Tracing Foto Soekarno Dengan Adobe Illustrator

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tutorial Tracing Foto Dengan Illustrator yang penulis post sebelumnya di blog ini.

Ilustrasi Vector Soekarno

Di antara semua hasil tracing foto yang penulis pernah buat, tracing foto Presiden Soekarno dengan gaya line art yang paling banyak disuka. Hal ini penulis temukan dari banyaknya reproduksi desain tersebut di berbagai tempat dan media. Mulai dari sticker, tshirt, spaduk hingga ubul-umbul saat peringatan 17 Agustus.

Secara pribadi, penulis senang dengan antusiasme banyak orang atas karya sederhana ini. Selalu menggembirakan jika hal yang kita lakukan memberi manfaat bagi banyak pihak. Kadang, saat menemukan reproduksi  tersebut, penulis tersenyum sendiri. It’s nice.

Anyway, masih terkait soal ilustrasi  Presiden Soekarno gaya line art, penulis akan membagi teknik pembuatannya. Di tulisan kali ini, Anda akan diajak melakukan tracing foto Presiden Soekarno untuk menghasilkan ilustrasi vector seperti yang pernah penulis buat.

Kali ini penulis menggunakan software Adobe Illustrator CC 2015. Anda bisa menggunakan software serupa, meski tidak harus versi yang sama. Secara general, versi Illustrator manapun yang Anda pakai, teknik yang diajarkan di sini kurang lebih sama.

Ok, mari kita mulai. Anda bisa terlebih dulu mengunduh foto Presiden Soekarno di sini. Simpan di harddisk untuk nantinya kita gunakan dalam desain tracing.

  • Buka program Adobe Illustrator CC 2015. Buat dokumen kerja baru dengan memilih menu File > New, atau tekan tombol Ctrl + N.

tracing-soekarno01

Pada kotak dialog New Document beri nama ‘Soekarno’, pilih Size: A4 dan Orientation: Landscape.

tracing-soekarno02

Klik Ok dan Anda akan mendapatkan dokumen kerja baru seperti Gambar berikut ini

tracing-soekarno03

  • Setelah dokumen kerja siap, langkah pertama yang Anda musti lakukan adalah mengimpor foto Presiden Soekarno yang tadi sudah didownload ke dalam dokumen. Caranya, pilih menu File > Place, kemudian navigasikan ke lokasi penyimpanan file foto yang dimaksud, kemudian klik Place.

tracing-soekarno04

Saat Anda mengklik Place, di kursor mouse Anda Nampak kotak kecil berisi foto yang diimpor. Arahkan kursor mouse di ujung kiri atas dokumen kerja, kemudian klik kiri mouse Anda untuk menempatkan foto Presiden Soekarno di dokumen kerja. Perhatikan Gambar berikut.

tracing-soekarno05

Untuk memudahkan pekerjaan tracing kita butuh mengunci foto supaya tidak teredit tak sengaja. Caranya dengan mengaktifkan fasilitas lock pada Palette Layers. Jika Palette Layers belum muncul Anda bisa mengaksesnya lewat menu Window > Layers.

Perhatikan di Palette Layers terdapat Layer 1 yang berisi foto Presiden Soekarno. Untuk menguncinya, arahkan kursor mouse Anda di antara icon mata dan icon segitiga. Kemudian klik kiri mouse Anda dan Layer 1 akan terkunci yang ditandai dengan icon kunci.

tracing-soekarno06

Setelah Layer 1 terkunci, kita butuh membuat layer baru untuk melakukan tracing. Caranya klik icon Create New Layer. Sebuah layer baru bernama Layer 2 muncul di atas Layer 1 (foto Soekarno).

tracing-soekarno07

  • Aktifkan Pen tool  tool_pen di Toolbox Adobe Illustrator, kemudian masih di Toolbox, nonaktifkan warna isi (Fill) dengan mengklik icon None, kemudian ubah warna Stroke menjadi Oranye (C:0, M: 80, Y: 95, K:0).

tracing-soekarno08

Kita akan mulai melakukan tracing. Untuk memudahkan proses tracing, perbesar tampilan (zoom in) dokumen dengan menekan tombol Ctrl + (+). Sebagai panduan, mulai tracing di bagian mata. Karenanya, fokuskan zoom di bagian mata foto Presiden Soekarno.

tracing-soekarno09

Kita mulai tracing dengan membuat garis mata. Dengan Pen tool aktif, klik kiri kursor mouse Anda tepat di ujung kiri mata kiri Presiden Soekarno (sisi kanan Anda). Arahkan mouse Anda ke bagian tengah atas, kemudian sambil mengklik Tarik mouse Anda ke samping kanan sehingga terbentuk garis lengkung. Usahakan lengkungan Pen tool sesuai dengan kontur garis mata atas Presiden Soekarno.

tracing-soekarno10

Lanjutkan dengan mengklik ujung kanan garis mata. Anda bias menarik mouse untuk memastikan garis yang terbentuk sesuai lengkungan mata. Klik ulang pada titik ujung kanan yang baru saja Anda buat untuk menonaktifkan handler lengkungan.

tracing-soekarno11

Lanjutkan membuat lengkungan dengan mengklik titik di bawah titik tengah sambil menarik mouse. Ikuti kontur garis mata, lanjutkan hingga titik awal bertemu dengan titik akhir Pen tool Anda, seperti nampak pada Gambar berikut.

tracing-soekarno12

Jika sudah, selamat, Anda telah berhasil menyelesaikan step pertama tracing.

  • Berikutnya, seperti teknik yang diajarkan di atas, lakukan tracing pada bagian mata berikutnya, yaitu bola mata, garis lengkung mata bawah dan jangan lupa kelopak mata. Sebagai patokan, gunakan kontur gambar pada foto sebagai panduan.

Simak tracing bagian mata lainnya yang penulis buat berikut ini.

tracing-soekarno13

Jika Anda temui ada bagian warna putih pada mata, seperti di bagian kanan atas bola mata di foto Presiden Soekarno ini, Anda bisa membuat obyek lingkaran sesuai warna putih, kemudian seleksi obyek tersebut dan obyek bola mata di belakangnya dengan Selection tool pada Toolbox, lalu lewat Palette Pathfinder (Window > Pathfinder) lakukan pemotongan dengan mengklik icon Minus Front.

tracing-soekarno14

Simak Gambar berikut untuk melihat tracing obyek mata sebelah kanan yang penulis lakukan.

tracing-soekarno15

Untuk melihat progress tracing yang Anda lakukan, coba seleksi sema obyek trace yang sudah dibuat dengan memilih menu Select > All atau tekan tombol Ctrl + A, lalu balik warna Fill & Stroke dengan menekan tombol Shift + X. Kemudian nonaktifkan Layer 1 (foto Presiden Soekarno) di Palette Layers dengan mengklik icon mata. Lihat hasilnya berikut ini.

tracing-soekarno16

  • Selanjutnya, ulangi teknik di atas untuk melakukan tracing pada obyek-obyek yang ada di foto Presiden Soekarno. Ingat, jangan terburu-buru, gunakan kontur gambar sebagai panduan, dan cek hasil tracing per obyek untuk melihat progress tracing yang Anda lakukan.

Progress tracing bagian mata kanan dan kiri.

tracing-soekarno17

Progress tracing hidung dan bibir.

tracing-soekarno18

Progress tracing telinga dan kopiah.

tracing-soekarno19

Progress tracing seluruh bagian foto Presiden Soekarno.

tracing-soekarno20

Akhirnya, simak hasil akhir tracing foto Presiden Soekarno berikut ini. Penulis mengubah warna Fill menjadi hitam.

tracing-soekarno21

Jika Anda tertarik mendapatkan file AI (Adobe Illustrator) tracing Presiden Soekarno, silahkan kirim email kepada penulis dengan subject ‘Tracing Soekarno’.

Selamat mencoba, selamat bereksplorasi.

Jejak Panjang Kopi Dalam Peradaban Dunia

Lloyd's Coffee House, London

Lloyd’s Coffee House, London

Jonathan Swift, pemikir asal Inggris, pernah berujar “Coffee makes us severe, and grave, and philosophical“. Tak salah kiranya apa yang diungkapkan penulis kisah Gulliver’s Travels tersebut tentang kopi dan bagaimana efeknya terhadap kehidupan manusia.

Tercatat tak kurang dari 1,6 milyar cangkir kopi dikonsumsi setiap harinya. Jumlah nan luar biasa, cukup untuk mengisi penuh 300 kolam renang standar Olimpiade. Dan hari demi hari, popularitas komoditas minuman satu ini semakin menanjak. Anda dan saya barangkali satu di antara jutaan manusia di dunia yang tak bisa lepas dari nikmatnya menyeruput kopi, khususnya saat mengawali  aktifitas di pagi hari.

Sebenarnya, sejak kapan kecintaan kita akan kopi dimulai?

Dalam buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World disebutkan sekitar 12 ribu tahun lampau, di tanah Ethiopia, seorang gembala menemukan kambing-kambingnya berperilaku aneh selepas memakan buah tanaman tertentu di bukit. Alih-alih menghindarinya, sang gembala mengumpulkan buah tersebut, membawanya pulang, kemudian merebusnya untuk diminum.

Rebusan buah yang memberikan efek bersemangat bagi peminumnya ini kemudian disebut al-qahwa, yang memberi kita sekarang nama coffee atau kopi. Pelan-pelan, masyarakat banyak meminatinya, khususnya para sufi yang mengkonsumsinya guna membantu terjaga di malam-malam saat menjalani ritual dzikir. Popularitas kopi menyebar luas hingga ke Mekkah dan Turki pada abad ke 15, serta menjangkau Mesir di abad 16.

Al Qahwa

Al Qahwa

Persinggungan budaya antara dunia timur dan barat, terutama lewat perdagangan menjadikan tak butuh lama hingga kopi dikenal masyarakat Eropa. Tak beda jauh dengan yang terjadi di dunia timur, kopi menjadi minuman populer hampir semua kalangan. Adalah seorang Turki bernama Pasqua Rosee yang pertama kali membuka kedai kopi di Inggris pada 1650 dan langsung menjadi sensasi.  Tercatat tak kurang dari 500 kedai kopi berdiri di Inggris pada tahun 1700-an.

Kedai kopi ternyata tak berhenti hanya sebagai tempat menikmati minuman berwarna hitam pekat nan pahit. Ia bertransformasi menjadi wahana kumpul berbagai lapisan masyarakat, di mana ide dan pemikiran saling diperbincangkan dan tak jarang diperdebatkan. Pada masa tersebut, kedai kopi disebut sebagai penny university, di mana siapapun bisa mendengarkan para tokoh menelaah dan berdiskusi seru hanya dengan merogoh kocek satu penny (sekitar 1/240 pound) yang merupakan harga secangkir kopi.

Kedai kopi di Inggris, serta banyak negara Eropa lainnya, disebut-sebut sebagai salah satu cikal bakal lahirnya pub serta yang paling utama tumbuhnya berbagai pemikiran liberal yang akhirnya melahirkan gerakan modernisme. Semua karena secangkir kopi.

So, sudahkah Anda minum kopi hari ini?

kopi

Bangsa Besar Adalah Bangsa Yang Terus Belajar


Saya punya sebuah kepercayaan, bahwa sebuah bangsa jika ingin menjadi besar, musti terus menerus tiada henti belajar. Belajar tentang apa saja, dari sumber mana saja, sekuat tenaga, dari awal hingga akhir usia.

Mengapa saya percaya demikian?

Mari kita tengok perjalanan sejarah manusia. Perjalanan sejarah banga-bangsa besar yang riuh rendah di dalamnya. Ada beberapa contoh yang masing-masingnya memberi pembelajaran menarik akan arti pentingnya belajar.

Kita mulai dari Bangsa Yunani.

Bangsa Yunani, khususnya mereka yang datang dari kota Athena & wilayah-wilayah jajahannya di Asia Minor, terkenal sebagai akar peradaban Barat. Dari mereka lah bangsa-bangsa Barat mengenal berbagai macam pengetahuan. Orang-orang Yunani dianggap sebagai masyarakat yang di awal jaman mengolah pikir & melawan mitos, sehingga melahirkan apa yang kita sebut sekarang sebagai ilmu pengetahuan (science).

Alih-alih berhenti pada kepercayaan bahwa Zeus marah & mengelurkan petir lewat tongkatnya yang kemudian mewujudkan hujan, tokoh-tokoh seperti Aristoteles, Archimides, Anaxagoras, Plato dan sebagaimanya mengamati alam & manusia, mencari korelasi antar kejadian, melakukan percobaan untuk mensimulasi kejadian sama, dan menyimpulkan apa yang mereka sebut sebagai hukum alam & pengetahuan.

Mereka berpikir, berdiskusi, berdebat hingga bahkan saling baku pukul demi mempertahankan pendapat. Banyak martir yang terpaksa atau rela kehilangan nyawa dengan alam pikir bebas dialogis macam ini, sebut paling tenar Socrates, yang dipaksa mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun karena dianggap mengajarkan anak-anak muda Athena untuk tidak percaya dewa-dewa Yunani.

Tapi sekali lagi, mereka tidak menyerah. Mereka terus belajar, termasuk dari bangsa-bangsa lain. Khususnya dari bangsa Mesir yang kala itu sudah dikenal sebagai gudang pengetahuan. Betapa banyak filsuf Yunani yang menghabiskan masa muda belajar di Mesir, salah satunya Archimides, yang dalam satu hikayat berhasil menghitung tinggi piramid dari panjang bayangnnya.

Dari Yunani kita loncat ratusan tahun berikutnya ke Romawi.

Dianggap sebagai penerus kebudayaan Yunani, bangsa Rowami juga tak kalah hebat dalam soal belajar. Mereka tak hanya mewarisi teks-teks pengetahuan Yunani, namun mengembangkannya pula. Hasilnya, Romawi selama berabad-abad dikenal sebagai imperium besar dunia dengan wilayah kekuasaan lintas benua. Tokoh-tokoh seperti Plotinus, Epictetus, Lucretius adalah beberapa diantaranya.

Pasca Romawi pecah, Eropa Barat terjerembab dalam kehancuran budaya, apa yang akrab kita kenal sebagai Abad Kegelapan. Kebudayaan Romawi terus berkembang di wilayah Romawi Timur, khususnya di wilayah Bizantium yang hari ini berlokasi di Turki dan sekitarnya.

Yang menarik adalah, ilmu pengetahuan & dunia pemikiran dunia tidak berhenti saat Romawi hancur. Budaya belajar & pemikiran ini diteruskan ke arah Timur Tengah, salah satunya difasilitasi oleh bangkitnya agama baru dari jazirah Arab, yaitu Islam. Menarik dari kisah bangkitnya peradaban Islam adalah datangnya dari sebuah wilayah yang bisa dibilang in the middle of nowhere. Tidak punya potensi alam yang layak dibandingkan budaya-budaya besar lainnya, seperti Bizantium, Persia, Mesir, Mesopotamia atau manapun. Namun, anehnya dari tanah nan tandus, masyarakat nan barbar, lahir peradaban Islam yang sejajar atau bahkan di puncak keemasannya lebih jauh melampaui pencapaian kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

Doktrin Islam yang menarik adalah perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad. Perintah “iqra”. Satu-satunya doktrin agama yang menyuruh manusia untuk memulai segala sesuatu dengan “membaca” alias mengkaji. Bukan layaknya doktrin agama lain yang menekankan percaya semata, namun justri perintah untuk mengkaji, untuk berpikir. Yang artinya mempertanyakan. Benar-benar unik.

Iqra ini pula lah yang sepertinya menjadi sumber tenaga tak terbatas dari masyarakat Islam, baik di awal perkembangannya, untuk mempertanyakan kondisi fisik, sosial, ekonomi masyarakatnya, mempertanyakan esensi kehidupan manusia & tugas sosialnya, dan mentransformasi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya menjadi masyarakat yang lebih manusiawi.

Banyak sekali kisah di masa-masa awal perkembangan Islam di mana manusia-manusia berbondong-bondong memeluk Islam bukan karena todongan pedang atau ancaman perang, namun karena keindahan pemikiran dan ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Manusia-manusia padang pasir yang terbiasa menyelesaikan masalah lewat jalan kekerasan, mengabdi pada pencapaian dunia, menyandarkan diri pada mitos dan dewa-dewa peninggalan lama, disentakkan dengan ide baru tentang kemanusiaan, tentang ketuhanan yang abstrak nan esa, tentang kewajiban sosialnya dan oleh keindahan perilaku para pemeluknya.

Tak hanya berhenti di situ, para penerus kebudayaan Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad & generasi awal Islam, mulai dari dinasti Umayyah, Abassiyah, Fatimiyah dan berbagai dinasti lain di berbagai penjuru Darul Islam (Dunia Islam), membuka diri terhadap budaya & pengetahuan lain. Tidak hanya membuka diri, mereka mengejar pengetahuan itu di berbagai pelosok wilayahnya. Betapa masjid-masjid bersebelahan dengan madrasah, tempat masyarakat belajar, tak hanya soal agama, tapi juga pengetahuan lain. Lihat bagaimana para penguasa Abassiyah mendirikan & mengisi Bait al Hikmah (Rumah Pengetahuan) dengan buku-buku dari berbagai bidang, menggaji mahal para ulama & pemikir untuk menerjemahkan teks-teks dari Yunani, Romawi, India, Mesir dan berbagai budaya lain ke dalam bahasa Arab untuk bisa dikembangkan lebih lanjut.

Tak heran lahir pemikir-pemikir besar yang kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban modern seperti Ibn Sina, Ibn Rush, Ibn Jabbar, Al Kindi dan sebagainya. Mereka dan banyak lagi pemikir lainnya yang menghidupkan kembali berbagai pengetahuan dan memungkinkan persebarannya secara luas, salah satunya kembali ke Barat dengan titik baliknya Renaissance di abad 15.

Dari interaksinya dengan peradaban Islam, terutama lewat berkali-kali Perang Salib, juga lewat perdagangan & kehidupan bersama baik di wilayah Timur Tengah maupun Spanyol Islam (Andalusia), peradaban Barat kembali berkembang. Renaissance kata mereka. Aufklarung semangatnya. Hingga sekarang, Barat mampu mempertahankan hegemoninya sebagai pusat pengetahuan modern pasca redupnya kebudayaan Islam setelah kehancuran pusat-pusat peradabannya akibat serangan bangsa Mongol dan hancurnya dinasti Ottoman di awal abad 20.

So, bagaimana dengan Indonesia sendiri, apakah yang bisa kita pelajari dari perkembangan peradaban di wilayah yang dulu dikenal dengan sebutan Nusantara ini?

Siapa tak kenal kerajaan-kerajaan besar macam Kutai, Tarumanegara, Mataram Hindu, Sriwijaya, Kahuripan, Kediri, Singhasari, Majapahit, Demak, Mataram Islam, Gowa-Tallo dan banyak lagi lainnya. Masing-masing menorehkan pencapaian politik, ekonomi, sosial budaya yang luar biasa. Bagaimana bisa dibilang luar biasa, kita bisa tengok dari rekam jejak peninggalan arkeologis yang ada. Aneka candi dan bangunan ibadah dengan ragam corak & relief yang tak hanya indah secara estetik, namun juga berisi pembelajaran agama, moral & budaya bagi pengikutnya.

Berbagai prasasti, naskah sastra, patung, dan ragam seni lainnya yang masih bisa dinikmati hingga sekarang, seperti batik, keris dan sebagainya. Semua pastinya tak lepas dari kiprah para pemikir-pemikir handal pada masanya, yang umum dikenal sebagai Empu dan Resi. Namun, memang sejauh kajian sejarah mencatat, bangsa-bangsa di Nusantara yang menjadi pengusung kebudayaan di berbagai kerajaan tadi tidak meninggalkan catatan tentang model pendidikan umum bagi publik, atau dukungan kuat penguasa terhadap pengembangan pola pikir & logika.

Nah, sekarang bagaimana dengan masyarakat kita di jaman modern ini, di Indonesia ini?

Mustinya, kita bisa melihat perjalanan sejarah bangsa-bangsa besar tadi, baik di seluruh penjuru dunia, maupun di wilayah Nusantara dan mengambil pembelajaran darinya. Bahwa salah satu prasyarat dasar sebuah bangsa jika ingin besar adalah adanya passion yang kuat untuk mau belajar & terus menerus belajar akan segala hal. Pengejaran atas pengetahuan, pengembangan kultur keterbukaan informasi, diskusi, pertukaran pemikiran & penghargaan terhadap arti penting ilmu sangatlah utama.

Tapi lihatlah bagaimana kondisi bangsa ini. Lihat brapa anggaran pendidikan yang dialokasikan pemerintah bagi masyarakatnya. Lihat betapa semakin tak terjangkaunya biaya pendidikan formal, bahkan di lembaga-lembaga pendidikan negri bagi sebagian besar warganya. Lihat betapa media massa lebih banyak mengurusi hal-hal remeh temeh seperti gosip artis, obrolan politkus tak bermutu, acara hiburan tak bermanfaat karena isinya cuman bullying dan joged-joged tak jelas. Lihat betapa banyak orang tua yang lebih suka mengajak anaknya ke mall daripada ke toko buku. Lihat betapa sepi perpusatakaan tidak hanya atas pengunjung tapi juga koleksi buku-buku bermutu. Lihat betapa kurangnya iklim menulis, membaca & membuat penelitian bahkan di kalangan civitas akademika.

Agak trenyuh membayangkan nasib bangsa ini ke depan jika terus-terusan seperti ini. Jangankan mengulang kebesaran nenek moyang kita di masa Majapahit yang dikenal sebagai bangsa maritim besar, untuk survive saja di era global bakal berat.

Tribute to Soekarno, The 1st President of Indonesia

Image

Siapa tak kenal Soekarno?

Sepertinya hampir semua anak bangsa ini kenal sosok beliau. Presiden pertama Republik Indonesia, penggagas Pancasila, pejuang kemerdekaan, sang flamboyan, sosok kontroversial, pendiri Gerakan Non Blok (jika masih ada), dan masih banyak lagi atribut yang disandangkan padanya.

Soekarno, memang istimewa. Sebagai pribadi, maupun sebagai simbol. Berbagai kisah menarik meliputi perjalanan hidupnya. Mulai dari cerita pergantian namanya dengan pertimbangan kesehatan, penjuangannya bersekolah di Surabaya dengan “nyantrik” di rumah HOS Cokroaminoto, sang macan podium sekaligus pemimpin Sarekat Islam (SI), kisah cintanya dengan ibu kost-nya di Bandung saat kuliah di kampus yang sekarang bernama ITB, dan pastinya kiprah beliau di kancah politik internasional, khususnya dalam menentang hegemoni Amerika Serikat dan atau Soviet.

Nama Soekarno tak bisa lepas dari nama-nama pemimpin besar dunia pada masanya. Sebut saja Fidel Castro sang revolusioner Kuba dan Che Guevara, sang legenda sosialis Argentina. Mereka relatif dekat dengan beliau & berbagai visi perjuangan yang sama. Soekarno juga nampak akrab dengan Mao Zedong, sang pemimpin revolusi China. Belum lagi kiprahnya dengan berbagai pemimpin negara-negara Asia-Afrika, yang dipuncaki dengan suksesnya kegiatan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, tahun 1955. Sosok seperti Gamal Abdel Nasser, Jawaharlal Nehru, Mohammad Ali dan masih banyak lagi.

Yang tak kalah seru tentunya konflik, sekaligus permainan politik cantik Soekarno terhadap Amerika Serikat. Insiden penyanderaan pilot Amerika Serikat, Allen Pope, di tahun 1960-an yang memaksa Presiden John F. Kennedy mengikuti kemauan Soekarno untuk menukar pembebasannya dengan sejumlah kompensasi militer & ekonomi adalah strategi brilian, yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang arsitek politik nan berpengalaman.

Ya, bagaimana tidak berpengalaman, jika Soekarno selama puluhan tahun telah aktif berpolitik praktis di 3 masa, penjajahan Belanda, Jepang & kemerdekaan. Baginya, mungkin, politik dengan segala trik & tipu dayanya adalah permainan yang memacu adrenalin.

Sayang beribu sayang, akhir hidup beliau kurang bagus. Meninggal dunia dalam kondisi tertekan, sendirian, sebagai seorang “tahanan politik” oleh rezim Orde Baru.

Banyak sekali hal yang bisa diambil contoh dari beliau, dari sisi manapun. Sebagai person, maupun figur bapak bangsa.

So, dalam rangka mengenang perjuangan beliau, saya persembahkan sebuah artwork berupa tracing ilustrasi Soekarno. Semoga bermanfaat.