Apa Beda Desainer Profesional & Amatir

designer

Sedikit berbagi bagi teman-teman yang berkecimpung atau berminat untuk bergelut di bidangn kreatif sebagai desainer. Saya tidak membatasi desainer apa, bisa desainer grafis, 3D animator, desainer interior atau apapun. Selama Anda berurusan dengan pekerjaan kreatif, tulisan ini layak Anda baca. Kalaupun tidak bergelut di bidang kreatif, tetaplah baca, tak ada ruginya.

Ok, satu hal yang saya pelajari setelah bertahun-tahun bekerja dan berurusan dengan pekerjaan kreatif, ada 2 jenis pekerja kreatif. Atau saya menyebutnya desainer. Yaitu desainer profesional & desainer amatir.

Yang membedakan keduanya bukan kemampuan teknis. Sangat-sangat bukan. Bukan kemampuan menggunakan tool desain, e.g. Photoshop atau 3DSMax dan sejenisnya. Bukan seorang desainer profesional pasti lebih jago daripada yang amatir.

Yang membedakan adalah mindset. Pola pikir.

Yup, pola pikir dari desainer itu sendiri yang membedakannya layak disebut seorang profesional atau masih amatir.

Pola pikir macam apa? Mungkin itu pertanyaan Anda.

Pola pikir dalam melihat sebuah pekerjaan/tugas kreatif yang ada atau diberikan kepada Anda. Baik dari klien, maupun dari atasan.

Seorang desainer profesional, melihat pekerjaan atau tugas dalam konteks solusi. Konteks solusi artinya, dia diminta bantuan untuk mendayagunakan kemampuan teknis & non teknis yang dimilikinya, untuk memberikan solusi kreatif guna menyelesaikan pekerjaan tersebut. Hasil keluaran (output) yang diharapkan bisa beragam, berupa desain 2D, 3D, ilustrasi tangan, vector tracing, character design, copywriting atau apapun. Style, format, tools atau apapun disesuikan dengan konsep solusi yang ditawarkan.

Idenya adalah, seorang desainer profesional tidak terjebak pada tools, i.e. software yang dikuasainya, style design yang dikuasainya, format keluaran (output) yang biasa dia buat dan sejenisnya. Bahkan, kalau dia hanya punya selembar kertas dan sebuah pensil, dia akan tetap bisa mendeliver solusi tadi, meski nantinya pasti butuh disempurnakan secara teknis.

Seorang desainer profesional juga tidak memaksakan selera pribadinya kepada klien. Semisal, saya suka dengan vector illustration, saya tidak akan memaksakan selera saya tersebut kepada klien yang mempunyai kebutuhan desain yang tidak cocok dengan pendekatan vector illustration tersebut.

Nah, sebaliknya, seorang desainer amatir melakukan kebalikan dari hal-hal di atas. Biasanya, mereka “hanya” menguasai tool tertentu dan berpikir bahwa hal tersebut sudah cukup layak menjadikan mereka disebut sebagai seorang desainer.

Dia merasa, dengan menguasai cara menggunakan Photoshop atau Illustrator, dia disebut desainer. Kalau saya menyebutnya, operator softaware desain. Nah, yang seperti ini banyak sekali. Sangat banyak sehingga kadang susah bagi orang awam untuk melihat nilai lebih mereka. Akibatnya, ya mereka dan hasil karyanya kurang dihargai.

Kedua, para desainer amatir ini bekerja berdasarkan “mood” dan selera.

Pernah dengar desainer yang bilang “Saya tidak bisa bekerja karena mood-nya belum dapat”, atau sejenisnya. Nah,yang terjadi adalah, mood atau selera pribadi menentukan hasil pekerjaan, yang semestinya dihindari.

Ya betul sekali bahwa namanya manusia pasti dipengaruhi kondisi mental atau perasaan, namun tak seharusnya pekerjaan desain diperlakukan seperti ini, kecuali Anda bekerja untuk diri sendiri layaknya seorang seniman dan bukan bekerja untuk klien atau perusahaan.

Nah, yang semestinya dilakukan seorang desainer adalah bekerjan berdasarkan konsep dan bukan berdasarkan mood. Bekerjaan berdasarkan konsep, berdasarkan analisis kebutuhan klien dan pola solusi desain yang sesuai, serta menempatkan mood & selera di titik di mana keduanya mendukung konsep dan pola solusi tadi.

Ketiga, seorang desainer amatir biasa memaksakan seleranya sendiri. Apa yang bagus menurutnya dicoba dipaksakan untuk dianggap bagus & diterima oleh klien-nya. Saya tidak mengatakan bahwa hal ini 100% salah, saya hanya bilang, jika selera tersebut berkaitan  dengan soal estetika semata, maka memaksakan selera artinya pemaksaan nilai estetika. Di mana setiap orang punya seleranya sendiri. Mungkin Anda tidak setuju dengan selera seseorang, dalam kasus ini klien, namun tak sepatutnya Anda sebagai desainer memaksakan selera Anda sendiri.

Yang semestinya Anda lakukan adalah, memberi klien Anda panduan berdasarkan hasil analisis kasus desain yang dihadapi, solusi yang bisa digunakan dan pendekatan teknisnya. Sekiranya pendekatan teknis tersebut melibatkan penggunaan suatu style desain tertentu yang cocok dengan selera pribadi Anda, well gunakanlah. Tapi, kalau tidak, dan berdasarkan analisis desain Anda sebaiknya digunakan pendekatan lain, well jangan paksakan diri dan selera Anda tadi.

Nah, sekiranya Anda bisa mulai melatih melepaskan ego pribadi dalam mendesain, Anda bisa sedikit demi sedikit memposisikan diri dan menyebut diri Anda seorang desainer profesional.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Efek Teks Pop-up

Buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop oleh Hasto Suprayogo

Buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop oleh Hasto Suprayogo

Diambil dari buku Membuat Efek Teks Profesional Dengan Photoshop terbitan Elexmedia Komputindo. Berminat, beli di sini.

Efek Teks Pop-up

Pada bab ini, Anda akan diajak untuk membuat efek teks pop-up pada teks. Efek pop-up berguna untuk menonjolkan elemen teks dan menjadikannya pusat perhatian dalam sebuah desain.

Ikuti langkah-langkah berikut ini.

  • Buat dokumen kerja baru pada Photoshop dengan memilih menu File > New, kemudian pada kotak dialog New masukkan nilai parameter Width: 800px, Height: 800px dan Color Mode: RGB. Klik Ok dan dokumen kerja baru siap digunakan. Lihat Gambar 1.1.
Gambar 1.1. Buat dokumen kerja baru

Gambar 1.1. Buat dokumen kerja baru

  • Selanjutnya aktifkan Horizontal Type tool , kemudian ketikkan teks “HALLO”, atur font-nya menjadi Arial Black 200pt dengan warna hitam. Lihat Gambar 1.2.
Gambar 1.2. Ketikkan teks “HALLO” dan atur parameternya

Gambar 1.2. Ketikkan teks “HALLO” dan atur parameternya

Jika sudah, klik ikon Commit yang ada di Options bar atau aktifkan Move tool pada Toolbar.

  • Berikutnya, kita akn mengubah teks tadi menjadi obyek raster (pixel) biasa. Caranya, perhatikan pada Palette Layers, klik kanan nama layer teks “HALLO” dengan background warna biru, kemudian pada pop-up menu yang muncul pilih Rasterize Layer. Perhatikan Gambar 1.3. berikut.
Gambar 1.3. Ubah layer teks menjadi layer biasa

Gambar 1.3. Ubah layer teks menjadi layer biasa

Jika Anda tidak mengubah layer teks menjadi layer biasa, terdapat banyak fasilitas pengeditan dalam Photoshop yang tak bisa diaplikasikan pada obyek teks tersebut.

  • Selanjutnya, pilih menu Filter > Stylize > Emboss, lalu pada kotak dialog Emboss, masukkan nilai parameter Angle: 145o, Height: 5px dan Amount: 150%. Jangan lupa untuk mengaktifkan pilihan Preview lalu klik Ok untuk mendapatkan hasil seperti pada Gambar 1.4. di bawah ini.
Gambar 1.4. Aplikasikan filter Emboss

Gambar 1.4. Aplikasikan filter Emboss

  • Selanjutnya, perhatikan Palette Layers, pastikan layer “HALLO” aktif terseleksi, lalu sambil menekan tombol Alt + Ctrl pada keyboard, tekan juga tombol ↓ (panah ke bawah) pada keyboard sebanyak 15 kali hingga didapat ketebalan seperti pada Gambar 1.5.
Gambar 1.5. Hasil perubahan ketebalan obyek “HALLO”

Gambar 1.5. Hasil perubahan ketebalan obyek “HALLO”

Jika Anda perhatikan pada Palette Layers, sekarang terdapat 15 layer baru berupa kopian layer “HALLO”. Layer-layer kopian inilah yang tadi membentuk ketebalan obyek “HALLO”. Perhatikan Gambar 1.6. di bawah ini.

Gambar 1.6. Layer-layer kopian layer “HALLO”

Gambar 1.6. Layer-layer kopian layer “HALLO”

  • Kita akan gabungkan semua layer yang ada menjadi satu kecuali layer Background. Caranya, pada Palette Layers, nonaktifkan tampilan Layer Background dengan mengklik ikon visibility di samping kiri nama layer. Lihat Gambar 1.7.
Gambar 1.7. Nonaktifkan tampilan layer Background

Gambar 1.7. Nonaktifkan tampilan layer Background

Kemudian klik ikon segitiga hitam pada pojok kanan atas Palette Layers untuk menampilkan pop-up menu lalu pilih Merge Visible. Pilihan ini akan menggabungkan (merging) semua layer yang tampil (visible)—kecuali layer Background yang sebelumnya telah Anda nonaktifkan.

Simak Gambar 1.8. berikut ini untuk lebih jelasnya

Gambar 1.8. Gabungkan semua layer yang tampil (visible)

Gambar 1.8. Gabungkan semua layer yang tampil (visible)

Perhatikan bahwa setelah Anda menggabungkan semua layer yang tampil di Palette Layers dengan menu Merge Visible, hasilnya tersisa 2 layer saja, yaitu layer hasil merging—layer “HALLO copy 15”—dan layer Background.

  • Aktifkan kembali layer Background. Lalu, seleksi layer “HALLO”, kemudian kita akan mengaplikasikan layer style. Pilih menu Layer > Layer Style > Gradient Overlay.

Pada kotak dialog Layer Style masukkan nilai parameter Blend Mode: Overlay, Opacity: 70%, Style: Linear, Angle: 45o dan Scale: 100%. Jangan lupa aktifkan pilihan Preview untuk melihat hasilnya secara langsung. Simak Gambar 1.9. berikut.

Gambar 1.9. Atur parameter Gradient Overlay

Gambar 1.9. Atur parameter Gradient Overlay

Berikutnya, masih di kotak dialog Layer Style, klik Drop Shadow pada bagian Styles di bagian kiri atas kotak dialog. Kemudian, atur parameter Blend Mode: Multiply, Color: Hitam, Opacity: 25%, Angle: 65o, Distance: 0, Spread: 0 dan Size: 5. Jangan lupa aktifkan pilihan Preview. Simak Gambar 1.10.

Gambar 1.10. Atur parameter Drop Shadow

Gambar 1.10. Atur parameter Drop Shadow

Jika sudah, klik Ok dan Anda akan dapatkan hasil seperti pada Gambar 1.11. di bawah ini.

Gambar 1.11. Hasil akhir efek Teks Pop-up

Gambar 1.11. Hasil akhir efek Teks Pop-up

Anda bisa melakukan variasi terhadap efek Layer Style yang diaplikasikan sesuai keinginan Anda.