HastoSuprayogo.com Officially Launched

hastosuprayogo

Halo semua, dengan ini saya mengumumkan peluncuran website pribadi saya di HastoSuprayogo.com

Lewat web ini, saya akan menshare lebih banyak lagi tulisan dan video tentang berbagai hal yang saya pandang menarik, khususnya di bidang creative design, social media dan penulisan buku.

Silahkan kunjungi dan sekiranya Anda ingin berdiskusi lebih lanjut, jangan sungkan berkirim email.

Salam,

Hasto

Advertisements

Kisah Di Balik Lambang Nahdlatul Ulama

Siapa di negeri ini tak kenal dengan Nahdlatul Ulama. Organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, dengan puluhan juta muslim bernaung di bawah benderanya. Ormas yang akrab disebut NU ini didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur oleh K.H. Hasjim Asy’ari.

Namun saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang NU sebagai organisasi atau gerakan sosial keagamaan yang diusungnya. Melainkan, saya akan membahas tentang lambang atau logo organisasi yang memayungi kaum nahdliyin atau sering disebut kaum sarungan ini.

Logo Nahdlatul Ulama

Logo Nahdlatul Ulama ini bisa dibilang salah satu contoh logo dengan kekuatan visual yang tak lekang ditelan jaman. Logo yang ditampilkan ke publik pertama kali pada 9 Oktober 1927 ini masih terasa up to date di masa sekarang. Simbolisme yang digunakan, berupa bola dunia, tali, sembilan bintang serta kaligrafi arab Nahdlatul Uama berwarna putih serta latar belakang hijau amat kuat menyampaikan visi dan misi organisasi yang memperjuangkan nilai-nilai ahlus sunnah wal jamaah ini.

Jika Anda bertanya, bagaimana ormas Islam tradisional tanah air di masa pra kemerdekaan bisa memiliki logo atau lambang sekuat ini, jawabannya tak lepas dari figur di balik pembuatan logo Nahdlatul Ulama tersebut.

KH Ridlwan Abdulloh

Adalah KH Ridlwan Abdulloh, atau ada yang menulis KH Ridwan Abdullah, pencipta logo NU. Tokoh pendidik yang lahir pada 1 Januari 1884 di Bubutan, Surabaya ini sempat nyantri di berbagai pondok pesantren di Jawa dan Madura, bahkan sempat bermukim dan belajar agama di tanah suci selama beberapa tahun.

Beliau aktif mengisi pengajian di berbagai tempat di seputar Surabaya serta menjadi pengajar di pondok pesantren Madrsaah Nahdlatul Wathan. Di masa revolusi, KH Ridlwan Abdulloh aktif tergabung dalam Laskar Sabilillah mengangkat senjata melawan kolonial Belanda.

Yang lebih menarik lagi dari beliau, selain dikenal mempunyai ilmu agama nan luas, KH Ridlwan Abdulloh juga berbakat di bidang seni, khususnya kaligrafi arab dan arsitektur. Bakat yang akhirnya menjadikan beliau diberi mandat oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama untuk merancang lambang organisasi Nahdlatul Ulama. Butuh waktu sekitar satu setengah bulan untuk beliau menyelesaikan tugastersebut dan hasilnya sungguh luar biasa.

Ditampilkan pertama kali saat Muktamar NU ke-2 di Surabaya pada 9 Oktober 1927 bertempat di Hotel Peneleh, lambang ini langsung memikat hati tokoh dan warga nahdliyin. Sebuah majelis khusus dibentuk untuk mengkaji makna lambang tersebut.

Di hadapan majelis, KH Ridlwan Abdulloh memaparkan filosofi lambang Nahdlatul ulama buatannya. Tali yang melingkari bumi melambangkan ukhuwah islamiyah kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali yang berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Besar Muhammad Saw. Empat bintang kecil samping kiri dan kanan melambangkan Khulafa’ur Rasyidin, dan empat bintang di bagian bawah melambangkan madzhabul arba’ah (empat madzhab). Sedangkan jumlah semua bintang yang berjumlah sembilan melambangkan Wali Songo.

Yang tak kalah menarik adalah, inspirasi pembuatan lambang Nahdlatul Ulama. Di depan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Ridlwan Abdulloh mengisahkan bahwa sebelum merancang lambang NU, beliau melakukan shalat istikharah untuk memohon petunjuk dari Allah SWT, praktek yang lazim dilakukan umat Islam. Tak selang berapa waktu, beliau mendapat petunjuk lewat mimpi di mana KH Ridlwan Abdulloh melihat bentuk lambang di langit nan cerah. Dari sinilah kemudian beliau menuangkan dalam rancangan lambang Nahdlatul Ulama.

KH Ridlwan Abdulloh sendiri terus berkiprah dalam membesarkan Nahdlatul Ulama. Beliau sempat menjadi anggota A’wan Syuriyah PBNU serta pengurus Syuriyah NU Cabang Surabaya. Figur yang juga merancang arsitektur Masjid Masjid Kemayoran Surabaya ini berpulang pada 1962 dan dikebumikan di pemakaman Tembok, Surabaya.

Makam KH Ridlwan Abdulloh

Sebuah pembelajaran luar biasa bagi kita semua, khususnya yang berkecimpung di dunia kreatif. Pembuatan logo atau lambang tidak boleh lepas dari spirit organisasi bersangkutan. Juga, bagaimana seorang designer mendapatkan inspirasi rancangannya bisa beragam, salah satunya lewat jalur metafisik berdasarkan kepercayaan masing-masing.

sumber: http://hastosuprayogo.com/2017/02/10/kisah-di-balik-lambang-nahdlatul-ulama/