakati, kecuali kalau memang Anda mau mencoba mendobrak tatanan yang sudah ada, dan menawarkan prinsip baru akan suatu makna. Sebisa mungkin, kalau Anda berhadapan dengan audiens luas, gunakan warna sesuai makna yang paling umum diterima.
  9. Gunakan warna sesuai dengan kultur budaya audiens, karena seringkali ada pemahaman yang berbeda akan suatu warna pada budaya yang berbeda pula. Berhati-hatilah akan pemilihan warna, karena sama artinya dengan pemilihan makna.

Graphic Computer (Komputer Grafis)

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, dalam buku ini Anda diajak untuk mencoba memahami dan menggunakan potensi komputer dalam melakukan pekerjaan kreatif, yaitu desain grafis. Setelah Anda membekali diri dengan konsep dasar desain grafis, saatnya Anda mempelajari dasar-dasar penggunaan komputer dalam pembuatan desain. Umum disebut sebagai Komputer Grafis (graphic computer).

Komputer grafis mencakup semua hal yang terkait dengan penggunaan komputer untuk menunjang pekerjaan desain grafis. Mulai dari pembagian komputer grafis menjadi 2 (dua) kelompok besar, yaitu grafis berbasis vector dan berbasis bitmap. Program-program yang umum digunakan untuk membuat dan melakukan pengeditan desain. Berbagai format penyimpanan file desain, dan sebagainya.

Pengetahuan semacam ini akan membantu Anda untuk bisa bekerja dengan tepat dan efektif. Sehingga, Anda tidak akan mengalami saat di mana pekerjaan desain yang sudah Anda kerjakan dengan susah payah ternyata tak bisa digunakan karena hal-hal teknis. Dan Anda tak akan menerima komentar orang seperti, “Wah…mestinya Anda menggunakan program ini dan bukan itu,” atau “Harusnya Anda menggunakan format ini, resolusi segini,” serta masih banyak blablabla lainnya yang hanya akan memusingkan dan membuat Anda frustasi.

Lebih baik kenali semua hal-hal itu sekarang, and seterusnya Anda tinggal memfokuskan diri pada penyampaian pesan yang coba Anda lakukan lewat desain.

Vector vs Bitmap

Secara garis besar, komputer grafis bisa dibagi ke dalam 2 (dua) kelompok besar. Yaitu, grafis berbasis vector dan grafis berbasis bitmap. Kapan Anda musti memilih vector dan kapan Anda musti memilih bitmap musti menjadi pertimbangan pertama sebelum Anda bekerja. Bagaimana sifat-sifat keduanya, dan bagaimana mencocokannya dengan kebutuhan Anda harus ditentukan dengan bijak. Karena itu semua mempengaruhi cara kerja dan hasil yang akan Anda raih.

Vector (Vektor)

Grafis berbasis bitmap adalah macam grafis yang menggunakan obyek geometris dan perhitungan matematis dalam pembuatannya. Semua obyek pembentuk suatu desain diciptakan oleh komputer dengan mengkalkulasikan faktor-faktor matematisnya, seperti koordinat letak, ukuran dimensional, ukuran outline, dan sebagainya.

Untuk membuat grafis berbasis vector, Anda harus mendefinisikan titik awal dilanjutkan dengan titik-titik berikutnya, di mana komputer akan secara otomatis menyambungkan titik-titik tersebut dalam membentuk suatu obyek.
Karena obyek-obyek dibentuk berdasarkan posisi titik-titik penyusunnya, maka untuk mengedit suatu obyek, yang perlu Anda lakukan adalah mengedit titik-titik tersebut. Simple bukan?

Tapi tunggu dulu, meskipun kedengarannya simple, sebuah grafis berbasis vecktor bisa terdiri dari banyak obyek yang masing-masingnya terbentuk dari banyak titik pula. Namun, secara umum bisa dikatakan grafis vector adalah tipe grafis yang paling mudah digunakan dan diedit.

Perhatikan Gambar  berikut ini.

Yang istimewa dari grafis vector adalah sifatnya yang fleksibel, dalam artian Anda bisa mengubah ukuran dimensionalnya tanpa mengubah kualitas tampilan maupun hasil cetaknya. Sebuah grafis vector bisa Anda perbesar ukurannya hingga berapa meter atau Anda perkecil hingga berapa milimeter tanpa kehilangan ketajamannya. Sifat grafis vector semacam ini disebut resolusi bebas (resolution independent).

Simak Gambar berikut ini.

Karena sifatnya yang fleksibel, grafis vector umum dipakai untuk membuat desain-desain yang membutuhkan fleksibilitas juga, dalam artian desain yang bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, dalam berbagai ukuran, dan dalam berbagai media reproduksi.

Dalam konteks suatu perusahaan, grafis vector misalnya digunakan dalam pembuatan logo, di mana logo tersebut umumnya digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kop surat (letterhead), kartu nama, brosur, booklet hingga kemasan produk dan masih banyak lagi.

Untuk masing-masing penggunaan, logo berupa grafis vector akan sangat memudahkan Anda untuk memodifikasi ukuran, tata letak, dan berbagai atribut lainnya, sementara pada saat bersamaan tetap mempertahankan kualitas hasil akhirnya.

Jadi tak peduli dicetak di kartu nama berukuran 9 cm x 5 cm, spanduk 3 m x 1 m atau di brosur berukuran folio, logo perusahaan Anda akan senantiasa terlihat solid, sesolid perusahaan Anda.

Perhatikan Gambar di bawah ini.

Grafis vector juga banyak digunakan dalam pembuatan desain-desain yang membutuhkan presisi, seperti desain produk (product design), terutama untuk kemasan. Di mana ukuran dan ketepatan peletakan elemen-elemen desain sangat berpengaruh terhadap persepsi calon konsumen, yang pada akhirnya mempengaruhi keinginan untuk membeli.

Lagipula, siapa juga yang mau membeli suatu produk yang kemasannya jelek kan? Simak Gambar berikut.

Dalam perkembangannya, grafis vector juga berhasil memikat hati pada pembuatan kartun dan animasi, sehingga jika Anda perhatikan, begitu banyak situs di internet yang menggunakan animasi flash yang dibuat menggunakan grafis vector.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Keunggulan bekerja dengan grafis vector lainnya adalah, ukuran file desain yang dihasilkannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan desain yang sama yang dibuat dengan grafis bitmap.
Sebagai perbandingan, desain kartu nama pada Gambar 1.21. di atas saat dibuat sebagai grafis vector dalam format CDR (CorelDRAW) menghasilkan file berukuran 56 kB, sedangkan saat dibuat sebagai grafis bitmap dalam format JPEG (Joint Photographic Experts Group) dengan ukuran dimensional sama dan resolusi 300 dpi menghasilkan file berukuran 95 kB.
Untuk satu dua desain mungkin hal ini tidak terasa banyak bedanya, namun sekiranya Anda bekerja dengan lebih banyak desain, dan atau dengan desain berukuran dimensional lebih besar, niscaya ukuran file penyimpanan akan benar-benar Anda pertimbangkan.
Tapi, apakah grafis vector tidak ada kelemahannya? Mungkin begitu yang terbersit dalam benak Anda saat ini.

Yeah, namanya juga suatu program, tidak akan ada yang bisa sempurna memenuhi segala kebutuhan dan harapan penggunanya. Grafis vector karena terbentuk dari obyek-obyek yang dibuat dengan perhitungan matematis, kurang mampu menangani obyek-obyek yang teramat kompleks, seperti ragam warna, gradasi, perubahan kontur dan sebagainya. Sehingga, adalah hampir mustahil membuat ilustrasi wajah manusia sebagaimana yang Anda lihat di foto dengan menggunakan grafis vector. Untuk menangani gambar -gambar foto kompleks semacam ini digunakan grafis bitmap.

Ok, jadi Anda paham kan?

Anda menggunakan grafis vector untuk membuat desain yang berupa obyek-obyek geometris, dengan warna solid, yang seperlunya digunakan dalam berbagai ukuran dan media reproduksi, seperti logo, teks, kartun, animasi dan sebagainya.

Lalu, program apa yang sebaiknya Anda gunakan untuk membuat desain berbasis grafis vector? Begitu banyak program di pasaran, mungkin Anda akan dibuat bingung saat memilih di antaranya. Hampir semuanya sama, lalu apa keunggulan dan kekurangannya? Mana yang harus digunakan?
Well, program pengolah grafis vector yang paling baik digunakan sangat beragam untuk masing-masing negara. Di Amerika Serikat, program yang paling banyak digunakan adalah Adobe Illustrator.

Di negara-negara Eropa, terjadi pertarungan sengit antara Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand. Sedangkan khusus untuk Indonesia, dan beberapa negara Asia, CorelDRAW masih merajai pasaran. Meskipun, untuk kalangan profesional, pilihan tetap jatuh pada Adobe Illustrator dan Macromedia Freehand.

Mengapa bisa demikian?

Adobe Illustrator, dengan rilis terbarunya berbandrol Illustrator CS—singkatan dari Creative Suite—adalah program yang menawarkan fasilitas, fitur, dan kemampuan paling lengkap dan paling menunjang untuk berbagai pekerjaan kreatif. Kompabilitasnya untuk menghasilkan desain yang solid, presisi bentuk dan warna, serta dukungan yang luas dari hampir semua mesin cetak menjadikannya kawan karib para desainer profesional.

Lihat Gambar berikut.

Jika Anda datang ke percetakan, pilihan utama mereka untuk mencetak desain Anda adalah dengan format AI—yaitu format file Adobe Illustrator.
Namun, program Adobe Illustrator kurang bisa merajai di Indonesia karena kurang tampilan antamuka (interface) nya kompleks dan juga membutuhkan komputer dengan kapasitas relatif besar untuk bisa menginstallnya.

Program grafis vector yang menjadi pilihan kedua para desainer profesional di Indonesia adalah Macromedia Freehand, dengan rilis terbarunya berbandrol Freehand MX. Freehand digunakan karena program ini paling ringan kebutuhan sistem komputer untuk menginstallnya, presisi warna serta dukungan yang baik dari percetakan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Freehand kurang juga bisa memasyarakat di Indonesia karena tampilannya yang kurang menarik. Terlalu sederhana dan kurang memudahkan bagi para pengguna pemula. Namun, meski demikian, proses cetak suatu desain akan sangat terbantu jika Anda membuat desain dengan program ini, di mana file hasil jadinya disimpan dalam format FH (Freehand).

Sampai sejauh ini, program grafis vector yang paling luas digunakan di Indonesia adalah CorelDraw, dengan rilis terbarunya berbandrol CorelDRAW 12. Meski kurang didukung oleh banyak percetakan, serta mempunyai kelemahan dalam presisi warna dan efek bayangan, namun interface CorelDRAW yang ergonomis serta penggunaanya yang mudah menjadikannya jawara.

Lihat  pada Gambar berikut.

Dari waktu ke waktu peminat program CorelDRAW semakin meningkat, baik karena dorongan hobi semata, maupun mereka yang berminat serius untuk berkarir di dunia desain grafis.

Bagi perusahaan, penggunaan CorelDRAW sangat membantu dalam menunjang pembuatan berbagai desain penunjang keseharian kerja. Juga untuk membuat desain penunjang promosi pemasaran produk atau jasa perusahaan bersangkutan.

Kemudahannya menjadikan Anda yang bahkan tak punya background pendidikan desain pun bisa memanfaatkannya sesuai kebutuhan Anda. Intinya, tak ada yang tak bisa mendapatkan manfaat dari CorelDRAW.
Karena pertimbangan semacam itu pula, pada buku ini, penulis memilih menggunakan program CorelDRAW 12 sebagai program utama dalam berbagai proyek desain yang dibuat di sini.

bersambung…

The Principles of Design

Masih dari buku ku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo.

The Principles of Design

Jika sebelumnya kita bicara tentang elemen-elemen desain yang menjadi dasar pembuatan sebuah desain, maka sekarang kita akan bicara tentang bagaimana atau hal-hal apa saja yang harus dipahami untuk bisa mendayagunakan elemen-elemen tersebut secara efektif. Bagaimana hubungan antara satu elemen dengan elemen-elemen yang lain itulah yang kita sebuh dengan prinsip-prinsip desain.

Prinsip desain sebenarnya juga berlaku pada banyak bidang kehidupan lainnya, namun khusus untuk desain grafis kita bisa membaginya menjadi 9 (sembilan) prinsip utama.

Keseimbangan (Balance)

Keseimbangan adalah prinsip desain yang pertama. Keseimbangan bisa didefinisikan sebagai distribusi visual  elemen-elemen desain—obyek, warna, tektur, dan ruang—antara satu dengan yang lain, sehingga terbentuk suatu desain yang stabil.

Keseimbangan dalam desain serupa dengan keseimbangan dalam dunia fisik. Sebuah obyek bisa seimbang jika ada obyek lain yang menjadi penyeimbangnya. Dalam desain, terdapat 3 (tiga) tipe keseimbangan, yaitu:

Keseimbangan Simetris (Symmetrical Balance)

Keseimbangan Simetris dicapai ketika obyek-obyek yang mempunyai properti yang sama saling berhubungan. Semisal, dua obyek yang mempunyai ukuran sama ditempatkan saling bersebelahan maka akan dicapai sebuah keseimbangan yang simetris.

Perhatikan Gambar berikut.

Keseimbangan Asimetris (Asymmetrical Balance)

Keseimbangan asimetris terjadi ketika obyek-obyek dengan properti yang berbeda diletakkan hingga tercipta suatu keseimbangan. Semisal, sebuah obyek besar diletakkan di dekat titik pusat diseimbangkan dengan obyek yang lebih kecil diletakkan lebih jauh dari titi pusat.

Lihat pada Gambar di bawah ini.

Keseimbangan Radial (Radial Balance)

Keseimbangan radial dicapai ketika obyek-obyek ditempatkan secara menyebar dari suatu titik pusat keseimbangan. Obyek-obyek yang Anda gunakan bisa berupa obyek-obyek serupa maupun berbeda propertinya.

Simak Gambar berikut ini.

Penekanan (Emphasis)

Penekanan adalah area desain yang menarik perhatian audiens yang melihatnya. Dalam desain, penekanan memainkan peranan yang esensial, karena dengan adanya penekanan, audiens diajak untuk memfokuskan perhatian pada desain tersebut.

Penekanan biasa dilakukan dengan mengkontraskan suatu area dengan area lainnya dalam desain, baik dengan ukuran, warna, bentuk dan sebagainya.

Simak berikut ini.

Pergerakan (Movement)

Pergerakan adalah bagaimana tata letak obyek-obyek desain mengarahkan pandangan mata audiens. Sebuah desain yang baik harus mampu membawa orang yang menyimaknya untuk menuju suatu bagian yang menjadi fokus penekanan (focal area). Pergerakan bisa diciptakan dengan menggunakan garis, bentuk ataupun warna.

Lihatlah Gambar berikut ini.

Pola (Pattern)

Pola adalah penempatan obyek yang sama di seluruh area desain. Pola semacam ini memberikan nuansa kestabilan.

Lihat pada Gambar di bawah ini.

Pengulangan (Repetition)

Pengulangan adalah penggunaan elemen-elemen desain yang serupa guna menumbuhkan suasana aktif dalam desain. Umumnya penerapan prinsip pengulangan berkorespondesi dengan pola.

Perhatikan Gambar  berikut.

Proporsi (Proportion)

Proporsi adalah prinsip desain dimana perbandingan dan penempatan obyek-obyek penyusunnya menciptakan suatu keseimbangan dan kesatuan. Dalam desain, segala bagian desain haruslah proporsional, karena pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima jika segalanya berada di tempat yang sesuai.

Serupa saat Anda menggambar figur wajah manusia, maka elemen-elemen penyusunnya, seperti mata, alis, hidung, bibir, rambut, dan sebagainya haruslah proporsional, sehingga memudahkan orang yang melihatnya untuk mengasosiasikan keseluruhan elemen tersebut sebagai sebuah bentuk wajah, sebagaimana yang ingin disampaikan pembuatnya.

Simak Gambar di bawah ini.

Ritme (Rhythm)

Ritme tercipta saat satu atau beberapa obyek digunakan secara berulang dalam desain untuk menciptakan nuansa keteraturan. Sangat penting untuk senantiasa menjaga ritme desain Anda senantiasa aktif saat audiens menyimak desain tersebut.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Variasi (Variety)

Variasi tercitpa ketika Anda mampu memanfaatkan obyek-obyek yang berbeda propertinya namun tetap dalam suatu kesatuan. Variasi diperlukan terutama untuk menarik perhatiakn audiens, sekaligus menghindarkan tumbuhnya rasa bosan karena terlalu banyak perulangan obyek-obyek yang sama dalam desain.

Variasi memungkinkan Anda berkreasi, mengeksplorasi bentuk, ukuran, tata letak dan berbagai elemen desain lainnya. Selama masih dalam kerangka pesan yang ingin disampaikan, Anda bebas untuk bervariasi.

Lihatlah pada Gambar 1.17. di bawah ini.

Kesatuan (Unity)

Kesatuan adalah nuansa harmoni yang tercipta karena elemen-elemen desain yang digunakan berada pada tempat yang tepat dengan cara yang tepat sehingga antara satu dengan yang lain saling melengkapi dan menguatkan pesan yang akan disampaikan.

Lihat Gambar di bawah ini.

Ok, sekarang Anda mempunyai gambaran mengenai apa-apa saja yang menjadi elemen dan prinsip-prinsir untuk bisa mencipta desain yang baik.

Berikutnya, penulis akan mengajak sedikit menelusuri aspek-aspek desain yang lebih bersifat teknis yang tentunya Anda butuhkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan kreatif.