Tutorial Desain Grafis – Psikologi Warna

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Sekedar berbagi. Postingan ini diambil dari materi dalam buku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Yang tak kalah penting dari penggunaan warna dalam desain grafis adalah, fungsinya sebagai media penyampai pesan yang sangat kuat. Warna mempunyai implikasi yang sangat besar pada persepsi sesorang akan suatu maksud.

Contoh paling konkrit dalam kehidupan sehari-hari adalah, warna-warna lampu lalu lintas, di mana di belahan bumi manapun, saat seseorang melihat warna merah menyala pada traffict light, dia akan segera tahu bahwa ada larangan untuk berjalan/menjalankan kendarannya. Ketika lampu kuning ganti menyala, maka dia akan bersiap-siap atau berjaga-jaga karena warna tersebut menandakan peringatan untuk berhati-hati. Sementara, begitu lampu hijau yang menyala, orang tersebut akan segera berjalan atau menjalankan kendarannya.

Anda pun bisa menemukan berbagai contoh lain penggunaan warna dalam keseharian untuk berkomunikasi antarmanusia, dan hal ini bukan menjadi suatu yang aneh, karena bahkan sejak manusia purba mulai menghuni gua-guna berbatu, mereka sudah menggunakan aneka warna untuk menyampaukan pesan dengan melukiskan cap-cap tangan di dinding gua.

Penggunaan warna sebagai media komunikasi menunjukkan adanya suatu konvensi yang diterima umum akan makna suatu warna. Asosiasi warna terhadap makna bisa jadi merupakan suatu hal yang terbawa oleh warna itu sendiri dan telah mengendap dalam benak manusia, namun bisa pula menjadi sesuatu yang terstruktur secara sadar maupun tidak. Semua hal itu masuk ke dalam bahasan mengenai psikologi warna, yaitu bagaimana warna-warna bisa mempengaruhi persepsi dan perilaku manusia.

Dalam konteks perusahaan, penggunaan warna yang tepat sama artinya dengan pemilihan senjata yang tepat untuk berpromosi. Sama saja dengan penggunaan orang-orang yang tepat di posisi startegis. Sama pula dengan memasarkan produk atau jasa dengan cara yang tepat sesuai keinginan dan kebutuhan konsumen.

Menggunakan warna yang tepat, mampu meningkatkan nilai sekaligus menegaskan pesan yang hendak disampaikan dalam desain-desain yang Anda buat. Kita tak biacara mengenai nilai artistik semata ketika mendesain untuk kepentingan perusahaan/bisnis, namun kita lebih mengacu pada seberapa mampu pesan yang diinginkan tersampaikan kepada publik yang diinginkan lewat desain itu. Dan salah satu kunci pokoknya adalah, pemilihan warna yang tepat.

Ok, secara garis besar, warna-warna dalam desain grafis bisa dibagi ke dalam 3 (tiga) kategori besar, yaitu warna panas/hangat, warna dingin/sejuk dan warna netral. Kita akan bicara ketiganya satu per satu.

Warm & Cold Colors

  • Warna Panas/Hangat (Warm Colors)

Warna panas/hangat ini adalah kelompok warna yang secara psikologis menumbuhkan nuansa aktif, seru atau bersemangat terhadap orang yang melihatnya. Warna ini pula yang menimbulkan nuansa agresif, tegas, berani, lincah, hangat dan exciting. Sering pula, warna panas digunakan untuk memberi peringatan akan adanya bahaya, atau perlunya kehati-hatian.

Warna panas/hangat sangat cocok digunakan untuk memberikan penegasan atau aksentuasi pada suatu desain. Juga bisa digunakan untuk menarik perhatian atau mengajak audiens untuk memfokuskan perhatiaan pada suatu hal.

Yang termasuk ke dalam kelompok warna panas/hangat ini antara lain: Merah, Oranye dan Kuning. Juga termasuk berbagai varian dari ketiga warna tersebut.

  • Warna Dingin/Sejuk (Cool Colors)

Warna dingin/sejuk ini adalah warna yang menumbuhkan nuansa pasif, tenang, kalem dan teduh pada orang yang melihatnya. Juga bisa digunakan untuk menunjukkan adanya ketenangan, harmoni, kedamaian dan keluasan pikir. Seringkali, warna-warna dingin/teduh digunakan oleh mereka yang bergerak di bidang-bidang yang terkait dengan hal-hal yang membuthkan ketenangan dan ketelitian serta itegritas tinggi, seperti medis, keuangan, layanan kesehatan dan kecantikan, serta masih banyak lagi.

Yang masuk dalam kategori warna dingin/sejuk antara lain warna biru, hijau, ungu dan berbagai varian ketiganya. Jika Anda tak percaya, ada cara mudah untuk membuktikannya, saat Anda merasa kusut atau kacau, coba pandanglah ke arah langit biru, padang rumput hijau yang luas, atau lautan biru yang menghampar, maka niscaya perasaan dan mood Anda akan berangsur lebih tenang.

  • Warna Netral (Neutral Colors)

Warna netral adalah warna-warna yang tidak masuk ke dalam kategori warna panas maupun warna dingin. Warna netral secara psikologis menumbuhkan nuansa kestabilan, firm dan stiffness. Warna netral bisa digunakan untuk menonjolkan warna-warna terang atau semakin menekankan nuansa yang ditimbulkan warna dingin.

Yang masuk ke dalam kategori warna netral antara lain warna hitam, putih dan abu-abu, serta berbagai varian dari ketiganya.

Berdasarkan banyak penelitian, diketahui bahwa secara kognitif, warna dapat digunakan dalam desain sebagai berikut:

  1. Menegaskan suatu hal yang dianggap lebih penting dibandingkan yang lain.
  2. Penggunaan warna-warna tertentu sebagai kode khusus akan suatu maksud—merah untuk stop, kuning untuk hati-hati, hijau untuk jalan terus—membantu memudahkan pemahaman akan suatu informasi.
  3. Penggunaan warna mengurangi beban kerja kognitif otak, karena adanya nilai-nilai tertentu yang terasosiasi dengan warna-warna tersebut.
  4. Warna juga menyederhanakan pamahaman akan informasi, yaitu dengan mengelompokkan jenis informasi sama dengan warna-warna yang sama/serupa.

Menurut Pett dan Wilson, ada beberapa hal mengenai warna yang musti diperhatikan oleh orang-orang yang ingin menggunakannya dalam sebuah desain, yaitu:

  1. Gunakan warna untuk menumbuhkan persepsi akan realitas.
  2. Gunakan warna untuk membedakan antar elemen visual dalam desain.
  3. Gunakan warna untuk untuk memfokuskan perhatian akan suatu hal penting dalam desain, atau untuk memberikan petunjuk akan hal penting yang coba disampaikan.
  4. Gunakan warna untuk menunjukkan korelasi atau hubungan antarelemen yang serupa atau masih terkait satu dengan yang lain.
  5. Gunakan warna secara konsisten, karena itu memudahkan audiens untuk memahami maksud sebuah desain.
  6. Gunakan warna mencolok—warna panas/hangat—guna menarik perhatian.
  7. Gunakan pula warna mencolok untuk desain-desain yang lebih ditujukan pada audiens berusia muda—remaja atau anak-anak—karena kelompok usia ini cenderung lebih responsif terhadap warna-warna mencolok.
  8. Gunakan warna sesuai dengan konsepsi umum yang disepakati, kecuali kalau memang Anda mau mencoba mendobrak tatanan yang sudah ada, dan menawarkan prinsip baru akan suatu makna. Sebisa mungkin, kalau Anda berhadapan dengan audiens luas, gunakan warna sesuai makna yang paling umum diterima.
  9. Gunakan warna sesuai dengan kultur budaya audiens, karena seringkali ada pemahaman yang berbeda akan suatu warna pada budaya yang berbeda pula. Berhati-hatilah akan pemilihan warna, karena sama artinya dengan pemilihan makna.

Freelance Atau InHouse Designer?

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia kreatif, khususnya yang berprofesi sebagai graphic designer, pasti familiar dengan pertanyaan ini. Pilih mana, jadi Freelance Designer atau InHouse Designer?

Yeah, dilema profesi yang satu ini, antara menjadi freelance designer yang berbasis project, atau menjadi inhouse designer yang bekerja full time di suatu perusahaan. Masing-masing punya kelebihan dan juga kelemahan. Sisi positif yang menyenangkan, pun sisi negatif yang menyebalkan.

Bagi mereka yang baru lulus kuliah DKV, atau yang sedang mengawali karir di dunia kreatif sebagai designer, berikut beberapa point yang bisa jadi pertimbangan sebaiknya memilih yang mana, antara Freelance & InHouse Designer.

Freelance Designer

Freelance Designer memilih untuk bekerja secara lepas, bisa sendiri atau dalam team bebas, berdasarkan project yang diperoleh dari klien. Umumnya, pekerjaan kreatif freelance dilakukan berdasarkan jangka waktu tertentu, deadline, di mana designer bersangkutan musti mensubmit pekerjaannya kepada klien atau PIC (person in charge) project bersangkutan.

Apa untung ruginya menjadi Freelance Designer?

Pros

  • Fleksibilitas pekerjaan, terkait dengan jenis, waktu, dan banyaknya pekerjaan yang ingin digarap.
  • Kebebasan mengatur charge (tarif) pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi kemampuan seorang freelance designer, semakin mahal charge yang diberlakukannya kepada klien.
  • Relatifitas kebebasan bereksplorasi terkait dengan kreatifitas dalam mendesain, selama klien menyetuji.

Cons

  • Ketidakpastiaan pendapatan, karena berbasis project, berbeda dengan mereka yang bekerja full time di perusahaan yang berbasis gaji bulanan.
  • Tuntutan profesionalitas lebih tinggi, karena nilai pekerjaan seorang Freelance Designer tergantung dengan kepuasan klien, dan satu-satunya cara untuk menjamin kepuasan klien adalah dengan bersikap seprofesional mungkin.
  • Tuntutan untuk menguasai tidak hanya kemampuan design, namun juga kemamuan marketing, public relations, administrasi dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan, seorang Freelance Designer tak hanya bertindak sebagai seorang tenaga kreatif, namun juga menjadi pemasar produk/jasanya, pengelola proyek serta keuangannya sendiri.

InHouse Designer

InHouse Designer memilih untuk bekerja sebagai designer tetap di suatu perusahaan, dengan konsekuensi rutinitas pekerjaan laiknya pekerja kantoran lainnya. Meski terdengar sedikit “depressing” bagi mereka yang membayangkan pekerjaan kreatif yang bebas merdeka, ada banyak hal yang menguntungkan dari pilihan yang satu ini.

Pros

  • Adanya kepastian pendapatan, sebagaimana pekerja kantoran lainnya, menjadi inhouse designer berarti mengambil tanggung jawab pekerjaan tetap dan mendapatkan kompensasi gaji yang rutin. Sangat cocok bagi mereka yang mencari stabilitas, sebagai contoh yang sudah menikah.
  • Selain pendapatan, adanya berbagai fasilitas lain dari pekerjaan tetap menjadi faktor positif lain. Tunjangan kesehatan, transportasi, makan adalah beberapa diantaranya. Selain itu, kemungkinan peningkatan karir juga bisa jadi bahan pertimbangan.
  • Relatifitas simple-nya tanggung jawab pekerjaan, di mana umumnya seorang InHouse Designer hanya mengurusi pekerjaan terkait bidang kreatifnya saja, sementara pekerjaan-pekerjaan penunjang lainnya, seperti marketing, administrasi, keuangan dan sebagainya ditangani bagian lain di perusahaan bersangkutan.

Cons

  • Kebebasan berkreasi dalam mendesain relatif kurang, di mana umum ditemui para InHouse Designer diposisikan tak lebih dari sekedar tenaga teknis desain atau operator aplikasi desain grafis.
  • Sistem kerja yang rutin, 9-5, menjadikan aktifitas mendesain menjadi rutin dan cenderung membosankan. Efeknya tentunya pada output desain yang dihasilkan relatif kurang kreatif dibanding mereka yang bekerja lepas sebagai Freelance Designer.
  • Struktur kerja yang bertingkat, dimana seorang InHouse Designer menjadi bagian susatu sistem hierarki, menjadi kendala tersendiri dalam ekplorasi kreatifitas pekerjaan. Terlebih lagi, seringkali mereka yang berada di posisi atas designer adalah orang-orang yang tak mempunyai kapabilitas dan atau background kreatif. Hal semacam ini menumbuhkan berbagai hambatan teknis dan non teknis yang jika tak dicari solusinya akan mereduksi kinerja designer bersangkutan.

Masih banyak lagi sisi positif dan negatif dari masing-masing pilihan di atas. Tentunya, harus dipahami bagi mereka yang mau terjun ke dunia kreatif, ketaika suatu hal yang dianggap menyenangkan pada awalnya sudah masuk ke industri dan berkaitan dengan klien & konsumen, tak jarang hal tersebut berubah menjadi tak lagi menyenangkan.

Tuntutan profesionalitas, kebutuhan bisnis, kepuasan klien dan atasan, adalah beberapa hal yang tak akan bisa dinafikkan dalam profesi ini. Kesadaran akan hal tersebut menjadikan insan kreatif lebih bisa mereduksi ekspektasinya dan menjalani keseharian profesinya secara lebih nyaman.

Masalah pilihan menjadi Freelance Designer atau InHouse Designer, semua dikembalikan ke masing-masing kita. Mana sekiranya yang paling sesuai dengan kondisi kita. Dan ingat satu hal, tak ada pilihan yang sempurna. Selalu ada plus minusnya.

Belajar untuk menerima setiap sisi dan terus memacu diri menuju yang lebih baik adalah semangat yang musti kita tanamkan, pupuk dan terus kembangkan.

Selamat mengarungi dunia kreatif.

Desain Merchandise (Unpublished Book)

Tulisan ini adalah bagian dari naskah buku Desain Merchandise yang sampai sekarang belum selesai aku tulis. Naskah sudah ada di komputerku dari 3 tahun lalu. Dariapada ngganggur, aku coba share di sini, siapa tau ada manfaatnya.

Dalam kampanye brand identity suatu perusahaan atau produk, merchandise acap kali jadi metode efektif untuk dilakukan. Merchandise, termasuk dalam tipe Below The Line (BTL) advertising, yaitu upaya periklanan tanpa menggunakan media-media iklan konvesional, seperti media massa (e.g. televisi, radio, surat kabar, majalah dsb).

Pilihan Merchandise

Jika umumnya iklan dilakukan dengan memanfaatkan media massa, seperti iklan cetak di koran, iklan audio di radio, atau audio visual di televisi, maka merchandise ini memanfaatkan item-item produk yang banyak dipakai dalam kehidupan keseharian sebagai media beriklan.

Sebut saja, semisal Anda belanja ke suatu toko dan barang yang dibeli dibungkus dalam sebuah kantong plastik atau kertas dengan logo dan nama toko bersangkutan. Itu merupakan bentuk merchandise untuk promosi.
Atau mungkin Anda pernah mendapatkan kenang-kenangan pulpen, atau notes dengan nama perusahaan tertentu di atasnya, itu juga contoh merchandise promosi.

Mengapa promosi menggunakan merchandise banyak digunakan perusahaan dalam mempromosikan diri atau produknya?

Ada beberapa faktor yang sekiranya menyebabkan hal ini.

Personal touch (sentuhan personal)

Personal touch, atau sentuhan personal nampaknya menjadi alasan kuat mengapa merchandise dipilih sebagai salah satu media promosi. Adanya kedekatan antara perusahaan dengan audiens-nya melalui suatu barang bisa lebih terjalin karena adanya intensitas kontak antara audiens tersebut dengan merchandise sebagai reprsentasi perusahaan.

Apalagi jika barang yang dipilih sebagai merchandise digunakan secara kontinu oleh audiens bersangkutan, maka lambat laun akan tumbuh pula keterkaitan antara keduanya dan pada akhirnya menumbuhkan kedekatan emosial pula dengan perusahaan yang direpresentasikannya.

Diferensiasi

Diferensiasi, aau pembedaan diri dengan pihak lain juga bisa ditampilkan lewat penggunaan dan pemilihan barang sebagai merchandise untuk promosi.

Alih-alih sebuah perusahaan hanya menggunakan media promosi konvesional, seperti iklan cetak di koran, perusahaan itu bisa memilih barang-barang keseharian yang unik, yang secara sadar atau tidak dipakai terus oleh konsumen dan calon konsumennya.

Perusahaan yang jeli akan memaksimalkan potensi tersembunyi dari suatu barang guna memasukkan pesan-pesan promosinya ke benak konsumen. Di sinilah diferensiasi dengan merchandise dibanding dengan pomosi menggunakan media konvesional.

Unconsciousness brand development

Penting juga diingat bahwa ada kecenderungan saat ini bahwa sudah terlalu banyak iklan-iklan bertebaran di mana-mana dan semuanya menyampaikan pesannya kepada konsumen. Iklan di media konvensional secara jelas menunjukkan penawaran dan janji-janji akan suatu brand, di mana lama kelamaan konsumen akan jenuh dengan bombardir pesan tiada hentinya.

Dengan memanfaatkan merchandise sebagai sarana promosi, kita bisa membangun kesadaran akan suatu brand tanpa memaksa konsumen untuk menelan pesan-pesan yang kita sampaikan.

Kita menggunakan alam bawah sadar konsumen yang sering melakukan kontak dengan merchandise tersebut guna membangun kesadaran akan keberadaan dan positioning brand kita.

Long lasting

Ketahanan dan jangka waktu juga bisa dijadikan pertimbangan mengapa perlu dipertimbangkan penggunaan merchandise sebagai sarana promosi. Jika kita beriklan di media konvesional, jangka waktu penayangan sangat jelas, di mana ada patokan-patokan waktu iklan kita bisa tampil. Semisal di koran penayangan iklan adalah harian, sementara di televisi atau radio berdasarkan kontrak—biasanya dengan hitungan berapa kali dalam waktu tertentu.

Nah, dengan menggunakan merchandise, Anda bisa mengharapkan jangka waktu yang lebih lama, sesuai dengan penggunaan barang merchandise itu sendiri. Selama barangnya masih digunakan oleh konsumen, Anda akan terus beriklan kepadanya dan juga ke khlayak ramai di sekitarnya.

Easy to use

Penggunaan merchandise juga mudah untuk dilakukan. Barang seperti pulpen, notes, mousepad adalah beberapa item yang bisa digunakan sebagai sarana promosi dan juga barang kebutuhan sehari-hari.

Kemudahan pakai semacam ini juga musti Anda jadikan bahan pertimbangan saat memilih item barang apa sebagai media promosi.

Biaya ekonomis

Secara ekonomis, biaya pembuatan merchandise untuk promosi terhitung relatif murah, dan sangat terjangkau untuk berbagai tipe perusahaan, bahkan untuk usaha kecil dan menengah.

Kategorisasi Merchandise

Untuk memudahkan Anda dalam memilih dan merancang desain merchandise, penulis telah mengelompokkan beragam item barang yang umum digunakan sebagai sarana promosi ke dalam kategori-kategori berikut, berdasarkan kemiripan fungsinya.

Awards & Trophies

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang diberikan sebagai bukti penghargaan seseorang atas prestasi atau partisipasinya dalam suatu even yang diadakan oleh perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah tropi dan piagam penghargaan.  Lihat contohnya pada Gambar berikut ini.

Clothing (Apparel)

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang berupa barang sandang/pakaian, dan aksesoris penunjangnya. Umumnya, merchandise kategori clothing ini selain untuk promosi juga digunakan untuk corporate identity, sebagai corporate uniform. Termasuk dalam kategori ini adalah baju, celana, kaos, topi, jaket dan sebagainya.

Simak Gambar berikut untuk melihat contoh-contohnya.

Confectionery

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang berupa makanan atau minuman dengan label identitas perusahaan pada kemasannya. Pernahkah saat Anda berkunjung ke suatu hotel, Anda temukan bungkus gula pasir yang disajikan bersama teh atau kopi saat sarapan berlabel hotel tersebut?

Atau saat Anda berkunjung ke suatu kantor, Anda disuguhi coklat atau permen dengan logo perusahaan tersebut pada bungkusnya? Nah, dua contoh tersebut adalah aplikasi promosi merchandise kategori Confectionery.

Simak Gambar di bawah ini

Conference & Exhibition

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise yang banyak dipakai saat diadakan konferensi atau even-even tertentu oleh perusahaan. Item-item yang masuk kategori ini contohnya badge peserta, nama pembicara (desk name), gantungan kartu dan sebagainya.

Pentingnya item-item ini saat konferensi atau even yang diadakan perusahaan selain sebagai hadiah (gift) atas partisipasi peserta, juga sebagai sarana promosi perusahaan bersangkutan.

Perhatikan Gambar berikut ini.

Computer

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk kepentingan penunjang penggunaan komputer, seperti mousepad, wadah CD, juga note holder, penghapus, kalkulator, kalender dan sebagainya.

Lihat pada Gambar berikut ini untuk jelasnya

Drink & Accessories

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise wadah minuman dan aksesoris pendukungnya. Masuk dalam kategori ini adalah gelas, cangkir, mug, botol minuman dan sebagainya. Simak Gambar di bawah ini.

Leisure

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk berbagai kepentingan keseharian. Termasuk dalam kategori ini adalah payung, aksesoris olahraga (bola), tas, perlengkapan merokok (pamantik api) dan sebagainya. Perhatikan berikut.

Stationery

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk berbagai kepentingan pekerjaan kantor. Termasuk dalam kategori ini adalah notepad, penggaris, kalender  dan sebagainya. Simak Gambar berikut.

Timepieces

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk penghitungan waktu, seperti jam dinding, jam meja atau jam tangan. Lihat pada Gambar di bawah ini.

Writing Instruments

Kategori ini terdiri dari item-item merchandise untuk keperluan tulis menulis. Masuk dalam kategori ini antara lain pensil, pulpen, spidol, highlighter dan sebagainya Lihat pada Gambar di bawah ini.

Setelah Anda mengetahui kategorisasi merchandise yang bisa digunakan sebagai sarana promosi, selanjutnya tergantung Anda sendiri untuk menentukan merchandise tipe mana yang akan dipilih.

Tutorial Desain Grafis – Konsep Warna

Buku CorelDraw Untuk Bisnis

Sekedar berbagi. Postingan ini diambil dari materi dalam buku CorelDraw Untuk Bisnis terbitan Elexmedia Komputindo. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Konsep Dasar Warna

Bicara tentang desain grafis, mau tak mau, kita musti bicara juga tentang warna. Seberapa esensialkah warna dalam desain grafis?

Well. Perumpamaannya seperti arti garam dalam masakan. Masakan dari bahan apapun tak akan terasa nikmat tanpa adanya garam. Begitu pula desain tak akan ada maknanya tanpa warna. Bahkan jika desain itu hanya berupa grafis hitam putih pun, semuanya tetap warna.

Dalam aplikasinya untuk perkantoran, warna memegang peranan sangat penting. Karena warna menyangkut citra, menyangkut persepsi, baik itu persepsi Anda sendiri terhadap perusahaan, terlebih-lebih persepsi konsumen terhadap perusahaan Anda.

Pilihan warna yang tepat bisa meningkatkan citra Anda, membuat Anda dipahami dengan cara tertentu, tentunya cara yang Anda inginkan. Warna mengasosiasikan Anda dan perusahaan pada suatu makna, suatu ide, suatu nilai yang pada akhirnya mendorong konsumen Anda untuk mencernanya dalam alam sadar maupun tak sadarnya, yang akan berimbas pada perilaku konsumsinya.

Pernahkan Anda sejenak memperhatikan logo perusahaan Anda, atau mungkin kop surat pada kerta kerja yang Anda gunakan untuk mem-print surat-surat resmi, atau mungkin juga pada kartu nama yang kerap Anda pertukarkan dengan klien atau sejawat?

Pernahkan Anda amati barang berapa saat pilihan warna yang ada di sana? Apakah perusahaan Anda menggunakan warna tertentu sebagai warna korporatnya? Apakah ada korelasi antara warna-warna tersebut dengan suatu visi atau misi yang coba diwujudkan? Adakah pula konsistensi di dalam penggunaan warna dalam berbagai media reproduksi?

Jika ya, maka perusahaan Anda telah atau sedang mengaplikasikan pencitraan terpadu lewat character building terpadu. Namun, jika jawaban Anda adalah tidak, maka berarti perusahaan Anda belum sadar akan potensi apa yang dimiliki oleh desain dalam menunjang keberhasilannya.

Hmmm….kembali bicara soal warna, apakah Anda masih mengingat pelajar saat masa SMP, di mana kita diajar tentang warna-warna dasar?

Ya, dan tentunya Anda ingat kalau ada 3 (tiga) warna dasar, yaitu merah, kuning dan biru. Sehingga apabila ketiganya kita gabungkan semestinya akan didapat warna putih. Hal itu dibuktikan jika seberkas cahaya putih dilewatkan melalui sebuah prisma maka akan didapat bermacam warna.

Warna dasar biasa kita sebut dengan warna primer (primary colors). Dari penggabungan masing-masing pasangan warna primer, kita akan mendapatkan warna-warna sekuder (secondary colors), yaitu oranye (merah + kuning), hijau (kuning + biru) dan ungu (biru + merah). Sedangkan jika Anda gabungkan lagi warna-warna tersebut akan didapat warna tertier (tertiary colors).

Kita bisa membuat sebuah lingkaran warna untuk menunjukkan hasil penggabungan warna-warna, seperti terlihat pada Gambar 1.33.

Gambar 1.33. Lingkaran warna gabungan warna-warna dasar

Gambar 1.33. Lingkaran warna gabungan warna-warna dasar

Karena secara esensial sebuah obyek yang ada di alam hanya bisa memantulkan cahaya dari luar, maka warna bisa dikatakan sebagai seberapa mampu suatu obyek memantulkan gelombang cahaya ke mata audiensnya. Sementara kemampuan memantulkan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari obyek itu sendiri maupun dari hal-hal di sekelilingnya.

Jika secara natural, warna dasar adalah merah, biru dan kuning, maka mungkin Anda akan sedikit terkejut, karena dalam desain grafis warna dasar yang digunakan tidak sama seperti di alam.

Dalam desain grafis, secara garis besar ada 2 (dua) tipe mode warna yang digunakan, yaitu mode warna RGB dan CMYK. Apa itu RGB dan CMYK, apa beda keduanya dan bagaimana penggunaanya?

RGB adalah singkatan dari Red, Green, Blue, di mana darinya Anda bisa menebak akalu mode warna ini menggunakan 3 (tiga) warna dasar, yaitu Merah, Hijau dan Biru, untuk menampilkan beragam warna sesuai keinginan Anda. Mode warna RGB digunakan oleh berbagai peralatan elektronika untuk menampilkan suatu warna atau gambar, seperti monitor komputer, televisi, dan sebagainya.

Sehingga, jika Anda membuat sebuah desain dengan warna-warna atau gambar di dalamnya, dan Anda bertujuan untuk menampilkannya di media elektronik, seperti sebagai desktop wallpaper, atau di halaman web, pastikan Anda menggunakan mode warna RGB. Mode warna ini memungkinkan Anda memilih kombinasi hingga 1,6 juta warna.

Banyak sekali huh?

Lihat  Gambar 1.34. berikut ini.

 Gambar 1.34. Mode warna RGB


Gambar 1.34. Mode warna RGB

Kemudian, kita juga mengenal mode warna CMYK. Berbeda dengan mode RGB yang hanya terdiri dari 3 (tiga) warna dasar, mode CMYK mempunyai 4 (empat) warna dasar sebagai penyusunnya, yaitu Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Umumnya mode warna CMYK ini digunakan untuk kepentingan cetak, karena mode warna ini mengacu pada warna-warna tinta dasar yang digunakan mesin cetak untuk mereproduksi suatu image ke media tertentu, seperti kertas, plastik, kain dan sebagainya.

Serupa dengan mode RGB, mode CMYK juga mampu menciptakan beragam warna, bahkan hingga jumlah kombinasi yang lebih banyak dibandingkan mode RGB. Mode CMYK memungkinkan Anda untuk bereksplorasi dengan desain dan mentransferkan hasilnya ke media cetak.

Jadi, kalau Anda membuat sebuah desain, dan Anda berniat mencetaknya, pastikan Anda menimpan hasilnya dalam mode warna CMYK.

Simak Gambar 1.35.

 Gambar 1.35. Mode warna CMYK


Gambar 1.35. Mode warna CMYK

Hal lain yang tak kalah pentingnya saat membahas warna dalam desain grafis adalah properti warna. Properti warna mengacu pada berbagai elemen atau faktor yang mendasari sifat dan penggunaan warna-warna yang ada. Kita bisa membagi properti warna menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu Hue, Nilai Warna dan Intensitas.

Berikut adalah pembahasan singkatnya.

  • Hue

Hue bisa disebut sebagai warna itu sendiri, yaitu secara fisik bagaimana sebuah obyek mampu memantulkan gelombang-gelombang warna yang mengenainya, sehingga mata kita bisa melihatnya.

Ketika seberkas cahaya putih melewati prisma, maka is akan diuraikan menjadi warna-warna sebagamana ada dalam pelangi. Semua warna itu mengacu pada panjang gelombang berbeda yang bisa dilihat manusia. Nah, warna-warna inilah yang disebut dengan hue.

  • Nilai Warna (Value)

Nilai warna mengacu pada tingkat keterangan atau kegelapan hue/warna itu sendiri. Dengan menambahkan warna putih pada suatu warna, Anda akan mendapatkan wrna yang lebih tinggi nilainya, atau disebut dengan istilah tint. Sementara, menambahkan warna hitam pada hue akan menghasilkan warna yang nilainya lebih rendah, umum disebut shade.

  • Intensitas (Intensity)

Intensitas warna adalah seberapa tajam suatu warna. Suatu warna berada pada kondisi paling tajam ketika warna tersebut tak tercampur baik oleh warna putih atau hitam, atau berada dalam saturasi maksimal.